Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 79


__ADS_3

Dalam momen menentukan di mana nyawa lebih dari seratus orang di pertaruhkan, bagaimana Lisin bisa meladeni Rahmat yang membuat masalah untuknya.


Waktu berlalu tidak dapat di tunda apa lagi di ulang, jika Lisin telat memberikan pertolongan kemungkinan besar pasien akan berakhir dengan kematian.


Ini bukan masalah tugas sistem, ini adalah kehidupan manusia yang di pertaruhkan.


Bagi Lisin menyelamatkan kehidupan seseorang lebih penting dari apapun, jika di bandingkan Rahmat yang hanya menganggap Dokter sebagai pekerjaan semata. jelas Lisin tidak seperti dia.


Untuk Rahmat selama pasien memberikan dirinya sejumlah uang dia akan melakukan tugasnya yang tidak seberapa itu.


Rahmat tipe dokter yang mementingkan tentang nilai-nilai besar dan kecil. dalam kebanyakan kasus pasien di ruang UGD, Rahmat lebih memberikan keseriusan kepada mereka yang memiliki dari pada mereka yang tidak punya.


Seperti jika ada pejabat dan petani yang sama-sama mengalami kecelakaan, walaupun petani datang terlebih dahulu di bandingkan Pejabat, Rahmat jelas menangani pejabat terlebih dahulu dari pada petani. semua orang juga mengerti siapa yang lebih menguntungkan di antara pejabat dan petani.


Berikutnya Rahmat lebih mementingkan waktu pribadi di bandingkan melakukan tugas dokter yang mementingkan keselamatan pasien.


Contoh kasus umum jika, Ada pasien di luar jam kerja biasanya Rahmat terlalu malas untuk melakukan penanganan atau memperpanjang waktu penanganan yang telah usai.


Baginya kematian pasien adalah hal yang lumrah jika mereka dapat terselamatkan mungkin dia beruntung, jika mereka meninggal itu nasib mereka yang sudah di tentukan.


"Untuk keluarga pasien harap mengurus administrasi terlebih dahulu dengan begitu kami akan menanganinya langsung, jika tidak maka hanya permintaan maaf..." Rahmat mengabaikan Lisin langsung berbicara kepada semua keluarga pasien.


Keluarga pasien jelas lebih percaya dengan Rahmat yang lebih tua di bandingkan Lisin yang lebih muda.


"Dia terlalu muda..."


"Benar aku ragu dia seorang dokter..."


"Sama..."


"Baiklah kita akan melakukan registrasi terlebih dahulu..."


"Benar..."


Lisin yang tertekan melihat kearah Mirna yang terdiam dengan cemberut.


"Dokter Mirna... Mengapa kita tidak menangani pasien terlebih dahulu?" Lisin berkata dengan datar seolah tidak puas dengan Mirna yang tidak bisa melakukan apa-apa.


"Lisin... kamu tidak akan mengerti, rumah sakit ini adalah rumah sakit swasta, bukan rumah sakit negeri bahkan Kartu KISS atau surat BPJS tidak berlaku di sini, Semua harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh rumah sakit" Mirna berkata dengan tertekan.


Dia juga tertekan dan muak dengan prosedur yang menjadi kebijakan rumah sakit swasta, Mirna ingin mengutamakan keselamatan pasien lebih dari siapapun.


"Apa kita tidak bisa membuat pengecualian?... mereka bisa melakukan pengurusan administrasi setelah semua pasien di selamatkan" Lisin berkata lagi.


"Kamu tidak memiliki hak untuk melakukan hal itu... ketahuilah rumah sakit ini adalah milik ayahku..." Rahmat menyeringai saat menyombongkan kepemilikan rumah sakit.


"Jika seperti itu... Dokter Mirna jangan salahkan aku tidak menaatimu lagi..." Lisin melepaskan jas putih yang di kenakan dirinya, lalu melemparkannya ke lantai.


Lisin dengan kuat melangkahi jas putih yang tergeletak di atas lantai. baginya nama Dokter hanya sebuah gelar tidak lebih dari itu.


"Aku bukan dokter... bukan berarti aku tidak bisa menyembuhkan orang lain..." Semua keluarga melihat kearah Lisin dengan tatapan menghina.


"Sudah aku menduga kamu bukan dokter..." Rahmat senang karena Lisin mengatakan yang sebenarnya.


"Tuh kan dia bukan dokter... untung saja ada dokter Rahmat yang terbukti ampuh dan berkhasiat"

__ADS_1


"Bro dia bukan obat..."


"Maaf Ralat..."


"Benar... aku bukan Dokter, lalu apa? selama aku menyelamatkan seseorang itu sudah cukup" Keluarga pasien semakin mencemooh tindakan Lisin.


Lisin tidak, menghiraukan perkataan semua orang. "Akan ku tunggu di luar..."


Lisin akan melakukan penanganan langsung kepada pasien yang terkena keracunan makanan, namun Lisin tidak akan memaksa pihak keluarga pasien, sebenarnya Lisin tidak ingin mengumbar kemampuannya namun, apa boleh buat.


"Hum... apa yang bisa di lakukan dokter gadungan..." Rahmat mengejeknya.


"Lisin kamu..." Mirna terkejut dengan keputusan gegabah Lisin.


Apa yang di inginkan Lisin apakah dia menginginkan ketenaran dengan berlagak seperti ini. jelas tidak lalu mengapa?


Mirna mulai mengingat saat pertama kali bertemu dengan Lisin, itu adalah hal yang memalukan bagian untuk kalah dari orang yang lebih mudah darinya di bidang kedokteran.


Jadi Mirna percaya jika apa yang Lisin lakukan adalah kebetulan. melihat sekarang Lisin yang berniat ingin menyembuhkan seorang pasien dia sedikit khawatir. bagaimana jika Lisin hanya membual?


"Dokter... apakah istriku keracunan?" seorang kakek tua bertanya kepada Lisin yang berjalan keluar.


"Benar... bagi mereka yang menginginkan pengobatan gratis bisa datang padaku" Lisin meninggalkan ruang UGD berdiri di luar halaman rumah sakit.


Mendengar kata gratis banyak orang mulai tergiur namun, sedikit ragu apakah pemuda ini bisa menyembuhkan keluarga mereka yang sakit.


"Kalian jangan percaya dengan dokter gadungan... bagaimana jika kondisi keluarga kalian semakin memburuk jika mengikuti sarannya?" Rahmat berkata dengan penuh kemenangan.


Mendengar ini hampir semua keluarga pasien ketakutan, lalu memutuskan untuk melakukan pemeriksaan dan membeli obat dari resepsionis rumah sakit dengan resep yang Rahmat berikan.


Lisin memilih menunggu pasien di halaman depan rumah sakit. Dirinya tidak peduli dengan tugas yang di berikan sistem, dia juga ingin membatu semua orang namun jika pihak lain tidak menginginkan pengobatan darinya, apa boleh buat.


"Tolong sembuhkan istriku... aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit..." Itu adalah kakek tua yang sebelumnya bertanya kepada Lisin apakah istrinya keracunan.


Kakek tua itu tidak berharap jika rumah sakit mengenakan biaya 500 ribu untuk biaya pemeriksaan dan penebusan obat.


"Tenang saja... aku tidak memungut biaya..." Lisin langsung memberikan penanganan.


Lisin merentangkan wanita tua di depan halaman yang ada di rumah sakit. dengan perlahan memberikan energi batinya melalui perut wanita tua tersebut.


Wanita tua yang memiliki wajah pucat tersebut memiliki reaksi aneh, lalu perlahan duduk dengan tidak kuat memuntahkan sisa makanan yang sebelumnya dirinya makan.


"Istriku!... kamu tidak apa-apa?..." Kakek tua itu bertanya dengan rasa khawatir.


"Suami... Aku baik-baik saja seperti orang yang tidak sakit" istrinya mengakui apa yang dirasakannya dengan jujur.


Kakek tua beserta isinya sangat bahagia, lalu mengucapkan terima kasih kepada Lisin.


Di dalam ruang UGD...


Keluarga pasien yang membeli obat dari Rahmat mulai meminum obat tersebut, saat obat di konsumsi bukannya menyembuhkan melainkan membuat kondisi pasien semakin parah.


"Apa yang terjadi... bagaimana kondisinya bisa memburuk?!!!..." Mirna bertanya kepada keluarga pasien.


Mirna mendapatkan bagian mengatur semua orang, sedangkan di dalam ruangan yang melakukan pemeriksaan adalah Rahmat sekaligus yang memberikan resep obat.

__ADS_1


"Dia baru saja mengkonsumsi obat dan jadilah seperti ini?..." Keluarga pasien berkata dengan panik.


Mirna Langsung memeriksa obat yang di konsumsi pasien dan melihat dari kode obatnya Mirna dapat mengetahui jika obat tersebut adalah obat untuk sakit sembelit.


Mirna juga menduga jika semua pasien sakit parut akan sembuh saat meminum obat sembelit namun mengapa kondisi pasien semakin memburuk.


Jangan bilang jika apa yang Lisin katakan benar?


Mirna menyesal, mengapa dirinya tidak percaya dengan Lisin seperti sebelumnya, secepat mungkin Mirna mengatakan yang sebenarnya lalu dengan menyesal meminta maaf.


"Apa jadi obatnya salah..."


"Sial... mengapa bisa salah obat..."


"Aku sudah menghabiskan semua tabunganku..."


"Aku menjual barang bekas untuk menebus biaya perawatan dan juga obat"


Keluarga pasien sangat marah dan ruang UGD menjadi sasaran amukan keluarga pasien yang tidak terima. banyak hal dihancurkan seperti properti yang tidak bersalah menjadi korban.


Rahmat yang menjadi tersangka bersembunyi di balik pintu ruang UGD dengan ketakutan. Di luar pintu banyak orang berusaha mendobraknya.


Di mana suasana semakin panas dan tak terkendali seseorang dari luar datang membawa berita bahagia.


"Kalian semua, istriku sudah sembuh seperti sediakala... berkat pengobatan gratis dari dokter ajaib, ya sudah kalau begitu kalian bisa melanjutkan aksi kalian" Kakek tua beserta istrinya dengan bahagia pergi meninggalkan rumah sakit, seolah tidak sakit sama sekali.


Mereka semua tidak buta apa lagi tunarungu, Kakek tua dan istrinya jelas tidak berbohong karena mereka semua menghadiri acara resepsi bersama-sama. apa lagi saat datang ke rumah sakit ini, bukannya mereka semua datang bersama dengan kakek tua dan istrinya yang sakit.


Kemudian semua orang mengingat kembali Seorang pemuda tampan yang sebelumnya keluar dari ruang UGD setelah melepas jas putih yang dikenakannya.


Jadi itu dia...


Demi menyelamatkan seorang pasien yang menjadi keluarga mereka semua, pemuda itu telah mengatakan jika dirinya bukan dokter dari pihak rumah sakit. dengan begitu bukankah dia bisa melakukan pengobatan tanpa melakukan registrasi dengan pihak rumah sakit.


Tindakannya yang tulus di anggap sebagai omongan kosong belaka oleh semua orang. apakah karena dia sangat mudah?


Tanpa mempercayainya semua orang mengabaikan pemuda tersebut dan memilih untuk melakukan registrasi dengan begitu bisa mendapatkan obat.


Namun, apa hasilnya? bukanya kesembuhan melainkan kondisi pasien menjadi lebih buruk. sudah begitu mereka semua menghabiskan 500 ribu sebagai biaya pembayaran.


Sekarang semua orang menyesal mengapa ada dokter yang begitu baik, telah mereka sia-siakan, dan lebih memilih dokter lain yaitu Rahmat yang salah memberikan obat.


"Kita belum terlambat kita bisa membawa keluarga kita kepadanya..."


"Benar... walaupun aku malu, namun demi keluarga kita yang sakit aku tidak masalah bertekuk lutut untuk meminta maaf kepadanya"


"Benar aku buta tidak melihat gunung ijen padahal ada tepat di depan mata kita..."


"Semuanya ayo kita pergi bersama..."


Keluarga mereka yang sakit belum meninggal jika mereka semua terlambat membawanya ke dokter yang bisa menyembuhkannya mereka semua akan menyesal seumur hidupnya.


Dengan begitu semua orang pergi menuju ketempat Lisin yang menunggu di halaman depan rumah sakit, dengan harapan agar dia mau memaafkan mereka semua dan bisa meminta bantuannya untuk menyembuhkan keluarga mereka yang sakit.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2