
Brian yang lari pertama berhenti di dekat mobil Nissan Skyline sambil menekan dadanya karena jantungnya berdetak dengan cepat, dirinya jarang melakukan olahraga jadi saat berlari dengan semua energinya dia langsung kehabisan nafas.
"Hu... Hu... Hu... Sosok putih sebelumnya apa ya..." Kakinya sedikit kram, lutut langsung pegal terutama otot pada bagian tertentu, hal ini terjadi karena kebanyakan menggunakan sabun.
"Kudengar setannya nampak di kamera saja kenapa ini nongol sungguhan... Hu... Hu... hu..."
"Brian... sialan kenapa main tinggal aja..." Jo tidak jauh berbeda dengan kondisi Brian.
"Brian... Jo... mending kita pulang aja" Alim yang datang menyusul juga dalam kondisi sangat lelah, keringat turun di bagian pelipis mata.
"Alim... kamu tidak merekam sosok putih sebelumnya?..." Brian bertanya.
"Mana aku sempat saat aku tahu ada sosok putih menggantung di dekat rumah warga, aku tidak kepikiran untuk merekamnya, apa lagi kalian berdua melarikan diri, aku jadi ikutan lari juga... " Alim mengatur pernafasannya sambil menjelaskan.
"Hu... Hu... Sepertinya kita terlalu banyak mainan sabun dan kurang akan olahraga, Lari 200 meter aja capeknya minta ampun..." Jo mengeluh.
"Benar kamu Jo... Mulai besok kita harus olahraga" Alim menyarankan.
"Jo... menurut kamu sosok putih sebelumnya itu apa?... Kuntilanak apa pocong" Brian bertanya.
Jo melihat antara Alim dan Brian lalu mengatakan pendapatnya, "Aku pikir itu bukan pocong... karena tidak terdapat ikatan tali pocong, jika itu kuntilanak juga tidak keliatan rambutnya"
"Itu pasti kuntilanak Jo... Mungkin lagi nungging jadi rambutnya tidak keliatan kalau kamu Alim, menurut kamu sosok putih sebelumnya apa?" Brian bertanya.
"Aku... kurang paham karena aku tidak memiliki kenalan pocong apa lagi kuntilanak, yang aku lihat sosok putih itu menggantung seperti jemuran dan tidak kakinya tidak nampak di tanah" Jawab Alim dengan jujur.
"Mana ada kuntilanak menampakan kakinya di tanah, kebanyakan dari mereka bisa terbang dan sering menggantung di udara ya... seperti film sinetron misteri gitu... Sedangkan jemuran pasti karena kamu ketakutan jadi kuntilanaknya terlihat seperti jemuran" Brian berkata dengan pasti.
"Benar kata kamu Brian... " Alim mengakui.
"Di mana Lisin... Kenapa dia tidak ada... " Brian bertanya kepada Alim dan Jo.
"Iya... ya... kemana dia apa mungkin dia masih di sana..."
"Atau juga dia tertangkap kuntilanak..."
"Jika tertangkap kuntilanak... Lisin akan di jadikan suaminya dan di suruh melayani kuntilanak setiap malam, Hi... ngeri bro... " Alim berkata dengan ketakutan.
"Hus... jangan bilang begitulah... Jika di jadikan suami kuntilanak... ya beruntung si Lisin... siapa tau kuntilanaknya cantik" Jo berkata dengan rasa cemburu, dan berpikir kenapa bukan dirinya yang di tangkap.
"Sial... kenapa aku tidak berfikir ke sana jika kuntilanaknya cantik aku tidak masalah kehilangan keperjakaanku" Brian menyesal kenapa dirinya lari tanpa melihat wajah kuntilanak, siapa tau jika kecantikan kuntilanak mirip dengan artis jav favoritnya.
"Brian... bukanya keperjakaan kita semua hilang dengan si sabun, kenapa kamu bilang masih perjaka segala" Jo menegur Brian.
"Oh... iya... ya... Aku Lupa" Brian mengakui.
Dari kejauhan ketiganya dapat melihat Lisin yang datang dari arah tempat sebelumnya dan dia berjalan dengan santai.
"Lisin... kamu tidak apa-apa? kamu berapa ronde dengan kuntilanak" Brian bertanya.
Sial... apanya yang berapa ronde siapa juga yang melakukan begituan dengan kuntilanak, Sepertinya ketakutan kalian membuat kepala kalian tidak berfikir jernih.
"Siap bilang itu sebelumnya kuntilanak... sosok putih sebelumnya adalah jemuran mukenah milik warga" Lisin berkata tidak berdaya.
"Sialan... ternyata itu hanya mukena" Brian berkata dengan kesal, dia tidak ingin merasa malu jadi dia berkata, "Sepertinya warga setempat dengan sengaja menjamurnya malam-malam begini untuk menakuti orang-orang pemberani seperti kita"
Apanya yang pemberani kalian bertiga melarikan diri hanya karena mukenah yang tidak bersalah, jika bertemu dengan kuntilanak beneran akan menjadi seperti apa.
"Bro Lisin... kamu tidak takut dengan setan..." Ketiganya menatap Lisin.
"Dikit... " jika Lisin bilang tidak takut dia pasti harus berjalan di depan lebih baik berbohong biar tidak di andalkan.
Lisin tidak berdaya mengikuti ketiganya lagi berjalan ke arah pemakaman umum yang di kelilingi oleh pepohonan kelapa, juga pohon pisang untuk yang terbesar ada pohon beringin.
__ADS_1
Suasana sangat mencengkeram, Brian dengan sombongnya membuka pintu masuk pemakaman di ikuti oleh yang lain masuk ke pemakaman umum, karena gelap semuanya mengeluarkan senter untuk penerangan.
"Halo semuanya... seperti yang kalian lihat... tempat ini adalah Ku... Bu... Ran... apa kalian semua takut?"
Brian yang menjadi host menyapa pemirsa yang ada di Platform YouTube, Dengan Alim sebagai pemegang kameranya.
"Pertama aku akan memperkenalkan diri... Kita semua adalah Kumpulan laki-laki pemberani yang akan menemukan kebenaran dari mereka yang tidak terlihat, Kita di panggil sebagai Pencari Setan"
Pemirsanya yang melihat tayangan siaran langsung tengah malam tidak banyak itu hanya kisaran 50 pemirsa.
"Sebelum Kami pencari setan menjelajahi pemakaman umum yang ada di belakang, kalian bisa subscribe chanel ini juga komen, like, dan share ke teman-taman kalian agar menjadi pemberani seperti kita" Brian berkata dengan pemberani di depan kamera.
"Kok sedikit ya... yang menonton... " Jo yang melihat layar ponsel siaran langsung bertanya.
"Mungkin banyak orang yang tidur... " Jawab Alim.
Lisin tidak terlalu peduli dia melihat sekeliling kuburan dapat melihat sosok kuntilanak di atas pohon beringin, ada juga sosok pocong di balik pohon pisang dan yang membuatnya aneh adalah Lisin dapat merasakan jika ada seseorang yang melakukan sesuatu di kuburan paling ujung.
"Pencari setan... ini yang aku suka... sepertinya aku harus bangunkan yang lain agar melihat pencari setan..."
"Wih... aku tidak takut dengan beginian..."
"Sama... Mana penampakannya... "
"Sepertinya aku kenal pemakaman umum ini di mana... "
"Itu kuburan kampung sebelah yang terkenal angker sial... kemarin aku melihat Chanel sebelah ketakutan saat melihat penampakan kuntilanak di sana"
"Awas saja kalo chanel pencari setan ini lari juga... "
"Subscribe datang tolong jangan lari ya nanti..."
"Yang membawa kameranya tolong jangan bergetar apa kamu orang tua... "
Komentar terus berdatangan dan jumlah pemirsa meningkat menjadi 200 penonton dan itu terus naik.
Brian, Jo, Alim dan Lisin terus menelusuri Pemakaman umum, "Jo... kamu saja yang memegang Tripod ponsel tangan Alim bergetar terus, hasilnya kurang memuaskan pemirsa yang menonton siaran langsung"
"Ok... "
Melihat Rentetan pemirsa yang berdatangan Brian sangat senang, sepertinya Vlog pertamanya sukses sekarang tinggal menemukan penampakan agar pemirsa puas.
"Apa... itu tolong senter dan kameranya di arahkan ke pohon pisang... " Brian berpura-pura seperti orang berpengalaman di bidang gaib.
"Aku merasa ada hawa setan... Pemirsa apa kalian siap bertemu dengan setan?... Tolong untuk yang punya sakit panu di anjurkan untuk tidak mengikuti siaran langsung, karana kejutan saat melihat setan dapat memperburuk kondisi tubuh"
"Bagaimana jika penyakit kudis..."
"Kalau Gatal..."
"Yang di atas kalau gatal ya di Garuk..."
"Kalau Ngantuk..."
"Yang di atas kalau ngantuk ya tidur, bikin kesel aja"
"Kalau jamur gimana... apa tidak masalah... tolong di jawab... "
"Pemirsa yang budiman... apapun sakitnya tolong persiapkan kotak P3K dan sedia Ambulan di rumah karena jika terjadi sesuatu saat Pemirsa melihat penampakan itu bukan tanggung jawab kami"
Sebagai host Brian dengan berani mendekati pohon pisang di ikuti Jo yang memegang ponsel mengarahkan kemera tersebut ke arah Brian seorang. sedangkan Alim dan Lisin berjalan di belakang menggunakan senter sebagai penerangan.
Brian sebenarnya ketakutan namun di depan ratusan pemirsa dia bertindak seperti bukan dirinya, Brian dan yang lainya berjalan sambil menghindari beberapa kuburan.
__ADS_1
"Alim kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu diam saja" Lisin melihat Alim yang tidak bergerak bertanya.
"Li... Lisin... tolong aku... Kaki ku... Kakiku ada yang menarik kebawah" Lisin yang melihat Alim yang seperti akan menangis kapan saja melihat ke arah kakinya.
Kaki kiri Alim masuk ke sebuah lubang kuburan, ini terjadi karena ada rongga di dalam tanah jadi saat bagian permukaan tanah di injak Kaki Alim akan turun kedalam tanah.
"Tenanglah aku akan membantumu..." Lisin yang memiliki penciuman tajam dapat merasakan bau tidak sedap dari celana Alim.
Sial... Kamu umur berapa Alim kenapa kamu kencing di celana.
"Sudah... kamu bisa menggerakkan kakimu" Lisin yang tidak berdaya menarik kaki kiri Alim dengan satu tangan.
"Terima kasih Bro Lisin... aku tidak tahu harus berbuat apa jika tanpa bantuan mu" Alim yang merasakan rasa hangat di antara kakinya mulai sadar jika dirinya kencing di celana.
Untung saja Alim menyimpan cadangan pakaian di ransel miliknya.
"Sial... Sepertinya kita berpisah dengan Brian dan juga Jo, Bro Lisin apa kamu tau di mana mereka pergi" Alim bertanya dengan panik.
Sial... karena aku membantu Alim aku tidak tahu kemana mereka pergi.
Lisin memejamkan kedua mata kemudian merasakan keberadaan seseorang di balik pohon-pohon pisang.
Sial mereka berdua mendekati seseorang yang ada di ujung pemakaman umum.
"Alim... kita harus menyusul mereka berdua dengan cepat" Lisin berniat Lari agar lebih cepat mengejar Brian dan Jo. namun di hentikan oleh Alim yang ketakutan, Sial ada beban di sini.
Di sisi lain Brian dan Jo tidak menyadari jika telah berpisah dengan Alim dan Lisin. keduanya dengan hati-hati mendekat kearah datangnya asap pembakaran.
"Brian apa kita harus melanjutkan, aku bisa mencium bau bunga wongso dan bunga kantil ada juga bunga lain dari jenis bunga tujuh rupa" Jo yang memegang tripod dengan tangan kirinya berbisik ke Brian.
"Kenapa aku tidak mencium aroma apapun" Brian meragukan perkataan Jo.
"Kamu kan lagi ingusan mana mungkin kamu bisa mencium wewangian dari jarak jauh, aroma bunganya semakin menyengat saat kita menuju kearah datangnya asap di sana" Seolah mendapatkan pencerahan Brian bukannya menghentikan siaran langsung tetapi eksis di depan kamera ponsel.
"Pemirsa yang budiman... Saya Brian dari pencari setan, dapat merasakan aroma dari bunga tujuh rupa dan arahannya ada di sana, Orang dulu menyebutnya pamali di mana jika kita secara tiba-tiba mencium aroma dari bunga tujuh rupa maka ada setan di sana" Brian sangat senang menjelaskan ke pemirsa seolah dirinya adalah seorang reporter handal.
"Lanjutkan... "
"Awas saja siaran langsungnya berhenti di tengah jalan... "
"Tolong perlihatkan setannya... "
"Tolong lakukan wawancara jika bertemu dengan setan..."
Sial kalian pikir setan itu selebriti.
Brian tidak menyangka siaran langsung mencapai angka 5 ribu pemirsa dan itu terus bertambah, kau tau ini tengah malam jadi kebanyakan orang memilih untuk tidur, seperti remaja harus tidur karena besok sekolah, banyak orang yang lelah aktifitas akan tertidur di malam hari, sedangkan untuk para kaum jomblo mungkin lagi nonton film jav atau bermain sabun demi memperlancar peredaran darah.
"Brian... kita harus kembali, Alim dan Lisin menghilang... Jika ada hal buruk seperti di culik wewe gombel gimana" Jo berkata dengan khawatir.
"Alim itu penakut mungkin dia mintak di anterin ke mobil dan Lisin mengantarkannya tanpa memberi tahu ke kita terlebih dulu... " Brian berbisik ke arah Jo.
"Udahlah Jo... nanggung ni... setelah kita bertemu setan, kita matikan siaran langsung lalu kita lari, kita bisa alasan ke pemirsa jika Kuota internet kita habis... Gimana" Jo termakan bujuk rayuan dari Brian.
"Ok... tidak masalah... " Jawab Jo.
Keduanya Melalui semak-semak lalu sampailah di sebuah tempat kuburan yang sangat menyeramkan, karena terdapat pohon besar di sana.
Seorang Lelaki tua sedang membaca sebuah mantra, dengan keris di tangannya, Lelaki tua berjanggut itu menggunakan udeng Jawa sedangkan pakaiannya serba hitam.
Aroma bunga tujuh rupa yang menyengat ternyata datang dari sesajen milik Lelaki tua tersebut, tidak hanya sesajen, ada bau menyan yang baru saja terbakar, ada telur ayam kampung yang terdapat tulisan di permukaan telur, ada juga ayam hitam mulus yang baru saja di sembelih.
Brian dan Jo terdiam, dan pemirsa yang melihat siaran langsung sangat bersemangat mengetahui jika ada Dukun di sana.
__ADS_1
"Siapa kalian... " Dukun itu tau jika ada Brian dan Jo di sana terdiam membeku.
Bersambung...