
Lisin di buat tidak bisa berkata - kata dengan perkataan kedua orang tua Dosen Mirna.
Untung saja punya putri cantik jika tidak, orang tua matre seperti keduanya akan berakhir dengan tidak sederhana, apa lagi Lisin sudah dekat dengan Dosen Mirna dan juga sudah merasakan tubuhnya.
Andaikan kedua pasangan yang mencaci maki Lisin adalah orang lain mungkin Lisin akan langsung memberikan pelajaran.
"Om... Jika Mirna bisa kencan denganku, biaya sewa bulan depan akan saya gratiskan..." Tarno mengambil kesempatan untuk menyakinkan Kedua orang tua Mirna.
"Beneran Nak Tarno?... Baik aku mengerti..." Sebagai orang yang haus akan uang dan orang Matre sejati, jelas godaan dari Tarno membuat Ayahnya Mirna sangat senang.
"Mirna... Papa dan Mama sudah membesarkan mu, dari bayi hingga kamu mencapai titik ini, jadi sudah sewajarnya jika kamu membalas jasa Papa dan Mama dengan kamu bersama Nak Tarno..." Ayahnya Mirna berkata dengan membujuk.
"Pokoknya... Setelah kamu berkencan dengan Nak Tarno, kalian harus secepatnya melangsungkan pernikahan..." Ayahnya Mirna menambahkan.
Melihat ini Tarno tertawa di dalam hatinya sambil menambahkan bahan bakar kedalam api.
"Tante... Baju di sini mahal - mahal mungkin Aku harus membelikan satu untuk Tante... Hanya saja Tante harus membantuku untuk membujuk Mirna..." Setelah menggoda Ayahnya, Tarno juga menggoda Ibunya, dan Tarno sangat yakin dengan janji tersebut keduanya akan membantu membujuk Mirna.
Ibunya Mirna melihat sekeliling untuk melihat pakaian bermerek dan semuanya jelas mahal - mahal, jika dirinya pulang dengan baju baru pasti bisa sombong kepada tetangganya.
Jadi tidak sabar untuk pamer baju baru pada setiap tetangga penghuni komplek perumahan. Ibunya Mirna memiliki senyuman lebar.
"Mirna dengarkan apa yang Papamu katakan, Mama melahirkan kamu dengan susah payah, apakah kamu tega tidak menuruti perkataan Mama dan Papamu ini..." Ibunya Mirna mulai terpancing.
"Mama... Papa... Teganya kalian berdua menganggap diriku seperti barang yang bisa di tukar dengan uang..." Mirna berkata dengan sangat frustasi.
Mirna melihat kelakuan kedua orang tuanya sangat malu, Kemudian dirinya melihat kearah Lisin dengan tidak berdaya, jika Tarno di bandingkan dengan Lisin jelas tidak ada sehelai rambut yang Lisin miliki.
Memang benar kedua orang tuanya sangat Matre, namun bagaimana lagi mereka berdua tetap kedua orang tuanya. jika membahas masalah kekayaan, Mirna sangat yakin jika Lisin lebih kaya dari Tarno hanya saja Lisin tidak memamerkannya seperti Tarno.
Mirna melihat kearah Lisin untuk menyakinkan Kedua orang tuanya. dan Lisin memahami tatapan Mirna yang terlihat seperti memohon sesuatu.
"Kalian berdua ini uang Tips dan panggil pemilik Mall pusat pembelanjaan ini..." Lisin mengeluarkan segenggam uang dari saku celananya, dan itu sangat banyak jelas dirinya ingin memamerkan kekayaannya di depan kedua orang tua Dosen Mirna yang matre.
__ADS_1
"Segera kami laksanakan..." Kedua karyawan wanita jelas sangat senang akhirnya mereka mendapatkan uang tips dan melihat dari tebal tumpukan uang tersebut pasti sekitar 10 juta.
Kedua karyawan itu memiliki wajah yang berseri-seri sambil menghilang di kejauhan. sedangkan Kedua orang tua Dosen Mirna dan Tarno memiliki kedua mata membulat.
10 juta untuk uang tips, jika tidak anak Sultan siapa lagi... pasti seorang miliarder.
Kedua orang tua Dosen Mirna memiliki kedua matanya tidak percaya, Pacar putri mereka memiliki banyak uang bahkan memberikan uang tips 10 juta hanya untuk memanggil seseorang.
Bagaimana jika dia menjadi menantunya nanti, jelas tidak mungkin pelit kan, setidaknya dirinya harus meminta Mahar pernikahan 1 Miliyar.
Memikirkan uang 1 Miliyar kedua orang tua Dosen Mirna sangat bahagia, jelas lebih bahagia dari penyewaan lahan toko gratis dan harga baju yang ada di Mall pusat pembelanjaan.
"Om... Tante... jangan tertipu dengan akal busuknya dia pasti sudah mensetting kedua karyawan sebelumnya, dan aku sangat yakin akan hal tersebut, juga untuk apa dia ingin bertemu dengan pemilik Mall pusat pembelanjaan..." Tarno menjelaskan dengan kesal.
Dirinya memiliki gaji bulanan tidak lebih dari 5 juta, namun pihak lain menggunakan 10 juta sebagai uang tips. bagaimana Tarno tidak kesal?
"Ehm... Mengapa kamu ingin memanggil pemilik Mall pusat pembelanjaan?..." Kedua orang tua Dosen Mirna jelas di buat bingung antara percaya atau tidak, dirinya tidak langsung mengikuti perkataan Tarno dan lebih memilih untuk mendengarkan penjelasan pacar putrinya.
Sebagai orang Matre Sejati, jelas dirinya harus memikirkan pro dan kontra. jika pacar putrinya lebih kaya dari Nak Tarno, mengapa tidak menyetujui keputusan putrinya.
Selama uang mengalir maka restu orang tua akan mengalir juga, jika uang tidak mengalir maka jangan berani - berani mendekati putrinya apa lagi ingin bercocok tanam.
Kaum Jomblo akan menangis jika mengetahui syarat restu orang tua seperti ini.
"Om... Tante... Aku berniat membeli Mall pusat pembelanjaan ini... agar Om, tidak lagi membayar uang sewa bulanan... Juga agar Tante, bisa mengambil apapun yang ada di Mall pusat pembelanjaan ini tanpa harus memikirkan tentang pembayaran..." Lisin dengan sopan menjelaskan, Hanya saja Lisin tidak memikirkan dampak dari perkataannya.
"Membeli Mall Pusat pembelanjaan!!!..." Mereka yang mendengarkan perkataan Lisin mengulangi secara bersama - sama dengan ketidakpercayaan.
Apakah mereka semua salah dengar?
Kedua Orang tua Dosen Mirna sangat kegirangan, keduanya sangat yakin, jika memiliki menantu kaya raya seperti ini kebutuhan akan terjamin. tidak perlu membayar uang penyewaan lahan toko lagi, dan bisa memilih pakaian mahal sesuka hatinya.
Tarno sangat marah dan frustasi, dirinya jelas tidak percaya dengan perkataan pihak lain, berapa harga Mall pusat pembelanjaan?... Setidaknya puluhan sampai ratusan miliyar.
"Tuan Wijaya..." Tarno yang sangat kesal, kembali tentang saat melihat kedatangan Kepala Wijaya.
__ADS_1
Tarno dengan bangga mendekati kepala Wijaya dan berniat menjabat tangannya, hanya saja Tarno tidak berharap jika kepala Wijaya akan mengabaikan dirinya.
"Tuan Lisin senang melihatmu di sini..." Kepala Wijaya menyambut Lisin.
"Paman... Ternyata dunia begitu sempit, aku tidak menyangka jika Mall pusat pembelanjaan ini milik paman..." Lisin dengan senyuman menjawab sambil berjabat tangan.
Tarno dan kedua orang tua dosen Mirna memiliki rahang jatuh ketanah, jelas mereka sudah mengantisipasi kejadian ini namun tidak berharap keduanya akan saling mengenal.
Siapa Kepala Wijaya dia salah satu orang terkaya di Kota Malang, dan dia harus bersikap sopan kepada Lisin latar belakang apa yang di miliki Lisin ini.
Dua karyawan wanita dan kepada manajer tersenyum dari kejauhan namun tidak dengan Kedua orang tua dosen Mirna.
Keduanya memiliki senyuman secerah matahari, jelas dirinya sangat yakin sekarang jika pacar putrinya dapat membeli Mall pusat pembelanjaan.
Dari pada Nak Tarno, jelas pacar putrinya lebih baik dan yang terbaik, Keduanya harus menyenangkan Lisin mulai sekarang, dan tidak masalah jika Lisin menggunakan putri mereka untuk bercocok tanam kapan saja.
"Manajer bawakan dokumen kepemilikan Mall pusat pembelanjaan..." Kepala Wijaya mendapatkan dokumen kemudian memberikannya kepada Lisin.
Dari awal kedatangan Lisin kepala Wijaya tanpa sengaja melihat rekaman CCTV dan mulai memahami semuanya sebelum kedatangan dua karyawan wanita.
Seperti sebelumnya, karena Lisin berniat membeli Mall pusat pembelanjaan, maka Kepala Wijaya akan memberikannya secara cuma - cuma.
"Lisin ambilah... Mulai hari ini Mall pusat pembelanjaan akan menjadi milikmu... Aku akan memberikannya kepadamu, kamu tidak perlu membeli atau membayarnya..." Kepala Wijaya berkata dengan tersenyum.
Diam... Mall pusat pembelanjaan memiliki harga yang tidak murah, namun memberikannya begitu saja. Apakah jika itu orang lain bisa melakukannya? jelas tidak.
"Tidak, Membeli tetap membeli aku tidak menginginkannya secara cuma - cuma, Paman Wijaya katakan saja berapa harganya..." Lisin menggeleng.
Kedua Orang tua dosen Mirna tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Mall pusat pembelanjaan di berikan secara cuma - cuma, mengapa pacar putrinya tidak mau menerimanya, jika itu diri mereka pasti akan menerimanya secara langsung.
"Lisin... Sebenarnya aku memiliki permintaan namun tidak sekarang, dan Mall ini akan aku berikan sebagai kompensasi..." Kepala Wijaya membuat alasan.
"Baiklah... Jika seperti itu..." Lisin hanya bisa menerimanya, entah permintaan pihak lain apa yang jelas dia bisa memikirkannya nanti.
Bersambung...
__ADS_1