Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 44


__ADS_3

Satu jam sebelumnya...


Lisin melihat ledakan yang menghancurkan aula Dekorasi hanya menatap dengan dingin, Berjalan menuju reruntuhan dekorasi Lisin melangkahi beberapa mayat berserakan kemudian dia mengambil Katana yang tertancap di tiang besi.


Kobaran api menyala-nyala mulai membakar di beberapa titik dan dengan cepat membakar dekorasi yang terbuat dari sejenis styrofoam yang mudah terbakar.


Lisin melihat jasad juragan Suryo yang tidak terbentuk, tangannya hilang sedangkan sebagian wajahmu terkoyak memperlihatkan bagian dalam kepala seperti otak, dan darah mengalir ke mana-mana, untuk jasad kedua anaknya juragan Suryo tidak jauh berbeda karena berjarak cukup dekat dengan pusat ledakan.


Perlahan kobaran api membakar tumpukan jasad dan tanpa rasa kasihan Lisin meninggalkan tempat kejadian, Lisin yang cukup lelah hari ini dia sudah membalas dendam namun apa yang dia rasakan adalah kehampaan.


Berhenti Lisin kembali melihat kobaran api yang menyalah, Mengingat jika selama 1 tahun ini keluarganya menderita karena tindakan tercela juragan Suryo ini adalah akhir yang pantas untuk mereka.


Di depannya ada dua orang yang menunggunya dia adalah Kepala keluarga Irawan dan Jendral kepolisian, mereka berdua melihat Lisin dengan dekat.


"Lisin kami berdua ikut sedih atas apa yang terjadi dengan keluarga mu... " Keduanya baru mengenal lisin, dalam pikiran mereka Lisin adalah pemuda kuat dalam hal beladiri.


Belum lagi jika berhubungan dengan pengobatan Tidak ada keraguan jika Lisin dapat mengobati seseorang yang sedang sakit, menurut keduanya keluarga Lisin adalah keluarga terpandang dengan kemampuan di atas Lisin namun kenyataan adalah terbalik.


Mereka berdua tidak menyangka jika keluarga Lisin yang ada di kampung sangat menyedihkan, menurut data yang di kumpulan dari masyarakat setempat keluarga Lisin adalah kelurga dengan ekonomi menengah ke bawah juga bukan ahli obat atau ahli seni bela diri melainkan keluarga normal pada umumnya, Ayahnya tukang bangunan sedang ibunya ibu rumah tangga ini semua di luar pemahaman mereka.


"Kalian... terimakasih atas kerjasamanya... aku tau kalian membantu di bidang lainnya, aku janji akan membalasnya..."


"Lisin ini adalah apa yang harus kami lakukan di antara kami tidak boleh ada ucapan terimakasih"


mereka bertiga tertawa lalu Jendral menjelaskan kepada Lisin tentang apa yang terjadi selama Lisin bertarung dengan Juragan Suryo dan anak buahnya, Lisin sudah menduga semuanya namun tidak berharap jika Jendral tua ini akan membantunya untuk mematikan Internet belum lagi membantunya untuk membersihkan Video yang ada di internet.


Informasi berikutnya adalah identitas lain dari Juragan Suryo yang mana adalah kaki tangan terorisme KKB papua, berita berikutnya datang dari Kepada irawan yang membantunya dengan menghancurkan Semua bisnis Juragan Suryo, kemudian Pemerintah akan mengambil alih semua aset Juragan Suryo.


Lisin memiliki permintaan di mana semua warga setempat yang memiliki hutang terhadap Juragan Suryo harus di anggap Lunas dan Jendral tua dan kepala irawan akan mengurusnya. dan permintaan Lisin berikutnya adalah ingin membeli rumah lamanya kembali dan karena rumah itu di beli juragan Suryo maka itu menjadi milik pemerintah namun dengan Jendral tua berada di sana semua akan menjadi mungkin.


Dari kejauhan Mobil polisi yang bertindak sebagai bala bantuan seperti biasa datang terlambat. banyak reporter juga berdatangan untuk melaporkan apa yang terjadi di tempat perkara.


Lisin tidak ingin berurusan dengan reporter jadi dia memilih melarikan diri dengan mengorbankan Jendral tua dan Kepala irawan agar menerima wawancara eksklusif dengan reporter.


Lisin berniat mengunjungi rumah lamanya tapi sebelum itu terjadi dia ingin menjemput orang tuanya di rumah sakit, dan saat Lisin menuju ke mobilnya langkahnya di hentikan dengan kedatangan Ratih dan keluarganya.


"Mas Lisin..." Ratih melihat pakaian Lisin penuh darah mengangguk, lalu memahaminya dari perkataan Lisin sebelumnya.


Ratih juga tau tentang keadaan Keluarga Lisin dia melihat dengan rasa simpati, lalu melihat kembali darah yang ada di pakaiannya mengering dan lautan api di kejauhan Ratih dan keluarganya memahami makna ini.


"Kamu tidak apa-apa Dek Ratih?" Lisin dapat melihat jika riasan Ratih sedikit rusak karena tangisan sebelumnya.


"Ratih tidak apa-apa Mas Lisin... " Jika tidak ada orang tuanya di sana Ratih ingin memeluk erat Lisin.


"Nak Lisin Terimakasih atas bantuannya... " Kedua orang tua Ratih menyapa.

__ADS_1


"Paman Bibi... ini bukan masalah besar... Juragan Suryo adalah kaki tangan Terorisme jadi aku hanya membantu kepolisian, Dan semua asetnya telah di sita oleh pemerintah, untuk hutang Paman dan Bibi anggap saja sudah lunas" Lisin berbohong dengan rendah hati.


Keduanya sangat terkejut tidak menyangka jika Lisin memiliki koneksi dengan kepolisian, melihat kembali ke putri mereka, Pasangan itu menyadari jika Ratih yang polos memendam perasaan terhadap Lisin.


Pasangan tersebut berpikir tidak masalah jika anaknya dapat bersama dengan Lisin hanya saja firasat mereka mengatakan jika Lisin tidak akan memiliki satu wanita dan jika anaknya menjadi yang kedua atau yang ketiga itu pilihan Ratih yang menentukan.


"Ratih dan Nak Lisin bisa terus berbicara, Papa dan Mama akan bicara dengan Pak lurah... " Sungguh Mertua yang baik hati meninggalkan Putrinya ke Serigala yang bisa memakan apa aja.


"iya Pa... Ma... " Ratih menjawab dengan malu dia berfikir ini pasti restu tak terkatakan untuk hubungan mereka.


"Dek Ratih... Mas Lisin pergi dulu ya... " Lisin berpamitan.


Apa... pergi... Mas Lisin ini gimana sih... Papa dan Mama udah lampu hijau kenapa Mas Lisin ingin pergi begitu aja sih.


"Mas Lisin tidak mau di temani Ratih, apa karena riasan Ratih belepotan jadi Mas Lisin ingin Pergi" Ratih berkata dengan tidak senang.


Dek Ratih apa ada yang salah aku ingin pergi mandi apa kamu ingin ikut.


Bagaimana Lisin tidak mandi saat ini dia memiliki bau darah yang kuat, "Mas Lisin ingin mandi dulu kemudian pergi menjemput Papa dan Mama di rumah sakit... "


"Kalau begitu mandi di rumah Ratih aja... " Ratih berkata dengan berharap.


Sial... aku membuat alasan agar dia tidak dekat dengan ku kenapa kamu menawariku mandi di rumah mu, apa kamu tidak tau bahaya jika mengundang Serigala.


"Baiklah... " Melihat Ratih yang siap nangis kapan saja membuat Lisin tidak tega menolak.


"Ya... begitulah... " Lisin mengakui.


"Mas Lisin kenapa beli Mobil beginian... kenapa tidak beli yang lebih besar seperti Mobilnya Pak lurah tuh yang itu... " Lisin mengikuti petunjuk Ratih kemudian melihat Mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Sial... bukankah itu Toyota Kijang Innova dengan 7 kursi penumpang, jika harga barunya kisaran 300 jutaan jika mengingat Pak lurah membelinya dengan harga bekas itu kisaran 100 jutaan.


"Memangnya menurut Dek Ratih mobilnya Mas Lisin kurang bagus gitu... " Lisin bertanya dengan tertekan Lamborghini kalah dengan Kijang innova apa kamu bercanda.


"Maaf ya Mas Lisin setau Ratih Mobil bagus itu mobil yang banyak kegunaannya bukan karena harganya... " Ratih berkata dengan malu takut menyinggung perasaan Lisin.


"Mobil Pak Lurah itu jika tidak salah sanggup menampung 7 penumpang, Sedangkan mobil Mas Lisin hanya dua penumpang, terus bagasi belakang juga besar, Jika Mas Lisin punya rejeki tukar aja dengan Mobil seperti itu... "


Sial... Lamborghini edisi terbatas dengan harga 22,5 Miliyar di suruh tukar dengan Kijang innova yang harganya 300 juta jika tidak salah hitung Dapat 73 unit Kijang innova baru, apa lagi yang bekas. Dek Ratih apa kamu sakit Dek...


"Kamu benar Dek Ratih, Mas Lisin akan tukar jika ada rezeki lebih... " Tukar apanya beli aja langsung kan beres.


Keduanya pergi dengan Lamborghini ke rumah Ratih. Lisin mengambil Pakaian pengganti yang ada di mobil kemudian pergi mandi.


"Dek Ratih ini kamar mandinya... " ini mengingatkan Lisin dengan masa kecilnya karena harus mengambil air dari sumur.

__ADS_1


"Ya... emang itu kamar mandinya, Kenapa Mas Lisin Tidak bisa mandi... Apa ingin mandi bersama seperti saat kita kecil dulu... " Ratih berkata dengan malu sedangkan wajahnya memerah.


Sial... Ratih kita itu bukan anak kecil lagi... kenapa kamu berkata kita bisa mandi bersama.


"T-tidak... aku bisa mandi sendiri... " Kamu bisa tinggalkan aku sendiri. Sial jika kita mandi bersama rumah ini bisa hancur jika bergoyang ria.


Rumah Ratih cukup biasa seperti rumah pedesaan pada umumnya.


"Kalau begitu buka aja dulu bajunya Mas Lisin Ratih akan mencucinya... "


"Di sini... " Mana mungkin Lisin bisa melakukannya di depan Gadis cantik.


"Iya Mas... bukannya saat kecil aku biasa melihat Mas Lisin tanpa busana... "


"Tapi sekarang berbeda kita sudah besar... " Lisin mengeluh.


"Buka aja Mas... " Sial... Lisin dengan malu membuka kemeja lengan panjang yang berlumuran darah.


Tubuh berototnya dapat terlihat saat tanpa busana, kedua tangan Lisin menutupi Bagian bawah namun tangannya tidak dapat menutupi keseluruhan bentuk bagian bawah.


Sial... hilang harga diriku, untung saja sahabatku Joni masih tertidur jika tidak harus nyanyi lagu anak-anak lagi.


"Mas Lisin... kenapa sekarang punyanya Mas Lisin membengkak... apakah tersengat Lebah... dulu saat kita kecil itu terlihat seukuran jari kelingking... " Ratih bertanya dengan bingung.


Tersengat lebah... Jari kelingking... Ya Tuhan... bunuh saja diriku aku tidak kuat menghadapi cobaan ini... Dek Ratih ini bukan tersengat lebah tapi emang dari sononya dan si Joni masih tidur jika bangun itu akan seperti menara Eiffel.


"Ya... ini emang di sengat lebah... "


"Kasihan Mas Lisin... pasti itu sakit ya... " Ratih berkata prihatin.


Sakit... Kamu yang sakit, cari masalah aja... Ratih... Ratih... apakah kamu tidak di ajarin hal ginian di sekolah.


Kemudian Lisin ingat jika Ratih sekolahnya hanya Lulusan Sekolah Dasar, dia tidak melanjutkan studinya karena keluarganya tidak mampu, bukan hanya itu tapi Gadis dusun tidak harus sekolah tinggi mereka hanya harus pintar masak dan mengurus rumah tangga.


15 menit berlalu...


Lisin membersihkan diri sedangkan Ratih mencuci baju di sampingnya.


Lisin yang sudah mengenakan pakaian bersih menunggu Ratih berganti baju. lalu tatapan Lisin terpesona dengan kecantikan Ratih, apa yang di kenakan Ratih adalah pakaian pedesaan biasa sedangkan rambut panjangnya di kepang dua, riasan pernikahan sebelumnya telah di hapus di gantikan wajah cantik natural.


"Ada apa Mas Lisin... kenapa melihat Ratih seperti itu " Ratih bertanya dengan Malu.


"Tidak ada apa-apa... " Lisin mengemudikan Lamborghini pergi menuju ke arah kota.


Tanpa tau jika reporter dengan gilanya mencari keberadaan Mereka berdua.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2