
Lisin mendengarkan perkataan Mahesa mulai memahami tentang, alasan mengapa semua orang bersedih dan tertekan, ternyata peperangan antara dua Perguruan tidak dapat di hindari lagi. setelah dirinya membunuh Malwageni dan Suliwa.
"Apakah tentang Monster perguruan tengkorak?..." Tanya Lisin.
Dirinya mengetahuinya melalui Wulan namun belum memahami Monster tentang apa. karena bukannya mendapatkan penjelasan melainkan terus menerus bermain ponsel.
"Benar, Monster yang di maksud adalah Ki Bajang... Kanuragannya lebih kuat dari Malwageni dan diriku... Ki Bajang sudah pensiun cukup lama namun tidak di pungkiri menjadi Pejuang budidaya yang sangat menakutkan" Jelas Mahesa.
"Di luar itu dia memiliki ilmu mistis yang dapat membunuh tanpa menyentuh..." Mahesa menambahkan.
"Santet?..." Tanya Lisin.
"Benar, itu salah satunya... Dalam Teluh dan Santet Ki Bajang sangat ditakuti..." Mahesa menggeleng.
"Aku mengerti, karena aku yang memulai maka aku akan menyelesaikannya..." Lisin berkata dengan santai.
Dirinya memahami apa yang di pikirkan semua orang, pasti akan memiliki banyak korban jiwa dalam peperangan, andaikan menang juga tidak akan bahagia jika kita kehilangan anggota keluarga.
Menang jadi abu kalah jadi arang...
Mahesa dan Wulan tidak percaya jika Lisin akan mengurus semuanya, apakah dia pikir Ki Bajang ini orang sederhana, ataukah ribuan murid Perguruan tengkorak hanyalah boneka tanpa kekuatan.
Mungkin Lisin kuat karena dapat membunuh Malwageni dan Suliwa, hanya saja satu orang tidak akan bisa mengalahkan ribuan orang apa lagi Ki Bajang sangat kuat.
"Lisin apa yang ingin kamu lakukan..." Wulan tidak bisa menerima keputusan yang Lisin ambil, karena hal tersebut sama dengan melakukan bunuh diri.
Jika itu sebelumnya, Wulan tidak peduli jika bahaya mendekati Lisin atau jika Lisin di kubur hidup - hidup dirinya tidak akan memiliki kekhawatiran apapun.
Sekarang berbeda, walaupun hanya sesaat dan beberapa kali menghabiskan waktu bersama dengan Lisin. Wulan mendapatkan kebersamaan yang belum pernah dirinya rasakan, belum lagi jika Lisin Mati di tangan Ki Bajang bukannya dirinya akan menjadi janda.
Mana ada Janda tanpa menikah dulu...
"Lisin jangan pergi..." Wulan berkata dengan enggan.
Tanpa Wulan sadari sosok Lisin mulai menjadi hal penting dan istimewa di hatinya. Mungkin ini yang dinamakan cinta akan tumbuh setelah bercocok tanam.
"Tenang saja, Aku tidak akan kalah dan akan kembali dengan selamat..." Lisin menyakinkan.
Mahesa dalam kondisi yang sulit saat melihat Lisin, Dirinya tidak bisa asal mengambil keputusan karena menyangkut masa depan Perguruan macan putih.
Walaupun Lisin kuat jelas Mahesa memahami pertempuran tidak hanya di menangkan melalui kekuatan, tetapi juga di menangkan dengan banyaknya pengalaman bertarung.
Mahesa sangat yakin Lisin tidak akan mengungguli Ki Bajang. menurutnya Lisin terlalu muda mungkin akan cepat lepas kendali tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, seperti sebelumnya Lisin langsung membunuhmu Malwageni dan Suliwa.
"Lisin Perguruan macan putih akan berhutang denganmu..." Mahesa bersyukur dengan keputusannya.
Setidaknya mengorbankan satu orang demi ribuan orang jauh lebih baik. Karena Lisin yang membunuh Malwageni dan Suliwa, maka setelah kematian Lisin, Mahesa akan meminta perdamaian dengan Ki Bajang.
__ADS_1
Lisin tidak peduli apa yang Mahesa pikirkan setidaknya dirinya memiliki kemampuan untuk melakukannya.
"Ayah... Apa yang kamu bicarakan... Lisin tidak akan pergi kemanapun" Wulan berjalan kearah Lisin lalu memeluknya.
"Wulan, Ayah tidak bisa berbuat apapun... Ki Bajang tipe orang yang pendendam dan tidak akan berhenti sebelum membalas dendam kematian anak dan cucunya, Dia pasti akan menemukan orang yang dekat dengan Lisin dan mencelakainya..." Mahesa menjelaskan.
"Pilihan kita percaya dengan Lisin dan berharap agar Lisin bisa menghentikan Ki Bajang" Jelas Mahesa tidak akan percaya jika Lisin akan menang, setidaknya dirinya bisa menyakinkan Wulan.
"Pak tua... Bisakah kamu meninggalkan kami berdua... Aku ingin berbicara dengan Wulan..." Mahesa mengangguk kemudian pergi.
"Apakah kamu pikir aku akan kalah di tangan Ki Bajang..." Lisin mengelus rambut hitam panjang Wulan.
"Um..." Wulan mengangguk.
"Seperti ini, Jika aku tidak menyelesaikan masalah dengan Ki Bajang secara pribadi, mungkin hasilnya tidak akan sesuatu rencana..."
"Lebih baik aku mengurusnya secara pribadi dan menyelesaikan semuanya setelah itu aku akan menikahi mu..."
"Apakah kamu pikir aku tidak akan bisa menyelamatkan diriku sendiri?... atau karena kamu berpikir jika kita belum menikah..."
Lisin terus berbicara sedangkan Wulan hanya mengangguk dan menggelengkan kepala.
"Wulan Aku akan pergi dan itu adalah keputusan yang harus aku ambil..." Lisin sudah bertekad, Jika peperangan antara dua Perguruan terjadi, maka Wulan bisa dalam bahaya apa lagi kehamilannya baru dua bulan. Lisin hanya tidak ingin Jika Wulan keguguran.
"Sistem... Apakah Toko sistem menjual cincin pernikahan?..."
(DING...)
(Cincin ini bisa mengetahui apakah pasangan yang mengenakan cincin tersebut dalam keadaan hidup atau mati dan saling terikat satu sama lain)
(Toko sistem di akses, Cincin takdir membutuhkan saldo 100 juta. Apakah tuan rumah akan membelinya: Ya/Tidak)
"Aku membelinya..."
Sepasang cincin cantik dan tidak memiliki motif rumit muncul pada telapak tangan Lisin.
Lisin melihat diskripsi cincin dapat menemukan jika cincin takdir memiliki sepasang permata dan jika salah satu penggunaan mati maka permata tersebut akan hancur.
"Sistem apakah tidak ada lagi cincin yang lainya seperti cincin emas..."
(Tuan rumah sepertinya buta, toko sistem bukan toko perhiasan jadi tidak ada cincin seperti emas atau yang lainnya)
Sial... Aku tidak akan bertanya lagi...
"Cincin?... Dari mana kamu memilikinya?..." Wulan bertanya dengan bingung.
"Mungkin kita belum bisa melakukan pernikahan sesungguhnya, setidaknya cincin ini bisa membuktikan jika kamu sudah menjadi istriku..." Lisin mengenakannya satu pada jari kirinya dan satunya lagi terpasang pada jari kiri wulan.
"Wow... indahnya..." Wulan terpukau, dirinya sangat menyukai cincin pemberian Lisin yang ada pada jari manisnya.
__ADS_1
"Cincin ini memiliki mitos, Jika salah satu penggunaannya telah tiada maka permata yang ada pada cincin tersebut akan hancur..."
"Itu berarti kita bisa menggunakannya hingga kita tua nanti..." Wulan tersenyum bahagia.
Lisin tersenyum saat melihat Wulan yang bahagia, dirinya tidak peduli fungsi dari cincin tersebut setidaknya Lisin bisa membuat Wulan senang.
"Lisin, apakah kamu memiliki nama untuk anak kita?..." Wulan bertanya sambil membelai perutnya.
"Jika Laki - laki Sebut saja Candra yang memiliki arti bersinar, jika perempuan... Bagaimana dengan Indri yang memiliki arti cantik" Jawab Lisin dengan sembarangan.
"Baik... Aku akan mengingatnya, bisakah kita foto bersama?..." Wulan bertanya lagi.
"Tidak masalah..." Dengan Wulan yang memegang ponsel, Lisin hanya bisa mengikuti kemauannya.
Waktu berlalu tanpa terasa siang berganti malam, tempat tersebut hanya memiliki pencahayaan seperti obor dan juga Lilin minyak.
"Wulan, ada sesuatu yang harus kamu ketahui dan itu mungkin akan membuatmu kecewa..." Tentunya Lisin ingin menjelaskan semua wanita yang di miliknya.
"Apakah... tentang wanita lain..." Wulan menebak dengan cemberut.
Jelas terdapat luka di hati Wulan.
"Benar, Aku punya beberapa wanita lain... Wulan, kamu tidak marahkan..."
"Hanya wanita bodoh yang tidak marah jika suaminya memiliki wanita simpanan..." Ini baru wanita sesungguhnya.
"Apakah mereka semua hamil juga?..." Tanya Wulan.
"Tidak... Hanya kamu yang mengandung anakku..."
"Setidaknya itu mengobati luka di hatiku..."
"Wulan jika kamu tidak bisa menemukanku, kamu bisa menemui seseorang yang ada ponselku cari saja Ningsih... Dia pasti akan membantumu..."
"Aku mengerti, jika aku turun gunung aku akan menemuinya..." Wulan hanya bisa berjanji.
Dari kejauhan sebuah bola api yang beterbangan datang mendekat dan tujuannya adalah Perut Wulan.
"Duar..."
Bagaimana Lisin akan membiarkan calon anaknya keguguran karena gangguan dari pihak lainnya.
"Banaspatih..." Dengan energi dalam yang Lisin miliki, Bagaspati tersebut tidak bisa bergerak dan juga tidak bisa pergi.
"Wulan kamu tidak apa - apa?..." Setelah menetralkan tujuan dari banaspatih Lisin mulai membaca bola api tersebut untuk mengetahui siapa pengirimannya.
"Aku tidak apa - apa..." Jawab Wulan.
"Sepertinya, Ki Bajang ingin mengadu ilmu santet denganku..." Lisin tersenyum kejam.
__ADS_1
Sebenarnya dirinya tidak terlalu memanfaatkan Kemampuan dukun kuno seperti santet, teluh atau lainnya. sekarang karena pihak lain ingin membunuh tanpa menyentuh, maka jangan salahkan dirinya akan menggunakan cara yang sama.
Bersambung...