
Malam hari Villa pribadi Zhang Fei.
Lisin membuka pintu kamar Zhang Fei, perlahan dia masuk. Karena malam pencahayaan di luar sangat gelap, namun tidak dengan apa yang ada di dalam kamar Zhang Fei.
Sebelumnya Ada banyak boneka, juga banyak kesukaan wanita yang mungkin tidak ingin di perlihatkan terhadap pasangannya. Sekarang benda tersebut benar - benar menghilang. Poster - poster tertentu yang ada di dinding juga sudah lenyap.
Kesampingkan hal yang tidak penting, Tatapan mata Lisin mengarah kearah Zhang Fei yang mengenakan pakaian tidur dengan rambut panjangnya terurai.
Sungguh pemandangan yang luar biasa.
Cantik!
Apakah dia istriku? Pikir Lisin dengan termenung.
Jika untuk wanita cantik, mulus, seksi seperti ini, maka Perjuangan Lisin selama ini sepadan. Setia siang dan malam, Bertahan dari godaan wanita yang ada di luar, menolak wanita yang mendaftarkan diri sebagai pelakor.
Sungguh perjuangan seorang suami yang sangat berat.
Lisin ingin menangis, dia benar - benar buta. Mengapa dia ingin menceraikan wanita secantik Zhang Fei. walaupun hanya sekali melakukannya tetap saja saat itu hanya kecelakaan. Saat ini benar - benar berbeda. Malam ini pasti akan serasa di surga.
Jika ada istri cantik seperti ini di rumah, Lisin akan lebih betah, tidak keluyuran, tidak ketempat Prostitusi, tidak menemukan wanita lain. Hanya dengan Zhang Fei satu untuk selamanya.
"Mengapa kamu diam saja, apakah penampilanku aneh? ataukah jelek?..."
Tanya Zhang Fei. Rasanya sangat memalukan mengenakan pakaian tidur di depan seorang pria. tetapi keduanya sudah menikah jadi sudah seharusnya tinggal satu kamar yang sama.
"Tidak keduanya, Kamu sangat cantik, tidak ada wanita lain di luar sana yang secantik kamu..."
Kata Lisin dengan jujur, harus diakui karena penampilan Zhang Fei telah menggugah selera makan Lisin.
"Benarkah?!..."
Tanya Zhang Fei dengan malu.
"Tentu saja benar, selama ini aku setia dengan hubungan kita benar sepadan. Zhang Fei kamu akan lebih cantik jika kamu tersenyum dari pada bersikap dingin..."
Lisin memuji dengan tulus.
"Terima kasih..."
Zhang Fei memerah seperti tomat.
Lisin sangat - sangat siap untuk malam ini. Dia sudah mematikan ponselnya, jika seseorang menghubungi dirinya tidak akan bisa terhubung. Malam ini tidak ada yang boleh menggangunya.
"Zhang Fei, Bisakah kita memulainya?..."
Apa yang harus di tunggu lagi jika tidak memulainya langsung.
"Li Shin, Ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepadamu..."
Sesuatu!
Mungkinkah Zhang Fei orang yang pemalu? Benar pasti seperti itu.
__ADS_1
"Katakan saja, walaupun aku kurang pengalaman aku pasti akan memulainya dengan lembut..."
Lembut! tidak mungkin Lisin akan bermain lembut, Villa tidak akan bergoyang jika dia melakukan hal yang lembut.
"Bukan itu yang aku maksudkan..."
Bukan!
"Mungkin kamu akan kecewa jadi aku takut untuk mengatakannya..."
"Zhang Fei, kamu tidak perlu takut saat mengatakannya. Aku janji tidak akan marah kepadamu jika kamu mengalami kesulitan..."
Zhang Fei sangat bersyukur atas perkataan dari Lisin.
"Aku, Sedang datang bulan. Malam ini kita tidak bisa melakukannya. Mungkin satu sampai dua minggu lagi..."
Diam!...
Lisin tidak bisa berkata - kata, mengapa datang bulan. Mengapa tidak pergi bulan saja.
Sialan... Sudah panjang kali lebar kali tinggi. Datang bulan mengganggu.
Akhirnya Lisin memahami kesulitan yang dialami oleh kebanyakan suami. Yaitu di saat keinginan biologis memuncak namun istrinya berhalangan.
Lisin langsung kehilangan daya. Dia kehilangan semangat. Dia sudah berjanji untuk tidak menyalahkan Zhang Fei, namun apalah daya jika akhirnya seperti ini.
"Li Shin... Kamu tidak marah kan?..." Tanya Zhang Fei dengan gugup.
Zhang Fei lupa kapan terakhir kali dia berhalangan. juga tidak menghitung sudah berapa hari sejak terakhir kali. Jadi saat dia selesai membersihkan kamar Dia menemukan bagian bawahnya deras mengalir.
Marah sih tidak terlalu, hanya saja jika tahu seperti ini lebih baik Check-in hotel dengan polisi wanita, atau Menghubungi Mei Lan.
"Terima kasih, Sudah pengertian..."
Akhirnya, Lisin dan Zhang Fei bisa tidur bersama dalam satu kamar yang sama. Hanya saja tidak ada Villa bergoyang atau yang lainnya.
Sungguh akhir yang membagongkan.
Keesokan harinya.
Lisin bangun tidur dengan sedikit kehilangan sesuatu. Pagi ini tidak seperti biasanya karena Zhang Fei belum berangkat bekerja.
Lisin dapat melihat Zhang Fei yang diam di dekat pintu, namun dia tidak bisa menghilangkan kebiasaannya yang begitu dingin.
"Apakah semua laki - laki akan membangun tenda jika di pagi hari?..."
Tanya Zhang Fei dengan heran dan sedikit merona.
Tadi pagi disaat Lisin mendengkur, dia terbangun dengan sedikit tidak biasa, karena ini kali pertama saat dia bangun menemukan seorang pria berada di sampingnya. Walaupun keduanya belum bisa melakukan hubungan suami istri karena Dirinya berhalangan, tetap saja rasanya sedikit asing.
"Tenda?!..."
Lisin akhirnya sadar jika dia menunjukkan sesuatu yang memalukan kepada istrinya. Joni agung sepertinya ingin olahraga pagi.
"Haha... Ini terjadi hanya untuk lelaki sehat seperti ku. Jika Jomblo dan suka bermain sabun tidak akan bisa mendirikan tenda di pagi hari..."
__ADS_1
Zhang Fei ingin marah namun sulit melakukannya. Dia harus menerima pria tidak tahu malu ini sebagai suaminya. Dia ingat jika Lisin menyelamatkan dirinya dari penculikan yang terjadi kemarin.
Hanya saja Tadi pagi. Zhang Fei tidak sengaja menyentuh tongkat bisbol yang menjulang tinggi. rasanya hangat dan luar biasa. juga terlibat bisa meledak kapan saja. Zhang Fei sulit memahami jika benda sebesar itu pernah memasuki tubuhnya saat dia tak sadarkan diri.
"Bisakah kamu turun, kita bisa melakukan sarapan bersama..."
"Oke aku mengerti..."
Lisin hanya membasuh wajahnya saja, kemudian memutuskan untuk sarapan bersama. Walaupun semalam tidak memiliki Villa bergoyang, rasanya cukup puas diri jika dia bisa beraktivitas bersama istrinya walaupun tidak di atas ranjang.
Karena semua masalah tidak harus berakhir dengan Villa bergoyang.
.....
Di suatu tempat daerah perkotaan Beijing.
Sebuah meja besar membentang, pria tua duduk dengan tenang. Kedua tangannya memegang Pisau dan garpu. Tangan kanannya sedang memotong daging yang terlihat lembut, kemudian dengan tangan kirinya memegang garpu lalu meletakkan daging pada mulutnya dan dia memakannya.
"Tuan Lin..."
Seorang pria paruh baya memanggil, dan pria tua tersebut menghentikan tangannya dari aktivitasnya. dia mengambil kain yang ada di dekatnya kemudian mengusap mulutnya.
"Aku sudah mengatakan jika aku tidak suka diganggu saat sedang makan..." Lin Tian berdiri, kedua matanya menunjukkan kecemerlangan.
Tangan - tangannya sangat kokoh. Dia berjalan mendekati pria paruh baya kemudian menepuk bahunya.
"Kack!..."
Tepukan tangannya sangat ringan namun menyimpan kekuatan yang luar biasa. Suara retakan dapat terdengar. Pria paruh baya merintih kesakitan. Dia adalah seorang kultivator kuat namun bukan tandingan Lin Tian.
"Baiklah, Katakan maksud kedatangan mu, bukannya kamu seharusnya berada di Shanghai?..."
Lin Tian kembali duduk. Dia sedikit merapikan pakaiannya saat melihat Pria paruh baya yang membungkuk dihadapannya.
"Tuan Lin, Raja dunia bawah kota Shanghai telah mati!..." Pria paruh baya itu berkata dengan gugup. Dia memiliki sedikit darah keluar dari sudut mulutnya.
Lin Tian terkenal dengan sikapnya yang kejam, itu terbuktikan dengan sikapnya yang baru saja dia tunjukkan. Dia mengerutkan keningnya karena marah.
"Song Han Mati?..."
"Benar tuan Lin..."
Song Han sebenarnya hanya Pion di mata Lin Tian namun tetap saja, Song Han seperti kaki untuk Organisasinya, jika kehilangan Song Han itu berarti sama dengan menghentikan pergerakan Organisasi.
"Kach!..."
Meja yang di sentuhnya hancur berkeping - keping.
"Katakan siapa yang melakukannya?..."
Melihat kemarahan Lin Tian membuat pria paruh baya kesulitan untuk bernafas. Dia menggertak giginya sambil berusaha berkata.
"Dia, Pria Muda... Bernama... Li Shin..."
Bersambung...
__ADS_1