
Mobil avanza melaju dengan kencang dari arah selatan, Karena sebuah kepentingan tertentu Anisa dan ketiga temannya memilih untuk melakukan kunjungan tepatnya kota pasuruan dangan berkendara Mobil Avanza.
Saat melalui jalanan yang cukup sepi tepatnya jalanan yang ada di kaki gunung Arjuno. terdapat jalur di kenal dengan jalanan yang menanjak juga turunan yang tajam.
"Anisa apa masih lama perjalanannya?" Ratna berada di kursi belakang bersama dengan pacarnya Danu, Anisa duduk di bagian depan sedangkan Anjar si kurang tampan mendapatkan giliran mengemudi.
"Kurang lebih 10 kilometer lagi memasuki kota pasuruan..." Anisa menjawab sambil bermain dengan ponselnya yang menampilkan petunjuk arah GPS.
"Lama sekali..." Ratna mengeluh tidak puas.
"Kalau mau cepat naik pesawat saja..." Anjar menyindir dengan kesal, demi mencari pujian dari Anisa dirinya telah mengemudi sejak memasuki Jawa Timur.
Anjar yang jomblo sangat kesal dengan temannya yang beruntung karena sudah memiliki pacar yaitu Danu.
"Bro Anjar... kalo iri bilang saja bro..." Danu sedikit tidak senang karena Anjar memarahi pacarnya.
"Hei... Danu kamu ngajak ribut..." Anjar mencibir.
"Sini kamu-" perkataan Danu di potong Anisa yang kesal juga.
"Sudah hentikan..." mendengar perkataan Anisa keduanya langsung diam.
Sebagai mahasiswa universitas tertentu kota jakarta, keempat orang tersebut adalah kelompok untuk melakukan tugas yang berhubungan dengan sesuatu yang ada di kota pasuruan.
"Sebenarnya aku pernah ingat jika ada jalan alternatif lain di pertengahan jalan" Danu berkata setelah mengingat sesuatu.
"Benarkah sayang..." Ratna yang sangat senang mendengar perkataan pacarnya langsung memberikan kecupan kening.
"Kalau begitu kamu saja yang mengemudi..." Anjar yang melihat melalui kaca spion semakin kesal, mengapa kalian bermesraan padahal tau jika di sini ada orang jomblo.
"Ok..."
Setelah Danu mengemudi, Mobil avanza berhenti di sebuah persimpangan sempit dengan sebuah kayu tua menghalangi jalan sempit tersebut. di atas kayu tua memiliki sebuah plang berkarat dengan tulisan, 'Di Larang Melalui Jalur Ini'
"Mengapa jalur ini di larang untuk dilalui..." Anjar dan Danu turun dari mobil.
"Mana aku tau... Aku juga belum pernah melalui jalur ini..." Danu memindahkan kayu tua yang menutupi jalan.
"Lalu... bagaimana kamu tau jika ada jalur alternatif di sini... kayak dukun aja kamu"
"Aku tau dari temanku... sudahlah, yang penting kita bisa sampai lebih cepat..." Anjar dengan terpaksa membantu Danu untuk memindahkan kayu tua yang di gunakan sebagai plang penutup jalan.
Mobil avanza yang di kemudikan Danu melaju melalui jalur alternatif yang memiliki permukaan jalan bergelombang.
"Sayang... jalur ini buruk sekali" Ratna berkata dengan cemas, dia takut jika mobil akan berguling lalu jatuh ke dalam rawa.
"Sial..." Danu kesulitan mengendalikan kemudi mobil.
"Ahhh..." Ratna dan Anisa berteriak.
"Danu... kamu bisa menyetir apa tidak sih..." Anjar yang tidak mengenakan sabuk pengaman mendapatkan benturan pada wajahnya yang kurang tampan dengan kursi bagian depan.
"Aku... tidak tau, sepertinya ban mobil mengalami kebocoran..." Danu langsung pergi ke keluar dan apa yang di duganya benar.
Keempat rodanya mengalami kebocoran, dapat terlihat sebuah paku menonjol pada permukaan setiap ban.
"Sial... ini ranjau paku..." Anjar yang marah dapat melihat begitu banyak paku berserakan di jalanan.
Anisa turun dari mobil kemudian dirinya mengambil satu paku di jalan, dia dapat melihat karat yang memenuhi paku tersebut yang mungkin berusia tahunan.
"Waaaaa... tidak, kita terjebak di sini... di tempat sepeti hutan ini..." Ratna yang ketakutan seperti akan menangis kapan saja.
"Ini... semua gara-gara Danu, andaikan saja kita tidak melewati jalur alternatif ini, kita tidak akan berakhir di sini" Anjar memarahi Danu habis-habisan.
"Anjar... jangan salahkan pacarku, dia hanya ingin membuat perjalanan kita berakhir lebih cepat dengan melalui jalur ini..." Ratna yang sedih perlahan tenang.
"Teman-teman... tempat ini tidak memiliki sinyal..." Anisa yang melihat ponselnya mengingatkan.
"Apa..." Ratna, Danu dan Anjar langsung mengeluarkan ponselnya guna memastikan perkataan Anisa benar.
"Sial... Punyaku juga tidak ada..."
"Aku juga..."
"Duh... gimana ini... kita tidak bisa meminta pertolongan, apa yang harus kita lakukan..."
Keempatnya masuk kedalam mobil sambil terus berdebat tentang apa yang selanjutnya akan di lakukan.
1 jam kemudian, dari arah mereka sebelumnya datang sebuah mobil sport warna merah melaju dengan kencang.
Sebelum mobil sport tersebut cukup dekat, mobil itu hilang keseimbangan dan hampir mengalami benturan dengan pohon. untungnya mobil sport tersebut berhenti sebelum bagian depan mobil bersentuhan dengan pohon.
"Kamu tidak apa-apa?" Anisa di ikuti yang lain mendatangi pemilik mobil sport tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa..." Jawab pemilik mobil sport tersebut.
"Aku Anisa, dia bertiga teman-temanku, Ratna dan pacarnya Danu dan ini Anjar... Kami mahasiswa dari jakarta yang berniat melakukan perjalanan ke kota pasuruan namun berakhir di sini"
"Aku Lisin..." Jawab Lisin dengan datar.
"Baiklah kamu yang memimpin..." Setelah berdebat panjang lebar kali tinggi kelimanya memutuskan untuk turun gunung.
"Semuanya tolong ikuti aku dari belakang karena aku sangat berpengalaman..." Anjar memimpin.
Lisin yang tidak berdaya hanya bisa mengikuti mereka semua dari belakang.
"Mas... Lisin kamu mau kemana? mengapa kamu melalui jalur ini..." Anisa yang berjalan di depan Lisin bertanya.
"Aku sedang tes mobil, dan tanpa sadar berakhir di jalan pegunungan, karena ada jalur alternatif pada GPS aku langsung memutuskan melewati jalur tersebut" Lisin berkata dengan jujur.
"Sepertinya kita semua sedang tidak beruntung..."
Anjar melihat yang lainnya merasa tertekan, dirinya memimpin jalan dengan membuat jalan baru seperti mematahkan ranting pohon, memastikan kelayakan jalan yang akan di lalui. Berharap mendapatkan pujian dari yang lain terutama Anisa sang pujaan hati.
Namun saat dia melihat kebelakang Dia hampir muntah darah karena marah, itu karena Anisa asik mengobrol dengan Lisin, dan Ratna berpegang tangan dengan pacarnya Danu seolah mereka semua sedang tamasya ke tempat wisata.
"Sial..." Anjar merasa seperti orang jomblo yang di manfaatkan oleh orang lain.
"Berhenti semuanya..." Lisin menghentikan perjalan semua orang sambil melihat kearah kejauhan.
"Ada apa..." semua orang menatap Lisin, Termasuk Anjar yang menatapnya dengan kebencian.
"Di depan seperti ada yang bergerak, tolong hati-hati..." Lisin yang tau jika ada orang di kejauhan sangat jelas jika pihak lain tidak ramah.
"Kamu... kalau takut bilang saja... selama aku yang memimpin jalan semuanya akan aman sentosa dan sejahtera" Anjar yang merasa tinggi tidak menggubris peringatan dari Lisin.
Anjar dengan leluasa terus melakukan perjalanan sambil membuka jalan. lalu saat Anjar memimpin jalan sebua anak panah yang terbuat dengan kasar bersarang tepat di jantungnya.
"Guk..." Anjar memuntahkan seteguk darah, Dia sangat menyesal bukan hanya tidak mendengarkan peringatan dari Lisin. melainkan karena dirinya Akan mati dengan statusnya yang menjomblo.
Dia hidup tanpa merasakan hal gituan hanya sabun yang menyediakan layanan untuknya. Sekarang dia akan mati begitu saja bagaimana dia tidak marah.
"Ahhhh..." Ratna dan Anisa berteriak.
"Sial... bersembunyi..." Lisin menarik Anisa yang cantik kedalam pelukannya sambil bersembunyi di balik pohon. sedangkan Danu dan Ratna melakukan hal yang.
Lisin melihat ke arah Anjar yang Mati hanya bisa mendesah, Lisin sudah memperingatinya namun pihak lain tidak menganggapnya serius melainkan menghinanya.
"Kamu tidak apa-apa?" Lisin bertanya kepada Anisa yang menangis dalam pelukannya. .
"B... bagaimana dengan Anjar..." Anisa berkata dengan khawatir. Walaupun Anisa selalu menolak Anjar setidaknya Anjar sangat baik pada dirinya. Anisa hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih namun melihat jika Anjar mendapatkan anak panah di bagian dadanya dia jelas sangat sedih.
"Suut..." Anak panah lain menancap pada pohon yang ada di belakang Lisin.
"Sepertinya... Temanmu Anjar sudah mati" Lisin yang bersembunyi di balik pohon Mengintip jasad Anjar yang tidak bergerak.
"Mati..." Anisa merasa sedih dan ketakutan.
"Siapa mereka dan kenapa mereka membunuh Anjar... dan memburu kita?" Anisa mengusap air matanya.
"Aku tidak tau... Sepertinya, dari awal pihak lain sudah menargetkan seseorang yang melalui jalur alternatif ini... ada dua kemungkinan, pertama pihak lain menginginkan harta yang kita miliki, kedua pihak lain menginginkan tubuh kita"
"Tubuh... kita?..." Anisa bingung, jika pihak Lisin menginginkan harta benda kemungkinan besar mereka begal yang melakukan aksinya di tempat ini. jika pihak lain menginginkan tubuhnya maka situasinya sangat sulit.
(DING...)
(Tugas sistem terpicu tuan rumah harus mengalahkan Kopet yang mendiami tempat ini)
(Apakah tuan rumah menerima: Ya/tidak)
"Terima..." Lisin yang mendapat misi lain sangat senang. sekarang dia mulai mengerti cara cepat memicu tugas sistem. yaitu dirinya harus dalam situasi tertentu karena Sifat sistem yang pelit, tidak akan memberikan tugas secara cuma-cuma.
Sistem sialan.... mengapa kamu tidak seperti sistem yang ada di novel-novel tertentu, yang selalu memberikan arahan kepada Host seperti orang tua yang mendidik anaknya.
"Kamu harus pergi... aku akan menjadi umpan..." Lisin berkata dengan yakin.
"Tidak... aku ikut dengan kamu"
Lisin tidak berdaya lalu melihat ke arah Ratna yang menangis dalam pelukan Danu.
"Bro... kamu tidak apa-apa?" Lisin bertanya.
"Tidak apa-apa bro..." Danu menjawab sambil mengelus rambut Ratna.
"Bro... jika kita terus berdiam diri, itu sama saja dengan menunggu kematian" Lisin berterus terang.
Sebenarnya Lisin bisa saja mengalahkan Seseorang yang memegang senjata di kejauhan hanya saja anak panah tidak memiliki mata. walaupun dirinya yakin bisa selamat dan berakhir dengan kemenangan. jika anak panah mengenai yang lain Lisin akan mengalami kesulitan.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan..."
"Aku akan menjadi umpan, kalian bisa pergi... ke arah lain" Lisin menyarankan.
"Baiklah aku mengerti..." Danu mengangguk, dia sangat senang orang lain menjadi umpan dengan suka rela mengapa dia tidak menyetujuinya.
"Anisa... kamu juga harus pergi" Lisin melihat ke arah Anisa, mereka dengan Lisin bukan teman jelas Lisin tidak hanya menjadi umpan, itu karena dirinya tidak ingin orang lain melihat dirinya membunuh kopet atau melakukan kekerasan.
Ketiganya melarikan di kearah selatan sedangkan Lisin keluar dari persembunyiannya dengan jalan santai.
Lisin melihat ke arah jasad Anjar dirinya tidak memiliki kesan baik terhadap Anjar, dia menghadapi orang yang memburunya bukan karena balas dendam, melainkan karena pihak lain mengarahkan senjatanya terhadap dirinya.
"Kopet... keluar kamu, aku tau kamu bersembunyi di sana..." Dengan memindai sebelumnya Lisin tau jika kopet telah mengintainya.
"Suut..." Siulan angin tidak lepas dari pendengaran super Lisin, dari arah timur Lisin langsung menangkap anak panah yang menuju ke arah dirinya.
"Kopet... mainan seperti ini tidak berguna" Lisin menangkap lagi lebih dari 5 anak panah.
Karena di balik pepohonan tidak ada lagi gerakan Lisin dapat menduga jika Kopet telah kehabisan anak panah. Lisin dengan santai berjalan ke arah Kopet yang ada di balik pepohonan.
"Kopet... kamu dimana... aku datang" tidak ada jawaban.
"Kopet... jangan bersembunyi..." Lisin mengintip dari balik pohon.
"Arrrg..." Lisin yang tidak menemukan siapa-siapa di balik pohon. kemudian dirinya di kejutkan oleh serang dari arah belakang.
"Wow... jadi ini kapak kopet yang legendaris itu..." Lisin menghindari ayunan kapak, membuat kapak tersebut menancap ke pohon dan itu cukup dalam.
Lisin dapat melihat penampilan seutuhnya si Kopet yang memiliki tubuh besar dan kuat, terlihat jelas dengan kapak yang tertancap pada pohon.
Seperti biasa Kopet memiliki topeng khusus mereka, namun kopet yang berdiri di depan Lisin memiliki topeng yang cukup umum. itu adalah topeng Kamen Rider.
Sial... Kopet bertopeng Kemen Rider, mengapa tidak ada seram seramnya sama sekali, kan bisa pakai kain goni, atau topeng seram lainnya. mengapa harus topeng kamen rider.
"Argh..." Kopet tersebut marah kemudian mengayunkan kapaknya secara berulang kali.
"Tidak kena..." Lisin menghindari terus menerus kemudian memberikan sebuah tendangan di bagian perut si kopet.
Kopet terpental cukup jauh lalu berguling ke bawah tebing.
"Apakah dia mati..." Lisin mendekati arah di mana Kopet sebelumnya jatuh.
"Sial... Kopetnya menghilang..." Lisin memindai sekeliling dengan tidak berdaya karena keberadaan Kopet tidak dapat di temukan.
Seperti di film-film Kopet yang terkenal, Kopet tidak hanya kuat dan bertopeng, para kopet cukup sulit untuk binasa dan yang membuat para penonton kesal adalah kopet memiliki kemampuan khusus yaitu Hiraishin no jutsu, yang bisa membuatnya berpindah ke mana saja.
"Sial..." Tidak hanya si Kopet yang menghilang bahkan jasad Anjar yang terkena anak panah di bagian dada juga menghilang.
Lisin yang kesal pergi mengikuti arah di mana Anisa, Ratna dan Danu sebelumnya pergi.
.....
"Hu... hu... sayang istirahat sebentar, aku capek..." Ratna mengeluh.
"Benar kita harus menunggu Mas Lisin..." Anisa yang juga capek berkata.
"Mengapa kita harus menunggu dia... kita juga tidak kenal..." Melihat Danu yang mencibir Anisa menjadi kesal.
"Danu... kamu lupa... karena dia kita berhasil selamat, mengapa kamu berkata seperti itu... di bandingkan dengan Mas Lisin kamu sangat pengecut" Anisa berkata dengan jujur.
"Kamu... kalau begitu kamu tunggu saja dia aku akan pergi, ayo Ratna..." Ratna hanya bisa mengikuti Danu pacarnya sambil melihat Anisa lalu mereka berpisah.
Danu yang menarik lengan pacarnya dengan kuat berhenti di tumpukan beberapa mobil bekas yang berserakan. dapat di lihat jika tempat tersebut adalah tempat di mana kopet menyimpan mobil jarahannya.
"Sayang... lenganku sakit..."
"Maaf..."
"Di sana ada rumah.... Ayo kita meminta bantuan" Danu berkata dengan semangat sedangkan Ratna mengangguk kemudian keduanya pergi menuju ke arah rumah tua tersebut.
"Permisi apakah ada orang?" Ratna Bertanya.
"Sial... bau sekali sepertinya ini rumah tidak layak huni..." Danu mengeluh sambil menutupi lubang hidungnya.
Rumah yang terlihat seperti gubuk yang di tinggalkan, itu memliki pintu kayu yang perlahan terbuka. kemudian seseorang dengan postur tubuh besar keluar dari sana.
"Pak bisa tolong kami... di sana teman kami Mati di serang oleh seseorang yang tidak di kenal..." Ratna meminta bantuan.
Orang tersebut terdiam dan yang membuatnya aneh adalah topeng Kamen Rider yang menutupi wajahnya. sepertinya dia Kopet yang sebelumnya berhadapan dengan Lisin, lalu jatuh ke tebing.
Bagaimana dia bisa dengan cepat berada di sini.
Bersambung...
__ADS_1
*Berita duka... Wifi tetangga mati lagi Mungkin author belum bisa Up besok dan lusa dan akan kembali Up pada hari senin.