
Keesokan harinya...
Kali ini Lisin bangun lebih awal di bandingkan dengan dosen Mirna yang memiliki penampilan yang sangat buruk.
Hampir di sekujur tubuhnya terdapat bekas kecupan binatang buas, untung saja tidak menggigit apa lagi memakannya hidup - hidup.
Pertempuran semalam membuat keduanya sangat aktif dan saling memanjakan satu sama lain, Bahkan sahabatnya Joni sedikit kewalahan menghadapi lawan yang begitu tangguh.
"Lisin..."
Dosen Mirna mengerang sambil menyebutkan nama seseorang yang membuatnya tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Dia mahasiswa di bawah bimbingannya, pertemuan keduanya berada di sebuah restoran dekat kampus di mana insiden kepala kampus yang tersedak membuat keduanya bertemu untuk pertama kalinya.
Sejak saat itu pertemuan berikutnya terus menerus terjadi, hingga akhirnya kedua berakhir dalam situasi bercocok tanam di dalam mobil dan melanjutkannya di hotel.
Dosen Mirna sedikit memiliki penyesalan yang tidak berarti. Sekarang semuanya sudah menjadi, dirinya bukan menyesal berakhir dengan Lisin, juga tidak menyesal memberikan pertamanya untuk Lisin.
Hanya saja dirinya menyesal tidak menjadi Dosen Pembimbing yang baik, andaikan kondisi bisa berubah dirinya ingin menjadi wanita biasa saat bertemu dengan Lisin bukan sebagai seorang Dosen.
Siapa yang tidak ingin mengungkapkan hubungan yang dimilikinya dengan Lisin kepada publik dan membanggakan jika dirinya sudah memiliki seseorang dan juga dirinya bisa melangsungkan pernikahan secepatnya.
Semasa dirinya menjomblo dan menjalani kehidupan sebagai seorang dosen, dirinya sudah di tinggalkan oleh teman - teman sebayanya yang sudah menikah.
Hal yang pasti di tanyakan saat menghadiri pernikahan temannya, dirinya pasti akan mendapatkan pertanyaan pamungkas.
Kapan menyusul?
Untuk Dosen Mirna pertanyaan ini memiliki dua jawaban yang berbeda, dirinya mengejar karier pekerjaan sebagai seorang dosen dan tidak ingin memikirkan pernikahan lebih awal.
Di sisi lain, dirinya sangat iri kepada teman - temannya yang sudah menikah dan memiliki seorang anak, entah kapan giliran dirinya akan datang yang jelas dirinya hanya bisa bertahan.
"Dosen Mirna kamu tidak apa - apa?..." Lisin bertanya dengan perhatian.
"Aku tidak apa - apa..." Dosen Mirna menjelaskan dengan sedikit sedih karena pemikiran barusan.
Melihat kearah Lisin, ini kedua kalinya dirinya menghabiskan malam dan tidur bersama tanpa memiliki ikatan pernikahan, tentu saja sebagai wanita normal pada umumnya dirinya memiliki ketakutan jika suatu saat Lisin akan meninggalkan dirinya dan lebih memilih wanita lain.
Apa lagi dirinya terpaut umur yang sangat besar, Apakah Lisin akan menikahi dirinya?...
"Dosen Mirna... Mengapa kamu terlihat sedih, apakah kamu memiliki sesuatu yang tidak nyaman?..." Lisin bertanya dengan bingung.
Dosen Mirna tanpa mengenakan apapun dan memperlihatkan tubuh matang yang utuh kepala Lisin, bibirnya bergetar jelas dirinya ingin menanyakan sesuatu namun tidak memiliki keberanian.
Dosen Mirna takut jika dirinya mengatakan apa yang dirinya pikirkan Lisin akan membenci wanita yang banyak bicara dan meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Lisin... Apakah kamu akan menikahi ku?..." Dosen Mirna bertanya setelah menguatkan hatinya.
Lisin terdiam sejenak sebelum akhirnya menarik Dosen Mirna kedalam pelukannya tanpa terhalangi oleh kain apapun.
"Apakah kamu dari tadi memikirkan hal ini?..." Lisin bertanya.
Dosen Mirna yang meringkuk di dalam pelukannya mengangguk malu.
"Dosen Mirna, aku akan menikahi mu... itu sudah pasti, hanya saja aku harus meminta maaf... Aku memiliki wanita lain yang harus aku nikahi juga..."
Mendengar perkataan Lisin, Dosen Mirna terdiam tidak bisa berkata - kata, sebagai wanita dirinya jelas menginginkan rumah tangga utuh dan tidak menginginkan jika dirinya menjadi istri kedua.
Melihat lagi kebelakang dirinya tidak berharap Lisin akan memiliki wanita lain, apakah itu pacarnya? ataukah memiliki situasi yang sama dengan dirinya.
"Lisin aku tidak masalah jika kamu memiliki dua istri..." Dosen Mirna melepaskan pelukan.
Dosen Mirna tidak peduli jika dirinya menjadi istri kedua, selama Lisin menikahi dirinya itu sudah cukup.
"Dosen Mirna... Aku tidak hanya memiliki dua istri..." Lisin melihat kedua matanya yang terkejut.
Apa!!!
Dua istri saja membuat Dosen Mirna terkejut apa lagi lebih dari dua.
"Tidak masalah jika tiga istri..."
"Lebih dari itu..."
"Lebih dari itu..."
"Tidak masalah jika lima istri..."
"Lebih dari itu..."
.....
Diam... Dosen Mirna terdiam membisu, bukannya Lisin ini Jomblo mengapa memiliki begitu banyak wanita. dari penjelasan Lisin, Dosen Mirna menyimpulkan jika Lisin memiliki selusin wanita lain yang akan di nikahinya di masa depan.
"Apakah akan bertambah lagi di masa depan..." Dosen Mirna bertanya dengan frustasi, ternyata dirinya meremehkan Lisin.
"Mungkin..." Jawab Lisin.
"Baiklah... tidak masalah, sekalian saja punya istri seratus..." Dosen Mirna berkata dengan dingin dirinya seperti di bohongi selama ini namun dirinya tidak menyalahkan Lisin karena dirinya sudah memutuskan untuk bersama Lisin.
Jomblo apanya punya selusin wanita.
"Apakah kamu sudah bercocok tanam dengan mereka semua?..." Pertanyaan Dosen Mirna seperti mengintrogasi Lisin.
__ADS_1
"Aku melakukannya namun belum semuanya..." Pengakuan ini sudah menjelaskan jika Lisin adalah penjahat kelamin.
"Apakah kamu menghamili salah satu diantara mereka?..." Kali ini pertanyaan Dosen Mirna membuka luka di hati Lisin, bagaimana tidak sakit dirinya sudah berulangkali bercocok tanam dengan berbagai macam keindahan namun tidak dapat membuahi.
Sedangkan temannya Sultan yang hanya melakukannya sekali sudah menghamili anak orang. sepertinya Lisin gagal menjadi penjahat kelamin sejati. nampaknya dirinya harus berguru kepada seseorang yang ahli di bidangnya dan memperdalam bagaimana cara menghamili seorang wanita.
Atau mungkin Lisin memiliki kutukan tidak akan mendapatkan keturunan dalam hidupnya.
"Hingga saat ini tidak ada diantara mereka semua yang hamil setelah bercocok tanam denganku?..." Pengakuan Lisin berikutnya membuat Dosen Mirna bingung, sepertinya Lisin ini harus melakukan tes benih tanam untuk melihat kandungan di dalamnya subur atau tidak.
Sebagai seorang dosen dan sekaligus dokter jelas Dosen Mirna menemukan kejanggalan dari perkataan Lisin, padahal pihak lain bisa memuaskan wanita mengapa tidak dapat membuahi.
Keduanya melakukan mandi bersama saling membasuh dan membersihkan satu sama lain di dalam kamar mandi.
Lisin dan Dosen Mirna keluar dari Hotel tempat mereka menginap semalam. Dirinya membukakan pintu mobil untuk Dosen Mirna kemudian Lisin berputar dan berniat memasuki mobil namun di hentikan dari panggilan seseorang.
"Lisin..."
"Kalian?!..." Lisin frustasi melihat ketiga temannya menghampirinya.
Sial... mengapa Trio wik wik ini ada di sini? apakah mereka memiliki pintu kemana saja.
"Bro Lisin.... ngapain kamu di depan Hotel?..." Brian bertanya dengan heran.
"Benar... Jangan bilang kamu bersama dengan pacar kamu, hahaha... bolehlah di perkenalkan kepada kami..." Alim tertawa dengan penasaran, ketiganya jelas ingin melihat wanita seperti apa yang beruntung bisa menjadi pacar Lisin.
"Bro Lisin... mana kakak ipar, mengapa kamu sendirian..." Jo melihat sekeliling tidak menemukan wanita yang bermalam dengan Lisin.
Lisin berkeringat dingin, begitu juga dosen Mirna yang ada di dalam mobil.
Sekarang dosen Mirna memiliki dendam kepada ketiga mahasiswa Brian, Alim dan Jo dirinya harus memberikan hukuman nanti. jelas ketiganya membuat jantung Mirna hampir copot karena berulang kali hampir memergoki dirinya saat bersama dengan Lisin.
Lisin yang melihat ketiganya sangat heran, mengapa ketiganya selalu menyusahkan dirinya, apakah Lisin punya salah atau ketiganya punya dendam.
"Ehm... Kesampingkan tetang itu, mengapa kalian bisa berada di sini sedangkan asrama kalian sangat jauh dari ini..." Tanya Lisin.
"Hahaha... Ceritanya panjang, karena kelas di liburkan dalam satu minggu, kita bertiga sangat bosan tinggal di asrama, jadi kita bertiga memutuskan untuk jalan - jalan..." Brian dengan bangga menjelaskan.
"Benar... Jadi kita memutuskan untuk mencari penginapan murah dekat sini. saat ini kita sedang melakukan joging dan tanpa sengaja melihat bro Lisin..." Alim menambahkan.
Sepertinya ketiganya tidak jera - jera mendapatkan tausiah dari Lisin dan masih suka mencampuri urusan orang lain.
"Apakah kakak ipar ada di dalam mobil..." Jo mendekati mobil dan berniat membuka pintunya.
Bersambung...
*Sebenarnya author tidak begitu pandai membuat novel, dari awal novel ini hanya mengikuti keegoisan author pribadi. beberapa pembaca mungkin berfikir jika novel ini kurang bagus, Cerita tidak jelas, MC penjahat kelamin, wanita gampangan, pengulangan kata terus menerus, kata baku dan susunan kata tidak jelas. Author ucapkan terima kasih telah menemani perjalanan Lisin sampai titik ini, Author beberapa kali ingin mengakhiri novel ini dengan cepat, atau berniat Hiatus, namun hingga sekarang tidak terjadi, novel ini besar karena kalian, terus lanjut karena kalian, selama kalian terus membaca dan terus mendukung. author hanya bisa membalasnya dengan melanjutkan novel yang tidak bagus ini.
__ADS_1