
Wolf pembunuh bayaran paling mematikan di dunia Asal Rusia, karena dirinya menjadi buronan internasional Wolf tidak bisa tinggal dalam satu tempat yang cukup lama.
Sekarang Wolf menerima pekerjaan yang menurutnya sangat mudah di banding semua pekerjaan yang Wolf lakukan selama ini.
Pekerjaan tersebut hanya membunuh seorang bos perusahaan tertentu, Selama masa pelarian Wolf telah berulang kali membunuh seorang bos perusahaan dan dirinya tidak pernah gagal.
Nama target kali ini adalah Lisin, seorang bos dibalik perusahaan besar PT. Angkasa. Wolf yang melihat informasi target hanya bisa menggelengkan kepala karena merasa kasihan kepada targetnya.
Wolf bukan pembunuh berdarah dingin di mana membunuh hanya untuk kepuasan. Dirinya membunuh karena uang, siapapun pihak lain dirinya akan melakukan pekerjaan tersebut.
Selama dirinya melakukan pengintaian, Wolf merasa sangat tertekan. Bagaimana tidak... Itu karena Targetnya tidak keluar dari tempat tinggalnya, selama kurang lebih satu minggu.
Hari pertama, setelah memiliki target pembunuhan Wolf dengan santai melakukan pengintaian, dirinya tidak mengalami kesulitan apapun. Namun setelah mengunakan Teropong khusus dirinya menyadari jika target bersenang-senang dengan Empat wanita sekaligus.
Sial... Bikin iri aja...
Hari kedua, Wolf mengintai lagi namun kali ini dirinya mencari posisi yang cukup strategis. yaitu dari gedung tinggi yang ada di dekat Villa Alila Uluwatu dengan menggunakan teropong canggih yang dirinya pesan melalui lapak tertentu.
Apa yang membuat Wolf rendah hati adalah pertempuran yang di lakukan targetnya tidak berhenti dan getaran yang di hasilkan dari pertempuran tersebut membuat tanah longsor, banjir bandang dan masih banyak lagi yang sulit untuk dijelaskan.
Hari ketiga, Wolf hampir muntah darah, dirinya menunggu begitu lama tanpa ada yang menemani dan tanpa ada kepastian, apa lagi tidak ada yang menghubunginya.
Senyap tanpa tujuan, Wolf menyimpan kebencian mendalam kepada targetnya. Itu karena targetnya telah menyiksa dirinya dengan berdiam diri selama tiga hari dan harus memperhatikan targetnya yang bersenang-senang tanpa memikirkan hatinya yang terluka.
Sial...
Hari keempat, Masih mengintai di atas gedung tinggi. Wolf yang awalnya tidak terlalu bersemangat untuk membunuh targetnya sekarang dirinya semakin termotivasi.
Membunuhnya langsung, memutilasi, menggantung, menenggelamkan kedalam air, Wolf memikirkan banyak metode penyiksaan yang membalas hatinya yang terluka.
Hari kelima, Wolf tidak kuat lagi menahan cobaan yang tuhan berikan kepada hambanya.
Selama masa pelarian dirinya tidak dekat dengan siapapun apa lagi ada yang menemaninya, sebut saja sebagai Jomblo sebuah gelar yang mengguncang dunia.
Wolf cukup sensitif dengan sebutan yang satu ini di mana memiliki pengalaman pahit dengan wanita, Sebagai seorang pembunuh bayaran dirinya tidak bisa melakukan hal tersebut dengan normal karena kebanyakan wanita tidak suka rela melayani dirinya.
Sekarang Melihat orang lain yang melakukan peperangan dengan empat wanita sekaligus membuat jiwa Jomblo Wolf bergejolak. dan merasa jika dirinya direndahkan oleh targetnya.
Hari berikutnya, Wolf tidak lagi mengingatnya. Dirinya tertekan dan juga marah dengan targetnya tersebut.
__ADS_1
Akhirnya selesai, Setelah targetnya mengakhiri pertempuran tersebut, Wolf sangat bahagia seolah dirinya baru saja terselamatkan dari siksaan dunia.
Karena getaran berakhir, penyiksaan dalam menunggu ketidakpastian akhirnya menghilang, sekarang Wolf bisa membunuh targetnya dengan kejam.
Hahaha... Aku akan membunuhnya.
Saat Wolf berniat turun dari gedung tinggi, dirinya tidak bisa membuka pintu karena pemilik gedung tinggi tersebut menutupnya dan meliburkan orang yang bekerja di sana sampai batas waktu yang tidak di tentukan Karena Peringatan Gempa yang di keluarkan BMKG.
Ahhhh... Sialan...
Dua hari berikutnya, Wolf akhirnya bisa meninggalkan gedung tinggi terkutuk yang memberikan dirinya pengalaman pahit.
Wolf yang mengetahui jika Lisin pergi ke Jakarta membuat dirinya semakin marah. Wolf kembali tenang, karena laki-laki tidak akan terlambat membalas dendam walaupun itu membutuhkan 10 tahun.
Wolf, Akhirnya sampai di jakarta. dirinya langsung menemukan tempat tinggal Lisin yaitu Perumahan No. 1 Komplek Pondok Indah.
Melakukan pemantauan sekali lagi dirinya dapat melihat Lisin yang turun dari taksi. Karena dirinya berniat membunuh targetnya di malam hari dirinya hanya bisa bersabar.
Memasuki ruangan yang begitu gelap Wolf dapat melihat jika targetnya sedang tertidur, Ini dalam kesempatan emas untuknya. Rasanya seperti penantian yang panjang tanpa bertemu ataupun mengirim kabar namun pihak lain selalu update di sosial media.
Wolf yang marah mengeluarkan pisau leluhurnya itu telah di asah hingga ketajamannya bisa membelah lautan. Sekarang pusaka tersebut harus di gunakan untuk mengambil kehidupan satu orang.
Mendengar perkataan targetnya membuat Wolf sangat terkejut, bagaimana targetnya bisa mengetahui jika ada orang lain di dalam kamarnya.
"Aku, orang yang akan membunuhmu" Siapa yang peduli, sekarang saatnya membalas dendam karena targetnya adalah orang yang suka mendiskriminasi kaum Jomblo.
"Apa!!!..." Wolf bingung, mengapa pisau yang ada di tangannya tidak bisa di gerakkan, tidak melainkan tangannya tidak mengikuti keinginannya.
Apa yang terjadi?...
Wolf tidak bisa menghentikan setiap bagian tubuhnya, Dirinya hanya bisa panik. Wolf adalah veteran di bidang pembunuhan jika tubuhnya tidak dapat digerakkan itu sama saja dengan menunggu kematian.
Target yang ada di atas kasur perlahan berdiri lalu menghidupkan pencahayaan lampu yang ada di setiap ruangan.
"Apa yang kamu lakukan kepadaku?..." Wolf bertanya dengan datar tanpa rasa takut.
"Bukankah kamu ingin membunuhku..." Lisin bertanya dengan dingin.
Sebenarnya, Lisin sudah merasakan kehadiran seseorang yang mengintai dirinya sejak satu minggu yang lalu tepatnya saat dirinya melakukan peperangan dengan empat wanita yang ada di Villa Alila Uluwatu.
Jadi itu mereka... Sialan mereka berdua, Nengah dan Ayahnya, sepertinya aku harus memberikannya sebuah hadiah.
__ADS_1
Lisin yang menggunakan analisa sistem langsung mengetahui siapa dalang di balik orang yang berniat membunuhnya. sedangkan Wolf ini seorang pembunuh yang datang hanya untuk uang.
Lisin duduk di atas kursi dengan posisi kakinya di tumpuk bersilang.
"Andaikan, bisa bergerak Aku pasti akan membunuhmu..." Wolf adalah seorang pembunuh yang sombong jelas dirinya tidak mengakui kegagalan dalam melakukan pembunuhan diam-diam.
Apa yang Lisin lakukan adalah memukul beberapa titik akupuntur, sebelum Wolf mengayunkan pisau di tangannya.
"Yakin, bisa membunuhku?..." Lisin entah kenapa sedikit tertarik dengan Wolf ini.
Jika itu orang yang mementingkan hidupnya lebih dari apapun, pasti akan meminta pengampunan namun tidak dengan orang yang ada di depan Lisin.
Wolf memiliki bekas luka di area pipinya, juga dari otot dan cara memegang pisau, sangat jelas jika pihak lain adalah orang yang berpengalaman dalam melakukan pembunuhan.
"Ya.." Wolf menjawab dengan yakin.
Karena keteguhan pihak lain Lisin ingin melihat seberapa kuat kemampuan yang di miliki oleh Wolf ini.
"Kalau begitu, serang aku dengan semua kekuatanmu..." Lisin berkata dengan tersenyum.
Wolf yang tidak lagi terbelenggu secara perlahan menggerakkan tubuhnya. Wolf terkejut dengan keanehan yang di alami dirinya. Dalam dunia bawah, Wolf belum pernah mengalami situasi seperti ini. Apakah ini Hipnotis ataukah ini sihir?
"Jangan menyesal dengan perkataan mu..." Wolf memiliki pisau masing-masing di kedua tangannya.
"Shuttt..."
"Shuttt..."
"Shuttt..."
Wolf dengan cepat melakukan tebasan, tusukan dan beberapa kali dengan cepat mengayunkan pisau dengan terus menerus.
Sial...
Wolf tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya adalah pembunuh bayaran yang cukup mampu namun dirinya tidak bisa melukai orang yang ada di depannya.
Lisin dengan terus menerus menghindari serangan dari Wolf, Lisin harus mengakui jika setiap serangan pihak lain mengincar titik vital tubuh manusia. jika itu orang lain pasti akan kesulitan untuk menghindarinya namun di depan Lisin seperti sebuah tarian.
"Aku... menyerah, Kamu bisa membunuhku..." Wolf menjatuhkan kedua pisau yang ada di tangannya.
Bersambung...
__ADS_1