Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 152


__ADS_3


Sejarah Perguruan Macan Putih.


Sebuah padepokan bertempat di lereng gunung Kawi.


Tempat tersembunyi tersebut memiliki sebuah aura spiritual yang kaya, tempat - tempat seperti ini biasa di gunakan oleh seorang pejuang budidaya untuk melakukan pertapaan untuk mengelola kanuragan.


Menggunakan teknik pernafasan untuk menyerap energi spiritual kedalam tubuh, memiliki manfaat kebugaran fisik dan awet muda, tidak hanya itu juga menjadikan seseorang kuat bahkan bisa menghancurkan batu dengan tinjunya.


Jawa Timur memiliki sebuah kerajaan lama di masa lalu. seperti kerajaan Majapahit dan kerajaan Singosari. Namun siapa sangka jauh sebelum kerajaan tersebut berjaya ada Kerajaan tertua di Jawa Timur yang terlebih dahulu berdiri, yakni kerajaan Kanjuruhan.


Dalam catatan sejarah, Kerajaan Kanjuruhan yang berada di Malang tercatat kerajaan yang umurnya sama dengan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.


Kerajaan Kanjuruhan terletak di aliran Kali Metro yang letaknya berada di lereng Gunung Kawi bagian timur.


Raja - Raja dan pendekar masa lampau sering menggunakan tempat yang memiliki aura spiritual untuk membudidayakan kanuragan, Dan Puncak gunung Kawi salah satunya.


Bertahun - tahun berlalu hingga Indonesia berdiri, kerajaan - kerajaan tua tersebut tidak dapat lagi di jumpai, hanya menyisakan peninggalan sejarah Seperti prasasti - prasasti yang saat ini masih dalam misteri yang belum terpecahkan.


Jauh dari masyarakat umum ketahui atau tersembunyi dari dunia luar, keturunan - keturunan dari Kerajaan Kanjuruhan memilih untuk menyembunyikan identitasnya dan hidup dalam pengasingan, salah satunya mendirikan Perguruan.


Sebenarnya ada banyak Perguruan dari keturunan kerajaan - Kerajaan lama di seluruh indonesia. salah satunya Perguruan Macan Putih, yang saat ini di pimpinan oleh keturunan yang tersisa Raden Mahesa.


.....


Sebelum Gatra turun gunung.


Di suatu tempat yang memiliki bangunan lama dengan arsitektur kuno, namun sangat kokoh. seorang wanita cantik merasakan rasa mual terus menerus.


"Huak..."


"Non Wulan, dari tadi mual terus, ini pasti gejala orang lagi hamil..." Seorang pelayan wanita tua berkata dengan senyuman.


"Mak Yem, Jangan mengatakannya lagi... Aku tidak menginginkan bayi yang ada di dalam perutku... Pasti ayah dari anak ini tidak akan mengingatnya apa lagi menginginkannya..." Wulan berkata dengan datar.


"Non, Setidaknya tuan Mahesa harus mengetahuinya jika dia memiliki seorang cucu..." Mak Yem, menyarankan.


"Tidak... Jangan katakan kepada ayahku... Hari ini Perguruan Tengkorak mengajukan tantangan untuk menentukan jalan perdamaian antara dua Perguruan... Aku tidak ingin mengecewakan ayahku" Wulan menambahkan.


Perselisihan antara dua Perguruan hanyalah masalah siapa yang lebih kuat, setelah perselisihan yang cukup panjang dan membuat banyak korban berjatuhan. keduanya sepakat menggunakan tantangan di mana kedua Perguruan, harus menggunakan masing - masing keturunan mereka untuk menentukan siapa yang lebih kuat.


Tentu saja Wulan akan mewakili Perguruan Macan Putih.


"Mak Yem, apakah benar, Adik Wulan hamil..." Gatra secara tidak sengaja mendengarkan perkataan keduanya.


"Kak Gatra, kamu salah dengar..." Wulan menjelaskan dengan cemas, Gatra pria kekar yang cukup bodoh juga tidak bisa menyimpan sebuah rahasia.


"Adik Wulan, kamu sedikit pucat jelas vitalitas kamu sedang menurun, mungkinkah karena keberadaan janin yang ada di perutmu..." Gatra bertanya dengan bingung.

__ADS_1


"Tidak... Tidak mungkin aku hamil hanya sedikit kurang sehat, Aku yakin akan memenangkannya..." Wulan berkata dengan penuh tekad.


"Oh jadi seperti itu..." Gatra yang bodoh percaya dengan mudah.


"Kak Gatra, kamu harus tutup mulut tentang kondisi ku yang tidak sehat, jika tidak jangan berbicara lagi denganku..." Wulan menambahkan dengan dingin.


Gatra hanya bisa mengikuti permintaan Wulan.


Hari yang di sepakati telah tiba, di bawah ribuan murid Perguruan Macan Putih, Dua orang laki - laki tua dan pemuda tampan berjalan dengan santai.


Tatapan permusuhan terabaikan dan keduanya memasuki Padepokan Macan Putih dengan bangga.


"Putraku Suliwa, Apakah kamu yakin bisa mengalahkan Wulan putri dari Mahesa..." Malwageni bertanya.


"Ayah harap yakin, Suliwa akan mengalahkannya walaupun sangat di sayangkan jika Wulan tidak menjadi penghangat tempat tidur, setidaknya aku akan menguatkan hatiku untuk mengalahkannya..." Suliwa menyakinkan.


"Bagus... Dari dulu Perguruan Tengkorak dan Perguruan Macan Putih memiliki perselisihan panjang, dan Kali ini mereka harus tunduk dan pergi meninggalkan gunung Kawi..." Malwageni tersenyum.


Setelah keduanya datang, Mahesa langsung membuat pengaturan dalam tantangan, Wulan menemani ayahnya duduk di sampingnya, sedangkan di sebrang meja terdapat Malwageni dengan Suliwa.


"Sesuai kesepakatan, yang kalah harus tunduk dan meninggalkan Pegunungan Kawi..." Mahesa dengan dingin mengingatkan.


Malwageni dan Mahesa pada dasarnya masih satu keturunan kerajaan Kanjuruhan, hanya saja dengan kakek buyut yang berbeda.


Kakek buyut keduanya yang memulai perselisihan panjang dari generasi - generasi sebelumnya, keduanya masing - masing membentuk Perguruan.


Perguruan Macan Putih mendiami lereng gunung Kawi bagian timur.


"Hahaha... Tidak masalah..." Malwageni menyeringai.


Tidak jauh dari tempat pertemuan dan juga tantangan belum di adakan, Gatra tidak bisa diam diri saja, dirinya terus memikirkan apakah Wulan hamil atau tidak.


Gatra sudah menganggap Wulan sebagai adiknya sendiri,untuk itu dirinya sangat khawatir. jika kondisi Wulan dalam puncaknya mungkin Gatra tidak akan begitu gelisah.


Hanya saja kondisi Wulan saat ini sedang tidak enak badan dan jika Wulan benar hamil dalam waktu dua bulan pasti akan sering mengalami kelelahan. Terutama mual dan muntah, terutama pada pagi hari akan sering terjadi.


Hal tersebut normal terjadi saat masa - masa awal kehamilan karena pengaruh hormon yang berubah. wanita hamil juga akan mengalami kesulitan tidur pada malam hari.


Hal ini jelas mengganggu untuk seorang pejuang budidaya seperti Wulan terutama saat mengendalikan energi kanuragan di dalam tubuhnya, kemungkinan terburuknya Wulan tidak dapat menggunakan energi dalam miliknya dengan stabil.


"Mak Yem apakah adik Wulan benar - benar hamil?..." Gatra bertanya lagi.


"Ya..." Mak Yem mengakuinya.


Benar... Ayahku berada di luar gunung, aku harus memberitahu ayah, untuk menyakinkan Tuan Mahesa.


"Gatra kemana kamu akan pergi?..." Mak Yem bertanya.


"Mak Yem, Hatiku tidak bisa tenang, aku tahu diriku bodoh setidaknya aku tidak ingin kehilangan calon penerus Perguruan..." Gatra bertekad.

__ADS_1


"Aku akan turun gunung sebelum terlambat dan meminta ayahku untuk menghentikan tantangan..." Gatra menambah.


Mak Yem tidak bisa berbuat apa - apa dirinya hanya bisa menyetujui keputusan Gatra.


Di antara ribuan murid Padepokan macan putih, hanya Gatra yang pergi secara diam - diam.


Satu kata untuk Gatra, Bodoh atau tidak pintar, karena mengambil keputusan tersebut.


.....


"Tuan... apakah kamu tidak ingin menemuinya lagi... Wulan dia hamil..." Gatra sangat bahagia melihat tuanya yaitu Lisin.


"Hamil?... Apakah benar?..." Lisin sangat bahagia.


Akhirnya setelah berjuang keras dengan menebarkan benih kemanapun dirinya pergi, ada satu yang berbuah.


Hahaha... Akhirnya aku tidak mandul.


Lisin tidak jadi membuka pintu mobil, dirinya langsung memeluk Gatra yang memiliki badan lebih besar darinya.


"Ehm... Gatra, dia hamil denganku atau dengan orang lain..." Lisin kembali tenang, dirinya tidak boleh bersemangat dan harus memastikan jika anak tersebut karena benih yang dirinya tanam.


"Tuan... Wulan tidak mungkin melakukan cocok tanam dengan orang lain, dia hanya melakukan sekali dengan Tuan..." Gatra menjelaskan.


Gatra yang semangat bahkan lupa dengan krisis yang dihadapi oleh Wulan, sungguh pria bodoh.


"Hahaha... Bagus... Bagus sekali, aku punya anak... hahaha... aku punya anak..." Lisin lebih bahagia daripada mendapatkan hadiah sistem.


Memang benar menanam benih sangat mudah, namun jika benih tidak dapat tumbuh bagaimana bisa berbuah.


"Tunggu dulu... Putraku yang tidak pintar... Apakah Tuan Mahesa tahu tentang Wulan yang hamil?..." Sanjaya bertanya dengan dingin, dirinya sangat mengenal Gatra karena selalu mengambil keputusan yang salah.


"Tidak ayah... Aku menemui mu karena ingin meminta bantuan untuk menyakinkan Tuan Mahesa..." Gatra menjelaskan dengan tergesa - gesa.


"Dasar, putra bodoh, tidak pintar... Mengapa kamu tidak mengatakannya langsung kepada Tuan Mahesa..." Sanjaya dengan kesal langsung memukuli Gatra.


"Ampun... Ayah, Aku tidak berpikiran ke sana..." Gatra mengaku dengan kesakitan.


Sanjaya tidak menahan diri, dia menggunakan kekuatan penuh untuk memukul Putranya.


"Tunggu dulu, apa sih yang kalian bicarakan..." Lisin bertanya dengan bingung.


"Tuan Lisin, Hari ini Perguruan Macan Putih dan Perguruan Tengkorak membuat kesempatan damai, karena dua harimau tidak bisa tinggal dalam satu gunung yang sama. Jadi kedua belah pihak sepakat untuk membentuk sebuah tantangan antara perwakilan dari kedua Perguruan" Sanjaya berhenti sebentar untuk mengatur nafas.


"Yang kalah harus meninggalkan lereng gunung Kawi dan tidak boleh membuat perselisihan lagi... Hanya saja perwakilan dari Perguruan Macan Putih adalah Wulan, jika dia hamil kondisinya tidak akan dalam puncaknya..." Sanjaya berhenti lagi agar Lisin memahami perkataannya.


"Jika Wulan menang dalam kondisi dirinya hamil itu akan sulit... Kemungkinan terburuknya, dia kalah dan janin yang ada di dalam perutnya akan keguguran..." Sanjaya menambahkan.


Bait terakhir membuat Lisin seperti mendengar trompet kematian.

__ADS_1


Bersambung...


*Kasih saran jika beberapa chapter lagi time skip.


__ADS_2