
Kediaman keluarga Pak Umar di mana Resepsi pernikahan sedang berlangsung. Hanya saja tidak seperti resepsi pernikahan pada umumnya, karena tempat tersebut sangat sepi bagaikan kuburan.
Walaupun begitu tempat resepsi di dekorasi cukup mewah, namun tidak layak di sebutkan jika di bandingkan dengan dekorasi resepsi pernikahan Lisin.
"Sialan... Mengapa bisa menjadi seperti ini..." Kata Pak Umar dengan mengerutkan kedua alis matanya.
Awalnya dirinya sangat percaya diri dengan rencana miliknya, yaitu memberikan warga setempat dengan uang sebesar 100 ribu. Dengan maksud agar mereka semua tidak datang ke tempat resepsi pernikahan Lisin.
Namun apa sekarang? Bukan hanya tempat resepsi pernikahan putranya menjadi sepi dan sunyi. Sekarang situasinya menjadi terbalik, yang mana saat ini tempat resepsi pernikahan Lisin di penuhi oleh banyaknya warga desa.
Hal ini sama dengan penamparan di wajah, Apa lagi banyak warga yang awalnya datang dan pergi. menjadi kembali lagi hanya untuk mengembalikan uang 100 ribu yang mereka dapatkan. dan lebih memilih untuk pergi ketempat resepsi pernikahan Lisin yang mana mendapatkan 10 juta sebagai Sovenir.
Diam!
Pak Umar menggertakan giginya karena marah, Malam ini dirinya sangat malu dan malu. Dirinya harus membalikkan keadaan karena kata kalah tidak ada di dalam kamusnya.
"Keluarga Lisin ini... Sepertinya mulai sombong karena sudah kaya raya sehingga tidak menganggap penting lagi Aku..." Kata Pak Umar dengan mendengus dingin.
"Ayah... Anda harus tenang dan tidak usah gegabah. Jangan turunkan level Ayah ke tingkat yang sama dengan keluarga Lisin..." Kata seorang pemuda yang menjadi pengantin pria dan sangat jelas dia putra Pak Umar yang sedang melangsungkan pernikahan juga.
"Tenang! Bagaimana ayah bisa tenang? Malam ini jelas telah mencoreng nama baik keluarga kita yang sudah terlanjur kaya. juga sebagai keturunan ningrat berdarah biru kuning hijau, bagaimana pun kita harus membalikkan keadaan..." Kata Pak Umar dengan tegas.
"Sepertinya ayah terlalu berpikiran sempit sehingga melupakan tentang putramu ini..." Kata putranya yang bertindak dengan tenang.
"Putraku Pondo... Apakah kamu memiliki rencana?..." Kata Pak Umar dengan malu. Dirinya lupa jika putranya sekolah di luar negeri dan memiliki kecerdasan yang luar biasa.
"Jika ayah berpikir dengan tenang pasti akan menemukan solusi dari setiap masalah..." Kata Pondo dengan bijaksana.
"Hahaha... Kamu benar... Jadi, Apa rencana milikmu putraku?..." Tanya Pak Umar.
"Ayah, kamu harus mendengarkan dengan baik - baik. Keluarga Lisin telah menggunakan 10 juta sebagai sovenir dan itu terlihat sangat jelas dengan menantang kita..." Mendengarkan perkataan Putranya, Pak Umar mengangguk.
__ADS_1
"Ayah tidak perlu khawatir dengan hal tersebut. Setiap kekayaan seseorang pasti memiliki batasan. Terutama untuk orang yang baru saja memiliki kekayaan entah dari mana. seperti keluarga Lisin..." Pondo tersenyum menghina.
"Putraku, jangan bertele - tele, seperti alur novel saja... Cepat katakan langsung ke intinya..." Kata Pak Umar dengan kesal.
"Ayah, tujuan putramu ini, mengambil kesempatan kali ini untuk membuat Keluarga Lisin menjadi miskin dan keluarga kita akan menjadi satu - satunya yang kaya di desa..." Kata Pondo dengan yakin.
"Putraku, Ayahmu ini tidak paham..."
Pondo melihat ayahnya yang tidak memahami pola pikir dirinya dengan tidak berdaya, "Ambil kesimpulan seperti ini, Jika 10 juta sebagai sovenir saja, bagaimana untuk seribu tamu undangan, berapa banyak uang yang keluarga Lisin keluarkan ayah?..."
"10 Milliar!..." Mendengar perkataan Putranya, Pak Umar menjawab secara langsung kemudian memahami apa yang di maksudkan putranya.
"Putraku, Ayah mengerti... Jika Semakin banyak tamu undangan yang datang, maka semakin banyak jumlah uang tunai yang akan keluarga Lisin keluarkan..." Kata Pak Umar dengan tersenyum cerah.
Namun Pondo menggeleng, "Ayah, jikapun semakin banyak tamu undangan yang datang mungkin tidak akan mencapai satu Triliun yang akan keluarga Lisin habiskan, hanya untuk sovenir saja..."
Pak Umar mengerti, dirinya saja yang hanya 100 ribu setiap tamu undangan, harus menghabiskan 100 juta sebagai persiapan untuk seribu tamu undangan. Dan kekayaan bersihnya hanya beberapa Miliyar.
"Jadi, Apa rencana mu?..." Tanya Pak Umar.
"100 ribu lebih banyak!..." Pak Umar langsung di buat terheran - heran.
"Ayah, putramu ini sangat yakin jika Keluarga Lisin akan meningkatkan Jumlah uang tunai pada sovenir mereka. setelah kita mengeluarkan pengumuman ini. dan setelah jumlah uang tunai sovenir milik keluarga Lisin menjadi lebih besar atau lebih banyak. maka kita akan berhenti bermain, dan biarkan kekayaan keluarga Lisin habis hanya untuk sebuah Sovenir..." Kata Pondo dengan penuh kemenangan.
Kedua mata Pak Umar menyala, dan dirinya mengangguk berulang kali. "Bagus, Sangat bagus... Walaupun di depan warga desa keluarga kita kalah, namun keluarga Lisin akan menjadi bangkrut karena kekayaan yang mereka memiliki akan habis hanya untuk sebuah sovenir saja... Hahaha..." Pak Umar tertawa terbahak - bahak.
"Tunggu dulu, Putraku apakah kamu yakin keluarga Lisin akan terpancing dengan rencana kita?..." Tanya Pak Umar dengan hati - hati.
"Tentu saja ayah, Orang yang baru saja menjadi kaya tidak ingin kalah dengan orang kaya lainnya. ini adalah sifat umum yang di miliki setiap manusia. ambil contoh tentang sikap dan tanggapan keluarga Lisin saat mengetahui warga desa tidak ada yang datang ke tempat mereka. bukannya keluarga Lisin langsung menggunakan uang tunai 10 juta sebagai Sovenir?..." Kata Pondo dengan meminum susu yang ada di atas meja. karena sebagai orang jenius, Pondo harus banyak meminum susu.
Pak Umar dengan tersenyum semakin percaya jika rencana miliknya akan berhasil.
.....
__ADS_1
Malam hari di tempat resepsi pernikahan Lisin.
Lisin sangat lelah karena harus tersenyum sambil menerima salam dari masyarakat setempat. Dalam hatinya berkata, Warga desa memiliki indra penciuman yang sangat tajam. oleh karena itu bisa membedakan, yang mana uang 100 ribu dan yang mana uang 10 juta. Bahkan orang buta juga ikut hadir sebagai tamu pada resepsi pernikahan Lisin.
Kedua orang tua Lisin juga sangat bahagia, keduanya berawal dari orang biasa pada lapisan masyarakat. Jadi, walaupun sudah menjadi kaya raya keduanya tidak akan melupakan akar keberadaan mereka. yang mana dulunya keduanya hanyalah orang yang sederhana.
"Ini, Sovenirnya aku kembalikan..."
"Aku juga akan mengembalikan Sovenir yang aku punya..."
"Aku juga..."
"Begitu juga denganku..."
Wanita cantik yang bertugas membagikan Sovenir terkejut, tentunya dia mengetahui apa yang ada di dalam Sovenir tersebut. Dengan uang tunai 10 juta di dalam sovenir, maka tidak akan ada orang yang menolaknya.
Namun begitu banyak warga desa yang mengembalikan sovenir, dan memilih pulang tanpa membicarakan hal lainnya.
Apa yang salah?...
Lisin yang melihat sesuatu yang tidak beres mulai mendatangi bagian depan dan menemukan jika semua Sovenir telah dikembalikan.
Mengapa warga desa melakukannya? Apakah setelah mengetahui jika di dalamnya berisi uang tunai 10 juta kemudian mereka semua tidak ingin mengambilnya? sepertinya tidak.
"Pak Salak, Kamu datang lagi? Mungkinkah kamu ingin mengembalikan Sovenir milikmu juga?..." Tanya Lisin dengan santai.
"Bukan begitu maksud kedatanganku kali ini..." Salak dengan malu mendekati Lisin.
"Mungkinkah, hal ini berhubungan dengan Warga desa yang mengembalikan sovenir dariku?..." Tanya Lisin dengan heran.
"Begitulah Pak Lisin, Sekarang semua warga desa lebih memilih pergi ke tempat resepsi pernikahan putranya Pak umar, karena Sovenir di sana 100 ribu lebih banyak dari Sovenir yang ada disini..." Kata Salak dengan sopan. Tentu saja dirinya mendapatkan informasi tersebut dari Sepet dan Sikat.
Warga desa bergegas dengan berdesak - desakan hanya untuk mendapatkan Sovenir. Bahkan beberapa orang hingga terjatuh dan bangun kembali hanya untuk sebuah Sovenir.
__ADS_1
Tidak ketinggalan orang buta yang biasanya berprofesi sebagai tukang pijat. Dia berlari lebih cepat dari warga lainnya hanya karena ingin mendapatkan Sovenir. Sungguh orang buta yang luar biasa.
Bersambung...