Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 144


__ADS_3


Lisin sangat kecewa karena Dosen Mirna yang sudah memiliki seorang kekasih. Keduanya sudah bercocok tanam sebelum waktunya kemarin malam, jika tau seperti ini Lisin tidak akan memulainya.


Ternyata benar, wanita yang sendirian belum tentu tidak ada pemiliknya, terkadang pemilik seorang wanita secantik Dosen Mirna harus merahasiakan hubungan miliknya dari mahasiswa - mahasiswi kampus agar tidak mempengaruhi studi belajar.


Lisin merasa terpukul, Dirinya seperti menjaga wanita yang akan menjadi jodoh orang lain, di saat kita memiliki perasaan dan menjaganya sebaik mungkin dengan memberikan kenyamanan, namun suatu saat wanita tersebut akan pergi meninggalkan mu... Sakit sangat sakit sekali.


Ku menangis...


Ini kedua kalinya Lisin mengalami patah hati, yang dulu karena kebodohan dirinya sehingga Lisin harus terluka hatinya oleh Rahayu riasan tebal yang selingkuh saat memiliki hubungan LDR.


Sekarang, Lisin harus terluka lagi hatinya oleh seorang wanita yang semalam bercocok tanam dengan dirinya.


Ternyata benar, Laki - laki yang sakit hati akan sulit untuk membuka hatinya kembali, karena apa? karena takut tersakiti untuk yang kedua kalinya.


Mungkin menjadi jomblo tanpa beban dan hanya memiliki sabun sebagai cinta sejati, lebih baik dari pada berharap akan wanita yang nantinya akan menjadi milik orang lain.


Lisin menyemangati dirinya sendiri.


Lisin kamu harus kuat, walaupun kamu kehilangan Dosen Mirna kamu tidak boleh lemah, laki - laki harus kuat menjalani kenyataan hidup yang pahit walaupun menjadi seorang Jomblo.


Menjadi jomblo bukanlah hal hina karena tuhan tidak buta, kelak kamu akan mendapatkan jodoh yang sudah di atur oleh Tuhan.


Lisin bersikap tegar sambil melihat kearah pemuda tampan berpakaian mewah. Walaupun sulit Lisin bersikap tegar lalu tersenyum sebagai sapaan.


"Mirna... Siapa dia?..." Seorang wanita sedikit gemuk mendekat sambil memimpin pemuda tampan yang berjalan mendekat juga.


"Dia... Dia pacarku Mam..." Dosen Mirna langsung menggandeng tangan Lisin.


Lisin jelas sangat bingung dengan perubahan sikap dan plot cerita.


Dosen Mirna... mengapa kamu mengaku kita berpacaran! bukannya pemuda yang bersama dengan ibumu itu memanggilmu dengan sebutan sayang?


"Apa... Pacar!... Berani sekali kamu memacari anakku, apakah kamu tidak tau Mirna sudah aku jodohkan dengan Nak Tarno..." Ibunya Mirna berkata dengan keras.


Sedangkan pemuda tampan yang bernama Tarno, memiliki alis berkedut jelas dirinya sangat marah.


"Sayang... Kamu pasti berpura - pura kan, agar tidak berkencan denganku?..." Tarno tidak sengaja tersenyum dan memperlihatkan giginya yang tonggos.


Melihat gigi tonggos Tarno entah mengapa Lisin ingin muntah.

__ADS_1


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu... Kita tidak memiliki hubungan apapun..." Dosen Mirna berkata dengan dingin.


Tarno yang mendengarkan perkataan Dosen Mirna tidak berani tersenyum lagi dan hanya bisa diam.


"Mirna... Kamu ini apa - apaan, apakah kamu ingin merusak bisnis Papamu... Karena Nak Tarno Papamu bisa melanjutkan kontrak penyewaan tokonya lagi, jika kamu tidak bersama dengan laki - laki pilihan Mama, dan lebih memilih laki - laki lain, sewa toko papamu tidak akan di perpanjangan..." Ibunya Mirna berkata dengan keras.


Halaman apartemen itu sedikit gaduh sehingga banyak orang yang kebetulan lewat tertarik akan kejadian tersebut. apa lagi tetangga yang suka kepo mereka langsung datang seperti mendapatkan surat undangan.


"Ada apa Jeng kok ribut sekali..." Salah satu tetangga bertanya.


"Oh... Ini loh Jeng... Putriku yang cantik Mirna, Sudah aku jodohkan dengan Nak Tarno yang sudah memiliki mobil, rumah dan pekerja mapan... Eh... lebih memilih laki - laki lain yang tidak jelas asal usulnya..." Ibunya Mirna menjelaskan dengan kesal.


"Aduh, Jeng bahaya ini... Anak muda sekarang sudah main cocok tanam tanpa mikir masa depan, jika Mirna hamil dengan orang susah, masa depannya akan hancur..." Tetangga tak berakhlak menambahkan bahan bakar kedalam api.


"Itu dia yang aku takutkan Jeng..." Ibunya Mirna mengakui sambil melirik kearah Lisin yang tidak jelas.


"Benar... Jeng, iya kalau dia akan bertanggung, bagaimana jika tidak ingin bertanggung jawab dan meninggalkan Putri Jeng yang hamil, Apakah Jeng ingin memiliki cucu tanpa seorang ayah..." Tetangga laknat menambahkan.


"Terima kasih ya Jeng sudah mengingatkan..." Ibunya Mirna tersenyum.


"Sama - sama Jeng, Ya sudah saya tinggal dulu ya..." Tetangga sebelah langsung pergi.


Tipe tetangga seperti ini, biasanya akan susah jika melihat tetangga lain membeli sesuatu yang mahal, dan akan bahagia jika tetangga lainya kesusahan.


"Apa kamu mendengarnya... Lebih baik kamu putuskan dia dan terima Nak Tarno..." Ibunya Mirna menatap Lisin dengan tajam.


Lisin yang diam mulai memahami semuanya, apa lagi dengan analisa sistem dirinya bisa memahami pekerjaan Tarno yang hanya sebagai karyawan yang mengurus penyewaan lahan yang ada di Pusat pembelanjaan.


Lisin sangat senang, Karena Dosen Mirna tidak memiliki pasangan, dan dirinya sebelumnya hanya salah paham. Karena Dosen Mirna sudah menjadi miliknya maka sisanya tinggal menyakinkan ibunya yang matre.


Ternyata Dosen Mirna memiliki seorang ibu yang memiliki sifat menyusahkan orang lain, terutama jika berurusan dengan tetangganya bisa seharian saat bergosip.


Sedangkan Tarno ini hanya di jodohkan dan Dosen Mirna jelas tidak menginginkannya, Alasan ingin mengusir Lisin sebelumnya adalah karena tidak ingin menyusahkan Lisin saja.


Tidak masalah menyusahkan Lisin dari pada dia mendapatkan enaknya aja.


Akhirnya Lisin bisa bernafas dengan tenang, ternyata Dosen Mirna tidak menjadi milik orang lain melainkan akan menjadi miliknya. Hati yang sebelumnya sakit karena berprasangka buruk sekarang bersemangat lagi.


Lisin hanya bisa memamerkan kekayaannya di depan calon ibu mertua yang matre ini.


Dalam analisa sistem, Tarno ini hanya seorang pekerja yang mengurus sebuah penyewaan lahan di salah satu pusat pembelanjaan yang ada di kota Malang Lisin berniat memberikan pelajaran kepada Tarno sambil membuat ibunya Mirna sadar jika dirinya sangat kaya.

__ADS_1


Hal ini seperti membunuh dua burung dengan satu batu.


Hanya karyawan saja ingin bersikap sombong di depan Lisin, Untung saja tidak ada Dewi yang akan menggangunya jika Lisin bersikap sombong. Lisin hanya punya satu pemikiran mengahadapi orang sombong harus menjadi sombong juga.


jadi bagaimana jika dirinya sombong dan perbuatan tersebut tidak mendidik? dari awal dirinya bukan orang baik karena menjadi penjahat kelamin mengapa harus takut menjadi sombong.


"Mirna... Jika kamu tidak berkencan denganku... kontrak penyewaan tokoh Ayahmu akan aku batalkan..." Tarno tersenyum dengan gigi tonggos.


"Tuh... Lihat Nak Tarno marah... Apakah kamu ingin Papamu tidak memiliki lahan pekerja?..." Ibunya Mirna mendukung keputusan Tarno yang mengancam Mirna.


"Mam... Mengapa kamu senang jika Papa tidak memiliki lahan pekerja lagi?..." Dosen Mirna berkata dengan kesal.


Mirna sangat kesal sebagai seorang anak dirinya tidak ingin ayahnya tidak memiliki lahan pekerja sehingga menganggur, Yang aneh adalah mengapa ibunya mendukung keputusan tersebut.


"Mama tidak punya pilihan, Menurut Mama Nak Tarno sangat cocok untuk mu dari pada dia..." Ibunya Mirna menatap Lisin.


"Ehm... Bisakah kita pergi ke tempatnya Pak Tarno bekerja..." Lisin tersenyum.


Tentu saja tujuannya untuk membeli pusat pembelanjaan tersebut sehingga dapat memecat Tarno dan menyombongkan kekayaannya di depan ibunya Dosen Mirna.


Lisin harus meminta jatah lagi nih nanti malam sebagai kompensasi atas perasaannya yang terluka sebelumnya.


"Mengapa kamu ingin pergi tempat Nak tarno bekerja?..." Ibunya Mirna bertanya.


"Aku hanya ingin melihat tempat tersebut... Mungkin aku akan memikirkan untuk meninggalkan Mirna..." Tentu saja Lisin berbohong.


"Lisin..." Mirna tidak percaya jika Lisin akan meninggalkan dirinya, bukannya kita sudah bercocok tanam. namun setelah melihat mata Lisin yang berkedip seperti sebuah kode, Dosen Mirna langsung memahami jika Lisin memiliki rencana.


"Baguslah jika kamu sadar diri... Nak Tarno... biasakan kita pergi ketempat Nak Tarno bekerja... Agar dia bisa jelas jika Nak Tarno laki - laki mapan..." Ibunya Mirna membujuk.


"Tidak masalah Tante..." Tarno dengan bangga pergi satu mobil dengan ibunya Mirna, dirinya mengemudikan Mobil BMW dan memimpin perjalanan.


"Ayo pergi... Dosen Mirna..." Lisin dengan senyuman mengajak Dosen Mirna dan mengikuti Mobil BMW dari belakang.


"Lisin apa yang kamu rencanakan..." Dosen Mirna bertanya.


"Tentu saja rahasia... Namun, Dosen Mirna harus memberikan kompensasi setelah semuanya selesai" Lisin tersenyum misterius.


"Tidak masalah..." Dosen Mirna berjanji, jika Lisin bisa membereskan laki - laki pilihan ibunya, Dirinya tidak masalah tiap malam tidur dengan Lisin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2