Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 209


__ADS_3


Setelah mendengarkan penjelasan dari Salak yang mendapatkan informasi dari Sepet dan Sikat. Lisin hanya bisa mendesah.


Pak Umar ini memang tidak bisa diam, walaupun hanya selisih 100 ribu saja. Lisin sangat memahami niatan Pak Umar dan Pondo bukan karena persaingan saja. tetapi ingin membuat dirinya menjadi satu - satunya yang kehilangan Uang dalam jumlah besar.


Jelas Lisin bukan orang bodoh, namun dirinya tidak mungkin berdiam saja tanpa memberikan tanggapan. Karena ingin bermain - main dengan api maka jangan salahkan api karena membakar mu. Pikir Lisin sambil tersenyum.


"Baiklah, Aku akan mengikuti permainan kalian..." Lisin langsung menemukan Nazwa dan beberapa karyawan PT. Angkasa yang bertugas di bawahnya.


"Nazwa, Tambahkan uang tunainya menjadi 20 juta..." Kata Lisin dengan datar.


"Di mengerti..." Nazwa sedikit terkejut sebelum akhirnya bergerak tanpa menanyakan lebih lanjut.


"Pak Salak, Kamu bisa mengambil Sovenir yang baru..." Kata Lisin dengan tersenyum.


"Pak Lisin jangan bilang..." Salak sudah mengembalikan Sovenir karena ingin mendatangi resepsi pernikahan putranya Pak Umar. namun saat melihat Sovenir yang dua kali lebih besar dari sebelumnya. langsung memahami jika Lisin telah melipatgandakan isi yang ada didalam Sovenir.


"Pak Salak tidak boleh menolaknya. Juga seperti sebelumnya, kamu harus menjelaskan dengan jujur kepada warga desa lainnya" Lisin menyarankan.


"Pak Lisin, saya bukan orang tidak berakhlak seperti warga desa lainnya, Namun karena Pak Lisin memaksa, maka tidak baik untuk menolaknya. jika di tambah lagi satu, mungkin saya harus menolak yang itu..." Kata Salak dengan tidak tahu malu.


Sial... Kok ada orang seperti Salak ini, bilang saja ingin di tambah lagi.


"Sayang sekali karena Pak Salak tidak menginginkannya, sebenarnya karena hubungan kita saling membantu. Saya berniat menambahkan satu Sovenir tambahan untuk Pak Salak. Sayang sekali anda menolaknya..." Lisin menggeleng.


Diam... Salak memiliki usus menghijau karena menyesali perkataannya.


.....


Salak Pulang dengan Sovenir yang memiliki 20 juta di dalamnya.


"Salak..." Sikat dan Sepet datang bersamaan dari arah di mana resepsi pernikahan Putranya Pak Umar. tentu saja masing - masing memiliki Sovenir pada tangan mereka.


"Kamu lihat, Uang di dalamnya 100 ribu lebih banyak dari Sovenir Keluarga Lisin..." Kata Sepet dengan tertawa.


"Tidak sia - sia berlarian dari sana kesini dan sebaliknya..." Kata Sikat dengan berkeringat..


"Sepertinya, Apa yang kalian dapatkan tidak sebanyak yang aku miliki..." Kali ini Salak menunjukkan Sovenir yang memiliki 20 juta uang tunai di dalamnya.


Diam... Sepet dan Sikat tidak mengerti lagi, keduanya jelas mengetahui persaingan antara Keluarga Lisin dan Keluarga Pak Umar. Dan dirinya mendapatkan manfaat dari perselisihan tersebut. bagaimana keduanya tidak bahagia.

__ADS_1


Sekarang ada Sovenir yang berisi 20 juta, mengapa tidak menginginkannya.


"Sikat... Ayo berangkat, kita kembalikan Sovenirnya..." Kata Sepet dengan bersemangat.


Walaupun keduanya lelah karena berlari ke sana ke mari, Keduanya dengan bersemangat tetap melakukannya.


Malam ini, semua warga desa harus tersiksa karena melakukan perjalanan antara kediaman keluarga Lisin dan kediaman keluarga Pak Umar. hanya saja demi untuk mendapatkan Sovenir 20 juta mereka rela bertahan dari cobaan tersebut.


.....


Kediaman keluarga Pak Umar.


Sekarang banyak warga desa yang mengembalikan Sovenir kepada Pak Umar dan Pondo. Namun keduanya bukannya bersedih melainkan tertawa.


"Hahaha... Keluarga Lisin ini sangat bodoh, mereka dengan mudahnya terpancing dengan kita..." Pak Umar tertawa dengan puas. entah kapan terakhir kali dirinya merasakan kepuasan seperti ini.


"Ayah, Kita akan terus dalam rencana. Setiap kali Keluarga Lisin meningkatkan jumlah uang tunai pada Sovenir mereka, Ayah hanya perlu menambahkan 100 ribu saja seperti sebelumnya..." Pondo mengingatkan.


"Putraku, Apakah kamu menganggap ayahmu ini anak kecil? Ayah pasti bisa mengurusnya. Kamu pergi dan lakukan malam pertama saja..." Kata Pak Umar dengan tidak puas.


Sebagai orang tua, seharusnya dirinyalah yang menasehati putranya bukan sebaliknya.


.....


Waktu berlalu malam hari yang sangat sejuk dan sangat cocok untuk mengistirahatkan tubuh karena aktivitas pada siang hari sebelumnya. Namun tidak bagi warga desa yang saat ini terus menerus berlarian hanya untuk memilih Sovenir mana yang paling banyak.


Lisin yang mengikuti rencana Pak Umar dan Pondo, terus menerus meningkatkan jumlah uang tunai pada setiap sovenir.


Yang awalnya 10 juta menjadi 20 juta, menjadi 30 juta, menjadi 40 juta, menjadi 50 juta, menjadi 60 juta, menjadi 70 juta, menjadi 80 juta, menjadi 90 juta dan yang terakhir menjadi 100 juta.


Warga desa yang tidak memiliki akhlak, jelas akan memilih yang terbesar di antara dua Sovenir yang di tawarkan.


Karena Pak Umar menawarkan, 100 juta lebih 100 ribu. Semua warga desa yang sudah kelelahan langsung pergi ke tempat resepsi pernikahan putranya Pak Umar.


Pak Umar harus mengakui jika keluarga Lisin tidak bisa dianggap remeh karena memiliki kekayaan bersih Triliunan. Tentu saja dirinya tidak akan kalah begitu saja. walaupun Pak Umar tidak memiliki uang sebanyak itu namun dirinya tidak peduli. Jadi langsung meminjam uang ke pihak rentenir.


Pak Umar mengeluarkan pengumuman, jika Sovenir akan menjadi 100.100.000 rupiah. dan menurut Pak Umar, setelah yang satu ini dirinya tidak akan menambahkan lagi. karena menurut dirinya sudah cukup dan Pastinya keluarga Lisin yang akan berakhir dengan kemiskinan.


Hahaha... Ayo, tambahkan lagi uang tunai Sovenir Keluarga Lisin. Pikir Pak Umar dalam hatinya.


Setelah keluarga Lisin bangkrut Maka Keluarga Pak Umar akan menjadi satu - satunya orang terkaya desa.

__ADS_1


Hanya saja hal tersebut bukan tentang penawaran pada rumah Lelang, yang mana semakin tinggi harga yang di tawarkan. maka semakin dekat dengan kepemilikan barang yang di lelang. Dan apa yang Pak Umar lakukan adalah tidak lebih dari berjudi. karena akan kehilangan uang tunai miliknya.


Sambil menunggu warga desa mengembalikan semua uangnya, Pak Umar tidak bisa menunggu dengan santai dan sesekali membayangkan jika Dirinya menjadi satu - satunya orang terkaya di desa.


.....


Tempat kediaman keluarga Lisin.


"Bos, apakah kita akan menambahkan lagi jumlah uang tunai pada setiap Sovenir?..." Tanya Nazwa dengan lelah, karena berulang kali mengikuti perintah Lisin, begitu juga Staf karyawan lainnya.


"Mengapa kita harus menambahkan lagi, Karena semua warga desa tidak menginginkan Uang tunai 100 juta dalam bentuk Sovenir. Maka kita tidak harus memaksanya..." Kata Lisin dengan santai.


Tentu saja di dalam hatinya tertawa karena Pak Umar ini pasti akan Miskin dan terlilit hutang setelah malam ini berlalu.


"Nazwa, Berikan satu Sovenir kepada masing - masing karyawan yang melakukan tugas lembur pada malam ini. Dan tidak ada lagi pembagian Sovenir karena resepsi pernikahan sudah berakhir..."


"Di mengerti Bos..." Kata Nazwa dengan tersenyum. akhirnya pekerjaan yang sangat melelahkan berakhir.


"Pak Salak... Sovenir sudah di tarik kembali, jika menginginkan sovenir yang berisikan uang tunai, anda bisa pergi ke tempat resepsi pernikahan putranya Pak Umar..." Kata Lisin dengan tersenyum.


Apa!...


Salak sangat panik kemudian berlari, dirinya mengikuti permainan warga desa dan akhirnya dirinya kehilangan Sovenir yang seharusnya menjadi miliknya.


Lisin tidak peduli dengan nasib sial yang akan menimpa Keluarga Pak Umar. Sekarang dirinya lebih baik pergi ke kamar untuk melakukan malam pengantin dengan istri - istrinya. kecuali Wulan.


.....


Kediaman keluarga Pak Umar tepatnya keesokan pagi harinya tanpa melakukan penutupan tempat resepsi pernikahan.


Pak Umar tidak tidur melainkan terus menerus menunggu warga desa mengembalikan semua uang miliknya. Sayang sekali hal tersebut tidak mungkin terjadi.


Pak Umar akan di pastikan jatuh miskin dan terlilit hutang. sedangkan Lisin tidak kehilangan uang sedikitpun di tangan warga desa karena Semua Sovenir telah di kembalikan.


"Tidakkkkkk... Uangku..." Pak Umar berteriak sebelum akhirnya pingsan.


Sedangkan Salak menjadi satu - satunya warga desa yang tidak mendapatkan Sovenir karena dirinya datang terlambat ketempat resepsi pernikahan putranya Pak Umar.


"Sovenir ku..." Salak hanya bisa meratapi nasibnya dengan penuh penyesalan. mengapa dirinya mengembalikan Sovenir 100 juta dari Lisin hanya untuk memilih 100 ribu lebih banyak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2