Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 66


__ADS_3

Aula perjamuan yang awalnya meriah menjadi sunyi tatapan semua tamu undangan melihat ke arah satu orang yaitu Lisin yang terlihat tidak bersalah.


"Bro... kamu harus meminta maaf kepada Ricard..."


"Minta maaf saja tidak cukup, setidaknya dia harus memberikan kompensasi..."


"Benar dia harus mengganti kompensasi"


Jelas beberapa teman Ricard sangat mendukungnya, siapa yang menyuruh Lisin menyinggung teman mereka, jika mereka membiarkan Ricard tidak mendapatkan keadilan apakah mereka layak di sebut teman.


Para tamu undangan baik pria maupun wanita menatap Lisin seolah dia kotoran, lihat saja pakaiannya tidak layak di sebutkan.


Ricard yang melihat reaksi temannya beserta para tamu undangan sangat puas, menurut Ricard yang budiman Lisin ini orang yang penurut selama dia bekerja di perusahaan miliknya, di manapun dia menyuruh Lisin untuk melakukan sesuatu tidak ada namanya penolakan.


Yang membuat Ricard membenci Lisin adalah karena Lisin memaksa temanya Sultan untuk ikut tidak melanjutkan kontrak kerja dan memilih untuk berhenti dari pekerjaannya, Jelas Ricard sangat kehilangan dua budak penghasil uang, bagaimana dia bisa bahagia.


Kebanyakan konsumen di perusahaannya sangat suka dengan hasil pekerjaan Lisin dan Sultan karena cukup memuaskan. sekarang sejak kepergian Lisin dan Sultan pendapatan bulanan perusahaan sangat menurun dan jelas para konsumen beralih ke perusahaan lain.


Sebelumnya melihat Lisin di hentikan penjaga yang melakukan pemeriksaan surat undangan, membuat Ricard sangat puas dia bisa melihat perbedaan di antara keduanya. jika dirinya seorang bos perusahaan siapa Lisin, palingan karyawan yang harus berkeringat untuk mendapatkan uang.


Akan tetapi saat Ricard sedang asik bersulang bersama teman-temannya, Lisin entah bagaimana bisa masuk ke aula perjamuan, melihat ini bagaimana Ricard bisa senang, jelas tidak senanglah bukannya Lisin tidak memiliki surat undangan bagaimana dia bisa masuk. pasti melakukan suap benar pasti seperti itu.


Bagi Ricard Karyawannya seperti ternak dia telah memberi kesempatan kepada Lisin dan Sultan untuk magang di perusahaannya dan itu dari Nol di mana keduanya tidak mengerti apa-apa hingga menjadi bisa segalanya itu jelas karena dirinya.


Setelah ternak itu tumbuh besar kemudian ternak itu pergi meninggalkan dirinya bagaimana Ricard yang membesarkannya tidak marah.


Ricard tidak bisa duduk manis sedangkan duri ada di tangannya, jadi Ricard mencari cara untuk mempermalukan Lisin.


"Bro... sudahlah, mungkin ini hari sial ku saja mana mungkin dia punya uang, kamu tau sendiri kan stelan ini harganya berapa. 100 juta bro... bayangkan buat beli cilok dapet berapa" Ricard berkata dengan merapikan stelan mahalnya.


"Sial... 100 juta, kamu memang orang baik bro... Dan kamu, kamu harus meminta maaf ke bro Ricard"


"Benar... minta maaflah ke bro Ricard"


Lisin yang melihat senyuman Ricard dari telinga ke telinga tidak marah melainkan merasa geli melihatnya. dengan bantuan dari sistem Lisin dapat melihat harga grosir dari stelan jas milik mantan bosnya tersebut.


"Apakah kalian sudah selesai..." Semua orang melihat ke arah Lisin.


"Kenapa kamu tidak meminta maaf?" Tanya salah satu teman Ricard.


"Pertama aku tidak menabraknya... kalian bisa melihat melalui rekaman CCTV yang ada di sana" Lisin berkata sambil menunjuk ke arah kamera yang ada di sudut atas ruangan.


"Sialan ni orang... jika bukan kamu apa kamu pikir bro Ricard menumpahkan sendiri ke bajunya?" Teman Ricard berkata dengan tidak puas.


Ricard berkeringat dingin dia tidak memikirkan jika ada kamera CCTV di sudut aula perjamuan.


"Sudahlah... Teman-teman dia memang orang yang tidak memiliki sopan santun" Ricard merasa jika rekaman CCTV di perlihatkan dirinya tidak tau lagi bagaimana menunjukkan muka.


"Ada keributan apa ini?" Semoga Pria tua berbicara dengan bahasa Inggris.


"Mr.Robert senang bertemu dengan anda..."


"Mr.Robert semoga kebahagiaan menyertaimu..."


"Mr.Robert suatu kehormatan bisa bertemu denganmu..."


Robert mengangkat tangan kemudian semua orang yang berkata manis seperi gula terdiam, bukannya Robert tidak ingin mendengar sanjungan dari mereka, melainkan karena dirinya tidak bisa berbahasa Indonesia apa lagi ada di antara tamu undangan yang berkata dengan logat daerah madura, Mayoritas orang Indonesia aja, kadang tidak paham apa lagi orang Amerika.


Ricard yang melihat kedatangan Robert sangat senang, siapa Robert dia adalah orang terpandang di Amerika dengan berbagai perusahaan di bawah kendalinya. saat ini Robert kebetulan liburan di Bali dan ingin mengunjungi seseorang yang rendah hati.


Robert juga terkenal dengan gengster yang mengikutinya, Sebagai pemimpin gengster di Amerika yang terkenal dengan legalnya senjata api, siapapun yang menyinggungnya akan memiliki peluru bersarang di kepala mereka. hanya saja ini Indonesia jadi dia hanya membawa beberapa penjaga pribadi bukan ratusan gengster.


"Mr.Robert ceritanya seperti ini..." seorang tamu undangan yang bisa berbahasa Inggris langsung menjelaskan tanpa memihak salah satu di antara keduanya.


"Kalau begitu kita putar saja rekaman CCTV..." Walaupun bahasa Inggris Ricard kurang lancar setidaknya dia mengerti jika Robert ingin memutar rekaman CCTV untuk mengungkapkan kebenaran.

__ADS_1


Bagaimana Ricard bisa membiarkan rekaman CCTV di putar, dirinya hanya akan menjadi bahan tertawaan orang lain.


"Mr.Robet kita bisa melupakan masalah ini, aku tidak mempermasalahkan jika stelan mahal ini rusak" Ricard berkata dengan tulus. kemudian juru bicara menerjemahkan perkataan Ricard.


Walaupun Robert terkenal kejam berdarah dingin dia memiliki sifat keadilan yang tinggi, hal inilah yang membuat Robert disegani oleh Puluhan kelompok gangster dan memilih untuk menjadi pengikutnya.


"Sekarang aku mengerti apa yang terjadi, stelan yang kamu katakan bukan yang Asli jika tidak salah itu pasti yang KW dan jangan berbohong apa lagi menjadi sombong di hadapanku" Juru bicara langsung menerjemahkan perkataan Robert dan semua tamu undangan langsung mengerti.


"Di banding dengan kebohongan mu aku lebih suka pemuda sederhana ini" Robert melihat ke arah Lisin.


"Seseorang di nilai bukan karena apa yang di kenakan nya melainkan bagaimana kamu berprilaku, terutama dari segi perkataan jangan pernah membuat kebohongan di depan umum"


Mendengar ini semua orang mengangguk bersama. Sekarang mereka tidak memperhatikan keberadaan Lisin melainkan menatap Ricard dengan tatapan jijik, sekarang sangat jelas siapa Pecundangnya pastinya Ricard menuangkan minuman itu ke stelan nya sendiri karena itu setelan kw dan menjadikan Lisin sebagai kambing hitam.


"Pak tua terima kasih..." Lisin berkata dengan bahasa Inggris, dia tidak pelit ucapan terima kasih karena orang lain membantunya, jadi sudah seharusnya Lisin berterima kasih.


Robert mengangguk sebagai tanggapan, dia entah kenapa tidak marah saat di panggil pak tua apakah itu karena ini bukan wilayahnya.


"Aku datang ingin bertemu dengan pemilik perusahaan Angkasa sepertinya dia tidak ada di sini..." Robert berbicara dengan pelan namun perkataannya dapat di dengar Lisin.


Dia ingin bertemu denganku... mengapa?


Lisin ingin mengatakan kepada semua orang jika dirinya pemilik perusahaan Angkasa namun apalah daya pasti semua orang tidak akan ada yang percaya.


Ricard yang malu dan tertekan tetap tinggal di sana, dia tidak meninggalkan Aula perjamuan namun tetap bertahan karena wajahnya sudah setebal dinding.


"Lisin... kamu harus ingat aku akan membalas penghinaan ini, aku akan menggunakan koneksi ku agar kamu di pecat dari pekerjaanmu yang sekarang" Ricard berbicara dengan lantang.


"Benarkah, aku ingin melihat bagaimana kamu akan melakukannya karena aku bukanlah seorang karyawan" Lisin berkata dengan santai.


"Hahaha... jadi kamu pengangguran" Ricard tertawa sedangkan semua orang menggeleng.


"Semua tamu undangan harap tenang, acara pesta amal akan di mulai" penyelenggara yang sebelumnya menemui Lisin berkata.


Setelah itu beberapa pertunjukan di mulai, di sisi aula perjamuan telah tersedia panggung tidak terlalu besar namun cukup untuk menampung puluhan orang.


Lisin yang tidak peduli terhadap hiburan seperti itu duduk di temani oleh wanita cantik yaitu Nadya.


Nadya terus memperhatikan Lisin sambil bertanya-tanya, Apakah benar Lisin pengangguran namun bagaimana dia punya surat undangan.


Untuk bisa memiliki surat undangan mereka harus mewakili sebuah perusahaan dan perusahaan tersebut harus menjadi donatur.


Baik dirinya dan semua orang yang ada di Aula perjamuan adalah bos-bos perusahaan yang telah melakukan donasi untuk acara amal, yang nantinya donasi-donasi tersebut dengan dapat di percaya di sumbangkan atau di gunakan sebagai dana bantuan.


Nadya memiliki perusahaan kecil di bidang kecantikan, seperti skincare, parfum, dan segala jenis kecantikan lainya, alasan dirinya menghadiri pesta amal adalah mencari koneksi agar pemasaran produksi perusahaannya semakin besar dan untuk bisa memiliki surat undangan dirinya harus berdonasi setidaknya 100 juta.


"Lisin... Apakah kamu seorang bos perusahaan tertentu?" Nadya yang menemani Lisin minum bertanya.


Menurut pendapat Nadya jika Lisin bukan karyawan kemungkinan besar dia seorang Bos perusahaan.


"Ya... begitulah, aku punya perusahaan kecil yang diurus sama asistenku" Lisin berkata dengan jujur.


"Jika itu kecil... berarti sama dengan ku, aku baru saja membentuk perusahaan di bidang kosmetik, karena terbilang baru pemasaran produk kurang memuaskan" Nadya entah kenapa curhat kepada Lisin.


"Aku bisa membantumu..." Lisin melihat ke arah Nadya.


"Tidak... tidak perlu, perusahaan kamu pasti punya kesulitan juga..." Nadya berkata dengan tergesa-gesa, bukan tidak ingin namun apakah Lisin bisa?


"Lalu pengejar mu sebelumnya?" tanya Lisin.


"Dia memiliki perusahaan di bidang pemasaran dan dia ingin membantu perusahaan ku namun dia ingin aku menjadi pacarnya sebagai imbalan" Nadya berkata dengan tidak berdaya.


Acara pesta amal terus berlangsung banyak tepuk tangan meriah bertebaran untuk menyambut para penyanyi dan penari.


"Baiklah semuanya acara selanjutnya, adalah tajuk utama acara pesta amal yaitu sambutan dari pemilik perusahaan Angkasa yang menjadi donatur terbesar di pesta amal tahun ini" penyelenggara acara tersenyum ke arah Lisin.

__ADS_1


"Dengan Nominal sumbangan sebesar 1 Triliyun untuk Bapak Lisin Harap maju ke panggung" Semua orang bersemangat saat mengetahui pemilik perusahaan Angkasa menghadiri pesta Amal.


Robert yang duduk di bagian depan juga bersemangat dia datang untuk menemui Lisin karena ada sesuatu yang akan di minta darinya berapapun harganya.


Diantara semua tamu undangan yang berbahagia hanya satu orang yang Marah yaitu Ricard. Lisin sudah menjadi karyawannya selama 3 tahun dan bagaimana bisa dia yang barus saja keluar dari perusahaannya bisa menjadi pemilik Perusahaan Angkasa yang baru-baru ini menjadi Raksasa perusahaan.


Sial... mengapa Ningsih tidak bilang jika Aku harus memberi sambutan.


Lisin tidak tau apa dan berapa pemasukan dan pengeluaran perusahaan miliknya, dirinya hanya percaya terhadap Ningsih untuk mengurus segalanya. jadi dirinya tidak tau jika perusahaan menjadi donatur terbesar atas nama dirinya.


Saat Lisin berdiri semua orang merasa heran, ternyata itu pemuda sebelumnya yang menjadi pemilik perusahaan Angkasa.


"Dia... sangat mudah, ku pikir pemiliknya seorang kakek-kakek..."


"Benar... aku tidak berharap, orang yang ingin kita kenal ternyata begitu mudah dan ada di dekat kita..."


"Sial... aku tadi menghinanya..."


"Jika aku tau... aku tidak akan membela bro Ricard... Sial... "


Nadya yang duduk di dekat Lisin memiliki Mata melebar hampir keluar, Di kalangan pebisnis siapa yang tidak mengenal perusahaan Angkasa yang menciptakan keajaiban, dalam beberapa hari kemunculannya Langsung mengakuisisi beberapa perusahaan besar, dan terus berkembang seiring berjalannya waktu.


Baru-baru ini memiliki 50% dari semua bisnis keluarga kaya raya yaitu keluarga irawan. banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Angkasa, namun hanya sedikit yang menjalin hubungan dengan perusahaan Angkasa di karenakan persyaratan yang cukup ketat.


Perusahaan Angkasa di jalankan oleh seorang wanita mulai dari pendirian sampai saat ini, bahkan semua orang percaya jika tidak ada bos di balik layar. sekarang siapa sangka jika Perusahaan Angkasa memiliki bos di balik layar dan saat ini duduk di depan Nadya.


"Kamu Bos di balik layar perusahaan Angkasa?" Nadya bertanya.


"Ya... begitulah, bagaimana apa kamu ingin ku bantu tenang saja aku tidak menyuruhmu untuk menjadi pacarku" Lisin berkata santai.


"Um..." Nadya mengangguk, bahkan jika Lisin memintanya untuk menjadi pacarnya, jelas Nadya tidak akan menolaknya.


Sungguh enak nasib mu Lisin kasihan para Jomblo yang hanya bisa iri denganmu, orang lain nyari satu aja susahnya harus keliling dunia sedangkan Lisin yang sudah banyak pacar sangat mudah menaklukkan keindahan.


"Ini nomor sekertaris ku kamu bisa menghubunginya..." Lisin langsung berdiri dan dengan tidak berdaya berniat naik ke atas panggung.


"Bohong... Ini tidak mungkin, ini pasti setingan untuk mengelabui semua orang" Lisin dan semua tamu undangan melihat ke arah satu orang yaitu Ricard yang memiliki perut buncit.


"Apa kalian pikir dia adalah bos di balik layar Perusahaan Angkasa?" Ricard berjalan sambil berkata terus melanjutkan.


"Lihat pakaiannya, Apakah seorang Bos dari perusahaan Besar harus memiliki penampilan seperti ini, Jika aku tidak salah tebak semua yang dikenakannya tidak lebih dari 100 ribu" Sudut mulut Ricard terangkat.


"Benar juga ya... jelas tidak mungkin..."


"Apa yang bro Ricard katakan masuk akal juga ya..."


"Apakah benar seperti itu..."


Melihat Semua orang mengikuti arahannya Ricard sangat senang kemudian dia menghampiri Lisin.


"Lisin... buktikan jika Perusahaan Angkasa memang benar milikmu..." Ricard berkata sambil tersenyum.


Lisin tidak berdaya... bagaimana tidak... apa yang bisa Lisin buktikan, di tempat ini selain penyelenggara yang menerima telpon dari Ningsih tidak ada yang percaya jika Lisin adalah pemilik perusahaan Angkasa.


Bahkan penyelenggara pesta amal juga mulai khawatir jika yang menelpon sebelumnya bukan dari pihak perusahaan Angkasa melainkan orang lain.


Lisin terus terdiam kemudian seorang wanita cantik datang dari pintu masuk aula perjamuan dia adalah Ningsih.


"Aku bisa membuktikannya..."


Bersambung...


*Sedikit pesan dari Author banyak reader yang komentar jika novel ini terlalu banyak mengandung unsur S*x padahal hanya Hotel bergoyang, badai menerjang, gempa melanda, tanah longsor dan gunung merapi meletus.


*Author jadi bingung lanjutin apa tamatain aja, terus bikin novel baru yang tidak mengandung unsur wanita laki-laki semua isinya.

__ADS_1


*Terimakasih yang sudah Like, Vote, dan berkomentar semua bentuk dukungan dari para reader akan membuat Author bersemangat.


__ADS_2