
Lisin dengan senyuman di wajahnya mengemudikan mobilnya menuju ke alamat yang di katakan kakek tua yang ditolongnya.
Dengan iming - iming cucu perempuan dari kakek tua dirinya kepincut bukan main, apa lagi setelah mendengarkan secara keseluruhan narasi cerita kakek tua.
Lisin hanya membayangkan Gadis polos dari desa pedalaman yang tidak memahami dunia luar. karena tidak sabar ingin bertemu langsung dengannya, Lisin dengan gila mengemudikan mobilnya hingga membuat kegaduhan di jalanan raya.
"Ahhhh..."
Sanjaya yang menjadi kakek tua di belakang berteriak ketakutan, karena dirinya lupa mengenakan sabuk pengaman, maka terjadilah benturan keras di dalam mobil.
"Bruk..."
Ini hanyalah mimpi buruk bagi Sanjaya, bagaimana tidak! karena perkataannya sendiri pihak lain jadi bersemangat dalam mengemudikan mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi tanpa pengereman dan melewati mobil - mobil yang ada di depannya. Sepanjang perjalanannya Lisin tidak peduli dengan penumpang yang satu mobil dengan dirinya, yang penting tidak membuat kecelakaan lalu lintas.
"Ahhh..."
"Kakek mengapa kamu berteriak, apakah ada kecoa di dalam mobil?..." Menghentikan mobilnya Lisin bertanya.
Kecoak!!!... Apanya yang kecoa, jelas - jelas kamu mengemudikan mobil tidak menggunakan mata dan kaki dengan benar, jika kamu menggunakan keduanya dengan benar Aku tidak akan dalam kondisi seperti ini. Sanjaya mengutuk dalam hatinya.
"Uhuk... Kakek sudah tua nak jadi jangan kebut - kebutan di jalan... Apa lagi kakek lupa mengenakan sabuk pengaman..." Sanjaya dengan frustasi mengenakan sabuk pengaman.
Pengalaman yang sangat mengerikan, Sebagai pejuang budidaya kedua tangannya gemetar, sungguh memalukan, apa lagi sebelumnya ada truk besar dan hampir terjadi benturan, rasanya jantungnya akan copot kapan saja.
"Nak mengapa kamu melihat kakek seperti itu?..." Sanjaya melihat Lisin yang melihat kebelakang dari tempat duduknya.
"Kek... Rambutnya sedikit miring ke kanan... Juga kumisnya hampir lepas..." Lisin menjelaskan apa yang dilihatnya kemudian dengan suasana hati bahagia dirinya melajukan mobil lagi.
Diam... Sanjaya tidak bisa berkata - kata, dirinya merapikan rambut palsunya juga kumis palsunya.
Sial... Apakah dia sadar, jika rambut dan kumis ini palsu? Sepertinya tidak mungkin.
Melihat Lisin yang mengemudikan mobil dengan tenang Sanjaya bernafas dengan lega.
Dengan cepat mobil yang membawa keduanya berhenti di tempat tujuan, Kaki gunung Kawi.
"Kek... apakah itu rumah kakek?..." Lisin melihat rumah tua bergaya Jawa kuno lalu keluar dari mobil di ikuti Sanjaya.
Rumah jenis ini sudah jarang di jumpai di perkotaan dan hanya ada di pedesaan.
"Benar Nak... Cucuku ada di belakang, sekarang dia pasti sedang makan siang..." Sanjaya menjelaskan.
Sanjaya langsung memimpin jalan kemudian menunggu di depan rumah tua. Tanpa mengurangi rasa hormat dengan pemilik rumah, Lisin langsung berjalan dan ingin melihat gadis polos yang ada di khayalannya.
__ADS_1
"Uk..." Lisin terdiam membisu saat melihat Cucu perempuan kakek tua.
Jika itu keindahan maka salah, jika itu bertubuh menggoda juga salah, apa lagi berbudi luhur jelas salah. karena Cucu yang di maksudkan kakek tua hanyalah seekor sapi.
Sialan...
Diam... Lisin melihat seekor sapi yang sedang memakan rumput dengan tertekan.
Memang benar seekor sapi akan di pisahkan dari ibu atau induknya sejak usia satu bulan, juga seekor sapi tidak memiliki ayah yang jelas, apa lagi jika menggunakan metode kawin suntik.
Seekor sapi tidak membutuhkan pendidikan sejak usia dini, jadi sangat jelas jika Seekor sapi tidak bisa membaca dan menulis. Seekor sapi hanya membutuhkan makan rumput setiap hari, tidak mengenal siang atau malam seekor sapi hanya memakan rumput.
Sialan...
Lisin mengingat kembali semua narasi yang di ceritakan kakek tua dan semuanya benar tidak memiliki kesalahan. Lisin lah yang bersalah mengapa dirinya tidak bertanya apakah Cucu kakek tua itu hewan ternak atau manusia.
Jika kaum Jomblo yang tidak memiliki tempat pelampiasan pasti tidak mempermasalahkan lubang apa yang ada didepannya, namun Tidak untuk Lisin.
Marah, Lisin sangat tertekan karena merasa dibodohi oleh kakek tua. memang benar dirinya Penjahat kelamin sejati yang sangat berpengalaman dan sudah membobol banyak lubang. Tapi tidak harus lubang seekor sapi juga yang harus dirinya lubangi, Seperti tidak ada wanita saja.
Berbicara tentang wanita, Lisin memiliki banyak wanita dan tidak kekurangan wanita, dirinya salah mengartikan penjelasan kakek tua, Gadis polos dalam khayalan namun Seekor sapi betina dalam kenyataan.
Sialan...
Lisin kembali dari halaman belakang rumah tua dengan tersulut amarah, dirinya harus memberikan pelajaran setimpal kepada Sanjaya yang memainkan perasaannya. Sebagai Penjahat kelamin sejati dirinya merasa terzolimi.
"Bro... Apakah kamu melihat kakek - kakek bau tanah?..." Tanya Lisin.
"Siapa yang kamu maksud bau tanah..." Sanjaya berteriak marah.
"Oh... Jadi kamu yang membodohi ku?..." Lisin bertanya dengan dingin.
Di bandingkan dengan kakek tua sebelumnya, jelas pihak lain memiliki postur tubuh yang menjanjikan, Lisin harus mengakui teknik pernapasan untuk membudidayakan kanuragan dapat membuat tubuh manusia memiliki tubuh sehat dan sedikit awet mudah.
"Hahaha apakah kamu Terkejut?..."
"Sedikit..."
"Apakah kamu bagian dari Perguruan Tengkorak?..." Sanjaya bertanya lagi.
"Perguruan Tengkorak!!!..." Lisin bingung, mengapa pihak lain menanyakan Perguruan Tengkorak.
Lisin merasa pernah mendengar nama Perguruan tersebut di suatu tempat namun dirinya lupa siapa yang mengatakannya.
Jelas yang mengatakannya Gatra, mungkin Lisin sudah melupakannya karena terlalu fokus mendapatkan sarjana penjahat kelamin.
"Aku tanya kamu bagian dari Perguruan tengkorak?..." Sanjaya mengulanginya lagi.
__ADS_1
"Tidak..."
"Lalu mengapa kamu melukai Pawana?... Akui saja jika kamu bagian dari Perguruan tengkorak..." Sanjaya mendengus dingin.
"Mengapa kamu tidak bertanya sendiri, siapa yang membuat masalah lebih awal..." Lisin mengangkat bahunya.
"Baik karena kamu tidak mengaku..." Sanjaya mengatur pernafasannya lalu energi dalam secara samar terkumpul di telapak tangannya.
"Duar..."
Lisin memiliki reaksi super cepat jadi dirinya dengan mudah menghindarinya. namun tempat dirinya berdiri sebelumnya memiliki bekas bakar dan sedikit asap mengepul diatasnya.
"Aku tidak pernah tahu jika energi dalam bisa di gunakan dengan cara seperti ini..." Lisin meniru apa yang Sanjaya lakukan sebelumnya.
"Durrrrr..."
Ledakan yang Lisin ciptakan seratus kali lebih besar dari pihak lain dan itu membuat dirinya terkejut apa lagi pihak lain.
Sanjaya yang menghindari serangan energi dalam dari Lisin dapat menghindarinya dengan perasaan yang sangat kacau.
Dirinya hanya mampu membuat ledakan sekecil petasan bantingan, mengapa pihak lain dapat membuat kawah yang cukup besar.
Lisin yang melihat kawah yang terbentuk pada permukaan tanah yang awalnya datar sangat heran, apakah itu dirinya yang melakukanya?
Di bandingkan dengan hasil serangan energi dalam dari Sanjaya jelas keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar.
"Sistem mengapa kamu tidak mengatakannya jika energi dalam bisa di gunakan seperti ini?..."
(DING...)
(Tuan rumah memang kurang kreatif, hal sepele seperti ini saja harus belajar dari musuhnya, apa lagi jika bertanya kepada sistem, sungguh kurang berinovasi)
"Sistem sialan... Bukannya menjelaskannya dengan benar, mengapa kamu menghina ku..." Lisin sangat frustasi, dirinya menyesal bertanya kepada sistem.
Sanjaya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Jumlah energi dalam setiap pejuang budidaya yang memiliki kanuragan sangat berbeda, semua itu tergantung seberapa lama seseorang melakukan pertapaan.
Ambil contoh seperti dirinya, Sanjaya telah memulai pertapaan sejak usia 15 tahun dan hanya bisa menguasai kanuragan di usia pertengahan 20 tahun, sekarang di usianya hampir kepala Lima dirinya memiliki penampilan 20 tahun lebih muda.
Yang jelas Kanuragan bukan hanya membuat penampilannya yang awet muda, Pertapaan membuatnya dapat membentuk energi dalam dan membuat dirinya sangat kuat.
Bahkan pemimpin Perguruan tidak dapat membuat kawah sebesar itu, bagaimana pihak lain bisa begitu kuat? berapa lama dia melakukan pertapaan? dilihat dari usianya pasti awal Dua puluhan, mengapa memiliki energi dalam seperti pertapaan seribu tahun.
Lisin tersenyum sambil melihat Sanjaya yang terkejut.
Bagaimana? terkejut? Kamu melakukan pertapaan bertahun - tahun hanya seperti ini.
Ingin tahu rahasia Lisin? karena dia menggunakan kekuatan Giveaway.
__ADS_1
Bersambung...