
Siang hari...
Lisin bersantai di apartemen mewah milik Ningsih, karena Ningsih mengatur banyak hal kepada Nazwa untuk mengurus PT. Angkasa mengantikan dirinya membuat Ningsih bisa melakukan apa yang diinginkannya.
Setelah peperangan yang dilakukan di kantor semalam, hingga menjelang pagi banyak properti perusahaan yang hancur karena tindakan mereka berdua.
Ningsih memilih pergi bersama Lisin ke apartemen miliknya untuk melanjutkan ronde berikutnya mengingat di antara keduanya belum di putuskan siapa yang menjadi pemenangnya.
Hingga menjelang siang keduanya baru bisa terpisahkan, kini Ningsih tidak seperti sebelumnya yang sangat sibuk. sekarang dirinya ingin menghabiskan waktu bersama dengan orang yang dicintainya, sambil memikirkan tentang lamaran dari Lisin.
"Seperti ini kah nasi goreng ketagihan yang viral itu?..." Ningsih yang hanya mengenakan celemek belajar memasak nasi goreng ketagihan di bawah bimbingan Lisin.
"Ya... Sepertinya kamu sudah siap menjadi istri yang baik..." Lisin memeluk Ningsih dari belakang.
"Apakah kamu ingin aku memasak nasi goreng ketagihan setiap hari?..." Ningsih berkata dengan cemberut.
"Mengapa tidak... orang lain rela mengantri dan menghabiskan banyak uang agar bisa menikmatinya setiap hari, aku akan menjadi suami paling bahagia jika seperti ini..." Lisin yang berdiri di belakang berkata dengan perlahan.
"Satu tahun..." Ningsih berkata dengan memerah.
"Kamu yakin meminta waktu satu tahun..." Lisin bertanya.
Semalam setelah Lisin mengatakan jika akan menikahinya, Ningsih meminta waktu untuk memikirkan lamaran dari Lisin.
"Ya... pertama, aku tidak terlalu pandai memasak apa lagi mengurus rumah..." Ningsih berkata dengan malu.
Ningsih tidak pernah memasak untuk dirinya sendiri dan waktu yang di miliknya hanya di gunakan untuk berkarir.
Di bandingkan dengan Ratih keduanya adalah kebalikan yang berlawanan.
"Kita bisa memiliki asisten rumah tangga, dan kamu masih bisa mengurus perusahaan..." Lisin berbisik.
"Tidak... Aku ingin bisa memasak sendiri" Ningsih bersih keras.
"Dan yang kedua, Kamu memiliki banyak wanita... Apa yang akan kamu lakukan kepada mereka?..." Setelah mencuci tangan Ningsih berbalik badan dan menatap kearah Lisin.
"Aku akan menikahi mereka semua..." Lisin menjawab dengan tulus.
"Hem... Kamu hanya pintar di atas ranjang... Apa kamu pikir semudah itu menikahi banyak wanita?..." Ningsih berkata dengan tidak berdaya.
Dirinya memang tidak keberatan jika Lisin memiliki beberapa istri, namun siapa yang berharap akan begitu banyak wanita yang di milik Lisin.
"Aku tau... Untuk itu aku ingin membuat kalian semua bisa bertemu satu sama lain agar saling mengenal..." Lisin tidak berdaya.
Dirinya memiliki begitu banyak wanita dan pasti akan menikahi semuanya, yang membuat Lisin bingung adalah menikahi mereka secara bersamaan atau satu persatu.
"Aku mengerti... Apa yang kamu lakukan setelah ini?..." keduanya duduk secara berhadapan sambil memakan nasi goreng ketagihan.
Lisin terdiam sambil memutuskan lalu dirinya ingat dengan Yanto yang sangat arogan.
"Nanti malam Aku akan bertemu dengan seorang kenalan..." Lisin berkata sambil memakan nasi goreng.
"Kalau begitu... kita bisa melakukannya beberapa ronde lagi sebelum kamu pergi..." Ningsih berkata dengan malu.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita lakukan..." Lisin mencium leher Ningsih, hal tersebut membuatnya tersentak.
"Aku akan mandi terlebih dahulu..." Ningsih berlari kearah kamar mandi.
Lisin duduk di atas kasur, saat Ningsih keluar dari kamar mandi yang hanya berbalut handuk putih membuat Lisin bergairah lagi.
Dengan cepat Lisin menarik Ningsih yang memiliki rambut basah.
Lisin bersandar di atas kasus dengan Ningsih berada di atasnya, saat Ningsih hendak membebaskan diri. Lisin menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuh lembut Ningsih.
Secara perlahan handuk putih yang di kenakan Ningsih terlepas lalu memperlihatkan tubuh mulusnya.
Hingga menjelang sore apartemen tersebut bergoyang tanpa memikirkan hutang yang di miliki tetangga di sekitar apartemen.
.....
Lisin menggunakan taksi untuk pergi ke Monang Maning untuk melihat pertunjukan seperti apa yang menunggu dirinya di sana.
Karena Yanto mengundang dirinya, Lisin hanya perlu datang ke sana guna melihat seberapa mampukah pihak lain, apakah lebih tanggung dari ke arogan yang di milikinya ataukah hanya besar mulut saja.
Saat memikirkan perkataan Yanto, Lisin mengingat kembali tentang siapa pihak lain, Yanto memiliki kedua ayah dan ibunya yang berpisah sehingga membuat dia kekurangan kasih sayang dan perhatian orang tua.
Informasi tentang Yanto yang di dapatkan dari sistem iyalah, Yanto itu menjadi kaki tangan seseorang yang melakukan bisnis gelap yang ada di bali.
Di permukaan wilayah Bali memang memiliki keadaan yang tenang namun, kejahatan di kegelapan tidaklah terlihat.
Saat Lisin berjalan ke tempat cukup sepi, seseorang yang tidak asing lagi menghampiri dirinya.
"Lisin... sepertinya kamu memang memiliki keberanian..." Yanto menghisap rokok lalu membuang putung rokok tersebut secara sembarang.
"Kita akan melakukannya di atas ring... Apakah berani berdiri di atas ring denganku..." Yanto tersenyum.
"Jika kamu menang dari ku kamu akan mendapatkan uang bukankah itu sangat menguntungkan..." Yanto menggoda Lisin, seperti yang dilakukan dirinya terhadap beberapa orang yang menjadi korban tindakannya.
Jika menyangkut masalah uang siapapun akan tertarik, namun siapa Lisin? apakah dirinya kekurangan uang?...
Lisin hanya bisa tertawa di dalam hatinya, entah kenapa situasi ini seperti harimau dan kambing di letakan di dalam satu kandang, Yanto hanya mencari bunuh diri.
Mari kita lihat pengaturan seperti apa yang di miliki Yanto ini.
Tujuan Yanto adalah uang dan dirinya telah menipu banyak orang agar terpancing di bawah ajakannya.
Yanto adalah petarung gaya bebas yang ada di bawah bisnis orang tertentu, Melakukan pertarungan dengan orang lemah dan memasang taruhan untuk dirinya sendiri. Yanto akan mendapatkan banyak uang dari kemenangan tersebut, belum lagi akan mendapatkan bonus tambahan dari atasannya.
"Ikuti aku..." Yanto memimpin jalan lalu memasuki anak tangga yang gelap.
Di mana di luar sangat sepi tanpa suara, namun di dalam di penuhi dengan suara kebisingan dari teriakan penonton.
"Pengurus... Malam ini aku akan bertarung seperti biasa... Selama pengurus bertaruh di bawah kemenangan ku dan membuat orang lain bertaruh di bawah kemenangan orang yang aku bawa, pengurus tidak akan kehilangan uang, melainkan mendapatkan banyak uang..." Yanto berkata dengan menjilat.
"Hahaha... kamu memang pintar seperti biasanya..." Pria gemuk yang menjadi pengurus arena pertarungan bawah tanah tertawa puas.
Pria gemuk tersebut memiliki banyak petarung kuat namun dirinya lebih suka dengan Yanto, walaupun Yanto adalah orang tidak terlalu kuat namun dirinya sangat pintar memanfaatkan seseorang.
__ADS_1
Lisin yang memasuki tempat pertarungan bawah tanah hanya bisa menggeleng, jelas banyak orang di sini untuk berjudi namun kenapa penegak hukum tidak mengetahui hal ini.
"Bondon akan bermain..."
"Apakah dia kuat?..."
"Sepertinya tidak, namanya terdengar aneh..."
"Benar, karena itu kamu harus mendukung lawannya, ku dengar lawannya sangat kuat dan Bondon pasti akan kalah..."
"Benar, Aku tidak ingin bertaruh untuk Bondon karena akan kalah..."
Tentu saja orang-orang ini adalah suruhan Yanto agar orang lain bertaruh di bawah kemenangan Lisin, dengan begitu setelah dirinya mengalahkan Lisin dirinya akan mendapatkan banyak uang dari beberapa persen keuntungan perjudian.
Trik ini tidak bisa di lakukan setiap hari, setidaknya Yanto akan melakukannya beberapa bulan sekali agar para penjudi tidak memiliki kecurigaan.
Alasan mengapa Yanto mengunakan nama Bondon itu agar terdengar lemah di telinga para penjudi.
"Siapa lawannya?..."
"Hunter..."
"Wow, dari namanya saja jelas kuat..."
"Kalian harus bertaruh untuknya..."
"Aku pasti akan mendapatkan uang..."
"Haha... sama bro..."
Tentu saja itu hanya sebuah nama, Yanto tidak peduli, tujuannya adalah membuat banyak orang bertaruh untuk Lisin.
Yanto akan menganti nama setiap kali melakukan aksinya, dan pasti akan mendapatkan banyak uang, kemenangannya akan di pastikan.
Setelah banyak penjudi termakan rumor palsu banyak orang berdatangan untuk bertaruh di bawah nama Hunter atau Lisin.
"Ladies and gentleman... apakah kalian siap melihat darah..."
"Aku siap..."
"Aku siap..."
"Aku siap..."
Mendengar siaran Host melalui pengeras suara banyak penonton berteriak.
"Pertarungan bertopeng antara Bondon dan Hunter akan menghibur kalian semua"
"Mari kita sambut petarung yang di prediksi akan menjadi pemenang... Yaitu Hunter..."
"Hunter..."
"Hunter..."
"Hunter..."
__ADS_1
Lisin bingung apakah akan menangis atau tertawa, sepertinya pengurus tempat pertarungan bawah tanah ini akan mengalami kebangkrutan.
Bersambung...