
Maya, Wanita yang sudah menjadi janda karena suaminya yang mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu. dan membuat Maya seorang diri untuk mengurus putrinya.
Di bandingkan dengan kehidupan Maya satu tahun yang lalu, Kehidupannya saat ini lebih cenderung mengurus perusahaan yang di tinggalkan suaminya. sehingga harus membagi waktunya dari mengurus putrinya dan pekerjaannya.
Perusahaan tersebut di bidang katering makanan dan menjadi pilihan utama untuk beberapa orang yang ingin mengadakan acara tertentu. contohnya seperti perusahaan tertentu yang mengadakan perayaan.
Sebelum disibukan oleh kepengurusan perusahaan yang begitu menyita waktunya, Maya hanya seorang ibu rumah tangga dengan putri tunggal. selain tinggal di rumah untuk mengurus anaknya yang masih berumur 5 - 6 tahun dirinya tidak memiliki kesibukan lain.
Sekarang tidak hanya dirinya sibuk mengurus perusahaan, dirinya juga masih harus mengurus Putri kecil. Belum lagi Setelah kematian suaminya, banyak karyawan perusahaan yang selalu membuat masalah dalam melakukan pekerjaan mereka. di tambah bisnis perusahaan mengalami penurunan dan berada di ambang kebangkrutan.
Beberapa perusahaan besar bahkan ingin mengakuisisi perusahaan yang di tinggalkan suaminya tersebut. hal ini membuat Maya semakin banyak hal yang harus dipikirkannya.
Perusahaan tersebut berada tepat di samping asrama universitas PGRI dan sudah menjadi satu tempat dalam mengelola lahan. dan saat dirinya pulang kemarin malam dirinya bertemu dengan pemuda yang sangat mencurigakan.
Ingin Memberikan layanan pijat? Sungguh konyol. Jelas Maya cukup sering mendengarkan alasan tersebut sejak dirinya menjadi janda. dan banyak pria yang ingin mendapatkan hatinya dengan berbagai macam cara. Namun dirinya lebih memilih untuk sendiri.
Mungkin timbul banyak pertanyaan tentang bagaimana wanita dewasa seperti dirinya, yang menjanda memuaskan keinginan biologisnya. Bahkan terdengar rumor yang tidak mendasar di perusahaan miliknya, jika dirinya memiliki laki - laki simpanan yang lebih mudah.
Maya tidak peduli rumor tidak jelas tersebut, Alasan mengapa dirinya lebih memilih untuk sendiri karena keberadaan putrinya. selain itu orang yang mengejar dirinya kebanyakan hanya menginginkan tubuh dan tergiur dengan semangka besar miliknya.
Maya tidak menyalahkan semangka besar miliknya karena sudah menjadi pemberian Tuhan. Dirinya memiliki rahasia kecil yaitu keinginan biologi yang besar bahkan dengan mendiang suaminya tidak akan pernah memuaskan dirinya. apa lagi sekarang tanpa suaminya bagaimana Maya akan memenuhi keinginan biologisnya lagi.
Maya hanya bisa menggunakan alat bantu tertentu, karena dirinya yakin di dunia ini tidak akan ada yang bisa memuaskan keinginan biologisnya. meskipun tidak pernah terpuaskan, Maya hanya bisa bertahan dengan kondisinya tersebut tanpa harus mencari sosok suami baru.
Sekarang, dirinya baru saja keluar dengan putrinya dari Mall Roxy Banyuwangi, dan saat berniat memasuki mobilnya Seperti biasa masalah bisnis perusahaan menggangunya.
"Tolong di pikirkan kembali, saya bisa memberikan kondisi terbaik selama di berikan kesempatan kedua..." Kata Maya sambil membuka pintu mobil.
"Tidak masalah... Kita bisa melakukan pertemuan... Malam ini juga..." Jawab pihak pemanggil dari sisi lain penelpon.
"Oke... Terima kasih atas kesempatannya..." Maya sangat bersemangat. karena perusahaan besar akan memberikan kesempatan kedua dalam pemesanan katering makanan.
Sebelumnya saat melakukan pengiriman makanan, Karyawan di bawah perusahaan miliknya mengalami kecelakaan yang mana menumpahkan dan menghamburkan semua pesanan katering makanan tersebut. tentunya kejadian ini mengecewakan pemesannya.
__ADS_1
Karena benyak yang harus terurus, Maya secara perlahan mengesampingkan putri kecilnya. Seperti untuk saat ini dirinya melajukan mobilnya tanpa mengingat, jika putrinya berada di parkiran dan belum memasuki mobil.
"Mama..." Gumam Luna dengan sedih.
Sebagai anak kecil, Luna cukup cerdas bisa di katakan dewasa sebelum waktunya. Jika itu anak lainnya pasti akan menangis tak terkendali.
Saat ini Luna melihat jika mobil ibunya telah menghilang di kejauhan.
Luna kecil yang bersedih mencoba mencari tempat aman agar tidak menjadi korban penculikan. Jadi Luna bersembunyi di bawah properti milik Mall Roxy Banyuwangi.
Sungguh pemikiran yang bijak untuk anak kecil yang berusia 5 - 6 tahun.
Dari tempat parkir sebuah mobil taksi datang dan seorang pemuda tampan dengan jaket tebal keluar secara perlahan. tentu saja dia Lisin karakter utama kita telah tiba.
Apakah Lisin keberatan jika menjadi papa muda? Tentu saja tidak.
Lisin yang melihat kearah Luna dengan senyuman hangat mendekatinya, hanya saja kejadian ini seperti penculik anak kecil mendekati mangsanya.
"Hai, Mengapa kamu bersembunyi di sana?..." Tanya Lisin namun tidak ada jawaban dari Luna.
"Mama bilang tidak boleh percaya dengan orang mencurigakan..." Kata Luna dengan tenang.
"Kakak tidak mencurigakan, kakak orang baik, bukan orang jahat..." Kata Lisin dengan depresi, walaupun bukan orang jahat namun terlihat jahat.
Juga dimana - mana penjahat akan mengatakan jika dirinya baik di depan korbannya.
Mungkin Lisin saat ini seperti seseorang yang terkena penyakit Pedofilia, atau gangguan mental yang membuat pengidapnya memiliki ketertarikan biologisnya terhadap anak - anak. Pada pengidap pedofilia umumnya adalah pria, daerah otak yang memproses respon biologisnya akan terangsang oleh wajah anak - anak.
"Tidak, jika kakak bukan orang jahat mengapa mengenakan pakaian yang sangat mencurigakan... Jika kakak melepaskan jaket kakak dan memperlihatkan isinya, Luna akan percaya..." Kata Luna masih dalam ketenangan yang sama.
Diam... Lisin terdiam, Anak siapa sih kok pinter banget.
Jika Lisin melepaskan jaket tebal di depan Luna dan ketahuan memiliki bagian bawah yang membengkak maka Lisin akan dikira mengidap Pedofilia.
Lisin ingin menangis tanpa air mata.
__ADS_1
"Ehm... Kakak punya alasan tersendiri mengapa mengenakan jaket tebal... Jika kamu ikut dengan kakak maka kamu akan kakak belikan apapun yang kamu mau... Bagaimana?..." Kata Lisin dengan jurus rayuan maut.
"Apapun..." Tanya Luna dengan polos.
Wajahnya yang menggemaskan memiliki penampilan yang lucu, belum lagi pupil matanya yang lebar terlihat seperti segelas air jernih.
Luna yang duduk secara perlahan berdiri, tinggi badannya hanya setinggi lutut Lisin. walaupun terlihat seperti gadis kecil biasa namun terlihat jejak kebijaksanaan dari matanya.
Layaknya boneka berjalan, Luna menarik tangan Lisin untuk memasuki Mall Roxy Banyuwangi.
Lisin yang melihat gadis kecil yang pintar ini tidak bisa berkata - kata sepertinya dia Lebih pintar dari Lisin yang otaknya di penuhi hal mesum.
"Berhenti..." Seperti biasa penjaga pusat pembelanjaan akan menghentikan Lisin.
"Apa?..."
"Maaf, demi kenyamanan bersama mohon di lepas jaketnya..." Kata penjaga mengingatkan.
"Aku tidak bisa melakukan... Aku memiliki alasan khusus untuk tidak melepaskan jaket ini..." Kata Lisin dengan kesal.
"Sepertinya, bapak tidak bisa memasuki mall ini tanpa melepaskan jaket tebal yang bapak kenakan..." Seru penjaga tersebut.
"Ini adalah kebijakan Mall ini pak... tolong pengertiannya" Penjaga tersebut menambahkan.
"Sepertinya, kita tidak bisa masuk kedalam..." Kata Lisin sambil melihat Luna yang menarik tangannya.
"Uwaaaaa... Hiks, ingin masuk... masuk kedalam Uwaaaaa..." Luna menangis dengan keras dan membuat pusat perhatian.
Sial... Apakah aku harus melepaskan jaket tebal ini?
Semakin banyak yang melihat semakin tertarik kedalam kegaduhan dari tangisan Luna.
"Cup... cup... bisakah kamu diam?..." Lisin menggendong Luna kedalam pelukannya dan mencoba untuk memenangkannya.
Di bawah tatapan pengunjung Mall Roxy lainnya, sosok Lisin seperti seorang ayah yang tidak kompeten dalam membina putrinya.
__ADS_1
Bersambung...