
Lisin yang duduk di seberang meja Ratih, dapat melihat tindakan Pak Aryo yang melakukan hal tercela. Andaikan Lisin tidak mengunjungi restoran pinggir Pantai Blimbingsari. Dirinya tidak akan mengetahui jika Ratih akan menjadi target yang di rugikan.
Sekarang sangat jelas jika Ratih tidak berselingkuh, Jadi Lisin tidak akan menyalahkan Ratih. Sedangkan Pak Aryo ini, bukan hanya dia karyawan Lisin sendiri, juga memiliki keberanian untuk berniat meniduri Ratih.
Sungguh mencari kematian.
Lisin sedang memikirkan bagaimana caranya Untuk menggagalkan niatan busuk miliki Pak Aryo. Bagaimana caranya agar Ratih tidak meminum minuman yang tercampur Afrodisiak.
Ratih kembali dari belakang dengan perlahan duduk pada tempat duduknya kembali. Lisin tidak memiliki pilihan lain selain mengungkapkan Identitasnya kepada Ratih kemudian memberikan pelajaran kepada Pak Aryo.
Saat Lisin berniat melakukanya, Vita menarik lengan Lisin.
Vita yang duduk di samping Lisin sedikit tidak senang, Bukannya saat ini Lisin keluar dengan dirinya. mengapa Lisin mengabaikannya. Apakah Lisin sudah bosan dengan dirinya?
"Ehm... Bos... Mengapa kamu tidak melepas maskernya, sini aku suapi..." Kata Vita dengan tersenyum.
"Bos, Kamu sangat beruntung karena ada yang ingin menyuapi kamu. Juga pacarmu sangat perhatian, Dari pada aku yang Jomblo..." Kata Sultan dengan cemberut.
"Kakak, jika ingin di suapi bilang, Sini aku suapi..." Kata Sindi.
"Tidak... Tidak... Aku punya tangan sendiri..." Jelas Sultan sangat mengenal adiknya. Walaupun Sindi terlihat baik namun tidak sebaik tindakannya.
Jika di suapi adiknya mungkin tidak masalah, hanya saja bagaimana jika dengan piringnya juga? Jelas tidak lucu.
"Sebenarnya, Aku sudah makan sebelum aku menjemput Vita, jadi kalian saya yang makan..." Kata Lisin yang kurang memperhatikan Vita dan lebih memilih melihat Ratih yang sedang meminum minuman yang tercampur Afrodisiak.
Sial... Aku terlambat, Ratih sudah meminumnya. Andaikan saja tidak teralihkan, pasti Lisin bisa menghentikan Ratih sebelum meminumnya.
Vita juga mengikuti arah di mana Lisin melihat dan ternyata Ada keindahan yang sedang duduk di sana.
Sedih rasanya, disaat orang yang kita sayangi memiliki mata namun digunakan untuk melihat wanita lainnya.
"Apakah kamu tertarik dengannya?..." Tanya Vita dengan berbisik.
Lisin yang melihat Vita bersedih mulai merasa bersalah, bukan niatnya untuk mengabaikan Vita, namun Ratih sedang dalam bahaya.
"Vita, Maaf jika aku mengabaikan mu, Hanya saja pacarku yang lain sedang dalam bahaya..." Lisin membalas bisikan Vita.
Vita akhirnya bernafas lega, kemudian dia menatap Kearah Ratih dan mengangguk. Sungguh Pacar yang sangat baik dan pengertian. Di saat mengetahui jika orang yang disayanginya memiliki pacar lain Vita tidak marah melainkan lega.
Jika itu orang lain yang posesif terhadap pasangannya, pasti akan mengambil pisau lalu menusuk Lisin di tempat terbuka.
__ADS_1
Vita ini sungguh wanita idaman...
"Vita, aku harus menolongnya karena dia minuman yang di minumnya tercampur Afrodisiak..." Lisin menambahkan bisikan lainnya.
Afrodisiak!!! Vita marah karena sebagai wanita dirinya memahami. Afrodisiak biasa di gunakan oleh pria hidung belang untuk melecehkan kaum wanita.
Vita mengangguk sebagai persetujuan, Setidaknya Ratih sudah terlanjur menjadi milik Lisin, jika itu wanita lain yang belum menjadi miliknya. Vita pasti akan marah besar.
Kembali kepada Ratih yang meminum dengan anggun, Pak Aryo yang melihatnya tersenyum lebar. Dia sangat yakin malam ini akan meniduri Ratih dan akan menjadi pria paling beruntung di dunia.
"Aneh, Mengapa tubuhku terasa sangat panas..." Kata Ratih sambil meletakkan gelas minuman di atas meja.
"Bu Ratih, Apakah kamu baik - baik saja?..." Tanya Pak Aryo.
"Entahlah, Kepalaku terasa pusing..." Kata Ratih dengan menekan keningnya.
Pak Aryo berniat menyentuh Ratih dengan tangannya, hal seperti ini sudah biasa dirinya lakukan terhadap beberapa wanita yang sudah menjadi korban pelecehan Pak Aryo.
Dengan niatan menenangkan wanita yang baru saja meminum Afrodisiak dengan menyentuh dan meraba - rabanya agar semakin keenakan kemudian tinggal mencari tempat sepi untuk mengeksekusi atau hotel tertentu.
Pak Aryo lebih suka mencari tepat sepi seperti semak - semak, dari pada di hotel yang mengharuskan dirinya mengeluarkan uang, padahal dirinya hanya melakukannya 5 menit saja.
Akan tetapi, saat tangan Pak Aryo berniat menyentuh bahu Ratih, Tangan lain entah siapa menghentikannya dan membuat Pak Aryo terkejut.
"Kamu..." Pak Aryo menatap Lisin dengan kebencian.
"Bisakah tangan kamu berhenti?..." Kata Lisin dengan dingin.
Pak Aryo akhirnya menyadari jika pihak lain adalah salah satu orang yang duduk di sebrang meja. dan dia menggunakan masker dan nampak mencurigakan.
"Sialan, Mengapa kamu mengganggu kepentingan orang lain dan mengapa tidak mengurus kepentingan kamu sendiri?..." Kata Pak Aryo dengan marah.
Ratih yang melihat Lisin, pandangannya menjadi kabur. sedangkan, Sultan, Sindi dan Jihan terkejut dengan tindakan yang Lisin lakukan. Hanya Vita yang diam karena dirinya memahami jika Pak Aryo menggunakan cara kotor untuk mengambil keuntungan dari Ratih.
"Sistem... Gunakan kartu keterampilan Hipnotis Super..."
(DING...)
(Kartu keterampilan Hipnotis super dipelajari. Tuan rumah dapat menghipnotis apapun dan siapapun tanpa kegagalan, dan memiliki sifat permanen)
Sudut bibir Lisin terangkat, Dirinya tidak menyangka jika Keterampilan hipnotis super begitu nyaman. Bagaimana jika dirinya membuat orang tertentu menjadi gila, bukannya kehidupannya akan berakhir.
"Klik..."
__ADS_1
"Diam..." Lisin menjentikkan jarinya di depan Pak Aryo, kemudian memberikan Sugesti untuk diam.
Pak Aryo Langsung terdiam seperti patung. Sungguh keterampilan yang sangat menakutkan, bagaimana jika mengumpulkan beberapa wanita kemudian memberikan Sugesti, buka baju! Sungguh keinginan kaum jomblo yang hanya ada di dalam mimpi mereka.
"Ratih, Kamu tidak apa - apa?..." Tanya Lisin, yang menggunakan tangannya untuk mengukur suhu tubuh Ratih yang sangat panas.
"Lisin, kamu Lisin kan?..." Tanya Ratih dengan tidak percaya, apakah dirinya berhalusinasi? Apakah dirinya salah minum sesuatu sehingga dirinya merasakan tangan Lisin padahal itu tangan orang lain.
Lisin terkejut karena Ratih menebak dengan benar, Lisin melepaskan masker yang dikenakannya kemudian memperlihatkan wajah tampangnya kepada Ratih.
"Ratih, Maaf aku berprasangka buruk kepadamu, dan maaf juga tidak langsung menemui mu saat aku melihatmu..." Kata Lisin dengan penyesalan.
"Lisin, Peluk aku... Tubuhku rasanya aneh dan panas, Apakah aku akan mati?..." Lisin langsung menerima pelukan dari Ratih.
"Tenang saja, Selama aku di sini, kamu tidak akan mati..." Kata Lisin dengan menenangkan Ratih dalam pelukannya.
Shock!
Apa ini! Sultan, Sindi dan Jihan tidak dapat berkata - kata. Ternyata Lisin ini lebih playboy di bandingkan dengan Sultan.
Sultan menggelengkan kepala dengan tidak percaya. Wanita dalam pelukan Lisin ini sedang bersama pria lain, namun entah mengapa bisa berakhir dalam pelukan Lisin.
Kemudian Lisin memiliki Pacar yaitu Vita dan tepat berada di sampingnya. namun Lisin masih berani memeluk wanita lain. Sungguh Pria sejati, Sultan saja tidak berani melakukannya, dan harus bersembunyi di belakang pacarnya jika ingin mendua.
Entah sejak kapan Lisin bisa seberani ini yang jelas Sultan hanya bisa menatap dengan penyembahan, belum lagi saat melihat kearah Vita. Tidak ada jejak kemarahan melainkan tersenyum. Sial... Lisin kamu beruntung sekali.
Sindi dan Jihan dalam pemikiran yang sama juga. Ternyata dugaan keduanya jika Lisin tipe orang yang setia salah besar, karena Lisin munafik tingkat profesional.
Kesampingkan hal tersebut, Bukannya wanita itu bersama dengan pria lain? mengapa rasanya seperti melakukan NTR tepat di depan pasangan mereka.
Lisin tidak peduli apa yang di pikirkan Sultan, Sindi dan Jihan. Saat ini dirinya hanya fokus untuk menenangkan Ratih dari pengaruh Afrodisiak.
"Sistem, Akses toko sistem dan beli penawar Afrodisiak..."
(Toko sistem terakses, Di butuhkan 10 juta untuk membeli penawar Afrodisiak: Ya/Tidak)
"Ya..."
Lisin langsung memberikan Pill penawar afrodisiak kepada Ratih.
Setelah beberapa saat, Ratih yang ada di dalam pelukan Lisin mulai tenang, dan secara perlahan dapat mengenali apa yang ada di sekitarnya. kemudian Ratih ingat jika dirinya dalam pengaruh hal aneh setelah meminum sesuatu.
"Lisin, Terima kasih..." Kata Ratih kemudian mencium pipi kanan Lisin tanpa peduli jika ada orang lain di sekitarnya.
__ADS_1
Kali ini Lisin menatap kepada Pak Aryo yang dalam pengaruh Hipnotis, sepertinya Lisin karus memberikan Sugesti yang lain. Seperti harus bermain sabun selama sisa hidupnya.
Bersambung...