
"Pecitan..."
"Pecitan..."
"Pecitan..."
Sungguh tembakan spektakuler, Baik penonton yang melihat langsung ataukah penonton yang melihatnya melalui platform siaran langsung, semua sangat terpukau dengan pertandingan basket yang di lakukan oleh Lisin dan kawan-kawan.
Tim Serigala yang malu pergi meninggalkan lapangan basket dengan kepala tertunduk, mereka harus mengakui kekalahan yang jelas adil ini.
Jo, Alim dan Brian sangat bersemangat mereka melakukan beberapa celebration pada kemenangannya yang tidak jelas.
"Lisin... kita menang" Brian yang sangat bergembira berlari ke arah Lisin sambil melompat, dia berharap jika Lisin akan menangkapnya. jelas Lisin tidak akan menangkapnya kecuali jika Brian wanita cantik mungkin Lisin akan mempertimbangkannya.
"Ahhh..." Brian yang terjatuh hanya bisa menyalahkan kelakuan dirinya sendiri.
"Kamu tidak apa-apa?" Ririn bertanya dengan ke khawatiran.
Melihat Brian yang mendapat perhatian dari Ririn, Jo tidak bisa melewatkan kesempatan tersebut.
"Ahhh... Jantungku..." Jo kesakitan sambil memegang dadanya sendiri.
"Ke... Kenapa jantung kamu?" Lili bertanya.
"Entahlah... Jantung ku berdetak kencang dan sakit saat dekat dengan kamu..." Jo memegang tangan mungil milik Lili lalu mengarahkan pada dadanya sendiri.
"Mas Jo... apakah Lili harus pergi..." Lili berkata dengan pipinya merona.
"Tidak... jika kamu pergi, Jantung ku akan berhenti berdetak..."
"Mas Jo... apa yang harus aku lakukan?" Lili berkata bingung.
"Bisakah kamu selalu menemani sisa hidupku?"
"Um..." Lili mengangguk karena merasa jika tidak ada pilihan.
"Hore..." Jo melompat karena kegembiraan.
"Mas Jo... bukannya kamu sakit?"
"Oh... iya ya..." Jo yang malu menggaruk kepala.
Lisin yang melihat Brian Dan Jo bermesraan sangat tertekan, sebenarnya juga senang karena mereka tidak jomblo lagi tapi tidak perlu mengumbar hubungan di depan umum juga, kasian para jomblo yang melihatnya.
Lisin melihat kearah Alim berharap jika Alim tidak sama dengan keduanya.
"Ahhh... Mataku..." sekarang giliran Alim melancarkan serangan.
Sial... sepertinya kamu juga sama saja. Lisin melihat Alim yang memegang matanya tertekan.
"Mas Alim... kamu tidak apa-apa?" Nana bertanya dengan khawatir.
"Penglihatan ku hitam putih..."
"Hitam putih!!!"
"Nana bisakah kamu tidak meninggalkan aku?" Alim melihat Nana dengan tulus.
"Kenapa?..."
"Karena... Kamu membuat duniaku berwarna, jika tidak ada kamu duniaku akan menjadi hitam putih..."
"Um..."
Sial... Mengapa kalian semua terlalu berlebihan... Rasanya lebih baik kalian bertiga jadi jomblo saja dari pada bertingkah aneh-aneh.
Lisin yang tertekan melihat ke arah Kinar yang melihat dirinya dengan penuh harapan.
"Ada apa?..." Mendapatkan tatapan dari Kinar, Lisin mengajukan pertanyaan dengan bingung.
"Tidak ada..." Kinar menjadi tidak bahagia, yang lain mendapatkan gombalan receh, kenapa Lisin tidak menggombal dirinya.
Karena pertandingan basket antara Tim Serigala dan Tim Pencari setan sudah berakhir semua penonton secara bergantian pergi.
"Jepret... jepret Bangsat pertandingan berakhir pemirsa, tenang saja karena sebagian host yang baik aku akan melakukan siaran langsung selama 24 jam"
Lisin yang melihat Host Jepret merasa kasihan terhadapnya, Sepertinya dia mengidap panu varian baru sehingga mulutnya tidak berhenti berbicara, baik itu saat makan, tidur dan mandi Host Jepret akan melakukan komentator.
Demi memenuhi permintaan Temannya Lisin mengantarkan Jo, Alim dan Brian ke sebuah restauran dengan mobil Nissan Skyline GTR miliknya. sedangkan Kinar yang tidak bahagia mengantarkan Nana, Lili dan Ririn dengan tujuan yang sama.
Dalam berlalunya waktu kelompok tersebut berakhir di sebuah restoran hingga menjelang malam. Karena desakan dari Brian Lisin membiarkan ketiga pasangan yang tidak memiliki hati nurani untuk menggunakan mobil Lisin. dan Lisin berakhir pulang dengan nebeng mobil Honda Jazz milik Kinar.
Lisin tidak peduli kemana ketiga temannya berakhir dengan pasangan mereka masing-masing, saat ini dia yang nebeng pada mobil Honda jazz, dan merasa jika Kinar terlalu dingin.
"Ada apa dengan kamu?"
"Tidak ada..."
"Apa kamu khawatir dengan mereka?"
__ADS_1
"Tidak..."
"Apa kamu tidak suka aku nebeng?"
"Tidak..."
"Apa kamu lagi PMS?"
"Tidak juga..."
"Apakah kamu marah padaku..."
"Tidak..."
Sial setiap kali aku bertanya kenapa kamu menjawab tidak, jika kamu tidak menjelaskannya bagaimana aku bisa tau kenapa kamu seperti ini.
Lisin berpisah dengan Kinar di depan asrama kampus. Lisin masih bingung dengan sikap Kinar ada apa dengan dia.
.....
Keesokan harinya...
Lisin nasibnya sangat menyedihkan dia yang biasanya menang banyak menjadi tidak seperti biasanya apakah ini masih Lisin yang sama.
"Tok... tok... tok..."
Lisin terbangun dari tidurnya karena ketukan pintu asrama.
"Ada apa dengan kalian bertiga..." Lisin yang membuka pintu dapat melihat Jo, Alim dan Brian yang sangat menyedihkan.
"Bro Lisin... sulit untuk di katakan..." Brian menjawab tidak berdaya.
"Tunggu dulu... kenapa kamu tidak bahagia, bukannya kalian berakhir di hotel dengan masing-masing pujaan hati kalian..."
Secara perlahan, Jo, Alim dan Brian memasuki kamar asrama. seolah boneka tanpa jiwa ketiganya duduk di atas ranjang masing-masing.
"Bro Lisin... memang benar kita bertiga berakhir di hotel dengan pasangan kita masing-masing, hanya saja itu hanya berakhir dalam 1 menit" Jo berkata dengan tidak berdaya.
"Benar... aku sangat malu dengan diriku, dan merasa kasihan terhadap Pasangan kita... karena kita bertiga terlalu banyak bermain sabun, jadi saat melakukan hal sungguhan paling lama hanya 1 menit" Alim terlihat ingin menangis kapan saja.
"Bro Lisin kamu tahan berapa menit?" Brian bertanya dengan antisipasi, jika Lisin berkata 5 menit maka dia laki-laki sejati.
"Aku..." Lisin bingung.
Sialan... kenapa kamu menanyakan ketahanan diriku, jika aku bilang 5 hari 5 malam kalian pasti akan melakukan bunuh diri.
"Sial... apa yang harus kita lakukan di masa depan"
"Kalian harus tenang... perbanyak saja hidup sehat selalu menjaga kebersihan dan rajin melakukan olahraga, maka kalian dapat memperpanjang durasi permainan ranjang kalian" Lisin berkata dengan maksud menyarankan.
"Terima kasih Bro Lisin..." Ketiganya bersemangat karena mendapatkan tujuan baru dalam hidup mereka.
.....
Jalan Kota Malang mobil Nissan Skyline melaju dengan tenang, setelah beberapa belokan jalan raya mobil tersebut berhenti di sebuah Bengkel cukup besar.
"Bro Lisin Akhirnya kamu datang juga, kedua mobilmu sudah aku selesaikan"
Lisin yang turun dari mobilnya dapat melihat Hengki yang bersemangat menyapanya, Setelah itu dapat di kejauhan dua mobil milik Lisin. Satu mobil mercedes benz gl 400 dan yang lainya ferrari warna merah yang lisin dapatkan dari balapan yang di menangkannya.
"Bro Hengki berapa biaya semua perbaikan?" Lisin yang melihat bagian sisi Ferrari yang sebelumnya rusak menjadi glowing mengangguk puas.
Skincare yang membuat goresan menjadi glowing jelas sangat luar biasa, para wanita harus mencobanya karena sekali semprot dan menunggu kering langsung glowing, terlebih melakukan pengamplasan yang merata dengan sedikit dempul. semuanya akan menjadi permanen tanpa menggunakannya secara berulang kali.
"Bro Lisin... kamu tidak perlu membayar karena semua perbaikan menggunakan uang judi sebelumnya" Hengki yang memiliki beberapa bekas oli di wajahnya tersenyum.
"Uang haram... Tidak... Tidak..." Lisin jelas harus menolaknya.
Sialan... Aku punya banyak uang untuk di belanjakan mengapa aku harus menggunakan uang haram hasil dari perjudian.
"Lisin kamu tidak perlu menolaknya... Uang itu tidak bersalah, mereka hanyalah korban" Hengki berusaha menyakinkan Lisin yang keras kepala.
Apanya Uang tidak bersalah! Semua uang mana ada yang salah, mereka jelas benda mati namun yang membuat masalah adalah cara mendapatkannya, Jika uang di hasilkan dengan cara judi maka uang tersebut akan menjadi haram.
Hengki... sepertinya kamu belum mendengar Ceramah no jutsu tentang perjudian.
"Katakan habisnya berapa..." Mendapatkan nomor rekening dari Hengki Lisin langsung mentransfer sejumlah uang dalam hitungan detik seolah uang tidak penting di matanya.
"Bro Hengki aku akan menggunakan Ferrarinya sedangkan untuk kedua mobilku lainnya, aku akan menitipkan dulu, karena aku tidak punya lahan parkir"
"Tidak masalah..."
Lisin dengan cepat mengemudikan Ferrari ke jalan raya, Sebagai pengemudi Lisin harus mengakui jika Mobil yang sudah melakukan modifikasi sangat luar bisa, jika Lisin balapan lagi dengan mobil seperti ini dia akan meninggalkan lawannya dalam sekali balap.
Karena keenakan berkendara, Lisin lupa akan waktu entah mengapa dia mengambil jalur sepi. melihat ke arah GPS Lisin bisa melihat jika ini adalah jalur pegunungan.
Gunung Arjuno secara administratif terletak di perbatasan kota Batu, Kabupaten Malang, dengan Kabupaten Pasuruan. Gunung Arjuno merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Timur setelah gunung Semeru, serta menjadi yang tertinggi keempat di Pulau Jawa.
"Sepertinya ini jalur alternatif yang bisa aku lalui agar sampai ke kota pasuruan"
__ADS_1
Lisin tidak terlalu peduli jadi dia membelokkan mobilnya lalu keluar dari jalur panjang yang melewati kaki gunung Arjuno.
Melalui jalanan yang tidak teraspal, Dalam perjalanan melalui jalur tersebut Lisin dapat merasakan hal-hal aneh seolah ada seseorang yang mengintai dari balik pepohonan.
"Sial... mengapa aku memilih jalur ini" Saat Lisin dengan was-was melalui Jalanan dangan sedikit bergelombang, dia dapat melihat mobil Avanza yang berhenti di kejauhan.
"Syukurlah ada seseorang di depan..." Lisin yang bersemangat semakin memacu mobilnya
"Sial... sepertinya ban mobilnya bocor" Lisin bersusah paya mengendalikan kemudi mobil yang sedikit oleng akibat ban mobil yang bocor.
Untung saja Lisin memiliki kemampuan mengemudi super, jadi dirinya bisa menghentikan mobil sebelum menabrak pohon.
"Ini kan Paku..." Lisin sangat marah, dia hanya berniat melakukan perjalanan dengan jalur alternatif yang dirinya dapatkan setelah melakukan analisa jalur melalui GPS.
Jika itu satu roda yang memiliki paku dengan jumlah satu, mungkin Lisin tidak marah. namun apa yang menimpa mobilnya adalah beberapa paku pada keempat rodanya, sangat jelas jika ada pihak tertentu yang dengan sengaja membuat ranjau paku.
"Siapa mereka aku akan memberikan pelajaran..."
"Kamu tidak apa-apa?" Dari arah depan Mobil avanza yang berhenti tidak jauh dari mobil Ferrari, Keluar 4 pemuda-pemudi dengan 2 wanita dan 2 laki-laki.
"Aku tidak apa-apa..." Lisin yang melihat mobil avanza yang kondisi keempat bannya tidak jauh berbeda dengan mobil miliknya mengerti jika pemuda-pemudi ini bernasib sama dengan Lisin.
Lisin memindai area sekitar, seperti dugaannya memang benar jika ada sesuatu yang salah.
"Chi... Nambah satu orang lagi, kamu tau ini adalah gunung Arjuno yang terkenal mistis, dan hal mitos yang pernah ku dengar Jika berada di gunung Arjuno kita tidak boleh memiliki jumlah ganjil" Seorang lelaki kurang tampan berkata dengan kebencian saat melihat Lisin yang tampan.
Sepertinya hal umum jika orang kurang tampan tidak menyukai mereka yang tampan.
"Anjar kamu tidak boleh bilang seperti itu, karena itu hanya mitos..." Wanita lain dengan jaket tebal memarahi.
"Benar kata pacarku... jangan percaya hal seperti itu... lebih baik kita mulai mencari pertolongan" Pemuda yang sedikit lebih baik dari si kurang tampan berkata sambil memeluk kekasihnya.
"Sial..."
"Aku Anisa, dia bertiga teman-temanku, Ratna dan pacarnya Danu dan ini Anjar... Kami mahasiswa dari jakarta yang berniat melakukan perjalanan ke kota pasuruan namun berakhir di sini"
"Aku Lisin..." Lisin memperkenalkan diri dengan singkat.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ratna bertanya dengan sikap mesra.
"Ini semua gara-gara Danu... andaikan saja jika kita tidak mengikuti jalur ini atas saran darinya, kita tidak harus berakhir seperti ini..." Anjar berkata dengan nada mengejek.
"Jangan salahkan pacarku, bagaimana pacarku tau jika ada ranjau paku di jalur yang akan kita lalui" Ratna berkata tidak puas.
"Sudahlah jangan berdebat, kita sudah terjebak di sini selama 1 jam, Sebelum gelap kita harus turun gunung untuk mencari pertolongan" Anisa berteriak dengan marah, jelas mereka semua tidak menginginkan situasi seperti ini namun apa mau di kata jika ini sebuah musibah.
Lisin mengeluarkan ponselnya berniat melakukan panggilan, "Percuma karena di gunung ini tidak ada sinyalnya" Anisa memotong perbuatan Lisin.
Lisin tidak berdaya menutup ponsel yang baterainya hanya tinggal 5% sial sebelumnya aku lupa charger. mengapa situasinya seperti yang ada di film-film horor.
"Ambil barang yang berharga seperti makanan, air dan peralatan bertahan diri, aku tidak tau bahaya apa yang akan menunggu kita..." Danu menyarankan sekaligus memperingati semua orang.
"Hei Danu... ini hanya gunung biasa, aku sudah ratusan kali melakukan pendakian jadi tidak akan ada hal buruk jika aku memimpin jalan" Anjar berkata dengan sombongnya sambil melirik ke arah Anisa kemudian melihat semua orang.
Sepertinya Anjar ini suka dengan Anisa Pikir Lisin di dalam hatinya.
"Baiklah kamu yang memimpin..." yang lainnya berkata terus terang.
"Mas Lisin... Kamu tidak membawa apa-apa, seperti air misalnya..." Anisa bertanya dengan rasa ingin tau.
"Tidak... aku hanya membawa mobil dengan niatan tes drive di jalan raya, jadi tidak ada apa-apa di dalam mobil ku..." Lisin berkata dengan jujur.
"Semuanya tolong ikuti aku dari belakang karena aku sangat berpengalaman..." Anjar memimpin jalan lalu berjalan ke atas.
"Tunggu dulu..." Ratna menghentikan Anjar yang berjalan di bagian depan.
"Ada apa Ratna..." Anjar berkata tidak puas, niatnya menjadi pemandu jalan agar Anisa terpesona dengan dirinya, bagaimana dirinya tidak kesal perjalanan belum di mulai seseorang sudah menghentikannya.
"Hei Anjar... bukannya kita harus turun gunung sebelum malam mengapa kamu berjalan ke arah sana, apakah kamu berniat mendaki gunung" Ratna berkata dengan kesal, Sudah berjalan di depan eh salah jalan.
"Maaf... aku terlalu berpengalaman jadi lupa jika kita berniat turun gunung" Anjar berkata dengan malu.
Lisin yang tidak berdaya hanya bisa mengikuti mereka semua dari belakang.
Mengapa mereka tidak menelusuri jalur ketika mereka datang, karena itu sangat jauh dan turun gunung adalah solusinya.
Saat Anjar memimpin jalan sebua anak panah yang terbuat dengan kasar bersarang tepat di jantungnya.
"Ahhhh..." Ratna dan Anisa berteriak.
"Sial... bersembunyi..." Lisin menarik Anisa yang cantik kedalam pelukannya sambil bersembunyi di balik pohon. sedangkan Danu dan Ratna melakukan hal yang.
Lisin melihat ke arah Anjar yang Mati hanya bisa mendesah, sepertinya situasinya sangat rumit. Lisin tau jika ada seseorang yang bersembunyi di kejauhan dengan senjata di tangan mereka, apa mereka berniat memburuh dirinya.
Untuk Anjar... yang baru saja bermain sebentar sudah langsung mati, sepertinya kontraknya di sesuaikan dengan wajahnya yang kurang tampan, sehingga hanya bisa tampil sebentar kemudian mati.
Bersambung...
*Maaf kemarin tidak bisa Up di karenakan Wifi tetangga Mati.
__ADS_1