
Jalan raya kota Malang, sebuah mobil polisi melaju dengan beriringan menuju ke arah selatan.
Dapat menggunakan beberapa mobil polisi guna mengiringi perjalanan mobil pribadi, sangat jelas jika orang yang ada di dalam mobil tersebut adalah orang penting.
Jendral tua yang ada di dalam mobil tersebut sedang dalam perjalanan, dari lokasi persembunyian Kopet menuju ke sebuah penginapan yang arahnya satu jalur dengan kantor kepolisian berada.
"Hallo... Lisin apa kamu berubah pikiran dan akan berbicara di depan publik?" Jendral tua sangat senang jika yang menelpon dirinya saat ini adalah Lisin.
"Pak tua aku tidak berubah pikiran, sebenarnya aku bertemu dengan dua petugas kepolisian yang menangani sebuah kecelakaan yang merenggut korban jiwa"
"Jangan bilang..." Jendral tua berkeringat dingin mendengar perkataan dari Lisin, itu karena Lisin berbicara sambil menahan amarah.
Jelas jendral tua tidak sekali dua kali melihat kemarahan Lisin, dan Lisin juga bukan tipe orang yang menyinggung perasaan orang lain.
Ini pasti ulah petugas kepolisian yang melakukan kesalahan dalam menegakan hukum dan secara kebetulan bertemu dengan Lisin.
Sebenarnya Jendral tua menyadari tidak semua orang yang memiliki jabatan kepolisian memiliki hati nurani yang besar dan menjunjung tinggi keadilan.
Apa lagi bagi mereka mendapatkan jabatan dengan jalur belakang bisa di bilang melakukan penyuapan. maka jika pun mereka menjabat, mereka akan berusaha sebanyak mungkin untuk bisa mendapatkan uangnya kembali jika bisa lebih dari uang yang mereka keluarkan.
Jendral tua memiliki banyak hal yang harus di urusan, jadi dirinya tidak dapat melihat kebusukan bawahannya dengan benar. sebenarnya jendral tua sangat prihatin tentang kejadian ini namun apalah daya hal seperti ini sudah mendarah daging sejak lama.
"Lisin... Aku sedikit mengerti apa yang terjadi di sana" Jendral tua menghela nafas.
"Lisin... Kamu memilki lencana milikku yang sebelumnya aku berikan kepadamu, kamu bisa melakukan apa yang menurut kamu benar, aku akan secepatnya ke sana"
"Pak tua... aku mungkin akan melakukan sedikit kekerasan..." Memukul pihak penegak hukum akan di kenakan hukuman pidana jadi Lisin meminta persetujuan terlebih dahulu.
"Tidak masalah... kekerasan yang kamu lakukan akan menjadi kekerasan ku juga" jendral tua mematikan telepon dengan dingin.
.....
"Apa kamu selesai... baiklah kalian berdua bisa pergi... karena tempat ini hanya untuk mereka yang memiliki kepentingan" Sukiyat yang kurus berjalan ke arah Lisin dengan niatan mengusirnya.
Lisin yang baru saja melakukan panggilan melihat ke arah sukiyat yang kurus dan berlagak seperti polisi yang tangguh.
"Dengan ini aku memiliki wewenang lebih besar dari kalian..." Lisin memasukan tangan ke saku celananya lalu mengambil sesuatu dari inventori sistem. Lalu Lisin menunjukkan lencana kepolisian pemberian jendral tua.
"Hahaha... kamu pikir kami percaya, siapa kamu... yang memiliki lencana kepolisian setingkat jendral... Pasti itu palsu" Sukiyat dan Sukimon tertawa.
Sebenarnya Lencana kepolisian tersebut adalah milik jendral tua. setelah insiden pembajakan pesawat udara karena Lisin tidak ingin menunjukan dirinya di depan publik, jendral tua memberikan lencana tersebut kepada Lisin, yang sudah di anggap sebagai pahlawan nasional.
Lisin yang melihat jika kedua polisi tersebut tertawa sudah menduga hal tersebut, sifat kepolisian selalu mendominasi di atas kepentingan orang lain jadi menggunakan kata-kata kepada mereka hanya akan menghabiskan banyak waktu.
Maka dari itu jika kata-kata tidak bisa lagi menyelesaikan masalah maka kekerasan akan menjadi solusinya.
"Sudahlah... lebih baik kalian pulang..." Sukiyat mendorong Lisin dengan tangannya menyentuh lengan kanan Lisin.
Apakah Lisin akan diam saja?
Sukiyat yang mendorong pemuda di depannya seperti mendorong batu besar yang tidak dapat di pindahkan.
Lisin yang melihat tangan Sukiyat menyentuh dirinya hanya tersenyum dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangan Sukiyat yang kurus seolah tidak memiliki daging.
"Ahhhh..."
Lisin melihat Sukiyat yang kesakitan kemudian melepaskan cengkeraman tangannya.
"Tanganku... Mon tanganku" Sukiyat menangis di tempat meminta bantuan kepada Sukimon.
"Yat... kamu tidak apa-apa?..." Sukimon yang berlari tanpa sengaja berguling menuruni anak tangga.
"Lihatlah tanganku seperti bagian bawah yang bengkok..." Sukiyat sangat tertekan, cukup bagian bawah saja yang bengkok jangan tangannya juga.
"Hahaha..." Sukimon yang beberapa saat yang lalu berguling menertawakan temannya.
"Kenapa kamu tertawa?..." Sukiyat yang menangis memiliki ingus yang hampir keluar bertanya.
"Yat... bukankah dia menyerang mu, itu sudah cukup untuk menuntutnya" Sukimon tersenyum di atas penderitaan temannya.
"Sial... masih sempatnya kamu memikirkan keuntungan, tidak masalah aku suka ini..." Sukiyat yang memiliki ingus hampir jatuh menghirupnya kembali.
"Kamu akan di kenakan pasal 212 KUHP. Orang yang melakukan kekerasan terhadap aparat yang sedang melakukan tugas yang sah dapat dihukum penjara paling lama 1 tahun 4 bulan dan denda paling banyak 4.500.000 hahaha..." Sukimon berjalan ke arah Lisin dengan niatan ingin menangkapnya.
"Lisin... kenapa kamu begitu ceroboh, kamu tidak boleh melukai aparat kepolisian..." Dewi yang dari tadi menemani Lisin tidak berharap jika Lisin akan melukai petugas kepolisian.
"Dewi... kamu bisa tenang, mereka berdua tidak mendengarkan perkataan ku maka kekerasan akan berbicara..." Lisin mengabaikan Dewi memilih menatap tajam Sukimon dan Sukiyat.
"Kekerasan akan berbicara... Di depan aparat penegak hukum, kekerasan sama dengan penjara. karena kamu sudak melukai aparat dan tidak ingin berhenti jangan salahkan aku jika kakimu memiliki luka tembak" Sukimon berniat mengambil pistol yang ada di pinggangnya.
Apakah Lisin akan membiarkannya?
Dengan cepat Lisin langsung berdiri di depan Sukimon sambil memegang pergelangan tangannya dengan kuat.
"Ahhh..."
Tidak berhenti Lisin langsung mematahkan kedua lengan Sukimon.
Sukiyat yang melihat hal tersebut ketakutan lalu kembali tenang setelah melihat kawanan polisi memenuhi bagian depan kantor polisi di mana perselisihan antara Lisin dan kedua polisi terjadi.
"Komandan... apa yang terjadi..."
"Komandan kedua tangan kamu terlihat aneh..."
__ADS_1
"Benar itu terlihat seperti habis senam jari yang berkepanjangan..."
Lebih dari selusin polisi memenuhi tempat tersebut dan menduga jika terjadi perlawanan antara kriminal dengan kepolisian.
"Sialan... kedua tanganku patah dan dia pelakunya, semuanya tangkap dia jika perlu tembak saja kakinya..."
Selusin polisi tersebut bukanlah orang jahat, apa lagi polisi korupsi, mereka hanya polisi yang mengikuti perintah dari atasan.
Sekarang mereka semua mengikuti perintah tanpa tau masalah yang sebenarnya.
"Menyerah dan jangan melakukan perlawanan..."
"Jangan bergerak dan letakan kedua tangan di belakang..."
Lisin menggelengkan kepala, dirinya tidak akan melukai aparat kepolisian yang tidak bersalah. namun karena pihak lain ingin menghentikannya apa boleh buat.
"Hentikan kalian semua..."
Semua kepolisian termasuk Lisin dan Dewi terdiam mendengar perkataan dari arah luar.
Dewi ketakutan, Lisin hanya diam, sedangkan pihak kepolisian dengan semangat menyapa orang yang menghentikan semuanya.
"Jendral... kami semua menyambut kedatangan anda..." Sukiyat dan Sukimon menyanjung kedatangan jendral kepolisian.
Sebelumnya Lisin datang ke kantor polisi hanya mengantarkan Anisa dan menumpang mandi di kamar mandi umum. di antara pihak kepolisian tidak ada yang mengetahui hubungan antara Lisin dengan jendral kepolisian.
"Lisin... kamu tidak apa-apa?"
Semua pihak kepolisian menjatuhkan rahang mereka ke tanah, terutama dua polisi angka sepuluh, satu kurus satunya lagi gemuk. keduanya lebih terkejut dari pada selusin polisi lainya.
Bagaimana tidak, sikap Jendral kepolisian sangat hormat ke arah Lisin, jelas pemuda berpakaian biasa ini memiliki latar belakang tertentu.
Sukiyat dan Sukimon merasakan firasat yang buruk, Sukimon adalah komandan kepolisian namun jendral tidak menanggapi dirinya melainkan menyapa pemuda tersebut.
"Mon... sepertinya kita dalam masalah"
"Benar Yat... sepertinya kita akan kehilangan jabatan..."
Dengan cepat jendral kepolisian mengetahui segalanya, dan dengan marah Kedua polisi yang menyalahgunakan wewenangnya langsung hukum dengan pelepasan jabatan.
Jendral tua juga menemukan banyak bukti tentang kelakuan kedua polisi tersebut yang sudah menyeleweng. seperti bukti penerimaan suap, bukti keterlibatan korupsi, bukti pemerasan terhadap tersangka dan masih banyak bukti lainya.
Kedua polisi tersebut tidak hanya mendapatkan hukuman pelepasan jabatan tetapi juga mendapatkan hukuman kurungan 10 tahun dan denda uang 1 Milyar.
Lisin yang tidak peduli dengan nasib kedua polisi tersebut menemani Dewi untuk menjemput Ayahnya yang berada di penjara.
"Ayah..."
Kedua berpelukan dengan kesedihan yang dalam, kemudian ayahnya sadar jika ada orang asing yang menemani putrinya.
"Dia..."
"Ini Lisin Yah... dialah yang membantu Dewi mendapatkan keadilan..." Dewi yang biasanya dingin sekarang seperti anak kecil.
"Terima kasih nak Lisin..."
"Paman terlalu sopan... Aku teman satu kampus dengan Dewi dengan fakultas yang berbeda..." Lisin berkata dengan jujur.
"Jadi seperti itu... Kupikir putriku tidak punya teman, ternyata punya... cowok lagi..." Ayahnya Dewi sangat senang.
Sejak kecil putrinya yaitu Dewi di jauhi teman-temanya karena sifatnya yang dingin. bahkan sejak memasuki universitas tidak ada satupun temannya yang berkunjung ke rumah.
Sekarang ada pemuda tampan yang membantu keluarganya yang sedang dalam kesusahan sebagai seorang ayah dia tidak masalah memiliki manantu seperti ini.
"Ayah..." Dewi yang kesal mencubit pinggang ayahnya.
"Benar... bagaimana dengan kedua polisi sebelumnya?" Ayahnya Dewi bertanya dengan bingung.
"Mereka sudah mendapatkan hukuman 10 tahun penjara dan denda 1 Milyar... Ayah" Dewi menjelaskan.
Ayahnya Dewi melihat kearah Lisin yang terlihat sederhana, untuk bisa membuat dua polisi mendapatkan hukuman atas penyalahgunaan wewenang, jelas hanya mereka yang memiliki jabatan lebih tinggi yang bisa melakukannya.
Pasti pemuda ini memiliki latar belakang yang kuat. Ayahnya Dewi tidak berdaya sebenarnya berharap jika putrinya bisa memiliki kekasih seperti pemuda yang ada di depannya saat ini.
Namun melihat kembali situasi keluarganya yang kurang mampu dia sedikit kehilangan harapan.
Kepolisian mengantarkan Dewi dan ayahnya pulang, tidak lupa juga memberikan 50 juta dari Jasa Raharja yang dengan cepat di cairkan.
Ayahnya Dewi awalnya berniat ditolak namun setelah mendengar penjelasan dari kepolisian uang tersebut di terima dengan terpaksa.
Lisin yang berpisah dengan Dewi dan ayahnya. pergi menggunakan mobil SUV dengan tujuan universitas negeri malang. karena dirinya tidak menghadiri kelas seharian ini.
(Ding...)
(Selamat tuan rumah menyelesaikan tugas sistem yaitu membantu mendapatkan keadilan untuk keluarga Dewi)
(Mendapatkan 50 poin sistem)
(Mendapatkan Kartu Keterampilan Peretas)
"Hahaha... Peretas ya... Sangat nyaman"
Tanpa terasa hari berganti malam dan Lisin yang mengemudikan mobil SUV bertemu dengan beberapa mobil yang sedang menghentikan Lamborghini.
__ADS_1
"Bukannya Lamborghini ini... mobilnya Pangeran... kenapa ada di sini?"
Lisin yang turun dari mobil SUV memeriksa kondisi mobil yang di tinggalkan kemudian dirinya mengambil sebuah kesimpulan.
"Bagaimana depan dan belakang terhadap oleh dua mobil hitam sangat jelas ada seseorang yang menghentikan pergerakan Lamborghini tersebut"
Sial... pasti ada orang yang berniat jahat kepada Pangeran dengan menghentikan mobil yang dikendarainya.
Lisin memindai tempat yang ada di sekitarnya, lalu menemukan jika tidak jauh dari sana ada beberapa orang yang mengelilingi satu orang yang tidak berdaya.
"Sialan... siapa mereka berani sekali melukai temanku"
Tatapan Lisin menjadi dingin, walaupun hubungan Lisin dan Pangeran tidak begitu dekat setidaknya Pangeran adalah orang yang baik dan Lisin sudah menganggapnya sebagai seorang teman.
"Hentikan..."
Pangeran yang memiliki luka memar di wajahnya tidak berdaya di kelilingi oleh selusin orang yang mengenakan cadar.
"Lisin..." Pangeran dapat mengenali jika pemuda yang baru saja datang adalah Lisin.
"Hahaha... sepertinya keberuntungan ada di pihak ku..." salah satu orang-orang bercadar yang bertindak sebagai pemimpin juga mengenali Lisin dengan penuh kebencian.
"Apa kita pernah bertemu?..." Lisin bertanya kepada pimpinan orang-orang bercadar.
"Aku tidak bisa menunjukan wajahku yang jelas aku sangat membencimu..."
Lisin sangat bingung, sebenarnya banyak orang yang tidak sengaja di singgungnya namun dia tidak tau siapa orang yang ada di depannya.
"Kalian menggunakan cadar agar bisa menyembunyikan wajah kurang tampan kalian kan?" Lisin menyeringai.
"Apa!!!..."
Pemimpin orang-orang bercadar itu sangat marah, wajahnya memang kurang tampan tapi bukan itu juga alasan mengapa dirinya mengenakan penutup wajah.
"Kalian semua habisi dia..."
"Ya..."
Selusin orang-orang bercadar tersebut dengan cepat mengelilingi Lisin.
"Kalian yakin ingin melawan ku?..." Lisin yang santai bertanya sambil menguap.
"Serang dia..."
"Aaa..."
Entah siapa yang memulainya selusin orang-orang bercadar tersebut menyerang Lisin secara bersama-sama.
"Ahhh... Tanganku..."
"Ahhh... Kakiku..."
"Ahhh... Telurku..."
Lisin sangat brutal dengan cepat melumpuhkan selusin orang yang mengelilingi dirinya.
Ada yang tangannya patah, kakinya patah, keduanya yang patah, giginya hancur, hidungnya bengkok, darah ada di mana-mana.
Ada juga yang telurnya pecah, bagian bawah di injak, yang jelas jika orang lain melihat kelakuan Lisin pasti akan ketakutan dengan aksi brutalnya.
Berakhir dalam sekejap saja banyak rintihan ada di mana-mana.
Lisin tidak peduli siapa pihak lain dirinya berjalan dengan santai mendekati pimpinan orang-orang bercadar.
"Jangan mendekat..."
Pimpinan yang tersisa menelan seteguk ludah karena ketakutan, dirinya tidak berharap jika Lisin begitu kuat.
Selusin orang itu adalah preman bayaran yang cukup kuat dan tidak ada satupun dari mereka yang menyentuh pakai Lisin melainkan berakhir menyedihkan.
"Bukankah kamu ingin menghabisi Aku?"
"Ahhhh..."
"Ahhhh..."
Lisin melumpuhkan semuanya, baik kedua tangan dan kedua kalinya tidak lupa juga telurnya harus pecah.
"Pangeran... kamu tidak apa?..." Lisin bertanya kepada Pangeran.
"Lisin... Terima kasih, aku tidak apa-apa hanya memar ringan..." Pangeran yang hanya memiliki luka memar berjalan ke arah pimpinan orang-orang bercadar, yang berniat jahat kepadanya.
"Vito... jadi ini kamu..."
Pangeran yang melihat penampilan pimpinan bercadar dapat mengenali jika orang tersebut adalah Vito yang dulunya menjadi anggota geng Ligas.
"Oh... ternyata itu dia pantas saja mengenakan cadar..." Lisin dan Pangeran pergi meninggalkan tempat kejadian.
Bersambung...
*Mampir juga Novel baru author yang berjudul "SISTEM KERUGIAN"
*Terimakasih.
__ADS_1