Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 188


__ADS_3


Pagi hari Langit sangat cerah, Jika semalam hujan lebat maka setelahnya akan banyak genangan air yang mudah kita temukan. Begitu juga dengan rumput basah dan dedaunan yang terkena guyuran hujan.


Saat sarapan bersama, Lisin yang duduk disisi kiri bersebrangan dengan gadis kecil yaitu Luna yang menatapnya dengan dingin.


Tante Maya juga duduk bersebrangan dengan Luna disampingnya. Tatapan Luna kurang puas saat menemukan jika Lisin tidur di rumahnya. andaikan Luna tidak tertidur lebih awal saat menunggu Mamanya pulang, mungkin dirinya akan mengusir Lisin dari rumahnya.


"Mam... Mengapa Kak Lisin di bolehkan menginap di rumah kita?..." Tanya Luna dengan cemberut.


"Luna, Kamu harus sopan dengan Kak Lisin dia sudah membantumu pulang, juga membelikan kamu banyak boneka..." Maya menegur.


Lisin juga tidak bisa berkata - kata, sebelumnya Luna ini mudah diajak bergaul, sekarang seperti membenci Lisin. Apakah dia amnesia?


"Mengapa Mama membelanya, Mungkinkah Kak Lisin menyuap Mama?..." Kata Maya dengan cemberut.


Untuk anak kecil usia 5 - 6 tahun memiliki pemikiran seperti ini hanya bisa dikatakan jenius. mungkin karena Tante Maya selalu memberikan air susu yang mengandung hormon Spesial. membuat Luna sangat pintar dan sudah mampu berpikir layaknya orang dewasa.


"Luna, Mobil Kak Lisin mogok di tambah semalam hujan deras. jadi Mama mengijinkannya untuk bermalam di rumah kita..." Maya menjelaskannya dengan tersenyum. Berharap jika Lisin tinggal di rumahnya untuk selamanya. dan bisa menghabisi malam bersama mulai sekarang dan seterusnya.


"Hmph..." Luna mendengus dingin.


Luna seolah tidak percaya jika Mamanya masih orang yang sama dengan sebelumnya. Biasanya Mamanya tidak terlalu menyukai keberadaan laki - laki lain selain ayahnya. mengapa saat bersama Lisin mamanya akan sangat baik.


Luna kecil tidak mengetahui jika Lisin dan Mamanya menghabiskan satu malam yang panas dan penuh dengan kenikmatan.


"Ehm... Luna, Bagaimana jika nanti kita berbelanja kamu bisa menentukan apapun yang ingin kamu beli..." Lisin dengan enggan menjanjikan. walaupun dirinya harus menyesalinya nanti.


"Apapun??? Baiklah..." Luna tersenyum dan senyuman tersebut membuat Lisin merasakan firasat buruk.


Sepertinya Dirinya harus tersiksa lagi.


"Luna, Malam ini Mama tidak akan pulang kamu akan di temani Kak Lisin jadi kamu harus menuruti semua perkataannya..." Kata Maya mengingatkan.


"Um..." Luna mengangguk, Walaupun sedih dan enggan jika mamanya terlalu sibuk, Luna tidak memberatkan keputusan Mamanya.


Setelah sarapan bersama selesai, Tante Maya melajukan mobilnya dan pergi keluar komplek perumahan kemudian menghilang di kejauhan.


"Luna, Sekarang kamu harus mengikuti kata - kataku mengerti..." Kata Lisin dengan kemenangan.

__ADS_1


"Sepertinya, Kakak salah paham, mengikuti perkataan kakak hanya berlaku saat ada Mama, jika Mama tidak ada ya terserah Luna..." Kata Luna sambil mengambil tas kecil kemudian memasuki mobil taksi yang semalam mogok.


Karena sudah menyanggupi akan mengurus Luna, Lisin harus mengantarkan Luna pergi ke sekolah TK dan harus menunggunya setidaknya dalam waktu 2 - 3 Jam.


"Sabar... Sabar... Ini ujian..." Lisin menyambung kabel yang sebelumnya dirinya lepas kemudian menghidupkan mobil taksi.


"Kakak, Tadi bilangnya mobilnya mogok, mengapa sekarang hidup? pasti sebelumnya hanya akal - akalan kakak saja, agar bisa tidur di rumah..." Kata Luna dengan kesal.


Lisin berkeringat dingin, dirinya lupa jika gadis kecil yang duduk di belakang seperti Penyihir jahat.


"Mungkin, karena hujannya selesai jadinya hidup lagi... Luna kan masih kecil mana mungkin tahu tentang mobil mogok..." Dengan alis berkedut, Lisin berkata dengan menyakinkan.


"Pembohong..." Luna jelas tidak percaya dan memilih untuk diam.


Dengan cepat, Lisin mengemudikan mobil taksi dan pergi ke sekolah TK untuk mengantarkan Luna.


Sekolah tk Bahagia adalah salah satu sekolah favorit dengan fasilitas mewah, untuk anak kecil seperti Luna. Saat ini Lisin langsung menurunkan Luna tepat di depan gerbang utama. dan Luna langsung masuk kedalam kelas.


"Halo, Apakah kamu ayahnya?..." Sapa wanita riasan tebal, yang cukup menawan namun rekayasa dan cukup enak di lihat tapi bohong. dari sikapnya yang ramah jelas dia menunggu anak kecil yang sekolah tk tersebut. hanya saja suara yang di keluarkan sedikit aneh dan mengingatkan Lisin dengan Mbak Gisel.


Wanita riasan tebal melihat Lisin cukup tampan sedikit bersemangat, kapan lagi ada laki - laki setampan Lisin.


"Saya, kerabat jauh, kebetulan menggantikan mamanya..." Kata Lisin dengan jujur. Lisin menggunakan Analisa sistem dan menemukan jika pihak lain adalah Waria.


Diam... Lisin langsung ketakutan. teryata wanita centil tersebut wanita jadi - jadian atau Waria.


"Oh... Seperti itu..." Waria tersebut menatap Lisin dengan memamerkan lekukan tubuhnya yang tidak bulat dan tidak pendek. karena tubuhnya sangat kurus. Lisin bergidik saat waria tersebut mengedipkan matanya kearah dirinya.


Waktu berlalu, 2 - 3 Jam terselesaikan dengan cepat. Lisin memilih untuk menunggu di dalam mobil dari pada di halaman sekolah tk. yang di penuhi oleh penjual cilok dan ibu rumah tangga yang suka ngerumpi. belum lagi waria yang kesepian.


"Tettttt..." Suara bel yang menandakan berakhirnya jam sekolah, membuat anak - anak sangat bahagia.


Yang namanya anak kecil tidaklah belajar, di sekolah bermain, di rumah bermain, setiap waktu bermain. tiada hari tanpa bermain. ingin rasanya menjadi anak kecil untuk selamanya yang tidak memikirkan, uang jajan, bekerja, kredit kipas angin dan lain sebagainya.


Luna yang keluar dari pintu masuk utama, langsung di hampir Lisin, namun Luna memilih untuk langsung memasuki mobil taksi.


Saat Lisin hendak masuk juga, Waria riasan tebal menghentikan Lisin dan berusaha menggoda Lisin.


"Tunggu sebentar... Kamu, Cukup tampan minta nomor telponnya dong. Aku sedang sendirian. Kamu bisa menghubungi aku malam ini" Kata Waria dengan tersenyum.

__ADS_1


Lisin ingin muntah, bukannya dirinya menghina atau merendahkan, hanya saja mengapa dia percaya diri sekali. belum lagi pihak lain waria, Siapapun yang tergoda pasti akan menyesal saat malam hari. Bukannya menemukan lobang namun menemukan tongkat sakti. dan berakhir dengan perang tongkat sakti.


Akankah Jiwa penjahat kelamin yang Lisin miliki akan Bangkit? sepertinya tidak. Lisin juga bisa membedakan mana wanita sungguhan dan mana wanita jadi - jadian.


Apa lagi, mendengar kata - kata sendirian, menyiratkan waria yang sedang kesepian dan butuh bimbingan dan belaian dari seorang laki - laki. hanya saja apakah Lisin tertarik? tentu saja tidak.


"Ehm... Kalo sendirian jangan kenakan baju putih... Takutnya di sangka Mbak Kunti..." Kata Lisin membalas dengan hati - hati. takutnya di peluk oleh waria kesepian dan membuat tubuh Lisin ternodai.


"Ehm... Apa itu kunti... Dan apa hubungannya dengan pakaian putih..." Tanya waria dengan penasaran. rasanya Lisin seperti menggoda balik dirinya. Jelas waria tersebut tidak memahami apa yang Lisin maksudkan.


"Punya kertas dan pulpen?..."


"Punya, Kakak Tampan..."


Lisin menuliskan sebuah nama pada kertas lalu melipatnya agar terlihat misterius kemudian menyerahkannya kepada Waria tersebut.


"Jadi seperti ini, Di dalam kertas ini terdapat nomor ponselku hanya saja tidak boleh di buka jika tidak sendirian... Dan harus mencerna sebuah kata - kata dariku" Kata Lisin.


"Kata - kata... Maksudnya puisi romantis..." Waria tersebut sangat bersemangat.


"Benar, Puisi... Kamu harus mengulangi kata - kata dariku... Sendirian, Pakaian Putih, Di atas Pohon.... Ulangi terus kata - kata ini sebelum membuka kertas tersebut..." Lisin langsung pergi dengan mobil taksi dengan cepat, bersama dengan Luna.


Saat ini menyisakan waria sendirian dengan kertas terlipat di tangannya.


"Sendirian, Pakaian Putih, Di atas Pohon... Sendirian, Pakaian Putih, Di atas Pohon..." Kata waria tersebut berulang - ulang dengan bersemangat.


Rasanya belum pernah jantungnya berdebar - debar seperti sekarang ini. Waria tersebut sangat bahagia, karena akhirnya dirinya akan memiliki pacar setampan Lisin.


"Sendirian, Pakaian Putih, Di atas Pohon..." Karena sudah sendirian, Waria tersebut membuka lipatan kertas.


Hanya saja bukan nomor ponsel Lisin yang tertulis di sana, melainkan Sebuah Nama. Kuntilanak.


"Sendirian, Pakaian Putih, Di atas Pohon... Kuntilanak... Kuntilanak..." Waria tersebut terus mengulangi hingga akhirnya dirinya sadar.


"Aaaaaaaa..." Waria berteriak ketakutan, karena dirinya paling takut dengan hantu satu ini. belum lagi dirinya beberapa kali pernah bertemu dengan Kuntilanak.


Mbak Kunti, kok takut sama Kuntilanak...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2