Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 61


__ADS_3

Lisin berdiri berhadapan dengan Materai sambil menatap ke atas, Semua penumpang yang melihat kegigihan Lisin tidak mengoloknya, melainkan berkecil hati karena orang lain memiliki keberanian sedangkan dirinya tidak bisa melakukan apa-apa.


"Materai... Bagaimana caramu untuk melawan para terorisme..." Lisin bertanya sambil terus menatap mata Materai.


"Hahaha... Mereka semua terorisme dengan senjata api di tangan mereka, Aku akan mencoba bernegosiasi dan mencari tujuan sebenarnya dari para terorisme" Materai berkata dengan jujur.


Negosiasi... apanya yang negosiasi bukannya kamu bagian dari mereka. baik kita ikuti prosesnya.


"Tuan Materai kamu pasti bisa... "


"Tuan Materai semangat... "


"Benar... tuan Materai kamu harus menang"


Semua penumpang menyemangati Materai tanpa menganggap Lisin ada di sana.


"Hahaha... terima kasih atas dukungannya aku akan melakukan yang terbaik" Materai berkata dengan memperlihatkan gigi putihnya.


"Tuan Materai kamu yang terbaik... "


"Semua harap bersembunyi di balik kursi kabin pesawat, karena peluru tidak memiliki mata. jika ada kecelakaan peluru akan bersarang di kepala kalian" tidak seperti sebelumnya yang bercanda kali ini Materai berbicara dengan serius.


Lisin yang melihat Materai berbicara dengan ramah ke para penumpang sedikit tersentuh. lalu mengikuti ke arah Materai melihat di sana ada seorang wanita paruh baya yang sebelumnya duduk dengan Materai.


Apakah dia benar-benar bagian dari terorisme, jika ini hanya akting seorang aktor dia pasti akan mendapatkan piala Oscar. namun melihat kembali informasi jika film yang di bintanginya selalu buruk, Lisin bingung dengan perilaku Materai.


"Kawan kecil... siapa namamu?" Materai bertanya ke arah Lisin.


"Lisin..." Jawab Lisin dengan datar.


"Lisin... apa yang kita lakukan adalah hal yang berbahaya, jika situasinya memburuk dan kita tidak dapat menghentikan mereka. kuharap kau bisa melarikan diri tinggalkan aku sendiri, setidaknya kamu dan penumpang lainnya bisa menunggu bantuan" Materai berbicara Sambil berjalan menuju Kabin tengah di mana terdapat 4 terorisme dengan senjata AK-47 di tangan mereka.


"ini..." Lisin yang mengikuti Materai dan dari belakang tidak bisa berkata-kata.


Sial... bukannya kamu bagian dari mereka, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang sangat berlawanan dengan tindakanmu, jika kamu sedang berakting tolong hentikan jangan membuat orang lain muak.


"Materai... Apa kamu sedang berakting?" Lisin bertanya.


"Sepertinya kamu tau banyak tentang aku, Hahaha... Banyak hal yang telah ku lalui mulai menjadi bintang, figur publik dan banyak hal lainya. sekarang aku pria yang bertanggung jawab untuk melindungi seseorang istri dan calon anakku" Materai melihat ke arah sudut belakang, di mana Lisin dapat melihat seorang wanita yang menatapnya dengan cemas.


Itu wanita paruh baya yang sebelumnya duduk bersama dengan Materai, apa itu istrinya.


"Dia adalah istriku, yang sedang mengandung anak kami dengan usia kandungan 7 bulan. kamu pasti mengerti kandungan usia 7 bulan rentan akan keguguran, Ini semua salahku. awalnya kami tidak menggunakan perjalanan melalui pesawat namun aku yang memaksanya. Aku tidak bisa memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padanya"


Apakah ini masih Akting, Hati dan pikiran Lisin sangat kacau. satu sisi karena bukti yang ada di dalam tas Materai membuat Lisin berfikir jika Materai adalah salah satu dari terorisme. Satu sisi lain Lisin Menilai jika Materai adalah sosok suami yang akan melakukan apapun demi istri dan calon anaknya. yang mana yang harus Lisin percayai.


"Lisin... kita tidak memiliki senjata untuk melawan mereka" Lisin yang masih termenung, mendengar Perkataan Materai mulai sadar.


Kemudian dia melihat dua tas berukuran sedang dengan banyak air mineral kemasan di dalamnya. Lisin memahami apa yang akan Materai lakukan.


"Aku akan menjadi umpan..." Materai yang membungkuk menatap Mata Lisin.


Jelas Lisin melihat jika tidak ada kebohongan di wajah Materai.


"Berhenti... " Empat terorisme yang menjaga kabin tengah melihat kedatangan Materai dan Lisin.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya salah satu terorisme.


"Bro... aku ingin mendapatkan obat untuk istriku yang sedang sakit" Materai yang mendekat berkata.


"Kenapa kami harus peduli, Apa kamu pikir kami sukarelawan. Kami ini terorisme jangan mendekat jika tidak aku akan menembak kalian berdua" terorisme tersebut mengarahkan senjata api yang berjenis AK-47 yang memakai peluru dengan kaliber 7,62 x 39 mm.


"Bro kami hanya ingin obatnya tidak lebih..." Materai dan Lisin saling menatap kemudian mengangguk.


Lisin yang mengambil sebotol air mineral dengan cepat melemparkan botol tersebut ke arah terorisme yang ada di depan, begitu juga dengan Materai melakukan hal yang sama.


Dalam sepersekian detik karena efek dari hantaman botol air mineral. Dua terorisme yang ada di depan sedikit lambat untuk menarik pelatuk senjata AK-47 dan kesempatan ini di gunakan Lisin untuk meringkusnya dalam beberapa pukulan.


"Ahhh... "


"Ahhh... "


Materai dengan keahlian pegulat nya membanting terorisme satunya ke dingin pesawat hingga membuatnya pingsan.


"Dor... "


"Dor... "


"Dor... "


Lisin dan Materai menggunakan tubuh Kedua terorisme sebelumnya sebagai pelindung.


"Dor... "


"Dor... "


"Dor... "


Setelah suara tembakan berhenti Lisin menduga jika Terorisme kehabisan peluru. bagaimana Lisin bisa membiarkan terorisme melakukan Reload pada senjata AK-47.


Dengan cepat Lisin berlari ke arah dua terorisme yang sedang melakukan Reload peluru dan langsung memukul beberapa titik fital sehingga membuat dua terorisme tidak sadarkan diri.


"Apa kamu baik-baik saja?" Lisin mendekati Materai yang menggunakan Tubuh terorisme sebagai perisai. kedua tubuh terorisme yang di gunakan sebagai perisai tidak lagi berbentuk karena menerima hujan peluru.


"Aku baik-baik saja... hanya saja cedera lutut ku selalu menghambat pergerakan ku" Lisin mulai mengingat jika Materai memiliki cedera pada lutut bagian kiri.


"Kamu bisa berdiri?" Lisin bertanya lagi.


"Haha... tentu saja, aku tidak menyangka jika kamu begitu kuat Lisin, sekarang aku tau mengapa kamu bilang jika akan menjadi pahlawan"


"Dor... "


Sebuah tembakan mengarah ke arah Lisin, Walaupun Lisin memiliki tingkat kecepatan super namun jika dia tidak mengetahui kedatangan peluru.

__ADS_1


"Awas... "


Materai yang melompat memeluk Lisin dan bersembunyi di balik kursi kabin pesawat.


"Dor... "


"Dor... "


"Dor... "


karena tembakan Terorisme sebelumnya membuat 4 terorisme yang berada di kelas VIP berdatangan. melihat ke arah temanya tergeletak, terorisme tersebut Memberondong kursi kabin di mana Lisin dan Materai bersembunyi.


Setelah Tembakan berhenti, isian kapas yang di gunakan sebagai bahan kursi kabin beterbangan kemana-mana. Salah satu terorisme perlahan mendekati Lisin dan Materai yang ada di belakang Kursi yang hancur tidak berbentuk.


"Sring... "


Saat terorisme mendekati sebuah Kilatan dingin terbentuk, kemudian lengan beserta senjata AK-47 jatuh ke bawah.


"Ahhh... lenganku"


Lisin tidak berhenti di sana dia yang seperti dewa kematian, menggorok leher terorisme tersebut hingga membuat darah keluar seperti air mancur.


"Dor... "


"Dor... "


"Dor... "


Terorisme yang lain tidak menyangka jika Pihak lain memiliki sebuah katana. tentunya Lisin mengambil katana tersebut dari Inventori sistem.


"Mati... kenapa tidak mati"


"Dor... "


Lisin dengan lihai mengayunkan katana dengan cepat. dalam hitungan detik Ayunan katana itu seperti seribu pedang di mana menghentikan Semua peluru yang berdatangan.


Lisin dengan kecepatan super langsung berdiri di depan ketiga terorisme dan dengan cahaya dingin berkelebat, beberapa potongan tubuh berterbangan.


"Ahhh... "


"Ahhh... "


"Ahhh... "


Setelah Lisin membunuh ketiga terorisme tersebut Lisin berlari mendekati Materai. Sekarang Lisin percaya jika Materai bukanlah bagian dari terorisme dan mengapa pistol berada di dalam tas milik Materai pasti ada alasan di baliknya.


"Hoi... kau tidak apa-apa..." Lisin bertanya ke arah Materai.


"Aku tidak apa-apa lenganku tertembak" Lisin dapat melihat jika lengan kiri Materai mengeluarkan darah.


"Aku akan mengambil pelurunya..." Lisin memukul beberapa titik akupunktur agar Darah berhenti mengalir keluar.


Apa yang Lisin lakukan adalah sama dengan apa yang Lisin lakukan terhadap kedua pilot sebelumnya. kemudian peluru yang bersarang di lengan kiri Materai secara ajaib keluar.


Apa yang Lisin lakukan adalah menghentikan aliran darah dengan memukul beberapa titik akupunktur, kemudian menggunakan energi batin untuk mengangkat peluru.


"Terima kasih..." Kata Materai.


"Tidak perlu berterima kasih... Kamu terkena peluru karena melindungi ku, jadi ini yang harus ku lakukan" Lisin membungkus lengan kiri Materai dengan kain baju milik materai.


"Kamu bisa istirahat dulu..." Lisin berkata.


"Tidak... aku akan menemanimu menuju ke ruang Kokpit" Materai bersih keras.


Materai sekarang mengikuti Lisin dari belakang, saat Materai melihat beberapa potongan tubuh manusia dia langsung melihat katana yang ada di tangan Lisin.


Sejak kapan dia punya itu... Materai tidak bertanya lebih lanjut kepada Lisin, kemudian keduanya berhenti di sebuah pintu ruang kokpit pesawat.


Di dalam ruang kokpit dua terorisme sedang mendengarkan musik yang saat ini cukup viral.


Yamet kudasi...


Yamet kudasi...


Bang Yamet...


Parake dasi...


Ara ara kimochi...


Ara ara kimochi...


Bang ara...


Parake peci...


Sungguh lagu yang luar biasa karena mendidik anak remaja agar tidak lupa memakai dasi dan peci.


"Bro... ganti saja musiknya... dari tadi itu terus" terorisme yang duduk di kopilot mengeluh.


"Bro kamu tidak tau ini lagu sedang viral di tiktok..." terorisme yang duduk di ruang kokpit menjelaskan.


"Tok... tok... tok... " sebuah ketukan dapat di dengar dari balik pintu ruang kokpit.


"Lihat tuh... Yang lain memanggil" terorisme yang mengemudikan pesawat menyuruh terorisme yang lain agar membuka pintu kokpit.


"Aku tau... "


Setelah terorisme membuka pintu kokpit, bukan temannya yang menyapa melainkan sebuah tebasan mengenai lehernya.


"Ahhh... "


Darah mengalir dari lehernya kemudian terorisme tersebut ambruk, Lisin yang memegang katana masuk ke ruang kokpit lalu meletakkan katana ke leher Terorisme yang tersisa.

__ADS_1


"Keluar... " kata Lisin dengan dingin.


"Bro... jika aku melepaskan kendali, pesawat akan jatuh" Terorisme yang tersisa berkata tanpa rasa takut seolah kematian bukan ancaman untuk mereka.


"Kamu bisa mengaturnya ke pilot otomatis kan..." Lisin menempatkan katana sangat dekat dengan leher terorisme bahkan ada darah mengalir di sana.


Terorisme yang tersisa bukannya takut melainkan tersenyum sambil menatap ke arah Lisin.


"Kenapa kamu tersenyum..." Lisin bertanya.


"Hehehe... apa kamu tidak ingin tau alasan kenapa kami melakukan ini semua" Mendengar perkataan terorisme Lisin mendengus dingin, lalu sedikit menjauhkan katana dari lehernya.


"Apa maksudmu?"


"Hehe... Lisin sepertinya kamu hanya beranggapan jika apa yang kita lakukan hanyalah tindakan terorisme semata" Lisin tidak berharap jika pihak terorisme mengenal dirinya, Siapa mereka...


"Jika kamu berpikir seperti itu maka kamu salah, Saat ini kamu sedang menari di telapak tangan bos kami. jika aku mati itu bukanlah akhir dari semuanya"


Tubuh Terorisme tersebut mengejang kemudian sebuah busa keluar dari mulutnya, matanya meredup lalu dia membungkuk saat kematian datang.


"Sial... dia bunuh diri dengan kapsul racun yang di simpan di dalam mulutnya... bahaya, pesawatnya menungkik ke bawah" Lisin sangat menyesal karena tidak bisa mendapatkan informasi tentang dalang di balik tindakan terorisme, dan apa tujuan mereka.


Lion Airline Boeing 747-400 Menungkik ke bawah.


"Ahhhh... "


"Pesawat akan jatuh... "


"Tolong aku tidak bisa bernafas... "


Semua penumpang mengalami kepanikan, bagaimana tidak saat ini Pesawat menungkik kebawah dan akan jatuh ke lautan membentang. jika pesawat jatuh ke laut semuanya akan berakhir.


"Semuanya tolong gunakan masker oksigen kalian" Mendengarkan perkataan pramugara semua penumpang mengikuti, mereka dengan cepat memasang masker oksigen yang bergantungan di atas kursi kabin.


"Semuanya kalian harus bertahan, karena oksigen di dalam pesawat menipis"


"Aku akan membantumu..." Diana yang melihat seorang wanita dengan perut buncit bergegas membantunya. tanpa memikirkan jika dirinya tidak mengenakan masker oksigen.


Sedangkan Jack dia menggunakan masker oksigen yang ada di kursi belakang.


Kembali ke ruang Kabin di mana Lisin sedang mengeluarkan terorisme yang melakukan bunuh diri sebelumnya kemudian mengambil alih kendali pesawat sebelum pesawat bersentuhan dengan permukaan air laut.


"Lisin... kamu tidak Apa-apa..." Materai yang bersusah payah masuk ke ruang kokpit di kejutkan dengan kemampuan Lisin menyetabilkan pesawat.


Dengan Lisin yang mengemudikan pesawat, sekarang Lion Airline Boeing 747-400 tidak mengalami benturan dengan permukaan air laut. Pesawat terbang kembali ke atas lalu berbelok tujuhanya adalah bandara Ngurah Rai.


"Materai kamu jaga kendali pesawat, Saat ini pesawat dalam pengaturan Pilot otomatis jadi tidak perlu khawatir lagi" Lisin berkata dengan keringat dingin mengalir, jika dia terlambat mengendalikan pesawat beberapa detik saja maka pesawat akan jatuh ke laut.


"Ya... serahkan padaku, kamu harus istirahat Pahlawan... " Materai berkata dengan bersemangat.


"Kamu juga Materai... Aku akan melihat keadaan Diana dan penumpang lainya..."


"Lisin tolong lihat keadaan istriku..."


"Aku mengerti... " Jawab Lisin.


"Semua penumpang di harap tenang karena pesawat telah dalam kondisi aman, untuk semua penumpang jangan pergi ke kabin depan karena ada pemandangan yang tidak harus kalian lihat"


Suara Materai dapat di dengar melalui speaker yang ada di setiap sudut kabin pesawat.


"Hore... Aku bilang apa jika ada tuan Materai semuanya akan baik-baik saja... "


"Kau benar... "


"Hidup pahlawan... "


"Hidup... "


"Kamu tidak apa-apa..." Wanita hamil yang merasa tertolong melihat ke arah diana.


"Aku baik-baik saja..." Diana perlahan berdiri dia ingin pergi ke kabin depan untuk melihat Lisin.


"Aku ikut denganmu..." Kata Jack yang berdiri di belakang Diana.


"Baiklah... "


Keduanya dapat melihat jika semua terorisme telah di lumpuhkan, saat melihat beberapa potongan tubuh Diana merasa ingin muntah.


"Kamu baik-baik saja?" Jack menangkap Diana dari belakang. dari arah kabin depan Lisin datang.


"Diana... Jack..." pangilan dari Lisin.


"Lisin... " Saat Diana berniat lari ke arah Lisin, dia di hentikan oleh cengkraman kuat dari Jack, kemudian sebuah pistol keluar dari pinggangnya lalu menembak Lisin.


"Dor... " Itu adalah pistol yang sebelumnya ada di dalam tas milik Materai.


"Ahhhh... " Diana yang melihat jika bahu kanan Lisin tertembak berteriak, dia ingin mendekati Lisin namun di tahan oleh Jack.


"Jack... kamu... Jangan bilang jika kamu dalang di balik semua ini, dan pistol itu sengaja kamu letakan di dalam tas Materai saat kamu pergi ke toilet" Lisin berkata dengan berlutut sambil memegang bahu kirinya yang tertembak. darah dapat di lihat mengalir dari sana.


"Hahaha... Itu benar Lisin..." Jack mengakui sambil tertawa.


"Jack... kenapa kamu menembak Lisin" Diana yang di tangkap oleh jack berkata dengan kebencian. namun Jack mengabaikannya.


"Lisin... kamu menyinggung ku dengan membunuh juragan Suryo beserta kedua anaknya, mereka sangat berjasa karena menjadi kaki tanganku. sayangnya mereka mati di tanganmu" Jack menggelengkan kepala.


"Aku membuat sebuah permainan untuk mu... selamatkan Pesawat ini dari Bom yang telah aku pasang di bagian atas pesawat. atau kamu selamatkan pacar kecilmu Ningsih yang saat ini berada di apartemennya, di dalam sebuah kotak tertutup, yang mana sebuah gas Karbon monoksida akan memenuhi kotak tersebut" Jack diam kemudian melanjutkan.


"Bom akan terpicu dalam timer waktu satu jam sedangkan Karbon monoksida akan membunuh pacarmu dalam waktu satu jam. Lisin ini permainan yang aku buat khusus untukmu, Siapa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu" Jack berkata sambil tertawa.


"Jack... aku bersumpah akan membunuhmu" Lisin menatap Jack dengan tajam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2