Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 162


__ADS_3


Jalan raya kota malang.


Siska di temani penjahat kelamin yaitu Lisin sedang dalam perjalanan tanpa tujuan.


"Bagaimana pekerjaan kamu sekarang?..." Lisin bertanya sambil melirik Paha mulus Siska.


Lisin dengan sengaja memperlambat laju kendaraan agar dirinya lebih lama bisa melirik pemandangan yang mubazir jika di sia - siakan.


"Baik Bos... tidak memiliki masalah..." Siska menjawab dengan jujur.


Jika bukan masalah yang di miliki adiknya, dirinya tidak akan pulang ke kampung halamannya sampai akhir tahun.


"Ehm... Siska, kamu tidak perlu terlalu formal di saat kita sedang berdua..." Lisin menegur dengan halus.


"Kalau begitu Mas Lisin..." Siska menuruti kemudian membuka kacamata hitamnya dan memperlihatkan kedua pupil mata yang membengkak.


"Kamu habis menangis?..." Melihat Siska Lisin bertanya.


"Sedikit Mas..."


"Jika sedikit pasti tidak akan seperti itu, katakan saja mengapa kamu menangis... Ceritakan saja tidak perlu sungkan... Aku adalah orang yang bisa di percaya, mungkin saja aku bisa membantu mu..." Sambil tangan kanan mengendalikan kemudi mobil, tangan kiri Lisin tanpa sadar menyentuh paha mulus Siska.


"Mas Lisin... Tangannya..."


"Maaf... tidak sengaja aku pikir itu tuas pemindah..." Lisin menjelaskan dengan malu.


Siska sedikit bingung, sebelumnya Lisin bilang bukan penjahat kelamin lalu mengapa tindakannya mengatakan sebaliknya.


"Adikku dia di penjara..."


"Di penjara?... Bagaimana bisa... apakah melakukan sesuatu yang salah?..." Tanya Lisin.


"Dia ketahuan mencuri uang... Dan saat ini dia di penjara. jika ingin membebaskannya aku harus memiliki uang tebusan 100 juta... Bagaimana aku mendapatkan uang sebanyak itu..." Siska menitihkan air matanya lagi.


"Apakah adikmu benar - benar mencuri?..."


"Aku tidak tau jika dia sengaja melakukanya atau tidak yang jelas ada bukti kuat..." Siska mengeluarkan ponselnya kemudian memperlihatkan adik laki - lakinya sedang membuka lemari tertentu.


Video tersebut dikirim bibinya sehari yang lalu.


Lisin memahami jika bukti tersebut cukup kuat dan cukup sulit membebaskan tersangka tanpa menggunakan uang tebusan. apa lagi jika lawannya polisi korup pasti akan panjang urusannya.


Hanya saja apakah Lisin akan menyerah jika berurusan dengan kepolisian? jelas tidak.


"Siska bisakah kamu menjelaskannya lebih rinci lagi..."


Setelah mengusap air matanya, Siska secara perlahan menjelaskan.

__ADS_1


Adiknya bernama Faisal dan dia memang tidak bekerja, bisa di bilang pengangguran. karena hanya lulusan SMP jadi dia kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap, mungkin sesekali bekerja sebagai kuli bangunan.


Faisal dan Siska sendiri memiliki kedua orang tua yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu, untuk itu aset keluarga di ambil alih oleh bibi dan pamannya.


Ternyata bibinya adalah wanita gemuk yang sebelumnya menemani Pasha guna menjodohkannya dengan Siska.


Cerita berlanjut, Siska sudah mendapatkan pekerjaan di bali, satu bulan setelah insiden dengan bibinya tepatnya tiga hari yang lalu, bibi dan pamannya menjebloskan Faisal ke penjara lantaran tertangkap basah mencuri uang.


Jelas ini semua kembali lagi kedalam masalah dendam pribadi, Bibinya tidak terima karena di permalukan pada saat itu jadi berniat membalas dendam.


Bibi dan pamannya berharap saja jika Siska akan memberikan tebusan kepada pihak kepolisian. dan ternyata Pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut adalah teman pamannya.


Dari sini Lisin dapat menyimpulkan jika masalah tersebut tidaklah sederhana, jelas ada permainan dibelakang semua ini.


"Begitulah ceritanya... Aku sangat yakin jika Faisal tidak mencuri uang, karena aku sangat mengenalnya... Mas Lisin, maaf merepotkan mu" Siska bersandar pada bahu Lisin sambil menangis.


"Baiklah Siska... Aku akan membantumu..." Lisin jelas tidak akan tinggal diam.


"Mas Lisin... Apakah kamu akan meminjamkan aku 100 juta untuk uang tebusan..." mendengar perkataan Siska Lisin hanya tersenyum misterius.


"Mengapa kita harus menebusnya... Jika dia benar - benar tidak mencuri maka kita bisa membebaskannya..." Lisin tersenyum.


Siska tanpa sadar terasa hangat, dirinya sangat bersyukur bisa memiliki atasan sebaik Mas Lisin. mungkin akan lebih bahagia jika bisa memiliki Mas Lisin. hanya saja ada cincin di jari manisnya pasti Mas Lisin sudah menikah.


Benar juga mengapa aku tidak menjadi Pelakor saja kan lagi tren dan musim Pelakor sekarang.


"Mas Lisin... Apakah kita harus menggunakan jasa pengacara? pasti mahal sekali..."


Kapolres kota malang, Lisin sudah tiga kali mendatangi tempat tersebut.


Lisin memarkirkan mobilnya kemudian bersama dengan Siska memasuki tempat penjara di mana Faisal mendekam.


Beberapa polisi yang mengenali Lisin langsung menyanjung dengan hormat namun Lisin tidak meladeninya.


"Bapak Lisin ingin bertemu dengan tersangka Faisal?... Silakan ikut saya pak..." Siska sangat terkejut saat melihat semua pihak kepolisian menghormati Lisin.


Siapa Lisin sebenarnya? Apakah dia hanya pemilik pusat pembelanjaan saja?...


"Kakak..."


"Faisal... Kamu baik - baik saja?..." Kedua saudari saling menyapa dengan terisak tangis.


"Kak Siska... Aku tidak mencuri, Bibi dan Paman menjebak ku... saat itu aku hanya di suruh mengambil uang tidak lebih..." Faisal menjelaskan dengan putus asa.


"Kakak percaya denganmu Faisal... Kakak pasti akan membantu membebaskanmu..." Siska berjanji.


Lisin dapat melihat anak muda yang enerjik, jika di perkirakan dari penampilannya seharusnya awal SMA ajaran baru.


"Kakak... Apakah dia pacar kakak?..." Faisal menatap Lisin dengan tidak senang, dirinya takut jika kakaknya hanya akan di permainkan saja oleh seorang laki - laki tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


"Faisal... Dia Mas Lisin, atasan kakak di bali dan dia adalah orang baik, mungkin dia satu - satunya orang yang bisa membantumu keluar dari penjara..." Siska menjelaskan.


"Halo..."


"Mas Lisin terima kasih dan maaf atas sifat ku barusan..." Faisal langsung mengakuinya.


Lisin hanya tersenyum, jelas dirinya memahami apa yang di maksud Faisal.


"Tidak masalah..." Lisin kemudian keluar ruangan bersama dengan Siska.


Lisin dan Siska berjalan melalui koridor kepolisian, tanpa di duga Bibi Dan Paman Siska menghalangi perjalanan keduanya.


"Hahaha... Siska, Apakah kamu sudah memiliki uang tebusan 100 Juta?..." Bibinya bertanya dengan lantang.


"Jika tidak menjual tubuh apa lagi... Dasar gadis kotor..." Pamannya menambahkan.


Mendengar perkataan keduanya, Siska sangat marah. Jika keduanya membuat masalah untuk Siska mungkin tidak terlalu masalah, tapi mengapa keduanya melibatkan Adiknya juga.


"Bu Deh... Pak Deh... Kalian berdua, teganya kalian menjebak Faisal dan menjebloskannya kedalam penjara..." Siska tidak lagi menahan diri, Jika bukan Lisin yang menahannya pasti sudah dirinya tampar mulut busuk Bibinya tersebut.


"Namanya pencuri ya... harus dilaporkan ke polisi..."


"Andaikan kamu saat itu menerima Nak Pasha jadi pacar kamu mungkin semua ini tidak ada yang terjadi..."


"Siska... Setelah kamu bekerja di Bali kamu tidak menghormati bibi dan pamanmu lagi..." Keduanya jelas tidak akan mengaku bersalah.


"Lebih baik kamu membayar tebusan sekarang juga..." Bibinya sekali lagi berbicara dengan lantang.


"Kalian berdua lebih baik mencabut tuntutan sebelum menyesal..." Kali ini Lisin angkat bicara.


"Mana mungkin kita mencabut tuntutan, jelas - jelas dia mencuri yang harus kami laporkan pihak berwenang..." Keduanya masih bersikukuh.


"Kamu memang pemilik Pusat pembelanjaan di bali... Apa yang bisa kamu lakukan jika berhubungan dengan pihak berwenang?..." Bibinya melihat Lisin dengan tajam, dirinya masih dendam saat dipermalukan saat itu, apa lagi Nak Pasha kehilangan pekerjaannya.


Dari kejauhan seorang polisi datang.


"Mengapa terjadi keributan di sini..." Polisi tersebut melihat Lisin dengan kesal kemudian menyapa Paman dan Bibinya Siska.


Sepertinya, polisi yang tidak mengenal Lisin ini sedang bermain sabun di toilet, saat insiden yang melibatkan dua Komandan kepolisian korup.


"Ehm... Bro... Tenang saja semuanya beres dan berkas sudah di tandatangani oleh komandan baru" Polisi tersebut saling menjabat tangan dengan Bibi dan Pamannya Siska.


"Bro... Terima kasih bantuannya, ini adalah Pelicin yang kita sepakati..." Ketiganya tertawa.


Melakukan transaksi pelicin di depan Lisin dan Siska, sungguh tindakan bodoh.


"Jadi kalian yang berniat melakukan penebusan?..." Polisi tersebut melihat Lisin dan Siska dengan tegas dan tanpa rasa takut.


Ini adalah salah satu Trik kepolisian untuk menekan mental pihak keluarga tersangka, Hanya saja dia tidak harus melakukannya di depan Lisin jika tidak ingin bernasib sial.

__ADS_1


"Tersangka... Faisal, mencuri dengan barang bukti uang berserta perhiasan dan tertangkap oleh rekaman, maka tersangka Faisal di kenakan Pasal 362 KUHP dengan pidana penjara paling lama lima tahun, atau pidana denda paling banyak 100 Juta" Polisi tersebut menjelaskan dengan percaya diri.


Bersambung...


__ADS_2