Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 185


__ADS_3


Malam hari kota Banyuwangi terguyur hujan yang begitu lebat, Saat ini Lisin sedang terjebak di dalam rumah milik Tante Maya. Awalnya berniat pulang dengan mobil taksi miliknya, sayang sekali mobilnya harus mogok sehingga Lisin mau tidak mau harus menginap.


Entah mengapa Lisin selalu saja sial dan begitu juga dengan situasi saat ini, Tentunya Lisin sendiri yang membuat kondisi seperti sekarang ini, karena dia menyabotase mobil taksi miliknya sendiri.


Dengan Janda cantik anak satu yang kesepian seperti Tante Maya. jika Lisin tidak mendapatkan manfaat maka dia tidak layak menjadi laki - laki. Belum lagi menyandang gelar yang sangat terhormat, yaitu Penjahat kelamin. Jika Lisin tidak menemani Tante Maya yang kesepian maka dia lebih baik bunuh diri.


Di dalam ruang tamu, dengan duduk pada sofa yang ada di sana. Lisin menggunakan handuk pemberian dari Tante Maya dan mengusap beberapa jejak air pada jaket tebal yang dikenakanya. Karena handuk yang digunakannya milik tante Maya maka Lisin dapat mencium aroma bandan seorang janda yang tertinggal pada handuk tersebut.


Lisin tanpa sadar membayangkan saat Tante Maya di kamar mandi dan setelah mandi dan keramas akan menggunakan handuk tersebut. bukannya itu berarti Lisin secara tidak langsung menyentuh tubuh panas Tante Maya.


"Lisin, kamu baik - baik saja?..." Tanya Maya dengan bingung dan membangunkan fantasi yang Lisin miliki.


"Aku tidak apa - apa Tante. Hanya sedikit kedinginan... Alangkah nyamannya jika mendapatkan sesuatu yang hangat...." Lisin yang termenung kembali sadar kemudian berkata sambil melirik Dua semangka.


"Tunggu sebentar, aku akan membuatkan minuman hangat..." Kata Maya dengan malu. sebagai pemilik rumah, dirinya lupa memberikan suguhan kepada Lisin.


Minuman? Tante Maya ini kurang pengertian, bukan minuman yang di maksud... ya sudahlah...


"Tante, Tidak perlu repot - repot. Cukup Susu hangat saja..." Kata Lisin dengan malu.


Tante Maya sedikit bingung. Memangnya ada ya, tidak ingin merepotkan pemilik rumah namun minta Susu hangat. Dasar Tidak tahu malu.


Tante Maya tidak marah, hanya tersenyum lembut sambil berkata. "Susunya Habis, apakah kamu ingin susu lainnya?..."


Lisin diam, dan malu. Sepertinya susu hangatnya tidak ada yang instan adanya yang alami dan harus melalui metode pemerasan tertentu.


"Tante, Teh hangat saja..." Saran Lisin.


"Baiklah..."


Di saat Tante Maya pergi ke dapur, Lisin duduk dengan gelisah di ruang tamu, pikirannya sangat kacau. mungkin karena pengaruh afrodisiak yang belum menghilang.


Rasanya seperti ada bisikan agar Lisin melanggar tante Maya secepat mungkin dengan pemaksaan. Hanya saja Lisin adalah orang baik yang tidak ingin merugikan seorang janda. apalagi pemaksaan, Lisin jelas bukan orang yang suka memaksa. namun sedikit mengambil keuntungan tidak akan masalah selama tidak banyak - banyak.


"Silakan di minum..." Kata Maya yang baru saja menyajikan teh hangat di atas meja.

__ADS_1


Lisin tidak peduli apakah tehnya hangat atau panas, dirinya menggunakan tangan kanannya untuk mengambilnya. Dan yang membuatnya sedikit unik adalah Lisin tidak mengedipkan matanya sama sekali. karena Lisin memiliki mata namun terpaku pada tubuh Tante Maya.


"Apakah ada yang aneh denganku..." Tanya Maya dengan bingung.


"Tidak ada, Hanya saja kamu cantik tante..." Jawab Lisin.


"Terima kasih..." Tante Maya tersenyum.


Tante Maya yang sebelumnya pergi ke dapur, ternyata telah mengganti pakaiannya dengan baju tidur. dan juga rambut panjang yang awalnya rapi sedikit berserakan, hal ini membuat Lisin yang polos tertekan karena harus menahan keinginan untuk melanggar Janda kesepian tersebut.


Tante Maya ini sepertinya dengan sengaja memilih kain yang begitu tipis, bahkan tonjolan dua kismis miliknya membentuk permukaan yang mudah di lihat.


Apakah ini lampu hijau? Ehm... Mari kita lanjutkan.


"Bagaimana rasanya..." Tanya Tante Maya.


"Walaupun bukan Susu hangat, namun Rasanya sangat enak... Sepertinya suami tante Maya sangat beruntung memiliki istri yang begitu enak, maksudnya tehnya yang enak" Kata Lisin mengangguk dengan malu.


"Lisin, Tante sudah menjanda. Suami tante sudah tidak ada satu tahun yang lalu..." Maya merasa sedih jika mengingat mendiang suaminya.


"Tidak, Apa apa..."


Suara guyuran hujan dapat terdengar dari luar ruangan, suasana sangat mendukung untuk saling berbagi satu sama lain. Hanya saja setelah Lisin membahas tentang mendiang suaminya, membuat Maya sedikit bersedih.


"Lisin, Kamu bisa tidur dikamar manapun yang kamu suka..." Maya berdiri kemudian pergi memasuki kamar dimana Lisin sebelumnya meletakkan boneka.


Begitu saja?


Tidak ada lampu hijau?


Apakah aku akan melalui malam ini tanpa mendapatkan manfaat atau kesenangan yang hakiki?


Lisin harus puas diri, sepertinya malam ini dirinya ditakdirkan untuk tidur sendiri. Kamar paling dapan adalah kamar miliki Luna. sedangkan kamar Tante Maya ada di sisi sebrang tepatnya dekat dengan anak tangga. dan kamar yang tersisa berada di lantai dua.


Lisin dengan frustasi memilih kamar yang ada di lantai atas, mungkin dirinya harus bersabar untuk bisa menghibur Tante Maya yang sedang kesepian.


Waktu berlalu, malam ini terasa panjang untuk Lisin karena dirinya tidak bisa tertidur. Lisin melepaskan jaket tebalnya dan memperlihatkan jika Joni Agung menjulang tinggi.

__ADS_1


"Bro Joni... Kamu harus tegar dan bersemangat karena akan ada hikmah di balik kesulitan yang kamu miliki..." Lisin menghela nafas.


Saat terlentang di atas permukaan ranjang tempat tidur, Joni agung terlihat seperti menara Eiffel yang tidak akan goyang walaupun menerima hantaman badai.


Tepat tengah Malam Lisin menggertakkan giginya. Kedua matanya terus berkedip dan tidak mengantuk sama sekali. Lisin mengingat kembali tentang Tante Maya.


Mengapa Tante Maya tidak memberikan lampu hijau? Mungkinkah karena dirinya terlalu muda? ataukah tante maya mengira jika Dirinya cepat selesai dalam waktu 5 menit?


Sepertinya yang terakhir.


Lisin bertanya - tanya. Tante Maya Jelas sudah menyendiri sejak satu tahun yang lalu, jadi bagaimana caranya seorang wanita terutama janda untuk memuaskan keinginan biologisnya?


Kedua mata Lisin berbinar Seolah mendapat pencerahan dari Tuhan.


Mainan dewasa!!! Pasti saat tante Maya sedang kesepian, dia akan menggunakan mainan dewasa yang Lisin temukan sebelumnya. untuk memuaskan keinginan biologisnya.


Lisin tersenyum, Rumah seorang janda memiliki mainan dewasa seperti itu, jelas tidak lain tidak bukan untuk pelampiasan di saat kesepian.


Lisin akan memastikannya, tidak tetapi akan memergokinya kemudian membuat Tante Maya menuruti semua keinginannya.


Jadi bagaimana jika Lampu sedang merah, tidak ada peraturan yang kekal. karena peraturan ada untuk di langgar. Mungkin Tante Maya tidak memberikan Lampu hijau namun Lisin tidak peduli. Selama jalanan terbuka entah lampu hijau atau lamu merah. Sebagai Penjahat Kelamin sejati Lisin akan menerobosnya.


Tidak peduli, Tante Maya suka atau tidak. Hal yang di awali dengan pemaksaan akan berakhir dengan indah.


Ternyata, Penjahat kelamin akan mendapatkan pencerahan juga.


Lisin, Buktikan jika kamu laki - laki sejati yang menyukai tantangan, dan Taklukkan Tante Maya dengan Joni agung melalui pemaksaan.


Dengan semangat juang tinggi, disertai pengaruh dari Afrodisiak yang belum mereda. Lisin akan melalu jalur pemaksaan.


Tante Maya, Jangan salahkan aku tetapi salahkan dirimu sendiri, karena punya dua semangka besar namun kamu tidak bagi - bagi.


Lisin keluar dari kamarnya yang ada di lantai atas. Dirinya berjalan mengendap - endap menuju ke kamar yang ada di lantai bawah. tentunya kamar tersebut adalah kamar yang di tempati Tante Maya.


Lisin menyeringai dengan kejam saatnya melakukan pemaksaan dan membuat Tante Maya memahami. jika daging yang sesungguhnya akan terasa lebih nikmat dari pada mainan dewasa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2