Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 172


__ADS_3


Di hadapkan dengan keputusan yang cukup sulit, Lisin memilih untuk tidak melanggar Sindi dan Jihan. Setiap masalah pasti memiliki solusi, begitu juga apa yang Lisin alami saat ini.


Pasti ada cara lain untuk menghilangkan pengaruh dari obat Afrodisiak yang ada di dalam tubuhnya. Benar mengapa tidak menemukan Vita saja, dia sudah menjadi milik Lisin sepenuhnya. yang pasti Sistem tidak akan mengganggunya.


Lisin sudah lama tidak bertemu dengan Vita, dan rasa kangen ingin bertemu tumbuh sangat kuat. belum lagi Ratih yang belum Lisin temui lagi sampai sekarang.


Hanya saja Semua nomor kontak ada pada ponsel yang di ambil Wulan, jadi Lisin tidak menghubungi Vita apa lagi Lisin tidak mengingat setiap nomor seseorang yang dirinya kenal.


Lisin hanya memiliki satu tujuan yaitu mendatangi asrama universitas, di mana Vita berada.


"Kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan diriku, Cukup nikmati saja liburan kalian di Villa ini. jika kalian membutuhkan bantuan cukup menemukan Pihak Villa..." Kata Lisin dengan sikap tenang.


"Mas Lisin akan pergi ke mana dengan kondisi seperti itu..." Kata Sindi dengan khawatir.


"Sudahlah mas Lisin, Semua ini salah kita juga. jadi tidak akan masalah jika kita melakukannya, anggap saja sedang mabuk dan besok kita bisa melupakan semua yang terjadi..." Kata Jihan dengan berani.


"Kali berdua gadis bodoh... Kalian anggap apa, kesucian kalian. kalian seorang wanita dan kelak akan menikah. apakah kalian ingin suami kalian nanti kecewa?..." Perkataan Lisin menyadarkan keduanya.


Mas Lisin ini, ternyata memikirkan Sindi dan Jihan. Sungguh laki - laki berhati mulia, bahkan dalam kondisi yang seperti itu masih memikirkan nasib orang lain dari pada dirinya sendiri. Pikir Sindi sambil menatap Jihan.


Jihan juga mengangguk menandakan memiliki pemikiran yang sama.


Lisin bingung antara menangis atau tertawa, jika bukan karena tugas sistem melarang dirinya untuk tidak melanggar keduanya, mungkin Sindi dan Jihan akan menarik kembali perkataannya.


"Kalian bisa menggunakan Villa ini sesuka kalian, Aku harus pergi menenangkan pikiran. mungkin dengan aku menjauh dari kalian berdua, pengaruh afrodisiak akan menghilang dengan sendirinya..." Kata Lisin dengan tidak berdaya.


"Mas Lisin, laki - laki di seluruh dunia harus belajar dari mu. karena kamu sangat baik, tidak mengambil keuntungan dari setiap wanita yang kamu temui" Kata Sindi dengan pemujaan.


"Benar, Sungguh laki - laki yang berhati mulia, mungkin satu - satunya di dunia yang tidak mengikuti keinginan manusiawi..." Jihan juga sedang tidak dapat tertolong.


Sial... perkataan kalian berdua seperti pedang bermata dua. satu sisi menyenangkan sedangkan sisi lain mencekiknya. Lisin ingin menangis tanpa air mata.


Lisin keluar dari Villa Solong dengan berjalan kaki, namun kali ini dirinya menggunakan jaket tebal dari inventori sistem. tujuan Lisin menggunakan jaket tebal adalah untuk menyembunyikan Joni agung yang mengamuk karena tidak mendapatkan jatah.


Sabar Joni, Aku akan menemukan Vita.


Lisin menemukan toko ponsel namun tidak membeli ponsel baru melainkan membeli kartu baru. pihak resepsionis terkejut karena pembeli membawa ponsel baru sendiri namun dirinya harus mendaftarkan kartu tersebut.


Jelas pihak resepsionis sangat kesal, mendapatkan pelanggan seperti Lisin. Hanya saja kekesalannya harus sirna karena mendapatkan uang tips.

__ADS_1


"Pak... ini kebanyakan..."


"Sudahlah ambil saja..." Kata Lisin dengan bijaksana.


"Tapi pak... Segini saja sudah cukup" Uang Tips itu sebesar satu juta.


"Sudahlah ambil saja..." Lisin mengulangi.


"Tidak bisa pak, segini saja..."


Lisin bingung, dari jumlah sebesar satu juta, pihak resepsionis mengembalikan 50 ribu namun sisanya diambilnya. jika menolak maka jangan mengambil sebagian dan jika menerima mengapa tidak mengambil saja semuanya.


"Karena Memaksa, maka semua uangnya akan aku ambil lagi..." Kata Lisin dengan kesal.


Mengapa munafik, tinggal ambil semuanya, apa susahnya sih.


"Jangan Pak, saya akan ambil semuanya pak..." Kata pihak resepsionis dengan penyesalan.


Dengan nomor dan ponsel baru, Lisin bingung ingin menghubungi siapa. karena dalam kontaknya Lisin tidak mengingat nomor siapapun.


Jalan raya kota banyuwangi cukup sulit untuk menemukan taksi, maka dari itu Lisin menggunakan jasa Ojol. Lisin tidak mungkin berjalan kaki untuk mendatangi asrama universitas PGRI banyuwangi. apa lagi cara berjalan Lisin cukup aneh karena bagian bawahnya yang membengkak.


"Mas Boy... Maaf lama menunggu" Honda Beat FI datang dari kejauhan dengan seseorang yang cukup familiar untuk Lisin mengendarainya.


"Mas Boy... Ayo naik, Gisel anterin sampai ke ujung dunia..." Kata Gisel dengan bersemangat.


Entah mengapa Gisel ini bisa datang dari mana dan kapan saja. Lisin sangat frustasi karena malam ini adalah malam terburuk dalam sejarah hidupnya.


Lagian Gisel ini bukannya ada di Bali mengapa sekarang ada di Jawa khususnya kota banyuwangi. mengapa tidak di tempat lainnya, apakah dunia begitu sempit sehingga banyak kebetulan seperti ini terjadi.


"Mas boy, mengapa diam apakah kita sudah saling kenal sebelumnya?..." Kata Gisel dengan mengedipkan matanya berulang kali.


Jelas Lisin yang terlihat tampan memiliki nilai lebih di depan Gisel yang sebagai seorang waria yang kesepian, tanpa pendamping hidup.


"Maaf, mungkin kamu Salah orang..." Lisin memutuskan untuk berjalan kaki dengan cepat.


Amit - amit jabang bayi bertemu lagi dengannya.


"Mas boy, Ayolah belum dapat pelanggan dari kemarin, nanti saya kasih servis gratis. bagaimana?..." Gisel menggunakan honda Beat mengikuti dari belakang.


Sial, siapa juga yang menginginkan servis darimu, bahkan jika di bayar 100 Milyar Aku tidak akan mau melakukannya.

__ADS_1


"Mas boy, mengapa jalanya aneh sekali?..." Tanya Gisel.


Lisin berhenti, kemudian menatap Gisel dengan kesal. jalanan juga sangat sepi, ingin rasanya membuat Gisel pingsan dan mengambil motornya lalu pergi. sayangnya hal tersebut tindakan tidak terpuji dan merugikan orang lain.


"Aku akan memberimu uang jadi kamu bisa pergi dari hadapanku sekarang juga..." Kata Lisin dengan frustasi.


"Mas boy, sedikit atau banyak. Gisel tidak akan menerimanya sebelum mengantarkan pelanggan..." Gisel berkata dengan bersedih.


Lisin berfikir dengan keras, sepertinya tidak masalah jika menggunakan jasa Gisel ini karena jarak tujuan cukup jauh, Lisin tidak mungkin berjalan kaki.


"Baiklah, tapi ingat jangan menyentuhku. jika tidak, jangan salahkan diriku jika kamu besok tidak akan melihat matahari lagi..." Kata Lisin mengingatkan.


"Hiii... Takuttttt..." Jawab Gisel.


Dengan begitu Lisin duduk di belakang dengan jarak duduk yang cukup jauh dan tujuannya asrama universitas tempat Vita tinggal.


"Mas Boy, mengapa tidak memeluk Gisel?..." Tanya Gisel dengan berharap.


Memeluk!!! Tentu saja tidak akan pernah, belum lagi bagian bawah Lisin bengkak. jika memeluk Gisel dari belakang, bisa tertancap pedang bagian bawah Lisin.


Jika itu Sindi atau Jihan mungkin tidak akan masalah, tapi jika Gisel tubuh Lisin akan ternodai.


"Sudahlah, fokus saja menyetir..." Jawab Lisin.


"Okey..."


Waktu berlalu Honda beat berjalan di jalan raya kota banyuwangi.


"Sudah lama Jadi Ojolnya?..." Tanya Lisin dengan penasaran.


"Baru dua bulanan Mas Boy... Orderan servis sedang sepi, jadinya ganti profesi" Jawaban Gisel membuat Lisin mengingat kejadian dua bulan lalu di mana Lisin menjadi Ojol dalam penyelesaian tugas sistem.


"Juga Demi menemukan seseorang yang sangat penting untuk Gisel..."


"Penting?!!!..."


"Benar, Gisel kehilangan ingatan sebelum dua bulan yang lalu dan Gisel sedikit ingat belahan jiwa Gisel berprofesi sebagai Ojol juga, hanya saja belum ketemu saja hingga sekarang..." Jawab Gisel dengan sedih.


"Rasanya sangat mirip dengan Mas boy..." Gisel menambahkan.


Bukan hanya mirip memang Lisin orangnya.

__ADS_1


Lisin berkeringat dingin, bagaimana jika Gisel mengingat Lisin yang saat itu menjadi Ojol.


Bersambung...


__ADS_2