
Tim Serigala adalah tim elit dari sekian banyaknya bakat yang di miliki Universitas Negeri Malang, pernah mengikuti kompetisi nasional di tahun sebelumnya namun gagal saat memasuki perempat final.
Di pimpin oleh pemuda bernama Gege walaupun tidak setampan Lisin setidaknya sangat populer di kalangan gadis-gadis universitas karena permainan basketnya yang bagus.
Sebagai pemimpin tim resmi Gege menjadi pelopor di setiap pelatihan basket, saat ini dirinya dan keempat anggota lainya berniat mendatangi lapangan basket.
Bagi Gege ini bukan hanya sekedar latihan karena dirinya juga mengincar ketua cheerleader yaitu Kinar. walaupun dirinya dan Kinar terpisahkan oleh status setidaknya dirinya tidak menyerah. Gege yakin dengan keahliannya bermain basket gadis manapun akan jatuh kedalam pesonanya.
Saat akan memasuki lapangan basket Gege sangat senang karena Kinar dan beberapa gadis sedang berlatih cheerleader di sana.
"Ketua... Apa kamu masih mengejarnya?" salah satu anggotanya bertanya.
"Ya... aku pasti bisa menaklukkan Kinar..." Gege menjawab dengan tegas.
"Ketua dia adalah anggota Geng Ligas dan memiliki permusuhan dengan Vito" saut anggota lainnya.
"Aku dan Vito hanya teman, jika aku bisa bersama dengan Kinar aku tidak peduli berteman atau tidak dengan Vito" Gege dengan semangat memasuki lapangan basket, dan saat dirinya dan anggota tim resmi melihat ke sisi lapangan bagian lain semua orang yang melihatnya tertekan.
Di sana ada 3 orang dengan tinggi badan rata-rata sedang bermain basket, jika permainan mereka bagus Gege dan anggota tim resmi tidak akan marah namun permainan apa itu yang dapat membuat mereka tertekan saat melihatnya.
Jelas permainan dari ketiga orang yang bermain basket sangat jelek, mereka bahkan tidak dapat membuat satu lemparan ke dalam keranjang. lompatan mereka juga tidak dapat menyentuh bagian jaring dari ring bola basket.
Gege yang tidak tahan langsung mengambil bola basket dari salah satu yang berniat melakukan lemparan 3 poin yaitu Brian.
Brengsek... apa kamu bercanda, melemparkan bola ke dalam ring basket dari jarak dekat saja tidak bisa, sekarang berniat melakukan lemparan dari wilayah 3 poin jelas akan gagal lah. Dari mana datangnya 3 cecunguk ini jika kalian tidak bisa bermain basket lebih baik diam.
"Kalian tidak pantas bermain basket" Gege dengan kesal merebut bola basket dari tangan Brian.
"Serahkan bola kami..." saut Brian.
"Apa bola kalian... Lapangan ini hanya di gunakan oleh tim resmi seperti kita, bukan para cecunguk seperti kalian, ambilah jika kalian bisa" Gege melemparkan bola basket ke temannya, dengan cepat bola basket beralih ke teman satunya yang lain.
Niatan Gege dan anggota tim resmi lainya sangat jelas yaitu mempermainkan Jo, Alim dan Brian.
Melihat perseteruan di antara mereka banyak orang mulai berdatangan untuk melihatnya.
"Wow... sepertinya ada pertunjukan yang bagus..."
"hahaha... lucu sekali...."
"Kasihan sekali ketiganya..."
Kinar dan ketiga temannya yang melakukan latihan cheerleader tidak berharap melihat tim basket resmi dan anak-anak aneh memperebutkan bola basket. lalu tatapannya menuju ke arah Lisin yang berdiam di bagian luar kotak.
"Lisin... akhirnya aku bertemu lagi denganmu" Kinar tersenyum cantik.
"Kinar... apa dia pemuda yang beberapa hari lalu balapan dengan pangeran"
"Ya... sepertinya dia memiliki teman-temannya sedikit kesulitan"
"Kasian sekali ketiga orang itu..."
"Kinar kamu harus menghentikan mereka..."
Kinar mengangguk sebagai tanggapan, lalu pergi menghampiri mereka semua, dengan niatan membuat tim resmi agar berhenti mempermainkan ketiganya.
"Kembalikan..." Jo, Alim dan Brian kesulitan saat berniat merebut bola dari tim basket resmi.
"Jika hanya ini kemampuan kalian, lebih baik tidak bermain bola basket... karena bola basket adalah olahraga untuk mereka yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata" Kelima tim basket resmi tertawa keras.
Brian, Alim dan Jo sangat tertekan, bukan hanya tidak pandai bermain bola basket, namun mereka juga memiliki tinggi badan rata-rata.
Kemudian ketiganya sangat senang saat melihat Lisin dengan mudahnya merebut bola basket dari tangan Gege. Seperti biasa Lisin selalu bisa di andalkan.
"Mengapa kita tidak melakukan pertandingan bola basket..." Lisin berjalan lalu berdiri di depan Jo, Alim dan Brian sambil menatap kelima anggota tim basket resmi.
Gege sedikit terkejut dan bingung karena balo basket yang tadinya ada di tangannya secara tidak sadar di rebut oleh Lisin.
"Sialan... Kalian berempat ingin bertanding bola basket dengan kita" Gege berkata dengan marah.
"Benar..." Lisin mengangguk.
"Bertanding..."
"Bertanding..."
"Bertanding..."
Tanpa di sadari banyak penonton memenuhi tempat duduk, kebanyakan di antaranya adalah mahasiswa dan mahasiswi yang kebetulan lewat.
"Hentikan..." Kinar datang di ikuti Nana, Lili dan Ririn.
"Kinar... Kita hanya berlatih bola basket, salahkan dia karena menantang kita untuk melakukan pertandingan" Gege berkata dengan ramah.
"Gege... apa kamu pikir aku tidak melihat kelakuan kalian, Jika kalian tidak mempermainkan ketiganya Lisin tidak akan berkata seperti itu" Kinar langsung memarahi Tim resmi kemudian dengan lembut menyarankan Lisin agar tidak terpancing oleh Tim resmi.
Sial... Mengapa kami di marahi sedangkan dia di sanjung, apakah Kinar suka dengan pemuda ini, sial aku harus memberinya pelajaran.
Gege sangat marah, dirinya sudah mengejar Kinar sejak lama namun cintanya bertepuk sebelah tangan, melihat kedekatan Kinar dan Lisin membuat api cemburu yang ada di hati Gege membara, jika Lisin tidak di beri pelajaran maka hatinya tidak akan tenang.
__ADS_1
"Kalian tidak apa-apa?" Nana, Lili dan Ririn bertanya ke arah ketiganya.
"Aku tidak apa-apa..." Jawab Alim dengan malu, dirinya tidak berharap bisa berbicara dengan Nana.
"Ini karena kita belum melakukan pemanasan lebih awal..." Brian bertindak kuat di depan Ririn.
"Benar kita bertiga belum menunjukkan kemampuan kita yang sebenarnya..." Jo yang menatap Lili berkata dengan sungguh-sungguh.
Gege yang mendengar perkataan ketiga cecunguk semakin kesal, ketiganya jelas-jelas tidak bisa bermain basket namun bilang belum mengeluarkan semua kemampuannya, Jika Gege tidak marah dengan perkataan ketiganya itu berarti dirinya tunarungu.
"Kinar... lihatlah sendiri, karena mereka belum mengeluarkan kemampuan mereka yang sesungguhnya kenapa kita melakukan pertandingan seperti yang disarankannya" Gege berkata sambil melihat ke arah Lisin.
"Mengapa tidak..." Jawab Lisin lalu lengannya di tarik oleh Kinar.
"Lisin kamu serius?" tanya Kinar.
Lisin mengangguk kemudian melihat kearah Jo, Alim dan Brian. "Buktikan jika kalian kalian bisa..."
"Katakan isi hati kalian sebelum terlambat, tunjukan jika kalian bertiga adalah laki-laki sejati" Lisin berkata sambil menatap mata ke tiga temannya.
Kata-kata Lisin seperti matahari setelah hujan lebat, Ketiganya langsung menatap gadis yang mereka sukai.
"Nana... Sejak aku bertemu denganmu aku... aku suka dengan dada kecilmu" Alim berkata sambil menatap Nana.
Sial... mengapa kamu menambahkan dada kecil dengan seenaknya. jangankan orang lain Lisin saja sangat kesal dengannya.
"Benarkah..." Nana yang malu menjadi terkejut, dia memang memiliki Dada kecil ini seperti beban baginya dan siapa sangka ada orang yang suka dengan kekurangannya, apakah ini yang di sebut jodoh.
"Lili... kamu berbeda dengan wanita yang selama ini aku temui, aku... aku suka dengan kaki panjang mu" Jo dengan tekadnya menembak Lili.
"Benarkah..." Lili sangat bingung, banyak orang yang menatap kaki panjangnya secara diam-diam, dan ini kali pertama jika ada orang lain yang menyukai kaki panjangnya tersebut.
"Ririn... Aku suka pantat besar mu" Brian berkata dengan tulus.
Semua orang yang mendengarnya hampir muntah darah, Lisin tidak terkecuali di antaranya.
Sial... Teman-teman jujur boleh-boleh saja namun tidak harus menggunakannya untuk mengungkapkan perasaan terhadap seorang wanita.
"Benarkah..." Ririn hampir menangis, banyak orang yang mengolok-oloknya karena memiliki pantat yang besar, siapa sangka ada orang yang tidak mengolok pantatnya melainkan menyukainya.
"Maukah kamu menjadi pacarku?" Jo, Alim dan Brian berkata bersama-sama.
Nana... Lili... Ririn... terdiam.
Walaupun penampilan dari ketiga orang yang menembaknya cukup rata-rata namun kejujuran dari mereka bertiga membuatnya tersentuh.
Jika menolaknya sekarang apakah nanti akan bertemu dengan orang jujur seperti mereka mereka lagi.
Gege dan keempat anggota tim resmi sangat marah sekaligus tertekan. mereka semua adalah jomblo sejati khususnya Gege, walaupun dirinya populer di bidang olahraga basket namun jika dalam percintaan dirinya selalu gagal, yang lainya tidak jauh berbeda.
"Baiklah... kita lakukan pertandingan basket..." Lisin berkata kemudian melihat Jo, Alim dan Brian.
"Kalian... entah kalian menang atau kalah kita bisa melakukan kencan setelah pertandingan kalian" Mendengar kata kencan Ketiga seperti akan menangis kapan saja.
Berapa lama ketiganya tidak melakukan kencan, itu spesial sebuah perjalanan jauh di gurun pasir yang sangat panas, ketika mereka bertiga bertemu dengan danau air bagaimana mereka tidak bahagia.
"Tunggu dulu... kalian hanya berempat, sepertinya kita harus mengurangi satu orang untuk bermain seimbang" Gege berkata dengan senyuman, walaupun jumlah pemainnya sama Gege yakin jika timnya akan menjadi pemenangnya.
"Tidak perlu... jika kalian kalah, hanya akan menggunakan kekurangan pemain sebagai alasan" Lisin berkata dengan santai namun bagi mereka itu seperti penghinaan.
"Baiklah jangan salahkan kami jika tidak mengenal belas kasihan..." Gege mendengus dingin.
Kedua tim masing-masing membentuk lingkaran kecil untuk berembuk, agar jalannya pertandingan menjadi adil dan tidak ada yang di rugikan ataupun di untungkan Kinar mendatangkan seorang wasit yang pengalaman di bidang basket.
Tim Serigala.
"Apa kalian siap?" Gege bertanya dengan dingin seolah akan memasuki medan perang.
"Kami siap..." Keempat lainnya menjawab seperti seorang prajurit yang siap mati di medan pertempuran.
"Kita hancurkan para cecunguk itu agar mengerti siapa kita..." Gege berkata dengan penuh tekad.
"Tim Serigala... "
"Merdeka... "
"Tim Serigala..."
"Merdeka..."
Melihat keadaan Tim Lawan yang begitu bersemangat Jo, Alim dan Brian menelan seteguk ludah.
Ketiganya sangat jelas dengan kemampuan pihak lawan yang sudah mengikuti kompetensi tingkat nasional.
"Apakah kalian takut..." Lisin bertanya.
"Sedikit..." ketiganya mengaku tidak berdaya.
"Kalian adalah temanku, seorang laki-laki sejati, Jika kalian takut dengan mereka, apa yang kalian banggakan di depan belahan jiwa kalian"
__ADS_1
"Ini bukan kalah atau menang melainkan siapa yang memiliki tekad yang kuat, aku percaya jika kalian bermain dengan sungguh-sungguh kalian pasti akan memenangkan pertandingan basket ini"
Ketiganya masih tetap terdiam.
"Bayangkan setelah kalian melakukan pertandingan, kalian akan memiliki kesempatan untuk berkencan dengan pujaan hati kalian, jika kalian beruntung kalian akan berakhir dengan pujaan kalian di hotel, bayangkan kalian akan melakukan itu dengan seorang wanita sungguhan bukanlah sabun berlubang"
Kata-kata Lisin membuat ketiganya memiliki semangat juang tinggi, sekarang ketiganya tidak takut dengan rintangan yang ada di depan.
Lautan api akan diseberangi, puncak gunung pisau akan di lalui.
"Baiklah Tim kita pasti akan menang..."
"Benar kita harus menang..."
"Lisin kamu akan mejadi kaptennya..." Atas saran Brian keduanya mengangguk, sedangkan Lisin hanya bisa menerimanya.
"Kalian bertiga ambil ini..." Lisin memberikan 3 pil yang sebelumnya dirinya beli dari toko sistem.
"Apa ini..."
"Mencurigakan..."
"Itu pasti pahit..."
"Dengarkan... dengan ini kalian akan memiliki kemampuan seperti lompatan super, kecepatan super, setidaknya kalian akan memiliki kekuatan di atas batas manusia" pil yang Lisin beli dengan harga 10 juta tiap pil, hanya memiliki efek 1 jam.
"Kalian hanya perlu fokus dengan mencetak angka untuk urusan belakang serahkan padaku..."
Ketiganya masing-masing mengambil satu pil lalu menelannya.
"Bro Lisin... kami percaya dengan mu" Ketiganya pergi ke bagian belakang posisi lawan tepatnya daerah bagian belakang dekat dengan ranjang.
Lisin seorang berdiri di posisi tengah berhadapan langsung dengan Gege yang menatapnya penuh dengan kebencian.
Wasit memegang bola basket bersiap melemparkan ke atas. Lisin melihat kembali ke arah ketiga temannya yang di jaga satu lawan satu sedangkan dua lainnya termasuk Gege menjaga Lisin dari depan dan belakang.
Sungguh situasi yang cukup sulit.
Tim Serigala.
Yang menjaga Alim adalah pemain dengan posisi Point Guard. Pemain yang mengisi posisi point guard adalah pemain dengan kemampuan menggiring bola dan mengumpan yang baik.
Kemampuan seorang point guard akan lebih banyak diukur berdasarkan jumlah assist (umpan yang menghasilkan poin) daripada poin yang dia cetak.
Tugas utama seorang point guard adalah mengatur serangan timnya dengan mengontrol bola dan memberikan umpan kepada pemain lain pada saat yang tepat untuk mencetak poin.
Dalam situasi bertahan, tugas point guard adalah berperan sebagai lapisan pertama pertahanan. Selain itu, point guard juga memiliki tugas untuk mencuri bola dari lawan.
Berikutnya yang menjaga Jo adalah pemain dengan posisi Power Forward. Salah satu tugas utama power forward adalah menangkap bola yang memantul dari ring (rebound) baik dalam keadaan bertahan maupun menyerang.
seorang power forward akan banyak bergerak di dekat (bawah) ring untuk menembak dari jarak dekat atau memaksa lawan membuat pelanggaran (foul) atas dirinya.
Berikutnya Yang menjaga Brian adalah pemain dengan posisi Center. Posisi ini ditempati oleh pemain dengan tubuh terbesar atau tertinggi di tim yang mengambil posisi di area garis tembakan bebas (free-throw line).
Tugas pokok seorang pemain center dalam bola basket adalah membendung tembakan lawan, menyusup pertahanan lawan, dan menjaga daerah pertahanan.
Salah satu kemampuan yang wajib dimiliki oleh center adalah memanfaatkan punggungnya untuk menghalangi lawan dan menangkap bola pantul yang tidak masuk ke ring (rebound).
Dengan posturnya yang tinggi dan besar, center bertugas untuk menghalangi lawan ketika ingin mencetak poin.
Berikutnya yang menjaga Lisin dari belakang adalah pemain dengan posisi Shooting Guard. Pemain yang menempati posisi ini umumnya adalah seorang penembak yang baik dari garis perimeter (daerah sekitar batas garis tiga angka).
Seorang shooting guard harus memiliki kreativitas dan kemampuan menembak yang baik dari berbagai posisi.
Untuk yang terakhir yang berhadapan dengan Lisin yaitu Gege, pemain dengan posisi Small forward. Pemain yang menghuni posisi small forward harus bermain agresif dan kuat, bisa melakukan dribble secara lincah, serta mampu mencetak poin.
Tugas small forward adalah menolong dan mengambil peran point guard yang berada dalam tekanan lawan. Sementara dalam situasi bertahan, small forward harus bisa menjaga lawan yang menempati posisi (shooting guard) atau (small forward) itu sendiri.
Lisin yang sebelumnya menggunakan kartu keterampilan Master olahraga, secara tiba-tiba memiliki pemahaman tentang beberapa posisi yang ada dalam permainan bola basket.
Wasit yang melemparkan bola ke atas menandakan di mulainya pertandingan.
Gege melompat setinggi mungkin kemudian menangkap bola, lalu dengan lihai memantulkan bola ke lantai yang biasa di sebut dengan dribble.
Gege berhadapan satu lawan satu dengan Lisin yang terus diam, kemudian berniat melewati Lisin.
"Apa... " Gege yang sudah melewati Lisin dan berniat mencetak angka terkejut saat mengetahui jika bola yang ada di tangannya menghilang.
"Sial... sejak kapan..." Gege tertekan.
Lisin yang memegang bola melihat ke arah Jo, Alim, dan Brian yang di jaga dengan ketat.
Sepertinya aku harus melakukan lemparan 3 Angka.
Sebelum Lisin mencetak angka dari wilayah 3 angka, Brian yang ada di bawah ring basket melompat tinggi, bahkan pemain center yang menjaganya kalah dalam hal lompatan.
Brian takut setengah mati, bagaimana dirinya bisa melompat begitu tinggi, sebelum Brian memikirkan pil aneh dari Lisin, kepalanya membentur bagian belakang ring basket.
"Ahhhh... " Brian langsung terjatuh ke bawah sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
Bersambung...