
Tarno ketakutan setengah mati, dirinya berniat memberi pelajaran terhadap Pacar Mirna, namun tidak menyangka situasinya akan berbalik.
Tarno sangat mengenal kedua orang tua Mirna yang matre, jika pacar Mirna lebih kaya darinya maka hal berikutnya dirinya akan di kesampingkan.
Kedatangan kepala Wijaya membuat Tarno senang bukan main, namun siapapun yang berharap jika pacar Mirna dan kepala Wijaya akan saling mengenal.
Belum lagi mengapa kepala Wijaya memberikan Mall pusat pembelanjaan tempat dirinya bekerja secara cuma - cuma kepada pacar Mirna.
Bukankah ini menampar wajahnya secara tidak langsung, dan jika Mall pusat pembelanjaan menjadi Milik pacar Mirna maka dirinya secara otomatis akan menjadi karyawannya.
Mimpi buruk apa ini?
"Mall pusat pembelanjaan sudah menjadi milikku... Kepala manajer, sekertaris pribadi ku akan mengurus serah terima kepemilikan" Lisin memberikan Nomor telepon Nazwa yang menjadi sekertaris dan menggantikan Ningsih.
"Di mengerti pak..." Kepala manajer langsung memahaminya.
Tanpa mengurangi rasa hormat Lisin mengabaikan Kepala Wijaya yang berada di sampingnya dan melihat kearah Tarno yang gemetar ketakutan.
"Bos... Tolong jangan pecat saya..." Tarno langsung bersujud, karena dirinya sadar jika sekarang pacar Mirna adalah atasan barunya yang menjadi pemilik Mall pusat pembelanjaan.
Kepala Wijaya menatap Tarno dengan hina, jelas dirinya memahami apa yang terjadi melalui rekaman CCTV sebelumnya. Tarno ini juga karyawan perusahaan di bidang Obe dan dirinya sadang cuti kerja saat briefing atau pengarahan aturan baru.
Lagian siapa juga yang menyuruh untuk mengejar wanita milik Lisin, Kepala Wijaya juga mengetahui jika Lisin pemilik perusahaan angkasa yang baru - baru ini sedang hangat di bicarakan di kalangan pebisnis.
Belum lagi Lisin seorang seniman bela diri yang kuat juga dermawan keluarga Irawan, juga mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional.
Tarno ini jelas tidak memiliki mata, tidak melihat cermin dengan benar, lihat saja giginya melewati pembatas jalan, apakah dirinya tidak sadar diri ingin bersaing dengan Lisin.
Lisin melihat kearah Tarno yang membungkuk di bawah kakinya, jika dirinya bersama dengan dewi yang naif, mungkin dirinya kesulitan untuk memecat pihak lain.
"Mulai hari ini kamu di pecat... Silakan meninggalkan tempat ini..." Lisin berkata dengan datar.
"Tunggu sebentar..." Tarno berdiri dan berniat pergi namun di hentikan oleh Kepala manajer.
"Kepala manajer apakah ada masalah..." Kepala Wijaya bertanya dengan bingung, mengapa menghentikan pihak lain yang pergi setelah di pecat.
"Tuan Wijaya... Dia meminjam mobil perusahaan, juga segala aksesoris dari jam tangan dan semua yang di kenaikannya. itu produk rusak yang tidak jadi di edarkan, sebenarnya kerjanya hanya seorang Obe. karena wajannya yang menarik jika tidak tersenyum pepsodent, saya meminjamkannya dan menyuruhnya untuk mengurus penyewaan lahan toko..." Kepala manajer menjelaskan merasa bersalah.
Tarno hanya bisa menerima nasibnya dan pergi meninggalkan Mall pusat pembelanjaan dengan Malu.
Ternyata dia sangat miskin dan semua yang di miliknya hanya meminjam, mungkin rumah mewah yang di katakan dirinya kepada kedua orang tua dosen Mirna adalah milik seseorang yang tidak jelas.
__ADS_1
Diam... Setelah kepergian Tarno, Kedua orang tua dosen Mirna meminta maaf dengan malu, tenyata calon menantu pilihan mereka bukanlah orang kaya, dia hanyalah Obe yang tidak tahu diri mengaku sebagai orang kaya.
Kepala Wijaya juga pergi meninggalkan Mall pusat pembelanjaan yang sekarang menjadi milik Lisin dan semua orang sibuk dengan kepentingan mereka masing - masing.
Lisin, Dosen Mirna dan kedua orang tuanya hanya bisa melakukan makan malam di restoran dekat Mall pusat pembelanjaan.
"Om... Tante tidak perlu meminta maaf lagi... Semua sudah terjadi, saya hanya Mahasiswa di bawah bimbingan dosen Mirna... Jadi sudah sewajarnya membantu..." Lisin ingin muntah melihat keduanya yang terus meminta maaf dan memuji kekayaan dirinya.
Jelas dirinya mengerti jika pihak lain menginginkan sejumlah uang.
"Mama... Papa... tolong jangan seperti itu, sebelumnya hanya pacar bohongan tidak lebih... hubungan kami murni dosen dan mahasiswa..." Mirna hanya bisa membuat kebohongan.
Jika dirinya mengakui hubungan keduanya pasti kedua orang tuanya akan membujuknya untuk cepat - cepat menikah. Lisin juga hanya bisa mengikuti Dosen Mirna yang menyuruhnya untuk tidak menjelaskan hubungannya.
Pasti berat untuk dosen Mirna yang memiliki kedua orang tua seperti ini, Lisin menghela nafas.
Jika Lisin dan dosen Mirna mengakui hubungan keduanya pasti seluruh kampus akan cepat mengetahuinya mengingat kedua orang tuanya seperti apa.
Lisin sebenarnya tidak ingin berbohong hanya saja pengaturan Dosen Mirna membuatnya harus mengikutinya. Jelas dosen Mirna tidak ingin hubungannya dengan Lisin menyebar di kampus sampai Lisin wisuda.
"Jadi sebelumnya kalian hanya berbohong?..." Ibunya Mirna bertanya dengan kecewa.
Sebelumnya menolak dan menentang hubungan putrinya dengan Lisin, sekarang mengetahui jika Lisin kaya raya keduanya langsung berubah dari hitam ke putih.
"Hem... Jika kalian seperti ini, kapan bercocok tanam dan kapan Mirna Hamil..." Ayahnya Mirna tanpa malu mengeluh.
"Enggah..." Lisin yang minum jus lemon langsung tersedak saat mendengarkan keluh kesah pihak lain.
"Lisin kamu baik - baik saja?..." Mirna bertanya.
"Aku tidak apa - apa..." Lisin menjawab.
Sial... Kedua orang tua dosen Mirna tidak berakhlak, mengapa juga mereka harus sangat kecewa, apakah kalian akan bahagia karena kita melakukannya kemarin malam?
"Om... Tante... ini di dalamnya ada 1 Milyar..." Lisin memahami pemikiran pihak lain, jadi dirinya mengeluarkan kartu ATM lalu meletakkannya di atas meja berserta nomor pin nya.
"Lisin... Kamu..." Dosen Mirna berniat mencegah perbuatan Lisin namun terlambat.
"Mirna... Nak Lisin pasti memahami kondisi kita sehingga membantu Mama dan Papa, uang tidak memiliki nilai di bandingkan denganmu..." Ibunya langsung mengambil kartu ATM tersebut kemudian memasukannya kedalam tas yang di bawanya.
Tadi saja keduanya menjual Mirna demi biaya penyewaan lahan toko dan pakaian mahal, sekarang menerima 1 Milyar dari Lisin, bilang putrinya sangat berharga di bandingkan dengan uang. dan mengapa juga kartu ATM tersebut di ambil.
Mirna hanya bisa menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Ok... sepertinya kalian membutuhkan waktu untuk berdua, Papa dan Mama ada kepentingan mendadak..." Ayahnya menjelaskan.
Mendadak dari Hongkong... setelah mendapatkan uang restu kedua orang tua langsung mengalir.
"Tolong... Secepatnya mencari hotel terdekat keburu terlalu malam..." Setelah keduanya pergi, Lisin dan Mirna bisa bernafas dengan tenang.
Entahlah apakah jenis orang tua seperti ini ada di dunia ini?
"Lisin... Maaf kedua orang tuaku sangat matre dan memalukan..." Dosen Mirna berkata dengan tidak berdaya.
"Dosen Mirna... Aku tidak masalah, itu hanya masalah uang aku tidak terlalu peduli dengannya..." Lisin menjawab.
Mengapa harus peduli, Lisin saat ini banyak uang dan bingung menghabiskannya, Saldo kekayaan pribadinya ada puluhan Trilyun jadi 1 miliyar tidak berarti apa - apa untuknya.
"Dosen Mirna... Mengapa Kita di suruh mencari hotel terdekat?..." Lisin bertanya dengan bingung. Jelas dirinya sedang menggoda Dosen Mirna.
"Engga..." Kali ini Mirna yang tersedak minuman.
"Kamu baik - baik saja?..." Lisin bertanya dengan khawatir.
"Lisin... mengapa kamu bertanya hal seperti itu... Jelas sekali kan Mama ingin aku hamil mengandung anakmu, agar kita berdua cepat terikat dalam pernikahan..." Dosen Mirna dengan kesal menjelaskan.
"Hahaha... Hanya bercanda..." Lisin tertawa belum dengan puas.
"Lisin... tidak ada Jatah bercocok tanam untuk malam ini... juga tidak ada Hotel..." Dosen Mirna berkata dengan marah, dirinya lebih tua dari Lisin, jadi saat dirinya di goda seperti itu dirinya sangat marah.
"Maaf... Aku tidak akan mengulanginya lagi... aku janji..." Lisin berkata dengan frustasi.
"Kumohon... Kamu tega bikin punyaku tersiksa..." Lisin menambahkan.
Tersiksa!!!...
Dosen Mirna tanpa sadar melihat bagian bawah punya Lisin dan mengingat kejadian kemarin malam. Dosen Mirna hanya bisa kasihan jika Lisin tidak mendapatkan jatah dia pasti akan menemukan sabun untuk bahan pelampiasan.
"Baiklah ayo cari Hotel..." Dosen Mirna dengan wajah merona memimpin jalan.
Secara kebetulan Hotel tersebut sangat dekat, dan keduanya langsung memesan kamar. Dosen Mirna tidak seperti sebelumnya yang malu - malu dia langsung memimpin peperangan.
Medan perang dalam kekacauan, Lisin dan Dosen Mirna melakukan peperangan tanpa akhir menjelang pagi, tidak di ketahui siapa pihak pemenangnya yang jelas malam ini suasana di dalam kamar Hotel sangat memanas dan tidak ketinggalan juga. guncangan dari ganasnya peperangan hingga menjalar ke luar.
Malam yang indah dengan bulan menggantung di atas langit, pasangan tersebut tidak peduli dengan sekitarnya.
Bersambung...
__ADS_1
*Untuk reader yang bijak tolong jangan marah jadi Up dua kali deh hari ini, jika marah lagi jadi Up yang ketiga nanti.Terimakasih.