
Keesokan paginya.
Zhang Fei membuka pupil matanya dengan malas, dia berusaha untuk melihat kondisi tubuhnya. Detik berikutnya dia kesulitan untuk memahami semuanya.
Dia sudah siap menerima kenyataan jika seseorang akan menidurinya, atau mungkin dia akan dirugikan lagi, seperti yang terakhir kalinya dengan Lisin. Namun dia menemukan sesuatu yang berbeda. Jelas dia dapat mengenali kamar tersebut, dan dia berada di kamarnya sendiri, yang jelas bukan kamar hotel.
Bagaimana bisa!
Bukannya dia semalam menginap di hotel saat dirinya di bawah pengaruh afrodisiak, dan mengapa sekarang dia bisa berada di kamarnya sendiri? Kapan dia pulang, dan kemana Song Ji yang memberikannya minuman Afrodisiak?
Zhang Fei melihat cermin untuk melihat seberapa besar perubahan yang di miliknya. namun dia tidak memiliki banyak perubahan, bahkan pakaiannya tetap sama dan juga bagian bawahnya tidak memiliki cairan putih kental seperti terakhir kali.
Mengingat sekali lagi tentang kejadian semalam jelas bukan mimpi. Semalam, Zhang Fei cemburu dengan Lisin karena pergi bersama dengan wanita lain. Saat itu, Zhang Fei tidak berfikir jernih dan langsung pergi ke tempat Bar dan bertemu dengan Song Ji.
Melihat kepribadian Song Ji, jelas Zhang Fei tidak akan percaya jika Song Ji akan dengan baik hati mengantarkannya pulang. Pasti Song Ji akan mengambil keuntungan darinya tanpa peduli apapun.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Berpikir seorang diri, jelas Zhang Fei tidak akan menemukan jawaban yang tepat, dia harus bertanya kepada seseorang.
Tanpa sadar Zhang Fei memikirkan tentang Lisin, terakhir kali dirinya masih ingat jika dia menghubungi Lisin, tetapi dia harus menyesalkannya karena ponselnya di ambil oleh Song Ji sebelum akhirnya dirinya tak sadarkan diri.
Zhang Fei memutuskan untuk keluar dari kamarnya, untuk menemukan Bibi Nam dan menanyakan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin Bibi Nam tidak mengetahui tentang siapa yang mengantarkannya pulang.
"Nona, Silakan sarapan dulu..."
Bibi Nam tersenyum saat memasak karena melihat kedatangan Zhang Fei.
"Bibi Nam, Ada sesuatu yang harus kamu jawab. Siapa yang mengantarkan aku pulang semalam?..."
Bibi Nam terdiam kemudian menjawab dengan tersenyum. "Bukannya Nona semalam minum dengan tuan Li dan nona tak sadarkan diri karena mabuk!..."
Zhang Fei Diam, dan Bibi Nam melanjutkan. "Tuan Li bilang mobil nona bermasalah namun tadi pagi seseorang mengantarkannya beserta ponsel milik nona..."
Zhang Fei berusaha untuk mencerna perkataan Bibi Nam. Sulit untuk mengakui jika kebohongan tersebut adalah benar. Siapa yang minum dengan Lisin? siapa yang mobilnya bermasalah?
"Apakah Li Shin yang mengantarkan aku pulang semalam?..."
"Benar, Tuan Li menggunakan Helikopter untuk mengantarkan Nona pulang..."
Helikopter!
Zhang Fei semakin bingung, namun dia bersyukur dan dalam hati kecilnya sangat berterimakasih kepada Lisin. Setidaknya Zhang Fei percaya jika Lisin, yang telah menyelamatkan dirinya dari tangan Song Ji. Namun dia tidak berharap jika Lisin memiliki Helikopter.
"Apakah dia di kamar? Aku akan berterimakasih kepadanya..." Zhang Fei hendak pergi ke kamar Lisin.
"Nona, Tuan Li tidak ada di kamarnya, dia langsung pergi setelah memindahkan Nona ke kamar..."
"Pergi?!..."
__ADS_1
"Benar, Tuan Li bilang Helikopter tersebut bukan miliknya jadi dia ingin mengantarkannya. Dan hingga sekarang dia belum pulang..."
Zhang Fei mengangguk, ternyata Helikopter tersebut bukan milik Lisin. Dirinya tidak menyangka jika Lisin tidak mengambil manfaat seperti yang terakhir kalinya. Sepertinya Lisin benar - benar Pria yang baik, dan dirinya selama ini hanya salah paham saja. Pasti wanita yang dia Lihat semalam karakter tidak penting.
Tapi, Mengapa dia tidak pulang ke rumah, apakah dia tidak kangen dengan istrinya? jelas Zhang Fei kecewa karena Lisin tidak menemaninya tidur bersama.
Apa yang aku pikirkan!
Zhang Fei memiliki wajah semerah tomat, mengapa dia memikirkan hal seperti itu. Benar pasti karena pengaruh Afrodisiak yang tertinggal.
Zhang Fei memutuskan untuk menghapus kesalahpahaman yang dia miliki terhadap Lisin.
Dia mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Lisin dan menanyakan tentang keberadaannya.
.....
Villa elite laut timur sedang bergoyang.
Lisin tidak memahami tentang kondisi Zhang Fei, Saat ini dia sedang fokus di bawah dengan Mei Lan di bagian atas sedang bergoyang.
Tangan Lisin tidak berhenti bermain - main dengan benda kenyal dan lembut milik Mei Lan. Dia mendekatkan mulutnya kemudian dia menghisap es serut yang manis namun bukan gula.
"Ah... Tuan Li jangan menghisapnya dengan keras, pikiranku menjadi gila..."
Mei Lan masih menggerakkan pinggulnya secara naik dan turun. Sedangkan dua gunung kembar miliknya terhisap oleh Lisin secara bergantian.
"Oh, Mei Lan mesum. Apakah aku harus berhenti?..."
"Tidak... Jangan... Jangan berhenti, aku tidak bisa hidup tanpa batang milikmu..."
Saat pertama melakukannya, Mei Lan berteriak juga mengatakan tidak. dan terus menerus menyuruh Lisin untuk mencabut Joni agung. rembesan darah tidak dapat terhindari. Namun sekarang, Mei Lan menjerit kenikmatan. belum lagi tidak ingin berhenti, apakah keduanya harus dalam posisi seperti ini selamanya!
Menggunakan tangannya, Lisin terus meremas, tidak lupa menghisap. Joni agung terus menerus keluar masuk pada bidang licin namun hangat. Lisin harus mengakui jika rasanya sangat luar biasa.
Apakah salah bertindak berdasarkan naluri seorang laki - laki?
Apakah harus bertindak seperti karakter novel yang pernah Lisin baca? Setia namun dikhianati. bertahan namun di tinggalkan. Berusaha menjadi munafik dan tidak ingin merugikan wanita namun dalam hatinya berharap dan menginginkannya. Atau lebih memilih satu istri diantara puluhan kecantikan yang dekat dengannya, padahal dia ingin memiliki semuanya.
Tentu saja Lisin tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Jika dia mendapatkan tawaran karakter yang harus dia mainkan maka dia harus melihat seluruh naskah. dan jika dia menemukan naskah yang harus membohongi naluri laki - lakinya, Maka Lisin akan menolaknya.
Semua laki - laki bertindak berdasarkan naluri mereka, walau terkadang ada yang takut dengan istri mereka. sehingga mereka hanya bisa membohongi dirinya sendiri.
Lisin mengabaikan delusi pemikiran konyolnya, dia fokus dengan Mei Lan yang ada di depannya. Sayangnya Detik berikutnya konsentrasi Lisin dan Mei Lan harus terganggu.
"Tong... Ting... Tung... Teng..."
Suara nada panggilan ponsel milik Lisin seperti alarm yang sangat mematikan. Tidak hanya itu bahkan membuatnya trauma.
Sialan, Siapa sih yang menggangguku saat sedang berbisnis?
"Tuan Li, Ponselnya berbunyi..."
__ADS_1
Kata Mei Lan tanpa mengurangi kecepatan pinggulnya.
Ya Aku tahu Mei Lan...
"Abaikan saja dia..."
Lisin terus menerus melakukannya tanpa memperdulikan ponselnya yang sedang mendapatkan panggilan. Juga ponsel yang berada di sampingnya terus menerus berbunyi sehingga menganggu bisnis yang dia lakukan.
Zhang Fei!
Lisin melirik ponselnya dengan heran, bagaimana mungkin Zhang Fei menghubunginya lagi, bukannya masalah kemarin malam sudah selesai?
"Tuan Li, Ponselnya berbunyi lagi..."
Lisin diam tidak memperdulikannya dia masih memegang puncak gunung kembar milik Mei Lan.
"Apakah, tuan Li ingin aku membantu untuk menjawabnya?..."
Lisin memutar matanya saat melihat Mei Lan. jika Mei Lan yang mengangkatnya maka akan menjadi perang nuklir.
Tidak!
Zhang Fei tipe orang yang mudah salah paham, jika Mei Lan yang menjawabnya, maka Zhang Fei akan berpikir jika Lisin bersama wanita lain.
Dan citra Lisin sebagai sosok suami baik - baik akan Tamat.
"Tidak perlu, Aku akan menjawabnya sendiri..." Lisin langsung mengambil ponselnya dan menjawabnya.
"Hallo..."
"Li Shin, Di mana kamu, mengapa tidak langsung pulang?..." Tanya Zhang Fei dari sisi lain panggilan.
"Ah... Aku memiliki... Bisnis yang tidak dapat... aku tinggalkan..."
Lisin keceplosan saat dia berteriak kenikmatan. Ini semua salah Mei Lan mengapa di saat dia mengangkat ponselnya, Mei Lan tidak berhenti melainkan semaki meningkatkan ritme pergerakan.
Sial, Mei Lan ini mengapa tidak berhenti saja.
"Mengapa kamu berteriak, Apakah kamu sedang bersama wanita lain?..."
Diam... Pertanyaan Zhang Fei tepat sasaran. dian mencium bau wanita lain walaupun hanya melalui panggilan ponselnya.
Lisin tidak menjawab.
"Ganti ke panggilan Video, aku ingin melihat apakah kamu benar - benar berbisnis atau sedang bersama wanita lain..." Kata Zhang Fei dengan dingin.
Diam, Lisin berkeringat dingin, namun berbeda dengan Mei Lan yang dengan bersemangat bergoyang.
Bersambung...
*Senin jangan Lupa Vote like komen, agar perjalanan Lisin tidak berhenti di tengah jalan.
__ADS_1