
Dengan Ki Jarot yang sangat berpengalaman, semua bahan berhasil di kumpulkan.
Lisin dengan langsung membentuk dan menulis raja - raja pada sembilan telur yang sudah tersedia, kemudian di bawah tatapan semua orang. satu persatu Jimat penangkal berhasil terselesaikan.
Ki Jarot awalnya ingin melihat apakah Lisin ini hanya besar perkataannya saja ataukan memiliki kemampuan karena sudah menemukan Penangkal miliknya yang cacat.
Siapa yang berharap jika setelah dirinya melihat Lisin membuat Penangkal Sembilan arah. Ki Jarot sangat terheran - heran karena saat ini dirinya seperti memiliki pencerahan walau hanya melihat saja.
Setelah melihat Lisin menyelesaikan Sembilan jimat yang terpisahkan, Ki Jarot menyadari jika dirinya hanya katak di dalam sumur, Dirinya tidak menyangka jika Jimat bisa di bentuk dengan struktur yang sangat sederhana.
Sekarang Ki Jarot melihat Lisin dengan tatapan pemujaan, hal berikutnya hanya melihat apakah penangkal Sembilan arah akan berfungsi dengan benar.
"Baiklah, kalian bisa menguburnya sedalam lutut orang dewasa di setiap Sembilan sudut yang berbeda, pastikan juga kebersihan tempat tersebut..." Lisin menugaskan.
"Siap..." Semua orang mengikuti perintah Lisin secara langsung.
"Lisin... Kamu memang luar biasa..." Sanjaya hanya bisa memuji dan memuji.
"Ayah... Tuanku sangat bisa di andalkan bukan... Tidak seperti ayah" Gatra berkata dengan penuh semangat.
"Putra tidak jelas, mengapa kamu di sini cepat bantu semua orang... Apakah kamu menginginkan pemukulan..." Sanjaya membentuk kepalan tangan, dan membuat Gatra ketakutan.
Dengan cepat Sembilan Jimat tertanam pada Sembilan sudut yang mengelilingi Perguruan Macan putih.
"Aktifkan..." Lisin juga menentukan jimat kesepuluh yang di gunakan untuk mengontrol Penangkal Sembilan arah.
Lisin memilih untuk menggunakan batu besar yang ada di tengah halaman padepokan sebagai jimat kesepuluh yang akan di gunakan sebagai pengaturan Penangkal sembilan arah.
Setelah di aktifkan sebuah kubah mistis tersusun dan membentuk melindungi Padepokan Macan putih.
"Luar biasa... Ini benar - benar Penangkal yang sangat kuat..." Ki Jarot mengakuinya secara langsung, jika di bandingkan dengan penangkal tiga arah miliknya, tidak layak di sebutkan.
Semua orang sangat bahagia, sekarang tinggal menunggu Serangan ilmu hitam dari Ki Bajang, apakah bisa menembus penangkal Sembilan arah atau tidak.
Dari kejauhan tepatnya arah barat Lebih dari seribu Banaspatih mengepung padepokan Macan putih.
"Sial... Seribu Banaspatih..."
"Tidak tapi lebih dari itu..."
"Perguruan tengkorak ini sangat tercela..."
"Untung saja Penangkal sudah Diperbaharui jika tidak kita semua akan mati..."
Banyak murid Perguruan Macan putih berkata dengan kesal, dan beberapa orang yang melihat ribuan Banaspatih tidak bisa berkata - kata.
Pada halaman tengah Padepokan Lisin dan beberapa orang penting Perguruan Macan putih, berdiri di sekitar batu besar.
"Pak tua bisakah aku meminta sedikit darah, dan juga Darah wulan..." Lisin melihat Mahesa dan Wulan yang sedang membuat luka kecil pada jarinya kemudian menyerahkannya kepada Lisin.
__ADS_1
Setelah menerima darah Mahesa dan Wulan, Lisin menuangkannya pada batu yang akan di gunakan sebagai pengatur penangkal sembilan arah. Tujuannya sangat jelas agar Mahesa dan Wulan dapat mengaktifkan dan mengatur Penangkal sembilan arah.
"Hanya kalian berdua dan diriku yang bisa mengakses Penangkal sembilan arah... Tolong perhatikan baik - baik, kelebihan Penangkal sembilan arah" Dengan tangan kanan menyentuh batu, Lisin membuat kubah pelindung seperti hidup.
"Luar biasa aku tidak pernah tahu jika penangkal bisa di gunakan seperti ini..." Ki jarot berteriak dengan bersemangat, sedangkan yang lainnya hanya mengangguk dan menyetujuinya.
Di hadapkan dengan ribuan Banaspatih yang berdatangan, Dinding penangkal menangkap satu persatu Banaspatih dan langsung menetralkannya.
Semua orang terpukau lagi dan lagi, bahkan Mahesa tidak bisa menghilangkan senyuman di wajahnya.
Wulan juga tidak jauh berbeda, saat ini dirinya melihat Lisin dengan penuh kekaguman.
Sekarang ribuan Banaspatih di dinetralkan dan berputar - putar di atas Padepokan macan putih, menunggu perintah dari Lisin.
.....
Padepokan Tengkorak sedang dalam kekacauan.
"Ada apa... Mengapa kalian semua berhenti mengalirkan kanuragan kalian?..." Ki Bajang dengan frustasi bertanya.
Dirinya memiliki firasat buruk karena seribu muridnya secara perlahan mulai menyerah, Ki Bajang hanya memiliki satu kesimpulan, Banaspatih mereka dinetralkan.
"Siala... Bagaimana mungkin?..." Ki Bajang tercengang.
Banaspatih miliknya tidak bisa di kendalikan itu berarti di ambil alih oleh praktisi lawannya.
Jika hanya satu saja, Ki Bajang masih bisa memahaminya, namun jika itu lebih dari seribu Banaspatih maka Ki Bajang tidak bisa tenang.
Dirinya sendiri tidak dapat mengendalikan Banaspatih lebih dari satu. Bagaimana lawannya bisa mengontrol seribu Banaspatih secara bersamaan?
.....
Di bandingkan Ki Bajang yang marah, situasi Padepokan Macan putih sangat berbeda.
"Luar biasa... Kita memiliki lebih dari seribu Banaspatih..." Ki Jarot sangat bergembira.
"Benar... Menantu Perguruan macan putih sangat luar biasa..."
"Benar... Sangat bisa di andalkan..."
"Sebelumnya aku sudah siap mati jika peperangan akan pecah, siapa sangka semuanya akan menjadi seperti ini..."
"Aku sangat bersyukur setidaknya semuanya bisa terkendali..."
Semua orang tidak dapat menahan kebahagiaan mereka, Lisin juga tersenyum, dirinya dapat membayangkan jika saat ini Ki Bajang akan sangat marah dan frustasi.
"Baiklah saatnya mengembalikan semua Banaspatih kepada pemiliknya..." Dengan tangan kanannya menyentuh batu, Lisin memerintahkan Banaspatih kembali kepada pemiliknya dengan niatan yang sama.
Banaspatih ini jalas datang dengan niatan membunuh, karena Lisin akan memulangkannya maka pemilik dari masing - masing Banaspatih akan mendapatkan senjata makan tuan.
Tentu saja mereka semua akan Mati dengan menerima serangan Banaspatih mereka sendiri.
__ADS_1
"Woosss..."
Ribuan Banaspatih beterbangan kembali ketempat mereka semua datang yaitu arah barat.
"Wooss..."
"Lisin... Mengapa kamu memulangkan mereka semua..." Wulan bertanya dengan heran.
Semua orang juga menginginkan jawaban yang sama.
"Bukannya kita sedang perang?... Dalam perang ada menang dan ada juga yang kalah... Banaspatih akan menemukan tuanya kembali dengan tujuan yang sama" Lisin menjelaskan dengan santai.
.....
Tempat kediaman Padepokan tengkorak yang kacau.
"Lihat itu, sepertinya Banaspatih kita kembali..." Beberapa murid Perguruan tengkorak berkata dengan bersemangat.
"Benar... Mungkinkah semua Banaspatih berhasil menyelesaikan tugasnya dan kembali pulang..."
"Ya... Mungkin seperti itu..."
"Baguslah jika Perguruan macan putih berhasil di musnahkan..."
"Mungkin saja..."
Satu persatu murid Perguruan tengkorak merayakan sebuah kemenangan, namun saat salah satu diantara mereka masing - masing menerima Banaspatih yang baru saja kembali. Teriakan kesakitan merusak semua harapan mereka.
"Wossss..."
"Ahhhh..."
"Ahhhh..."
"Ahhhh..."
Satu demi satu murid Perguruan tengkorak tersungkur, ada yang langsung mati di tempat. beberapa ada yang memiliki perut membengkak, ada juga muntah darah, ada juga merasa gatal dan masih banyak lagi penyakit aneh yang menyiksa mereka semua.
"Apa yang sebenarnya terjadi..." Ki Bajang berteriak bingung.
Ki Bajang hanya memiliki satu dugaan yaitu Senjata makan tuan, Banaspatih yang awalnya memiliki niat untuk mencelakai orang lain ternyata mencelakai diri mereka sendiri.
"Sial... Bagaimana bisa..." Ki Bajang yang sebagian pakar spiritual tersohor tidak dapat menjelaskan, bagaimana Perguruan macan putih melakukannya.
Hanya satu yang terpikirkan, yakni Lawannya sangat tangguh namun siapa praktisi yang bisa mengungguli dirinya, Ki Bajang hanya bisa bertanya - tanya.
Banaspatih miliknya kembali dan Ki Bajang menggunakan semua kemampuan ilmu hitamnya untuk mengendalikannya kembali namun tidak bisa dan Banaspatih tersebut mengenai dirinya.
"Duarrrr..."
Ki Bajang terlempar kebelakang dan mengalami kondisi yang sangat buruk! dirinya tidak jauh berbeda dengan semua muridnya.
__ADS_1
Malam ini Perguruan tengkorak hanya bisa di katakan sebagai kehancuran masal dan pembasmian, karena tidak ada yang berhasil selamat dari serangan santet mereka sendiri.
Bersambung...