
Lisin menyetabilkan pernapasannya dengan heran, semua yang baru saja dirinya lakukan seperti bukan dirinya yang biasa.
Semua yang telah terjadi, dirinya lakukan tanpa Lisin sadari, mulai menggunakan Gelombang energi dalam dan banyak lagi teknik seni bela diri yang telah di kuasainya secara instan. seolah ingatan yang muncul secara tiba - tiba memenuhi kepala Lisin.
Apa yang terjadi?...
"Sistem apakah aku memiliki kepribadian ganda?..."
(DING...)
(Tuan rumah terlalu banyak bertanya kapan pintarnya...)
Sialan... Sudah tidak pernah mengeluarkan tugas lagi, memiliki tanggapan yang kurang memuaskan.
(Baiklah, Karena tuan rumah bodoh, tidak pintar, sistem yang baik hati akan menjelaskan)
Diam... Lisin entah mengapa pernah mendengar paragraf pertama dari sistem.
(Tuan rumah telah memiliki Tubuh seni bela diri kuno, oleh sebab itu selain tubuh tuan rumah yang super kuat, juga mendapat kenangan atau bisa di bilang warisan dari Seniman bela diri kuno)
(Warisan seni bela diri kuno akan terekstrak secara perlahan, semakin lama tuan rumah menggunakan energi dalam, maka akan semakin cepat warisan tersebut menyatu dengan tuan rumah)
Lisin mengangguk berulang kali, dirinya mulai ingat saat pertama kali dirinya bercocok tanam dengan Ningsih, hingga Ningsih menyebut dirinya dengan sebutan Monster.
Saat itu Lisin juga pertama kali beradaptasi dengan Tubuh seni bela diri kuno, walaupun dirinya tidak memiliki pengalaman bercocok tanam, Lisin secara tidak sadar memiliki ratusan hingga ribuan pengalaman untuk bercocok tanam.
Mungkinkah Tubuh seni bela diri kuno memfokuskan diri untuk bercocok tanam? mungkin saja.
Tiada hari tanpa bercocok tanam.
Lisin yang sudah mendapatkan jawaban dari sistem, secara perlahan menuju kearah Wulan, tanpa meperdulikan jasad Malwageni dan Suliwa yang mengenaskan.
"Baiklah... semuanya kembali ke tempat kalian Masing - masing, Sanjaya kamu mengurus penjagaan terutama perketat area perbatasan, juga usahakan kematian keduanya di tekan selama mungkin sampai kita siap sepenuhnya" Mahesa langsung memerintahkan banyak penanggung jawab Perguruan macan putih untuk melakukan sesuatu.
"Di mengerti tuan Mahesa..." Sanjaya langsung pergi tanpa menunda.
"Wulan... Temani Lisin ke halaman belakang setelah ayah mengurus semuanya, ayah akan berbicara dengannya..." Mahesa melirik Lisin sebentar kemudian pergi.
"Eh... Apa yang terjadi, mengapa seperti akan terjadi bencana..." Lisin bertanya kepada Wulan yang menggigit bibir ceri miliknya.
"Hem... ikut saja denganku jangan banyak bertanya..." Wulan langsung pergi.
Lisin melihat semua orang yang ada di sekitarnya dengan heran, bukannya dirinya menjadi pahlawan yang menyelamatkan Perguruan Macan Putih. mengapa mereka semua menunjukkan ekspresi kesedihan dan tertekan.
__ADS_1
Aneh...
.....
Di kejauhan di atas pohon perbukitan tinggi seorang pria paruh baya memiliki raut wajah marah, Dia pengintai yang di tempatkan oleh Malwageni untuk mengamati semua yang terjadi di Perguruan macan putih.
Kematian Malwageni dan Suliwa terpampang jelas di matanya. karena semuanya di luar harapan, dirinya hanya punya satu tujuan yaitu kembali ke Padepokan Tengkorak untuk menemui Ki Bajang.
.....
Lisin mengikuti Wulan dari belakang, keduanya berjalan menuju perbukitan lain dengan bangunan megah yang tradisional di sekelilingnya, Lisin hanya bisa terpukau.
Tidak hanya pemandangan yang begitu menakjubkan, aura spiritual sangat kaya dan sangat bagus untuk membudidayakan kanuragan.
"Huak..."
"Sayang... Kamu tidak apa - apa?" Lisin bertanya saat melihat Wulan yang mual.
"Jangan menyentuh aku..." Wulan menatap tajam kearah Lisin sambil memegangi perutnya.
"Juga jangan memanggilku dengan sebutan sayang..." Wulan menambahkan.
Lisin tidak bisa berkata - kata, Apakah sebegitu bencinya Wulan denganku? Lisin mengambil tempat duduk di dekat Wulan.
"Bisakah kamu menceritakan mengapa semuanya sangat gelisah? beberapa orang bahkan bersedih..." Lisin bertanya.
"Ini semua gara - gara kamu... Andaikan kamu tidak menghamiliku, Aku pasti dengan mudah memenangkan tantangan..." Wulan berkata dengan kesal.
Hade... mengapa kamu lebih kesal dengan tidak memenangkan tantangan, jika aku tidak bercocok tanam denganmu kamu akan mati.
Laki - laki memang selalu salah dan Wanita harus selalu benar.
"Perguruan Tengkorak memiliki Monster tersembunyi... Dia lebih kuat dari Malwageni, Bahkan Ayahku bukan tandingannya. Dengan Kamu membunuh Suliwa dan Malwageni maka Monster itu akan mengamuk..." Wulan menambahkan.
Monster!!! Lisin sangat bingung, apakah benar - benar ada Monster di dunia ini? Lisin mengingat lagi tranformasi James yang menggunakan serum Bloody dan harus menghisap darah untuk kelangsungan hidup.
"Apakah dia naga sakti? atau rubah ekor sembilan? ataukah raja iblis piccolo dari planet namek?..." Lisin bertanya.
"Apa yang kamu bicarakan... rubah ekor sembilan!..." Sekarang giliran Wulan di buat bingung.
Benar juga... Di sini tidak ada televisi apa lagi Listrik juga tidak ada internet. Tapi bagus juga Wulan tidak kecanduan Tiktok.
"Kemarilah... aku akan membisikkan sesuatu kepadamu..." Lisin memangil, dan Wulan tanpa curiga duduk di sebelah Lisin dan keduanya dapat merasakan bau badan satu sama lain.
"Chusss..."
__ADS_1
Lisin yang modus berpura - pura membisikan sesuatu, kemudian mengambil kesempatan dengan mencium pipi salju Wulan.
"Kamu... kamu... tercela..." Sontak Wulan menjauhi Lisin.
Lisin, Setan apa yang merasuki kamu... Dulu kamu itu sangat polos bagaikan kertas tanpa tulisan, mengapa kamu sekarang seperti ini? sepertinya kamu harus di ruqyah.
"Habis... kamu cantik sih, aku tidak kuat menahannya..." Lisin berkata dengan jujur.
Siapapun yang dekat dengan Keindahan Wulan pasti akan melakukan lebih dari Lisin, Terutama kaum Jomblo pasti akan menitihkan air liur. Lisin saja yang sudah kebal terhadap kecantikan tidak kuasa menahan, apa lagi kaum Jomblo.
"Aku cantik?!..." Wulan sedikit merona, walaupun banyak orang yang mengatakan jika dirinya cantik, namun rasanya sangat berbeda saat Lisin secara langsung mengatakannya.
"Duduk sini... Kali ini aku tidak berbohong..." Wulan mengikuti perkataan Lisin.
"Bagaimana, Apakah Monster yang kamu katakan seperti ini?..." Lisin mengeluarkan ponselnya, secara kebetulan dirinya memiliki wallpaper Musang sembilan ekor.
"Ini... Keluarkan, aku ingin bermain dengan kucing itu..." Mendengar perkataan Wulan, Lisin sangat tertekan bagaimana dirinya mengeluarkannya?
"Ehm... Semua ini tidak nyata, ini hanya ponsel..." Lisin menjelaskan dengan tertekan, bukannya Wulan ini sudah mengetahui keberadaan dunia luar mengapa dengan wallpaper ponsel saja terkejut.
"Ponsel?!... yang di gunakan untuk berbicara dengan jarak jauh..." Wulan menjelaskan.
"Ya... Seperti itu, apakah kamu memilikinya?..." Lisin bertanya.
"Tidak aku tidak memilikinya, benda itu hanya bisa di gunakan di dunia luar..." Wulan menjelaskan.
"Aku mengerti, Apakah kamu ingin berfoto?..." Tanya Lisin.
"Foto!!!..."
"Seperti ini..." Lisin langsung memotret Wulan yang sedang bingung.
"Wow... Kapan aku bisa masuk kedalam kotak kecil ini?... Luar biasa, ini pasti kotak ajaib..." Wulan terpukau terus menerus, dirinya merebut ponsel dari tangan Lisin kemudian mempelajari cara Selfie dengan cepat.
"Wow... luar biasa, Diriku ada banyak..." Wulan menyentuh layar touchscreen dengan bersemangat.
Hade... Memang benar wanita akan sangat suka dengan hasil foto selfie terutama menggunakan filter dan kamera jahat.
Setidaknya Lisin cukup senang melihat Wulan yang tidak marah lagi dengan dirinya, sekarang hubungan dirinya dengan Wulan lebih baik dari yang sebelumnya.
"Bisakah kamu kembalikan, kita belum menyelesaikan pembicaraan..." Lisin menyadarkan Wulan yang terus bermain dengan ponsel.
"Ehm... Tidak boleh, mulai hari ini ponsel ini milikku, Aku dengar jika laki - laki menggunakan ponsel untuk selingkuh. Jika kamu selingkuh dari ku aku akan mengebiri bagian bawah mu..." Wulan tanpa sadar sudah menerima Lisin dan menganggap hubungi keduanya layaknya pasangan suami istri.
Diam... Lisin tidak bisa berkata - kata, Dirinya hidup dan mati bersama Joni Agung, jika sahabat baiknya pergi meninggalkan dirinya Apa yang harus Lisin lakukan untuk menjadi penjahat kelamin sejati.
__ADS_1
Sialan... Aku menyesal memberikan ponsel itu kepadanya...
Bersambung...