Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 63


__ADS_3

Pesawat Lion Airline Boeing 747-400 terbang dengan sudut kemiringan bagian kiri, di karenakan pintu pesawat tersebut terbuka.


Dari dalam pintu pesawat ada seseorang dengan pakaian yang memiliki bercak darah. Angin kencang menerjang bagian pintu pesawat, Lisin sudah memulihkan luka peluru yang ada di bahunya.


Menatap kearah kejauhan Lisin dapat melihat Jack Smith menggantung di bawah parasut yang terbuka. Lisin memiliki waktu 40 menit untuk menghentikan bom yang ada di atas kabin sebelum meledak dan juga secara bersamaan kekasihnya yaitu Ningsih dalam bahaya.


"Lisin... Jika dalam waktu 10 menit pintu pesawat tidak tertutup maka pesawat akan berputar lalu menghantam permukaan laut" Di dalam ruang Kokpit, Materai menggunakan masker oksigen untuk membantu pernapasan.


Semua penumpang yang mendengar perkataan dari Materai sanga panik dan kecewa. banyak hal tercampur aduk di dalam perasaan mereka. di hadapan sebuah kematian yang tidak pandang umur, kaya ataupun miskin. semua penumpang memejamkan sepasang mata, seolah telah menerima nasib mereka yang akan berakhir bersamaan dengan jatuhnya pesawat.


Baik Orang kaya, orang miskin, orang tua ataupun remaja pasti memiliki menyesal tentang masa lalu. Terutama bagi mereka yang jomblo karena semasa hidupnya di habiskan untuk bermain dengan sabun tanpa melakukan satupun hal benar.


Diana melihat kearah Lisin dengan pemikiran rumit, dia telah lama menjadi menjadi pramugari dengan banyak hal yang di korbankan. ayahnya telah pergi hanya menyisakan ibunya yang sakit, setelah dia menemukan orang yang menurutnya spesial Tuhan akan memisahkan dengan kematian.


Di mana semua orang bersedih, isin yang memegang katana secara perlahan keluar pintu pesawat lalu menancapkan katana tersebut ke bagian dinding luar pesawat.


Semua penumpang yang melihat ini kembali di penuhi harapan, di hadapkan dengan kematian apakah mereka akan terus menunggu. tidak... di saat satu orang berjuang demi semua penumpang mereka semua nampak tersentuh.


"Semuanya... kita belum mati, pesawat masih di atas Udara, walaupun kita tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya kita harus memberikan dukungan kepada Lisin. aku percaya jika Lisin dapat membuat keajaiban" Suara Materai yang bergema melalui sound sistem seperti dorongan semangat untuk mereka semua.


"Benar kita masih memiliki Lisin..."


"Lisin semangat..."


"Pahlawan kamu pasti bisa..."


"Hidup pahlawan..."


"Hidup..."


Semoga orang melihat Lisin dari jendela pesawat di mana Lisin membentangkan kedua tangannya, satu memegang bagian luar kabin pesawat yang terdapat celah dan satunya lagi memegang pintu pesawat yang menggantung ke bawah.


"Aaaaa... " Lisin dengan sekuat tenaga menarik pintu pesawat ke atas.


Pintu pesawat yang seharusnya menggunakan sistem mekanisme buka dan tutup, cukup sulit jika secara paksa di buka ataupun di tutup secara manual.


Siapa Lisin... dia memilih kekuatan seni bela diri kuno dan itu setara dengan manusia super, hanya saja tidak bisa terbang ke langit seperti Superman.


"Aaaaa... " Lisin berteriak, kemudian mengatupkan giginya. keringat dingin mengalir dengan deras, dari sini dapat di ketahui seberapa sulit apa yang Lisin lakukan.


Upaya tidak mengkhianati hasil, dengan semua energi di kerahkan pintu pesawat secara perlahan naik ke atas. sedikit demi sedikit pintu pesawat mulai menutup, Lisin yang tidak memiliki pengaman bergelantungan menggunakan gagang katana yang tertancap.


Semua orang bersemangat, sekarang pintu pesawat tertutup dan Materai menerbangkan pesawat ke ketinggian. setelah pesawat manjadi stabil semua penumpang sangat bahagia kecuali satu orang yaitu Diana.


Diana yang melihat Lisin bergelantungan di bagian luar kabin sangat sedih, bahkan air mata mengalir. demi semua penumpang Lisin harus berada di luar, jika ada kecelakaan Lisin akan jatuh dari pesawat.


Lisin bisa saja pergi meninggalkan pesawat menggunakan parasut begitu saja. namun pesawat memiliki bom di atasnya jika Lisin tidak melepaskan bom semuanya akan dalam bahaya. apa yang Lisin lakukan bukanlah karena tugas yang sistem berikan melainkan karena sifat kemanusiaan yang dirinya miliki. jika bukan Lisin yang menghentikan Bom lalu siapa lagi.


Dengan mengandalkan katana dan kekuatan kedua lengannya, Lisin membuat bagian luar kabin pesawat beberapa goresan yang cukup dalam, kemudian secara perlahan naik ke atas kabin pesawat.


Di atas kabin pesawat Lisin dapat melihat jika ada sebuah kotak hitam dengan timer waktu di atasnya. 34 Menit adalah angka yang tertera di atasnya dan itu dalam hitungan mundur.


Bom itu memiliki perangkat mekanisme yang cukup sulit namun siapa Lisin, tidak ada yang tidak mungkin di depan Lisin. jadi Lisin memotong permukaan bagian atas kabin pesawat kemudian mengangkat bom seukuran kardus kecil.


"Sial... Apakah dia manusia..." Jack tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Jack bertanya-tanya bagaimana Lisin bisa melakukan ini semua, mulai dari menghabisi semua anak buahnya. katana yang dia gunakan entah dari mana, juga dengan kekuatan lengannya Lisin menutup pintu pesawat. Apakah manusia bisa melakukannya, bahkan orang terkuat di dunia pun akan menyerah jika berdiri di posisi Lisin. bagaimana Lisin bisa melakukannya, Apakah dia manusia super seperti film super hero.


Di bawah terjangan angin yang begitu kencang Lisin memperbaiki Bom dengan sedikit modifikasi. jika itu orang lain mereka pasti akan jatuh namun Lisin menggunakan gagang katana yang tertancap di atas kabin kemudian mengikat kaki kanan menggunakan robekan baju miliknya. hal tersebut membuat Lisin berdiri kokok di bawah terjangan angin kencang.

__ADS_1


"Sistem aktifkan kartu keterampilan Master Olahraga"


(DING...)


(Kartu keterampilan master olahraga di akses)


(Selamat, tuan rumah telah menjadi master dari berbagai macam jenis olahraga)


Informasi dari berbagai macam jenis olahraga memenuhi ingatan Lisin, kemudian dirinya mengambil sebuah gerakan yang banyak di ketahui oleh semua orang. Pelempar (pitcher) salah satu bagian dari olahraga Baseball yang cukup mendunia. Lisin tidak berharap jika kartu keterampilan Master olahraga akan sangat berguna.


Sebelum Lisin melemparkan Bom tersebut, Lisin memodifikasinya seperti melepaskan komponen ponsel jadul tanpa harus mematikan bom. melepas timer waktu yang di gunakan sebagai pemicu ledakan, Lisin menggantinya dengan pemicu benturan. Lisin sangat bersyukur memiliki keterampilan Master mekanik, sekarang saat bom mengenai Tubuh Jack itu akan langsung meledak.


Kaki bagian kiri Lisin tertekuk ke atas dengan berdiri menggunakan kaki bagian kanan yang terikat dengan gagang katana sebagai tumpuan. lalu tangan kanannya mencengkram bom seolah itu bola bisbol, kemudian posisi tubuhnya sedikit menekuk sedangkan tatapan matanya mengarah ke sebuah parasut yang sangat jauh.


"Hahaha... apa kamu akan melemparkan bom itu padaku, datanglah... aku ingin melihat seberapa hebat kamu melemparkan bom itu" Jack yang bergantung di langit tertawa sambil mengejek Lisin.


Apa yang Lisin lakukan adalah kemustahilan, dalam waktu 1 menit Pesawat telah meninggalkan Jack Smith sejauh 5 kilometer dan adakah yang bisa melempar sejauh itu.


Jika itu orang lain jelas tidak bisa melakukannya, namun siapa Lisin. saat ini dia memiliki teknik lempar yang luar biasa, sedangkan Lisin menggunakan energi batin untuk membungkus bom tersebut.


Melirik ke arah timer waktu yang terikat di tangannya itu tersisa waktu 30 menit untuk menyelamatkan Ningsih.


Saat ini Lisin sedang menunggu momen, yaitu ketinggian pesawat. jika dalam posisi sejajar jelas Lisin tidak memiliki peluang keberhasilan pada lemparannya. maka dari itu dia mengandalkan sudut kemiringan dan gaya gravitasi bumi.


Setelah parasut terbuka maka akan secara bertahap akan turun ke bawah, sedangkan pesawat yang di kemudikan Materai semakin melambung tinggi. seberapa jauh Jack dari posisi pesawat, Lisin percaya jika mengandalkan sudut kemiringan 45° ke bawah, dengan tekanan gaya gravitasi bumi Kecepatan lemparan akan meningkatkan 10 kali lipat.


"Aku hanya memiliki satu peluang lemparan" Sudut mata mengunci posisi Jack Smith yang bergelantungan di udara.


"Terima ini..." Lisin mengayunkan lengan kanannya.


Lemparan Lisin seperti sebuah meteor jatuh dari luar angkasa, itu membelah angin bahkan melebihi kecepatan pesawat. dengan sudut kemiringan 45° kecepatan lemparan Lisin semakin bertambah.


Jack Smith tidak berharap lemparan dari bagian atas kabin pesawat yang jauhnya lebih dari 10 kilometer akan menggapai dirinya.


Sekarang giliran dirinya yang menghadapi kematian bagaimana dirinya tidak takut, dia menyesal telah memprovokasi Lisin jika ada kehidupan kedua dia tidak ingin menjadi terorisme lagi.


Jack berharap jika lemparan bom tidak mengenai dirinya, sayangnya lemparan tidak memiliki mata apalagi pilot yang dapat melakukan pengereman.


"Ahhhh..." Lemparan bom tepat mengenai bagian perutnya, seketika itu ledakan terjadi.


"Duarrrrr... "


Ledakan besar terjadi, itu terlihat seperti kembang api bagian parasut langsung terbakar oleh api sedangkan bagian tubuh Jack Smith tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata. Tubuhnya hancur berkeping-keping tanpa menyisakan satu bagian tubuh yang utuh.


Semua penumpang yang ada di dalam pesawat dapat tenang kembali, melalui jendela kaca pesawat mereka semua dapat melihat ledakan yang ada di kejauhan. itu jelas bom yang ada di atas kabin pesawat dan Lisin pasti orang yang memindahkan ledakan tersebut.


Semua orang bertanya-tanya bagaimana caranya memindahkan bom yang cukup jauh, tidak mungkinkah itu di lemparkan siapa yang peduli yang jelas Pesawat telah aman. sayangnya dugaan para penumpang adalah benar namun cukup sulit untuk percaya.


Lisin melihat ke arah timer waktu di tangannya, itu menunjukkan waktu 25 menit. di kejauhan Lisin dapat melihat Bandara Ngurah Rai yang letaknya di dekat laut.


"Ningsih tunggu aku..." Lisin berkata dengan tekad, Walaupun pesawat berakhir dengan aman Lisin belum bisa tenang. ada 25 menit lagi sebelum Gas karbon monoksida akan membunuh kekasihnya Ningsih.


Pesawat telah mengeluarkan ketiga rodanya, Dan dalam hitungan menit pesawat akan mendarat. Lisin dengan tenang melompat ke udara lalu membuka parasutnya.


Jika Lisin melalui jalur bandara pasti akan kehilangan banyak waktu jadi dia memilih untuk pergi dengan menggunakan parasut. Jarak apartemen Ningsih yang ada di kuta kisaran 10 kilometer dari Bandara Ngurah Rai.


Materai yang mengemudikan pesawat dapat melihat Lisin yang menggantung di bawah parasut.


"Lisin... kamu harus bisa menyelamatkan kekasihmu" Materai yang tersenyum mengacungkan ibu jarinya.

__ADS_1


Lisin yang melihat hal tersebut menganggukkan kepala seolah mengerti apa yang Materai katakan.


Dari jendela pesawat Diana melihat Lisin selamat sangat senang, namun kepergian Lisin untuk menyelamatkan kekasihnya yang bernama Ningsih membuat Diana merasa kehilangan.


Dirinya sangat iri dengan wanita yang bernama Ningsih tersebut, karena menjadi kekasih Lisin. andaikan jika itu dirinya Diana rela menukar apapun untuk memiliki kekasih seperti Lisin.


Bandara Ngurah Rai.


Pesawat Lion Airline Boeing 747-400 melakukan pendaratan tanpa melakukan kontak dangan Air Traffic Controller, (ATC) atau Pemandu Lalu Lintas penerbangan.


Yang memberikan layanan pengaturan lalu lintas di udara guna mencegah tabrakan antar pesawat udara, saat melakukan pendaratan atau penerbangan.


Juga memerankan dalam pengaturan kelancaran arus lalu lintas, membantu pilot dalam mengendalikan keadaan darurat, memberikan informasi yang dibutuhkan pilot seperti informasi cuaca, informasi navigasi penerbangan, dan informasi lalu lintas udara. ATC adalah rekan terdekat pilot selama di udara.


Materai melakukan pendaratan darurat tanpa bantuan dari Marshaller atau tukang parkir pesawat.


Marshaller alias tukang parkir pesawat merupakan profesi yang punya tanggung jawab besar. Berkoordinasi langsung dengan pilot, profesi ini menjunjung tinggi keselamatan setiap penumpang yang ada di dalam pesawat.


Pendaratan Pesawat Lion Airline Boeing 747-400 berlangsung cukup kasar mengingat Materai hanya amatiran. Semua orang sangat bersemangat kini ketakutan yang mereka miliki hilang di gantikan oleh sukacita yang luar biasa.


Untuk beberapa orang pengalaman penerbangan kali ini pasti membuatnya trauma. namun di sisi lain mereka cukup beruntung karena melihat aksi heroik dari Materai dan Lisin dalam memberantas terorisme. Setelah ini mereka semua tidak sabar untuk bertemu dengan para reporter karena ingin menceritakan apa yang terjadi selama penerbangan. bukankah itu membuat mereka masuk televisi.


Terutama sosok Lisin jika bukan karena dirinya mungin pesawat akan mengalami ledakan. Materai yang keluar dari ruang kokpit langsung menghampiri Istrinya.


"Mama kamu tidak apa-apa?" tanya Materai kepada istrinya.


"Mama tidak apa-apa... hanya sedikit pusing..." Jawab istrinya.


"Baguslah... semuanya kalian baik-baik saja?..." Materai menanyai semua penumpang.


"Kami baik-baik saja tuan Materai..."


"Semua ini berkat Tuan Materai dan Pahlawan Lisin..."


"Benar jika tidak ada kalian berdua kami tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi"


"Tuan materai... tolong bantu kami, disini ada pilot tak sadarkan diri karena luka tembak" Dokter tua berkata.


"Aku mengerti..." Materai membantu semua penumpang, kemudian mencoba membuka pintu pesawat secara manual.


Saat Materai dan ratusan penumpang berniat keluar, di hadapan mereka ada ratusan pasukan khusus anti terorisme mengepung sekeliling pesawat.


"Menyerahlah kalian para terorisme kami sudah mengepung kalian..." Jenderal tua berkata melalui pengeras suara.


Setelah menyelesaikan insiden dengan para reporter. Jendral tua sangat senang karena pesawat dapat kembali ke bandara, sekarang akan menjadi tugasnya untuk memberantas para terorisme.


Puluhan reporter dengan luka lebam di bagian wajah hanya bisa menyesal tidak dapat mengambil gambar dengan dekat. karena jendral tua melarang para reporter yang mendekat.


Sebelumya yang memiliki luka lebam di katakan reporter teladan, sekarang setelah diri mereka memiliki luka lebam di usir dari lokasi penerbangan.


"Kalian semua telat..." Materai adalah orang pertama yang keluar dari pesawat sambil merangkul seorang pilot yang terluka.


"Apa yang sebenarnya terjadi... " Semua pasukan khusus bingung begitu juga jendral dan para reporter di kejauhan.


Ambulan langsung berdatangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap dua Pilot dan semua penumpang.


Materai langsung di undang jendral kepolisian guna menanyakan situasi lebih lanjut.


Kembali Ke Lisin yang menggantung menggunakan parasut. demi mempercepat kecepatan jatuh Lisin dengan sengaja melubangi bagian parasut.

__ADS_1


"Sial... apartemennya yang mana?" Lisin kebingungan mencari lokasi dari Ningsih, keberadaan parasut menarik perhatian banyak orang. kemudian Lisin melihat timer waktu menunjukkan waktu 10 menit.


Bersambung...


__ADS_2