Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 78


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit tertentu yang ada di kota malang, berada di bangsal VIP seorang pasien kurang tampan dalam kondisi yang menyedikan memiliki hampir seluruh tubuhnya terperban secara merata.


"Ahhh... Jangan sentuh Itu Ma..."


Pasien tersebut adalah Vito yang sebelumnya mengenakan cadar dengan selusin preman mencoba memberi Pangeran pelajaran.


Hanya saja siapa yang berharap orang lain yaitu Lisin akan membatu Pangeran. Vito yang melihat Lisin menghabisi selusin preman hanya bisa menelan seteguk ludah.


Bagaimana tidak, karena hanya ada satu kata untuk menggambarkan tindakan Lisin yaitu brutal.


"Anaku... tersayang siapa orang yang melakukan ini terhadapmu?... Jika Mama tidak membalas dendam, Mama tidak akan tenang" Wanita gemuk dengan marah memukul lengan anaknya yang memiliki perban.


"Ahhhh... Mama jangan sentuh itu" Vito berteriak kesakitan.


"Maaf... Mama tidak sengaja" Wanita gemuk meminta maaf dengan khawatir.


Wanita gemuk tersebut memiliki penampilan meriah seperti pasar malam. Lehernya hampir tak terlihat karena banyaknya lemak membandel.


Sedangkan hampir pada bagian tangan, leher, kaki, dan telinga di penuhi dengan tumpukan emas yang berkilau seperti lampu pasar malam. Untuk pakaian yang dikenakannya sepertinya ukuran 10XL sungguh ukuran yang fantastik.


"Katakan Vito sayang... siapa yang melakukannya?"


"Dia Lisin Ma... sepertinya dia seorang sopir"


Pendapat Vito tentang Lisin adalah Seorang sopir. Awalnya Vito menduga jika Lisin adalah anak orang kaya karena Mobilnya Mercedes Benz GL 400, namun Vito membatalkan dugaan tersebut.


Karena menurutnya Lisin itu orang miskin yang kerjaannya sopir dan dugaannya semakin kuat ketika Lisin memasuki universitas negeri malang, dan tinggal di asrama bersama anak-anak miskin lainnya.


Dengan mengandalkan temannya yang ada di Universitas tersebut ternyata dugaannya benar. Lisin berasal dari salah satu desa yang ada di kota banyuwangi dan orang tuanya hanya buruh bangunan.


Jelas Lisin tidak dapat di bandingkan dengan dirinya yang seorang anak dari komandan kepolisian.


"Dia hanya sopir... dan berani melukai anakku..." Wanita gemuk mendengus dingin.


"Dia sekarang berteman dengan Pangeran Ma..." Vito berkata dengan penuh kebencian.


"Maksudnya Pangeran... pewaris tunggal dari keluarga Wijaya?" Wanita gemuk berkata dengan heran.


Keluarga Wijaya salah satu keluarga kaya yang kedudukan di dunia bisnis lebih rendah dari keluarga Irawan. namun tidak ada yang berani memandang rendah aset kekayaan keluarga Wijaya. terutama di kota malang.


"Bagaimana bisa dia berteman dengan Pewaris tunggal keluarga Wijaya..."


"Ceritanya panjang Ma..." Vito menceritakan saat pertama kali dirinya bertemu Lisin, melakukan balapan dan berakhir dengan keadaannya saat ini.


Di bandingkan dengan keluarga Wijaya keluarga Vito tidak layak di sebutkan, karena ayahnya hanya Komandan kepolisian. akan tetapi keluarga dari pihak ibunya adalah keluarga yang memiliki hubungan dengan seniman beladiri dan pejuang Budidaya.


"Lisin sepertinya seniman beladiri jika Mama menggunakan selusin preman maka kita akan mengulang kekalahan yang sama..."


"Jika Lisin Ahli seni beladiri maka Mama bisa meminta bantuan dari Pamanmu yang seorang Pejuang Budidaya..." Wanita gemuk itu memiliki kedua mata yang ganas seolah ingin memakan orang kapan saja.


"Jika itu paman Pawana maka Lisin akan berakhir mengenaskan..." Sudut mulut Vito terangkat.


"Tapi Ma... bagaimana kita menghubungi paman Pawana, bukankah perguruan yang di ikuti paman tidak terhubung dengan dunia luar?" Mendengar perkataan Anaknya, wanita gemuk tersebut tidak menurunkan senyumannya.


"Kebetulan pamanmu Pawana baru saja melakukan kontak dengan Mama... Sepertinya nasib buruk sedang mengikuti Lisin... Hahaha..." Baik anak dan orang tuanya tertawa lepas.


.....


Lisin terbangun dari tidurnya...


"Lisin cepat bangun..." Brian yang duduk di sebelahnya membangunkan Lisin.


"Apakah sudah Pagi?..." Lisin bertanya sambil perlahan membuka kedua matanya.


"Lisin... kita sedang di dalam kelas, dan Dosen Mirna memanggil namamu lebih dari sekali..." Penjelasan dari Brian membuat Lisin tersadar.


Setelah membereskan orang-orang bercadar yang di pimpin oleh Vito Lisin berpisah dengan pangeran dan lebih memilih kembali ke asrama.


Tanpa sadar waktu berlalu dan Lisin berakhir dengan mengikuti kelas pagi Dosen Mirna.


"Lisin... setelah mata kuliah selesai pergilah ke kantorku..." Dosen Mirna yang melihat Lisin terbangun dari tidurnya berkata dengan datar.


"Baiklah..." Lisin menyanggupi sambil menguap.


Sedangkan Mahasiswa lainnya


mendengar perkataan Dosen Mirna menjadi bingung.


Sial apakah ini Dosen killer yang kita kenal, mengapa dia tidak memarahi Lisin yang tertidur di dalam kelas. melainkan menyuruh Lisin bertemu di kantornya.


Banyak mahasiswa saling memandang satu sama lain kemudian berspekulasi yang tidak-tidak. teruntuk Alim, Jo dan Brian, walaupun ketiganya sudah tidak lagi menjomblo tetap saja rasa iri dengan Lisin tidak hilang.


"Sialan... Bro Lisin yang tidur di kelas, di minta menemani Dosen Mirna di kantornya..." Jo berkata tidak puas.


"Apa yang akan mereka lakukan berduaan di dalam satu ruangan?..." Alim bertanya dengan heran.


"Tentu saja melakukan begituan... Apa lagi jika laki-laki dan perempuan berada di dalam satu ruangan... Aku ingat since film jav kebanyakan seperti itu" Brian berkata dengan menggerakkan gigi.


"Sial... Bikin iri saja..." Jo berkata cemberut.


"Benar... aku tidak sanggup membayangkannya..." Alim mendesah.


Lisin mendengar ketiganya yang berbisik dengan hanya menggeleng lalu membuat usulan.


"Kenapa kalian bertiga tidak ikut denganku juga..." Lisin berbisik kepada ketiganya.

__ADS_1


"Benarkah apakah boleh?!!!..." Ketiganya bersemangat.


"Bagaimana caranya?" Alim bertanya.


"Caranya ya... kalian harus tidur di kelas, mungkin saja Dosen Mirna akan menyuruh kalian semua pergi ke kantornya bersamaku"


Perkataan Lisin seperti segelas air minum ketika ketiganya tersesat di gurun Sahara. Bagaimana mereka tidak tertarik untuk meminumnya.


"Kalau begitu aku akan tidur juga..."


"Aku juga..."


"Sama..."


Suara dengkuran langsung memenuhi kelas... Alunan jaranan yang entah dari mana mengusik pendengaran semua orang.


Dosen Mirna menulis di papan tulis yang ada di depan tidak lagi fokus karena suara dengkuran dari ketiganya sangat mengganggu.


"Siapa yang mendengkur?..." Semua mahasiswa yang ada di dalam kelas langsung menunjuk ke arah Jo, Alim dan Brian yang sedang tertidur.


"Mahasiswa Briansya..."


"Mahasiswa Aliman..."


"Mahasiswa Johan..."


Dosen Mirna sangat kesal... mengapa saat dirinya memberikan mata kuliah ada mahasiswa yang tertidur.


"Siap..." Brian, Alim dan Jo dengan bersemangat berdiri dari tempat duduknya. sambil mengusap air liur yang menetes dari sudut mulutnya.


Ketiganya sangat senang mendapatkan panggil dari Dosen Mirna, banyak hal yang terlintas di benak mereka dan itu membuat ketiganya semakin gugup.


Apakah ketiganya akan menemani Lisin ke kantor Dosen Mirna?!!!... Hahaha... Siapa tau...


"Kalian bertiga maju ke depan..." Dosen Mirna berkata dengan dingin.


"Baik..." ketiganya berjalan dengan patuh.


Mengapa kami bertiga di suruh maju lebih dulu dari pada Lisin yang tidur lebih awal... Jangan bilang karena kita istimewa, benar pasti seperti itu.


Brian, Alim dan Jo maju ke depan dengan semangat juang yang tinggi. membusungkan dada, berjalan tegak, mengangkat kepala tinggi-tinggi, ketiganya siap di beri hadiah apapun dari Dosen Mirna.


Mana ada dosen yang memberikan hadiah kepada mahasiswanya karena tertidur saat mata kuliah berlangsung.


Apakah mereka bertiga akan mendapatkan hadiah? siapa yang tau.


Ketiganya melihat kearah Lisin dengan senyuman sinis, dalam hati mereka bertiga berkata.


Bro Lisin... Sepertinya kita bertiga akan melakukannya lebih awal, dan kamu harus menunggu giliran setelah kita.


"Apa!!!..."


Ketiganya tidak percaya dengan apa yang telinga mereka dengar. madu yang di harapkan namun racun yang mereka dapatkan, bagaimana ketiganya bisa menerimanya.


"Bu Dosen... mengapa giliran kita bertiga yang tidur mendapatkan hukuman, sedangkan Lisin yang tidur juga, tidak mendapatkan hukuman melainkan mendapatkan yang enak-enak" Brian berkata dengan hati-hati karena takut menyinggung Dosen Mirna, sedangkan Jo dan Alim mengangguk bersama.


"Siapa yang mendapatkan enak-enak... Apakah kalian ingin mendapatkan tambahan hukuman?" Brian, Jo dan Alim ketakutan.


"Lisin itu pintar... jikapun dia tidur selama mata kuliah berlangsung, itu tidak masalah. sedangkan kalian bertiga... selama kalian menyelesaikan soal yang ada di papan tulis kalian tidak akan mendapatkan hukuman lari mengelilingi lapangan"


Ketiganya melihat soal yang ada di papan tulis langsung pusing kepala, ini soal apa papan reklame kenapa banyak sekali pertanyaan di sana.


"Dosen Mirna... Lalu mengapa Anda meminta Lisin untuk datang ke kantor Dosen Mirna setelah mata kuliah selesai, kami hanya ingin tau itu saja..." Jo berkata dengan rasa iri dan cemburu di hatinya.


"Ada sesuatu yang aku lakukan dengan Lisin hingga malam" Dosen Mirna berkata dengan dingin.


Hingga malam?!!!...


Sial... bro Lisin kamu penghianat, bukankah kamu bilang hanya 5 menit, lalu apa maksudnya hingga malam.


ketiganya melihat kearah Lisin yang tidak mengerti apa-apa dengan tatapan ganas.


"Cepat pilih, mengerjakan soal di papan tulis, atau berlari keliling lapangan sebanyak 10 putaran?..."


"Kami pilih berlari..." Ketiganya dengan menyedihkan memilih untuk berlari keliling lapangan sebanyak 10 putaran.


Mata kuliah berlanjut Lisin yang melihat ketiganya mendapatkan hukuman tidak berdaya. Lalu tatapan Lisin melihat ke arah Dosen Mirna.


Lisin sedikit bingung, mengapa Dosen Mirna baik kepada dirinya. apakah Dosen Mirna salah minum obat.


Tunggu dulu bukannya dia memintaku menemuinya setelah mata kuliah berakhir. Apa yang diinginkannya dariku.


Dengan begitu mata kuliah berakhir, Lisin berjalan melalui koridor kampus saat dirinya melihat keluar jendela dari lantai dua, dirinya bisa melihat ketiga temannya berlarian mengelilingi lapangan.


Setelah melewati beberapa belokan Lisin melihat pintu ruangan dengan nama Dosen Mirna.


"Permisi..."


Lisin menelan seteguk ludah, walaupun dirinya sudah terbiasa dengan banyak keindahan, kali ini Lisin harus mengakui jika Dosen Mirna yang mengenakan kaca mata sangat menggoda.


"Duduklah..."


"Dosen Mirna... Apakah ada sesuatu yang kamu inginkan dariku?..." Lisin yang duduk tidak dapat tenang, dalam ruangan tersebut hanya ada mereka berdua jika dirinya hilang kendali maka kampus ini akan bergoyang ria.


"Apa yang kamu pikirkan?..." Dosen Mirna tidak menjawab melainkan bertanya balik.

__ADS_1


"Aku tidak tau... hanya saja aku merasa jika Dosen Mirna, ingin meminta sesuatu dariku..."


"Apa Hanya itu..."


"Tentu saja..."


Apa lagi memangnya, Apakah kamu ingin bermalam denganku?


"Seperti ini... selain Memberikan mata kuliah sebagai Dosen, aku juga memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit, karena kamu memiliki pemahaman yang cukup. aku akan mengajakmu terjun langsung di lapangan"


"Hal ini sangat bagus agar pengalamanmu di bidang kedokteran menjadi lebih mendalami, karena pengalaman yang sesungguhnya tidak sama dengan apa yang kamu pelajari berdasarkan teori"


Mendalami pengalaman yang sesungguhnya di bidang kedokteran?... Apa yang harus aku dalami lagi tentang kedokteran?...


Dengan kemampuan Dukun kuno aku bisa melakukan teknik pengobatan di luar nalar.


Walaupun aku tidak mendalami ilmu kedokteran modern seperti operasi penggunaan pisau bedah dan alat-alat kedokteran modern lainya. setidaknya dengan bantuan sistem dan kemampuan dukun kuno, tidak ada yang tidak bisa aku sembuhkan.


"Jadi ini yang di maksud kita akan melakukan hingga malam?" Lisin bertanya canggung.


"Apakah kamu mengharapkan sesuatu yang lain?!!!..." Dosen Mirna berkata dengan bingung.


"Tidak ada..." Lisin ingin berkata jika dirinya mengharapkan kampus bergoyang namun langsung membatalkannya.


Keduanya pergi menggunakan honda jazz milik Dosen Mirna, dengan cepat berhenti di salah satu rumah sakit swasta yang ada di kota malang.


"Kita akan berada di UGD hingga malam" Dosen Mirna menjelaskan kemudian mengenakan jas putih yang biasa di kenakan dokter.


"Kamu bisa menggunakan ini juga... di sini kamu bisa memanggil namaku" Mirna menyerahkan Jas putih juga kepada Lisin.


"Baiklah..." Lisin langsung mengenakan jas putih. Di tambah dengan wajahnya yang tampan belum lagi tinggi dan bentuk tubuhnya yang sempurna. Lisin bisa di bilang dokter yang mempesona.


"Mengapa kamu melihatku seperti itu..." Lisin yang melihat Mirna yang menatap dirinya bertanya.


"Tidak ada... kalau begitu ikuti aku..." Mirna memimpin jalan.


Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu unit dalam rumah sakit yang menyediakan penanganan awal pasien, sesuai dengan tingkat kegawatannya.


"Dokter Mirna, Kamu bertugas hari ini aku bisa menemanimu..." seorang pemuda dengan perawakan lebih tua menyapa Mirna dengan senyuman, dan saat dia melihat Lisin yang ada di belakang Mirna kedua alis pemuda tersebut berkerut.


"Dokter Mirna siapa dia?..." tanya pemuda tersebut.


"Dia dokter yang akan menemaniku hari ini..." Mirna menjelaskan dengan dingin.


Alasan lain mengapa Mirna mengajak Lisin untuk datang bersamanya adalah untuk menggunakannya sebagai perisai saat bertemu dengan pengejarnya.


Lisin yang memahami maksud dan tujuan Mirna tidak marah hanya tersenyum dan mulai bertidak seperti seorang dokter pada umumnya.


"Salam kenal... saya Dokter Lisin, yang akan menemani Dokter Mirna hingga malam..."


"Saya Dokter Rahmat..." Bagaimana Rahmat bisa senang melihat pujaan hatinya dekat dengan seseorang.


Dia dokter... mengapa sangat mudah?


"Dokter Lisin bisa melihat lisensi kedokteran anda... ini hanya untuk formalitas yang ada di rumah sakit ini" Rahmat tersenyum, dirinya menduga jika Lisin bukanlah Dokter yang sesungguhnya.


"Maaf... saya tidak membawa lisensi kedokteran... jika menginginkan bukti saya bisa mengatakan tentang kondisi anda" Lisin tersenyum.


"Kondisiku..." Rahmat bingung.


"Benar... kondisi anda cukup serius, anda memiliki kerusakan ginjal dan itu membuat anda tidak puas dengan kinerja ranjang anda, jika anda tidak sibuk anda bisa melakukan pemeriksaan"


Rahmat terkejut. dia baru saja melakukan pemeriksaan dan apa yang Lisin katakan tidaklah salah.


"Sialan... jangan asal bicara" Rahmat berkeringat dingin, dirinya tidak berharap jika pihak lain bisa langsung melihat kondisinya, apakah pihak lain dukun yang bisa melakukan penerawangan.


"Sudah hentikan... Ruangan UGD banyak orang berdatangan..." Mirna menghentikan perdebatan keduanya.


"Dok... Tolong dok... Lebih dari seratus orang yang menghadiri resepsi pernikahan mengalami sakit perut, mual dan pucat..." Keluarga pasien berkata dengan panik.


Dapat di lihat beberapa mobil berdatangan, kemudian lebih dari seratus tamu undangan mengalami gejala yang sama.


"Harap tenang ini hanya gejala sakit perut biasa jika mengikuti resep obat dari ku... kalian akan kembali normal" Rahmat berkata dengan senyum pepsodent.


"Tidak ini bukan sakit perut biasa... ini adalah keracunan makan"


"Apa!!!..."


Semua orang melihat ke arah Lisin yang melakukan pemeriksaan terhadap salah satu pasien yang tergeletak di lantai, karena ruang UGD tidak dapat memuat semua pasien.


"Sialan... aku lebih senior, kamu dokter yang tidak jelas Lebih baik pergi"


"Kamu..." melihat Rahmat mengusirnya Lisin sedikit tertekan, memang benar dirinya bukan dokter resmi. namun dirinya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan pasien.


(Ding...)


(Tugas sistem terpicu tuan rumah harus bisa menyelamatkan semua pasien yang keracunan makanan kadaluwarsa. Jika tuan rumah tidak cepat-cepat melakukan pertolongan kepada pasien maka pasien akan mati)


Sial...


Bersambung...


*Mampir juga Novel baru author yang berjudul "SISTEM KERUGIAN"


*Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2