
Cabul!
Mendengar keluhan dari Rong Yue, membuat Kepala Rong terdiam. Menurutnya, Lisin ini sosok pahlawan yang memiliki etika baik dan berbudi luhur. Tidak hanya itu, kecantikan seperti Xue Yunran saja ditolaknya.
Hal ini menandakan betapa besar Ketahan Lisin terhadap keindahan, Yang jelas Lisin tidak mudah tergoda dengan semangka yang bertebaran di mana - mana.
Kesampingkan itu semua, Mengapa Rong Yue mengatakan Lisin sebagai pria cabul?!
Apakah ada kesalahpahaman diantara keduanya?!
Kepala Rong adalah tipe orang yang bertindak setelah mencerna informasi yang dia dapatkan. Dia tidak langsung mempercayai perkataan putrinya sendiri. Menurutnya, jikapun Lisin memang cabul. Pastinya ada alasan untuk menjelaskan semua tindakannya.
"Tuan Li, Tolong jangan tersinggung. Yue'er memiliki sindrom yang membenci seseorang pria..." Kata Kepala Rong untuk menyakinkan Lisin.
Rong Yue yang masih berdiri memiliki tatapan mata tidak percaya. Ayahnya sendiri rela mengatakan dirinya memiliki sindrom yang tidak menyenangkan. Rong Yue curiga jika dirinya anak pungut, dan Lisin anak kandung ayahnya.
Di mata Rong Yue, ayahnya adalah karakter baik dan selalu mementingkan tugas negara, bahkan menomor duakan dirinya. Sekarang hanya untuk menyenangkan Lisin, ayahnya juga menomor duakan dirinya lagi.
Rong Yue memiliki pemikiran tidak nyaman. Dia benar - benar membenci ayahnya dan lebih membenci Lisin. Mengapa kehidupannya sangat tidak adil.
Alasan mengapa dia menjadi polisi wanita saat ini, hanya untuk mendapatkan pengakuan dari ayahnya. Mengapa di saat dia memliki pencapaian luar biasa, ayahnya masih memandangnya sebagai putri kecil yang tidak berguna dan selalu membuat masalah.
Sejak, kematian ibunya Rong Yue kekurangan kasih sayang, dan ayahnya sangat sibuk dengan pekerjaannya, hal ini membuat masa kecilnya sangat kesepian.
Rong Yue benar - benar frustasi.
"Aku pergi..."
Tanpa melihat kebelakang, Rong Yue memilih untuk pergi meninggalkan Departemen naga.
.....
Setelah kepergian Rong Yue, di dalam ruangan hanya menyisakan Lisin yang terdiam dengan Kepala Rong yang sedikit bersalah. Dia memang tidak bisa menjadi sosok ayah yang sesungguhnya, dan tidak tahu apa yang di inginkan putrinya.
__ADS_1
Lisin yang terdiam dapat mengetahui beberapa poin penting hubungan Kepala Rong dan putrinya. Sebenarnya itu semua bukan urusan Lisin, tetapi dia sekali lagi dibuat dilema.
Itu mengingatkan Lisin dengan kehidupan masa lalunya. Lebih tepatnya sebelum dia mendapatkan sistem. Mengingat dia memilih meninggalkan rumah itu semua terjadi karena kurangnya hubungan antara anak dan orang tuanya.
Lisin juga beberapa kali merugikan Rong Yue. Itu semakin membuatnya bersalah. Rong Yue ini hanya wanita kesepian, dia juga meminta Lisin untuk membantunya membawakan pembalut wanita. Itu berarti hubungan sosialnya kurang baik. mungkin saja dia tidak memiliki teman.
"Kepala Rong, kamu seharusnya tahu. Tidak baik memaksakan sesuatu yang tidak diinginkan Rong Yue..." Suara Lisin datar dan membuat Kepala Rong semakin menyesalinya.
"Aku tahu, kamu ingin menyenangkan diriku, tetapi tidak seharusnya kamu mengorbankan masa depan putrimu..." Lisin yang polos memberikan tausyiah dan itu sangat menyentuh. Bahkan Penjahat kelas kakap akan tobat jika mendengarkan nasihat darinya.
Sungguh pria polos yang baik. Pikir kepala Rong dengan takjub.
"Kepala Rong, aku harus menolak tawaranmu. Menurutku, Rong Yue bisa menentukan masa depannya sendiri. Sebagai seorang ayah kamu harus mendukung setiap keputusan dari putrimu, walaupun kamu tidak menyukainya..." Tatapan Lisin sangat tegas seolah tidak ada godaan apapun yang akan membelokkan isi hatinya.
Kepala Rong sangat tersentuh dengan kata - kata Lisin.
Apa yang Lisin katakan adalah benar, Kepala Rong mulai menemukan kekurangan dari tindakan dan keputusannya. Dia menghela nafas, dan mulai mengingat tentang putrinya yang kekurangan perhatian dan lain sebagainya.
"Tuan Li, kamu adalah pria yang luar biasa. Aku malu berdiri di depanmu..." Kepala Rong sangat bersyukur setelah itu keduanya menambahkan beberapa percakapan sebelum akhirnya berpisah.
.....
Dia ingin melakukan registrasi ulang kartu ATMnya.
Untuk masalah Lisin dia ingin melupakannya, sedangkan untuk ayahnya yang tidak pernah memberikan perhatian. Rong Yue tidak lagi peduli dengannya.
Dia berencana untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai Kapten kepolisian. Mungkin sedikit berat karena dia sudah mengorbankan banyak hal untuk mencapai posisi tersebut.
"Dorrrrrr..."
Saat Rong Yue berada dalam antrian panjang, suara tembakan dapat terdengar. Memecah kedamaian yang ada di dalam bank, dan bahkan menakuti Rong Yue.
Kedatangan tiga pria dengan kepala tertutup legging hitam, hanya menyisakan bagian mata mereka, ketiganya datang ke kantor bank dengan senjata, dan membuat pengunjung bank panik.
"Uang itu benda mati, tetapi nyawa kalian tidak dapat ditukar dengan uang. Kami hanya menginginkan uang, bukan nyawa kalian! Jika kamu ingin hidup maka serahkan uang yang ada di dalam..." Pria yang menjadi pimpinan perampokan berkata dengan keras, suaranya penuh ancaman.
__ADS_1
Mendengar ungkapan menginginkan uang, semua orang yang ada di sana memiliki wajah ketakutan. Disusul dengan jeritan di mana - mana.
"Aaaa, perampok, semua orang lari..." wanita akan menjadi yang pertama untuk melarikan diri saat menghadapi bahaya.
"Dorrrrr..."
Sayangnya suara tembakan lain membuatnya tidak bisa melarikan diri karena terdiam ketakutan, beberapa diantaranya mengencingi celana.
"Sialan, apakah kamu pikir aku bodoh! jika kalian pergi. Maka kalian akan menghubungi petugas polisi..." Kata pria lainnya.
"Untung saja kita lulusan universitas perampok jika tidak kami akan tertangkap lebih cepat..." Pria lainnya menambahkan.
"Siapa pun yang ingin melakukan perlawanan atau berniat melarikan diri, akan dibunuh olehku..." Pimpinan perampok itu memancarkan niat pembunuh dan mengancam semua orang di sekitarnya.
Salah satu dari ketiganya berkat, "Keluarkan semua uang yang ada di tempat ini..."
Mereka mengeluarkan tas dan berkata dengan dingin ke arah karyawan bank. "Masukan kedalam tas, Cepat..."
Melihat senjata di tangan keempat pria itu karyawan bank tidak ada yang berani menolak permintaan para perampok. Mereka tanpa perlawanan memasukkan semua uang yang ada di dalam brangkas bank dengan gugup.
Tentunya hati semua orang menggigil ketakutan. Tidak ada yang berani mengatakan kalimat lain. Mereka semua berjongkok dan memegang kepala mereka. hanya karyawan bank yang bergerak dengan gugup saat memasukan semua uang kedalam tas.
Dua perampok lainnya berdiri di dekat pintu dan mengawasi semua orang di aula. karena mereka memegang senjata. Semua orang gemetar ketakutan dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Tuan, ini uangnya..." Kata karyawan wanita dengan ketakutan.
Karyawan wanita yang baru saja kembali dari ruang brangkas bank tidak berani duduk didepan meja. Dia membawa uang itu dengan tangan gemetar. Di bawah ancaman pistol, dia tidak memiliki pilihan lain, dia tidak ingin mati. untuk itu satu - satunya cara baginya untuk tetap hidup adalah mengikuti perkataan para perampok.
"Bagus... Hahaha, Setelah ini kita akan menjadi kaya raya..."
"Benar, dengan semua uang ini, aku ingin membeli kipas angin dari pada AC pendingin..."
"Hahaha... Sama bro..."
Bersambung...
__ADS_1
*Belum revisi.