Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 130


__ADS_3


"Memakanku!..." Mirna bertanya dengan bingung, kemudian dirinya menyadari apa yang di maksud Lisin.


Mirna sedikit merona karena malu, dirinya adalah dosen dan tidak baik membuat skandal dengan seorang mahasiswa.


Mungkinkah Lisin ini menginginkan hal lebih setelah aku memberikan sebuah kecupan pipi sebelumnya?


Mirna menyalahkan dirinya sendiri karena dirinya sudah kelewatan batas sebagai seorang dosen. Mirna hanya kebablasan karena memberikan sebuah kecupan, sekarang dirinya harus menjelaskan situasinya kepada Lisin.


Sebelumnya dirinya hanya kagum dengan Mahasiswa Lisin karena mampu menyembuhkan lebih dari seratus pasien yang mengalami keracunan makanan sekaligus. Kecupan itu hanya ungkapan kagum saja tidak lebih.


Mungkinkah Lisin ini Jomblo sehingga dia baper dengan perlakuanku sebelumnya, Mungkinkah dia tertarik dengan perawan tua sepertiku.


Mbak Mirna... Anda salah besar jika berpikiran seperti itu, karena yang ada di depanmu adalah playboy ganas yang sedang haus akan wanita.


"Mungkinkah Dosen Mirna... Orang yang suka menarik kata-katanya kembali?..." Lisin bertanya dengan tidak berdaya.


Dirinya sedikit menyesali perkataannya yang terlalu berani, karena pihak lain adalah dosennya Lisin menjadi salah tingkat setelah mengatakan sesuatu seperti sebelumnya.


Mungkinkah karena aku kesal dengan Nagisa sehingga aku ingin melampiaskannya kepada Dosen Mirna?


Tapi semuanya tidak sepenuhnya salahku, itu karena Dosen Mirna terlalu menggoda.


"Gulp..." Lisin menelan seteguk ludah saat melihat paha salju milik Dosen Mirna.


Benar... Ini salah paha sialan itu, jika bukan karena itu sahabatku Joni tidak akan memaksaku.


"Dosen Mirna... Kamu bisa melupakannya, ini sudah nasibku untuk menerimanya..." Lisin tersenyum kecut, karena dirinya harus menjadi perwakilan Kelas dirinya tidak ada pilihan lagi selain menerimanya.


Jelas Dosen Mirna menanggapinya dengan cara berbeda, Mirna menyalahkan dirinya sendiri mengapa dirinya memberikan kecupan kepada Mahasiswa Jomblo seperti Lisin.


Pasti Lisin mengalami sakit hati dan merasa jika Aku mempermainkan perasaan Lisin sebagai seorang Jomblo.


Mirna merasa bersimpati, Melihat Lisin yang menerima takdirnya sebagai seorang jomblo.


Mirna yang merasa bersalah, tanpa sadar menurunkan kaki kirinya dan tidak sengaja rok bagian bawah terbuka lebar dan memperlihatkan bagian bawahnya.


Sial... Dosen Mirna... Mengapa kamu memancingku dengan begituan, Apakah kamu dengan sengaja melakukannya? bagaimana jika Jiwa murniku ini tidak bisa mengendalikan kawanku Joni.


"Lisin... Kamu tidak bersalah, Aku mengerti perasaan mu seperti apa..." Mirna berkata dengan menyesal seharusnya dia bisa membimbing mahasiswanya dengan benar.


Sebagai seorang Dosen seharusnya dirinya memberikan pengarahan yang benar terhadap mahasiswa jomblo seperti Lisin.


Jika seorang wanita jomblo mungkin tidak punya beban kehidupan seperti anak laki-laki sehat seperti Lisin.


Mirna adalah Dosen di bidang kedokteran, jelas dirinya sangat tahu akan kebutuhan anak laki-laki yang akan membangun tenda di saat bangun tidur.


"Lisin... Apakah di asrama terdapat banyak sabun?..." Mirna bertanya untuk mengetahui apakah Lisin ini pengguna sabun atau tidak.

__ADS_1


"Hanya beberapa dus..." Lisin mengaku dengan jujur, hanya saja dus sabun tersebut bukan miliknya melainkan milik Trio wik wik.


Dosen Mirna ini cukup aneh mengapa juga menanyakan sabun... Lisin hanya bisa berfikir dengan bingung.


"Beberapa Dus!!!..." Mirna seolah tidak percaya dengan perkataan Lisin.


Lisin itu tampan, baik, dan memiliki keterampilan medis yang ajaib, belum lagi memiliki koneksi seorang Jenderal kepolisian. Mengapa dia tidak mencari pacar saja dari pada menghabiskan uang untuk membeli sabun.


Benar... Aku sebagai Dosennya harus meluruskan Lisin kejalan yang benar dari pada terjerumus kedalam dunia persabunan. Aku akan menggunakan tubuhku ini agar Lisin bisa membedakan yang asli lebih enak dari pada lubang sabun.


Jika Trio wik wik mengetahui pemikiran Dosen Mirna, mereka pasti akan senang sekaligus tertekan.


Mereka senang karena Dosen Mirna akan membantu mahasiswa yang kecanduan Sabun dan mereka sangat tertekan mengapa harus Lisin tapi bukan mereka. Dan juga beberapa dus sabun itu milik mereka bukan milik Lisin apakah mereka harus melakukan demonstrasi untuk hak kepemilikan beberapa dus sabun.


"Lisin aku akan membantumu..." Dosen Mirna bertekad, dirinya harus membuat Lisin mengerti jika wanita sungguhan lebih nikmat dari pada sabun.


"Membantuku!!!..." Lisin bingung mengapa Dosen Mirna begitu bersemangat, lagian ingin membantu apanya.


Tunggu dulu... Mungkinkah Dosen Mirna ingin membantuku untuk membuat pertunjukan panggung? benar pasti seperti itu.


"Dosen Mirna... Terima kasih... Aku sangat tertolong..." Kali ini Lisin tersenyum lega karena pertunjukan nanti malam akan di bantu oleh dosen Mirna.


Benar aku bisa bermain gitar dan Dosen Mirna bisa menjadi penyanyinya.


"Lisin selama kamu berhasil membuat pertunjukan... Aku akan menunggumu di halaman belakang kampus..." Mirna berkata dengan sangat yakin.


"Dosen Mirna... Kamu tidak membantuku dengan pertunjukan nanti malam?..." Lisin bertanya.


"Maaf... Aku tidak bisa bernyanyi, Kamu bisa menemukan orang lain untuk menemanimu di atas panggung..." Mirna berkata dengan permintaan maaf.


Aneh... Bukannya tadi Dosen Mirna mengatakan akan membantuku! mengapa dia bilang tidak bisa bernyanyi.


.....


Sebelum keluar dari ruangan kantor Dosen Mirna. Lisin berjanji akan menemui Mirna di halaman belakang kampus, entah pihak lain menginginkan apa Lisin tidak terlalu paham.


"Bagaimana ini... Siapa yang bisa aku andalkan untuk naik ke atas panggung?..." Lisin berjalan di Koridor kampus dengan tidak berdaya.


Dirinya bingung harus meminta bantuan kepada siapa untuk menemaninya melakukan pertunjukan di atas panggung.


"Lisin..."


Lisin yang membawa kotak bekal milik Dewi tidak mendengarkan jika seseorang memanggilnya.


"Lisin..."


Panggilan kedua membuat Lisin tersadar, kemudian melihat Dewi yang memiliki kaca mata besar dengan gaya rambut yang lusuh.


"Dewi... Ah ya... Ini kotak bekal darimu, Aku sudah menghabiskannya dan Rasanya sangat enak" Lisin berkata dengan jujur.

__ADS_1


"Benarkah..." ini pertama kalinya Dewi si kulkas yang memiliki ekspresi dingin sedikit tersenyum hangat.


Setelah mendapatkan kotak makan siang dari Lisin, Dewi sedikit bingung. Karena Lisin seperti orang yang sedang depresi.


"Apakah kamu sedang memiliki masalah?..." Ini pertama kalinya Dewi berinisiatif untuk bertanya tentang masalah yang dimiliki oleh seorang laki-laki.


"Sedikit..." Lisin mengakuinya, setidaknya dirinya bisa membagikan beban yang dimilikinya, siapa yang mengerti jika Dewi bisa memberikan solusi untuk dirinya.


Sore hari cahaya matahari terbenam membuat suasana menghangatkan hati, namun tidak dengan hati yang Lisin miliki, Lisin memasuki kelas kosong bersama dengan Dewi lalu menceriakan tentang Dosen Mirna yang menunjuknya sebagai perwakilan Kelas yang harus memberikan pertunjukan panggung.


Dewi yang mendengar Lisin bercerita hanya bisa mengangguk dan memahaminya. Yang sedang di pikirkan Lisin dan membuatnya depresi kerena dia belum memiliki partner untuk naik keatas panggung.


Sedangkan sekarang sudah sore hari, setidaknya dalam 3 jam lagi Acara perpisahan akan di langsungkan.


"Lisin... Aku bisa bernyanyi dan menjadi partnermu di atas panggung..." Dewi berkata dengan malu.


Walaupun dirinya adalah pemalu dan tidak pernah mengikuti pertunjukan apapun, Dewi secara diam-diam suka dengan bernyanyi. hanya saja dirinya tidak percaya diri saat di atas panggung.


Kali ini berbeda, dirinya akhirnya bisa membalas perbuatannya baik Lisin. walaupun belum pernah berdiri di atas panggung setidaknya dirinya harus berani melakukannya.


Ini semua demi membalas kebaikan Lisin, Aku pasti bisa melakukannya.


"Benarkah kamu bisa bernyanyi?..." Lisin sedikit tidak percaya, namun Bakat tidak dapat di lihat melalui penampilannya.


"Kalau begitu... Bisakah aku mendengar suara nyanyianmu?..." Lisin harus memastikannya terlebih dahulu, Dewi ini Benar-benar bisa bernyanyi atau tidak.


"Baiklah..." Dewi menyanyikan sebuah lagu di depan Lisin.


Sedangkan itu di luar ruangan kelas, banyak aktivitas dari mahasiswa yang memiliki tugas untuk mengatur kepengurusan tentang acara perpisahan, yang akan dilangsungkan dalam 3 jam ke depan.


"Mengapa ruangan kelas ini belum terkunci..." Dari luar terdapat seseorang yang melakukan pemeriksaan terhadap ruangan yang tidak di gunakan, hanya saja dia tidak melihat bagian dalam ruangan tersebut.


"Krak... Kruk..." Suara pintu terkunci dari luar ruangan kelas.


Lisin dan Dewi langsung menuju ke pintu untuk memastikan jika pintu tidak di kunci dari luar. namun, terlambat karena pintu sudah di tutup dari luar.


"Tolong buka pintunya..."


"Di dalam ada seseorang tolong di buka..."


Berapa kalipun keduanya berteriak, tidak ada yang menjawab dari luar apa lagi membukakan pintu, belum lagi lampu yang sebelumnya menyala di matikan dari luar.


"Aaaaa..." Dewi berteriak karena matahari sudah terbenam jadi ruangan tersebut menjadi gelap.


Lisin merasakan sesak dirinya merasa seperti ada gurita besar membelenggu dirinya, tentu saja itu Dewi yang ketakutan lalu memeluk Lisin dengan erat.


Sial... Semangkanya lembut sekali kawan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2