Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 125


__ADS_3


Lisin tidak memiliki dendam mendalam kepada keluarga-keluarga yang minta maaf kepada dirinya. karena pihak lain berinisiatif meminta maaf, Apa salahnya memaafkan mereka.


Lisin melihat kearah Seno yang menghampiri Ayahnya dan berniat pergi, karena Pertarungan menantu sudah selesai dan dirinya tidak ada urusan lagi.


"Mengapa kamu pergi?... Apakah kamu tidak ingin Aku menyembuhkan penyakit aneh Ayahmu?..." Lisin menghampiri Seno di bawah tatapan semua orang.


Seno membulatkan matanya karena terkejut.


Mengapa dia masih ingin mengobati penyakit aneh ayahku, padahal aku sudah berbuat salah dengan menghinanya dan Berniat ingin mempermalukannya.


Ternyata Aku yang selama ini menjadi katak di dalam sumur.


Dia seumuran denganku dengan segudang kelebihan. namun, dia tidak pernah merendahkan siapapun dan juga tidak sombong. sedangkan aku, Sebagai penerus keluarga Sasongko dengan seni bela diri yang tidak seberapa dibandingkan dengannya, menjadi begitu Sombong.


Hari ini aku mengerti apa itu rasa malu dan mengerti jika Hidup ini kadang terbalik. Yang luar biasa berlagak biasa saja dan yang biasa malah berlagak luar biasa.


"Lisin... Jika kamu bisa menyembuhkan penyakit aneh ayahku... Aku tidak masalah melakukan apapun yang kamu suruh... Aku juga tidak akan mengejar Nagisa lagi" Seno berlutut di bawah tatapan semua orang.


Bahkan Nagisa yang tidak suka dengan Seno sejak lama, dirinya merasa bersimpati terhadap kondisi Seno dan Ayahnya.


Sedangkan semua keluarga seni bela diri yang melihat kejadian tersebut, tidak mencela tindakan seorang laki-laki yang berlutut di depan umum, melainkan meraka sangat salut tentang tindakan Seno Sasongko tersebut. Demi orang tuanya, Seno rela berlutut di depan umum.


"Ehm... Aku akan menyembuhkan penyakit aneh ayahmu, dan aku tidak akan menyuruhmu melakukan apapun..." Lisin berkata dengan tersenyum.


Seno terdiam, dirinya tidak berharap jika Lisin tidak akan menyuruhnya melakukan apapun, padahal dirinya sudah siap jika Lisin menyuruhnya seperti seekor anjing.


"Mengapa kita tidak menjadi teman..." Lisin menambahkan.


Dari kejauhan pemuda lain mendekati Seno dan membantunya untuk berdiri.


"Pangeran..." Seno berkat dengan malu.


Dirinya juga berteman dengan Pangeran dan sebelumnya dirinya mencemooh keputusan pangeran dan berpikir jika pangeran pengecut.


Namun dirinya salah, Seno sangat iri dengan pangeran karena berteman dengan Lisin. sedangkan dirinya, bukannya berinisiatif untuk berteman melainkan menantangnya.


"Kamu temanku... itu berarti teman Lisin juga, bukankah begitu Lisin?..." Pangeran berkata dengan tersenyum.


"Ya... Kamu bisa menganggapnya seperti itu..." Lisin menambahkan.


Semua orang yang melihatnya hanya bisa mengangguk.


Karena semuanya sudah berakhir, semua keluarga senin bela diri juga tidak memiliki keberatan lagi, semua masalah terselesaikan dengan kebahagiaan.


Karena Keluarga irawan menjadi tuan rumah, mereka semuanya mendapatkan hidangan makanan yang di suguhkan oleh keluarga irawan.


"Lisin kapan kamu akan memperlakukan Ayahku?..." Kali ini Seno berkata dengan nada Hormat.


"Secepatnya... Masalah penyakit aneh ayahmu hanya bisa di sembuhkan di rumah sakit tertentu yang ada di jakarta" Mendengar penjelasan Lisin, membuat Seno bingung.


Mengapa harus di jakarta?...


Seno tidak bertanya lagi setelah bertukar nomor ponsel dirinya langsung pergi dengan Ayahnya, dan keduanya langsung pergi ke bandara Ngurah Rai dengan tujuan Jakarta.


Lisin berpamitan kesemua orang dan Langsung pergi setelah melakukan makan bersama.


"Mengapa kamu ikut juga?..." Dalam perjalanan ke bandara dengan diantarkan Wolf, Nagisa ikut dengan Lisin.

__ADS_1


"Tentu saja Aku akan pergi ke jakarta denganmu, Aku akan melindungi mu dari para pelakor yang gatal" Nagisa menambahkan.


"Ya... Ya... Terserah kamu..." Lisin berkata dengan tidak berdaya.


"Wolf kamu tau kan tugasmu setelah ini?..." Lisin bertanya kepada Wolf saat akan berpisah di bandara.


"Mengerti tuan Lisin..." Sebelumnya Dalam perjalanan saat menuju kekediaman keluarga irawan, Lisin memberikan tugas jangka panjang.


Wolf harus menemukan mantan pembunuh bayaran dan mantan pasukan khusus, terlepas dari kondisinya, seperti kecacatan fisik dan lain sebagainya.


"Apa yang kalian bicarakan... Jangan bilang jika kamu menyuruhnya untuk menemukan wanita-" Nagisa langsung terdiam karena Lisin menciumnya secara tiba-tiba.


"Me-mengapa kamu tidak bilang ingin mencium ku..." Nagisa bertingkah seperti kucing.


"Bukankah kamu istriku, wajarkan jika aku mencium mu..." Lisin tersenyum, sepertinya malam ini dirinya harus memberi Nagisa pelajaran tentang bagaimana menjadi seorang wanita sesungguhnya.


Dengan begitu keduanya melakukan penerbangan langsung menuju Jakarta.


.....


Malam harinya, Jakarta. Perumahan No.1 Pondok Indah.


"Kamu... Mengapa tidak tidur di kamar lainnya?..." Nagisa berkata dengan panik.


"Bukannya kamu istriku..." Lisin berkata dengan senyuman sambil melihat Nagisa yang panik.


Lagian Nagisa ini ada-ada saja... Sangat jelas jika pihak lain seekor Buaya, Mengapa Nagisa dengan Santai tinggal di kandang Buaya.


"Kapan kita menikah..." Nagisa yang berada di atas kasur berteriak panik saat melihat Lisin yang naik keatas Kasur juga.


"Apa yang ingin kamu lakukan?..." Nagisa yang panik bertanya.


"Maksudnya yang itu?..." Nagisa berkata dengan wajahnya yang memerah.


Sebenarnya dirinya memahami jika akan melakukan itu dengan Lisin cepat atau lambat. Hanya saja Dirinya belum menguatkan hatinya.


"Tidak masalah... Tapi kamu harus mengalahkan ku dalam bermain PlayStation, bagaimana?..." Nagisa berkata bersemangat.


Akhirnya dirinya bisa memperpanjang durasi kesuciannya.


"PlayStation!!!..." Keduanya langsung datang ke ruangan tengah dan Lisin dapat melihat PlayStation 5 di sana dan TV LCD 55in.


"Sejak kapan ada PlayStation 5 di sini?..." Lisin bertanya dengan bingung.


"Aku yang membawanya saat kamu pergi ke Bali sebelumnya..." Nagisa menjelaskan.


"Baiklah... Bagaimana dengan aturannya?..." Lisin dengan tidak berdaya bertanya.


Entah kenapa bukannya dirinya yang memberikan pihak lain pelajaran, malahan dirinya yang menerima pelajaran.


"Selama kamu memenangkan satu permainan dariku maka kamu bisa melakukannya denganku..." Nagisa berkata dengan percaya diri.


"Oke..." Lisin sangat yakin jika dirinya akan dengan mudah memenangkan satu permainan dari seorang wanita,


Hahaha... Sejarah membuktikan jika Laki-laki lebih unggul di bidang permainan di bandingkan wanita.


Lisin tidak tau jika Nagisa tak terkalahkan di bidang permainan.


Game pertama adalah Sepak bola...

__ADS_1


"Sial... Aku kalah..." Lisin sangat tertekan, padahal dirinya memilih klub Barcelona sedangkan Nagisa memilih Tottenham Hotspur namun dirinya kalah.


"Sekali lagi..."


"Oke..."


Berikutnya Lisin memilih klub Manchester United dan Nagisa memilih Manchester City dan berakhir dengan kekalahan Lisin.


"Sial... Sekali lagi..."


"Ok..."


"Hahaha... Pinalti Aku pasti menang..." Karena memiliki akhir seri maka permainan di lanjutkan dengan tendang Pinalti.


"Gol... Hahaha..." Lisin tertawa dengan keras sampai akhirnya Tawa Lisin berhenti saat melihat Nagisa menyamakan kedudukan kemudian Lisin gagal mencetak angka dan berkahir dengan kekalahan Lisin.


"Sial..."


"Masih mau lanjut?..." Nagisa bertanya dengan senyuman.


"Tentu saja..."


Lisin sangat frustasi, Padahal dirinya memiliki skill segala bidang olahraga raga namun siapa sangka jika permainan bukan olahraga.


Sistem sialan... Jelas jelas permainan adalah olahraga jari mengapa Aku tidak begitu pintar bermain PlayStation.


.....


Keesokan paginya...


"Lisin jangan keras-keras..."


"Maaf... aku akan pelan-pelan..."


"Aku tidak menyangka jika kamu bisa bertahan hingga menjelang pagi..."


"Hahaha... Aku selalu bisa di andalkan di bidang apapun..."


"Lisin... Aku sangat mengantuk kita bisa melanjutkannya lagi setelah tidur..."


"Tidak... Kita harus melakukan lagi ke ronde berikutnya..."


"Tapi aku sangat kantuk sekali..."


"Aku pasti menang..."


Keduanya masing-masing memiliki kantung mata menghitam, Lisin dan Nagisa melakukan lembur hingga menjelang pagi. namun, bukan bercocok tanam di atas ranjang melainkan bermain PlayStation.


Nagisa yang tidak kuat menahan rasa kantuk yang kuat langsung tertidur.


"Sialan..."


Lisin sangat kesal, mengapa dirinya tidak bisa mengalahkan Nagisa di bidang permainan PlayStation. Ini pertama kalinya Lisin begitu frustasi. Berniat membuat pihak lain menderita mengapa dirinya sendiri yang di buat menderita.


Bersambung...


*Melihat begitu banyak Readers yang setia dengan novel ini, Author memutuskan untuk melanjutkan lagi.


*Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2