Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 76


__ADS_3

Sebuah mobil polisi berjalan dengan kencang melalui jalan raya kota malang.


"Mon... Apa kamu yakin korban mati di tempat?..." Seorang polisi kurus bertanya kepada polisi gemuk yang mengemudikan mobil polisi.


"Benar Yat... Korbannya seorang Nenek yang berumur kurang lebih 80 tahunan, dia baru pulang setelah membeli sayuran yang ada di sebrang jalan. saat menyebrang jalan seorang pengendara motor menabraknya dari belakang dan korban meninggal di tempat, sedangkan pelaku berhasil di amankan warga setempat"


Kedua polisi tersebut adalah Sukiyat dan Sukimon keduanya mendapatkan panggilan telepon dari salah satu warga yang menjadi saksi terjadinya tabrakan.


"Hahaha... akhirnya ada masukan juga" Sukiyat sang polisi kurus langsung bersemangat.


"Hahaha... Tenang Yat... nanti hasilnya kita bagi dua..." Dalam suasana hati yang bahagia kedua polisi tersebut turun tepat di dekat kerumunan banyak orang.


"Tolong untuk orang-orang yang tidak bersangkutan bisa meninggalkan tempat ini, sedangkan saksi mata di harapkan tinggal di tempat" Polisi Sukiyat langsung melakukan tugasnya.


"Benar... tolong kerjasamanya, dari sini semuanya akan menjadi tugas polisi..." Sukimon yang gemuk mengeluarkan sebuah pilok warna putih.


Kedua polisi melakukan beberapa pertanyaan terhadap saksi mata. saksi mata pertama adalah penjual sayur.


"Jadi korban berjalan ada arah sini?..." Sukiyat si kurus bertanya.


"Benar... Pak polisi, Nenek tua itu setiap pagi akan membeli sayuran dan selalu menyebrang dari sana" Tukang jual sayur berkata dengan jujur.


"Dan kalian bertiga?..."


"Kami bertiga secara kebetulan membeli sayuran... Hiks... Nenek tua itu orang yang baik... Tapi- Hiks..." Ketiga ibu rumah tangga yang bertetangga dengan korban tidak kuasa menahan tangis.


Kedua polisi yang melihat ketiga ibu rumah tangga tersebut menangis menjadi kesal.


Mengapa kalian menangis... tinggal jelaskan saja kan beres, jangan membuat kami membuang-buang waktu dengan berdiri di sini.


"Kamu yang menelpon sebelumnya?"


"Benar pak..." Pria paru baya berkumis itu adalah ketua RT yang kebetulan menjadi saksi mata.


"Bisa menjelaskan kronologi kecelakaan?"


"Baik Pak..."


Ketua RT sedikit gugup karena tidak pernah berurusan dengan polisi. kemudian dia langsung menjelaskan kronologi kecelakaan.


Sukiyat langsung melakukan olah TKP. kendaran jenis motor Vario 125 memang terkenal karena kebanyakan khususnya, di kalangan ibu rumah tangga.


Dari penjelasan saksi mata, juga kerusakan kendaraan dan bekas lokasi tabrakan yang ada di tempat kejadian, Kedua Polisi berhasil menemukan titik terang.


"Benar pak... Korban dalam kondisi tidak bergerak ada di sana..." Ketua RT menjelaskan lagi.


Sukimon yang memegang pilok warna putih langsung menggambarkan garis tubuh manusia terlentang di atas permukaan jalan beraspal. juga beberapa garis panah di mana arah perpindahan korban terjadi berdasarkan saksi mata.


"Mon... kamu tidak lelah?..."


"Jelas lelah aku Yat... lihat saja tubuhku berkeringat... Tapi ini sepadan dengan uang yang nantinya kita terima.." Sukimon yang gemuk menyeringai.


"Jadi bisakah kamu membawa kita kepada tersangka..."


"Mari ikuti saya pak... pelaku berhasil di amankan dan sepakat menunggu korban di makamkan... Korban sempat dibawa ke rumah sakit dan sekarang sedang di kremasi" Ketua RT melanjutkan penjelasannya.


Kedua polisi mendatangi ibu rumah tangga yang menjadi tersangka.


"Ibu tau kan apa kesalahannya..." Sukimon dengan tegas menginterogasi ibu rumah tangga yang menjadi tersangka.


"Tau Pak... saya sangat menyesal..." Ibu rumah tangga tersebut bergetar ketakutan.


"Bu... berapa kecepatan saat tabrakan terjadi?..." Kali ini Sukiyat bertanya.


"Saya tidak melihat indikator kecepatan, kemungkinan antara 60 sampai 40 Pak... dan salah juga salah Pak... saya Sen kiri namun hendak belok kanan" pelaku menjawab dengan jujur.


Ini dia salah satu tindakan legendaris ibu rumah tangga yang sedang berkendara, Sen kiri belok kanan begitu juga sebaliknya.


"Ehm..." Kedua polisi sangat bersyukur karena tindakan tersangka membuat kedua polisi tersebut akan mendapatkan pemasukan.


"Ibu bisa ditetapkan dengan Pasal 310 ayat 4. pasal tersebut berbunyi, jika kecelakaan mengakibatkan orang lain meninggal dunia akan dipidana dengan kurungan paling lama 6 tahun dan denda paling banyak 12 juta"


"Apa!!!..."


Mendengar pernyataan dari Sukimon membuat Tersangka ibu rumah tangga tersebut pingsan di tempat kemudian dengan bantuan warga di pindahkan ke sebuah kamar.


"Sial... pingsan dia... Yat... kita mendatangi pihak dari keluarga korban agar masalah segera teratasi dengan begitu uangnya cepat cair..."


"Benar Mon..."


Setelah pemakaman berakhir Kedua polisi tersebut langsung mendatangi rumah korban.


Terlihat jelas jika rumah tersebut belum lama ini mendapatkan bantuan bedah rumah. Kedua polisi tersebut tidak peduli jika pihak lain sedang berduka atau tidak.


"Kedatangan kami berdua untuk melakukan tugas kami sebagai penegak hukum..." Sukimon berkata dengan tegas.

__ADS_1


"Benar... anda tidak perlu khawatir dengan masalah penuntutan terhadap pihak tersangka" Sukiyat berkata juga.


"Pak polisi... bagaimana keputusan hukum yang berlaku?..." Ayahnya Dewi berkata dengan wajahnya yang pucat. dirinya tidak berharap akan berurusan dengan pihak kepolisian.


"Tersangka menabrak korban yang sedang menyebrang, yang mana seharusnya sebagai pengendara yang harus di lakukan saat ada seseorang yang menyebrang adalah membiarkan penyebrangan lewat terlebih dahulu"


"Bukannya berhenti dan memberikan kesempatan terhadap penyeberang sampai ditepi jalan. pengendara tetap melaju dengan kecepatan 60 sampai 40 dan terjadilah tabrakan yang tidak dapat di hindari dan mengakibatkan korban jiwa"


"Tersangka ditetapkan dengan Pasal 310 ayat 4. pasal tersebut berbunyi, jika kecelakaan mengakibatkan orang lain meninggal dunia akan dipidana dengan kurungan paling lama 6 tahun dan denda paling banyak 12 juta"


"Pak polisi... sebenarnya kami cukup dekat dengan pelaku apakah itu semua tidak bisa di ringankan?..." Ayahnya Dewi berkata dengan tidak berdaya.


Kematian, Rezeki dan Jodoh ada dalam garis Tuhan, jika Neneknya Dewi meninggal karena kecelakaan maka itu semua kehendak dari Tuhan. Jika kita memberatkan tersangka maka mendiang korban akan tidak bisa tenang.


"Ehm... Yang meringankan tersangka hanya ada satu kemungkinan, yaitu korban dengan sengaja melakukan bunuh diri... Apakah Korban melakukan bunuh diri?"


"Tidak Pak polisi..." Ayahnya Dewi berkata dengan lemas. Baginya berapapun kompensasi dari pelaku selama itu ikhlas maka keluarga korban akan menerimanya walaupun itu hanya 100 ribu.


Jika pelaku di kenakan denda yang begitu besar dengan menjual rumah atau kendaraan demi untuk memberikan kompensasi ayahnya Dewi tidak menginginkan hal seperti itu.


"Kami selaku penegak hukum yang amanah juga akan membantu keluarga korban untuk kepengurusan Jasa Raharja"


"Baiklah... Kami akan melakukan kepengurusan berkas dan besok anda bisa datang ke kantor polisi..."


Kedua polisi tersebut meninggalkan rumah keluarga korban dengan semangat juang yang tinggi dan juga membawa pergi kendaraan yang di gunakan tersangka yaitu Vario 125.


.....


Dewi terbangun dari pingsannya dengan kepalanya yang sedikit pusing, setelah mengetahui jika neneknya meninggal dunia karena tertabrak pengendara motor Dewi yang terkejut langsung pingsan di tempat.


Hingga selesai pemakaman dirinya baru saja tersadarkan. Dewi berharap semuanya adalah mimpi, bagaimana tidak neneknya sering bercanda dengan dirinya, kadang sikap neneknya membuat Dewi jengkel karena terlalu sering menanyakan.


"Kapan menikah jika tidak cepat menikah keburu Nenek meninggal"


Candaan tersebut selalu dikatakan lebih dari satu tahun yang lalu tepatnya sejak Dewi memasuki universitas. Candaan tersebut hanya di anggap hal biasa oleh Dewi dan siapa yang berharap jika sekarang menjadi kenyataan.


Dewi tidak dekat dengan siapapun di tambah dirinya tidak ingin menikah muda, kini rencana Tuhan yang menentukan. sebelum Dewi dapat bertemu dengan orang yang di sukai nya dan memutuskan ke jenjang pernikahan perkataan neneknya terwujud.


Kini Neneknya telah pergi bagaimana dirinya bisa tegar menjalani hidup, setelah terbangun dari pingsannya Dewi mendapatkan berita jika pihak polisi akan membantu keluarganya untuk melakukan tuntutan dan juga membantu untuk mengurus Jasa Raharja.


Dewi dan keluarganya tidak terlalu senang dengan apa yang pihak polisi lakukan, kematian seseorang tidak bisa di tukar dengan apapun dan apa yang di lakukan polisi juga akan menyusahkan pihak pengendara yang menabrak.


Malam harinya...


Dua keluarga berdiskusi, baik keluarga korban dan keluarga tersangka membicarakan banyak hal, seperti permintaan maaf dan kompensasi. Kedua keluarga sepakat jika Kompensasi hanya sebesar 1 juta.


Keesokan harinya...


"Ayah... Dewi ikut dengan ayah... Ke kantor polisi..." Dewi yang melihat jika ayahnya hendak pergi menawarkan diri untuk ikut ke kantor polisi.


"Dewi... apa kamu yakin?"


Entah apa yang akan terjadi di kantor polisi yang jelas Ayahnya Dewi berniat membatalkan tuntutan bahkan, tidak masalah jika tidak mendapat Jasa Raharja.


Kedua dengan begitu pergi ke Kantor polisi dengan menggunakan angkutan umum.


"Apa!!!... ingin membatalkan tuntutan!!! dan sudah melakukan damai secara kekeluargaan dangan kompensasi 1 juta" Polisi Sukimon dan Sukiyat sangat marah.


Bagaimana tidak, sudah capek-capek mengurus berkas, melakukan olah TKP, dan Banyak hal yang sudah mereka lakukan. jika tuntutan di batalkan apa yang keduanya dapatkan.


"Sudak capek-capek ke sana dan tuntutan dan Jasa raharja di batalkan akan dapat apa kita?... juga mengapa kalian begitu saja menerima uang 1 juta kalian kan bisa meminta 50 juta" Sukimon berteriak marah.


"Benar... kalian akan mendapatkan 5 juta dari jumlah denda 50 juta yang di tetapkan..." Sukiyat membenarkan.


"Juga kalian akan mendapatkan 5 juta dari 50 juta dana Jasa Raharja..." Sukimon menambahkan.


Kedua polisi seperti tidak memiliki urat malu keduanya langsung mengatakan yang sebenarnya.


"Pak polisi kenapa kita mendapatkan bagian sangat sedikit dan kalian begitu banyak..." Dewi yang diam sangat marah setelah mendengar perkataan kedua polisi tersebut.


Ayahnya yang melihat Dewi bertindak tidak sopan menghentikannya dengan menggelengkan kepalanya. Ayahnya Dewi sadar jika hal seperti ini biasa terjadi di pihak kepolisian.


"Tentu saja kita mendapatkan uang lebih banyak karena kita capek-capek mengurus berkas dan olah TKP, itu adalah uang pelicin untuk kita" Sukimon berkata dengan kesal.


"Aku akan menuntut balik kalian karena mempermainkan pihak kepolisian..." Sukimon berkata dengan tegas bahkan kedua matanya menonjol keluar.


Ayahnya Dewi pucat ketakutan, kejutan dari kematian Neneknya Dewi belum lama ini di tambah dengan AC ruangan tersebut yang begitu dingin. sekarang kepolisian menuntut balik pihak keluarga korban bagaimana Ayahnya Dewi bisa menanggung ini semua.


Kita orang kecil apakah akan tertindas seperti ini?


Kedua polisi yang kesal tersebut berniat memasukkan keduanya kedalam Penjara.


"Jangan bawa Anakku... cukup aku saja yang di penjara..." Ayahnya Dewi berkata dengan tidak berdaya.


"Yat... bawa dan usir anaknya, sedangkan aku akan memasukan ayahnya ke dalam penjara... Malam ini kita harus lembur mengubah berkas tuntutan menjadi penahanan karena keluarga korban mempermainkan pihak kepolisian" Sukimon berkata sambil memborgol kedua tangan ayahnya Dewi.

__ADS_1


"Ok... Mon, Ayo pergi" Sukiyat membawa Dewi keluar dari ruangan kantor.


"Ayaaaah..."


Dewi di bawah pergi meninggalkan kantor kepolisian, Dewi yang sekarang berjalan di atas trotoar tidak berharap jika niatnya untuk membatalkan tuntutan hukum terhadap tersangka akan berakhir menjadikan ayahnya yang di tuntut balik oleh kepolisian.


"Hey... butuh tumpangan?"


Dewi dapat melihat jika ada mobil SUV tua yang menghampiri dirinya.


"Kulkas... Aku akan mengantarkan mu..."


Pemuda tampan yang mengemudikan Mobil SUV tua tersebut berniat mengantarkan Dewi. namun Dewi mengabaikannya dan memilih untuk tetap berjalan kaki.


"Apa yang harus aku lakukan?..."


"Kruuuk..."


Dewi memegangi perutnya yang lapar dan kepalanya sedikit pusing. dirinya ingat saat sarapan sebelumnya tidak menghabiskan makannya karena tidak memiliki ***** makan.


"Bruuuk..."


Dewi yang pingsan tersadar dan menemukan jika dirinya berada di dalam mobil SUV tua.


"Di mana ini?!... Mobil ini?!"


Dewi ingat jika dirinya tak sadarkan diri saat berjalan di atas trotoar, lalu mengapa dirinya berakhir di dalam mobil.


"Kamu..."


Dewi yang lapar langsung memakan Burger jumbo yang di belikan pemuda tampan yang sebelumnya pernah bertabrakan di Koridor kampus.


Dewi yang mulai tenang setelah memakan 5 Burger dan 2 Minuman Float mulai menceritakan tentang masalah yang menimpa keluarganya.


"Apa!!!..."


"Sialan... ini tidak bisa di biarkan..." Pemuda itu memutar arah mobil SUV tua yang dikendarainya.


"Mengapa kita kembali... kemana kamu membawaku pergi?!!!..." Dewi bertanya dengan bingung.


"Tentu saja mendapatkan keadilan..." Pemuda tersebut adalah Lisin yang berniat pulang tapi bertemu dengan Dewi.


"Kamu lagi..."


Dua polisi, Sukimon dan Sukiyat yang sedang bersantai di depan kantor polisi di kejutkan dengan kedatangan Dewi bersama dengan Lisin.


"Apa kalian yang menangani kasus kecelakaan yang menimpa neneknya Dewi?"


"Ya... benar siapa kamu?" Kedua polisi tersebut tersenyum, sepertinya Keluarga korban sedang mencari bantuan dari pihak luar dan itu pemuda dengan pakaian biasa apa yang bisa dia lakukan.


"Apa benar jika kalian memenjarakan Ayahnya Dewi?" Lisin tidak menjawab pertanyaan dari kedua polisi tersebut melainkan menanyakan sesuatu yang lain.


"Ya... benar jika kamu ingin membebaskannya maka harus memberikan uang penebusan sebesar 50 juta" kedua polisi tersebut menyeringai.


"Tebusan 50 juta ya..."


Lisin tersenyum dingin dia sangat membenci kedua orang yang ada di depannya saat ini.


"Bisakah kalian melepaskan ayahnya Dewi dan meminta maaf kepadanya?"


Kata-kata Lisin di penuhi dengan amarah, bagaimana dirinya tidak marah kedua polisi tersebut terlalu berlebihan.


"Hahaha... Yat, apa aku tidak salah dengar ini..." Sukimon bertanya terhadap Sukiyat.


"Tidak Mon... hanya saja pihak lain tidak tau tempatnya... Hahaha" kedua polisi tersebut tertawa.


"Apa kalian percaya jika kalian akan kehilangan pekerjaan kalian jika melakukan perbuatan seperti ini" Lisin berkata dengan dingin.


"Sungguh lelucon Aku adalah komandan kepolisian siapa yang bisa memecat ku... Hahaha..." Sukimon berkata meremehkan.


"Pergi kalian... besok kalian bisa datang lagi untuk menghadiri persidangan..." Sukiyat berniat mengusir Lisin dan Dewi.


"Ayo Lisin kita pergi... Aku akan mencari uang penebusan sebesar 50 juta untuk membebaskan Ayahku" Dewi yang bersedih menarik lengan Lisin.


"Mengapa aku pergi aku tidak akan tenang sebelum membuat kedua orang ini jera..." Lisin mengeluarkan ponselnya.


"Hahaha... Siapa yang kalian panggil, tidak ada yang bisa membatalkan bekas penuntutan"


"Siapa yang tau..." Lisin tersenyum dingin.


"Hallo... Lisin apa kamu berubah pikiran dan akan berbicara di depan publik?" Suara dari pihak lain hanya dapat di dengar oleh Lisin.


"Pak tua aku tidak berubah pikiran, sebenarnya..." Lisin yang melakukan panggilan sambil melirik ke arah dua polisi, Sukimon dan Sukiyat.


Bersambung...

__ADS_1


*Mampir juga Novel baru author yang berjudul "SISTEM KERUGIAN"


*Terimakasih.


__ADS_2