
"Nak, kamu ingin menjadi pahlawan dan menyelamatkan kecantikan. Aku khawatir kamu tidak memenuhi syarat..." Pria paruh baya itu tersenyum dingin, matanya penuh penghinaan.
"Sungguh, aku ingin melihat seberapa kuat seorang pembunuh bayaran..." Kata Lisin dengan dingin. Pihak lain hanya seorang pembunuh bayaran. Bahkan jika ada Lima datang bersama, Lisin masih tidak akan menempatkan mereka di matanya.
Begitu Lisin menjadi marah, akan ada mayat yang menutupi tanah dalam seribu mil. Itu adalah mimpi terburuk dari semua musuh - musuhnya. Namun jika musuhnya wanita cantik mungkin Lisin akan memberikan kesempatan kepadanya hanya sebagian penghangat tempat tidur.
"Mati..."
"Dor..."
"Dor..."
"Dor..."
Pria paruh baya itu menggunakan jarinya untuk menarik pelatuk dan siap menembakkan peluru. Tetapi saat berikutnya, Lisin menghilang dari hadapannya dan tembakan tersebut mengenai udara kosong.
"Sial... Dimana dia..."
Hal ini terjadi karena Lisin menggunakan kecepatan super sehingga lawannya tidak menyadari pergerakan Lisin.
Pembunuh bayaran itu menggosok matanya sendiri dan melihat dari kiri ke kanan tetapi tidak bisa menemukan Lisin di manapun. Wajahnya berubah dan dia mulai berkeringat dari dahinya.
"Mencariku?..." Suara menggoda tiba - tiba terdengar dari belakang pria paruh baya itu.
Sial, Sejak kapan dia berada di belakangku?
Pembunuh bayaran berbalik dan menemukan bahwa Lisin berdiri di belakangnya, dia terkejut seperti dia melihat hantu di siang bolong. Dia bahkan tidak punya waktu untuk beraksi Saat Lisin menggunakan kakinya untuk menendang perutnya.
"Kach!..."
"Oh, kamu menggunakan rompi anti peluru..." Kata Lisin dengan datar.
Pembunuh bayaran itu terlempar cukup jauh, namun Lisin tidak tinggal diam. dia menendangnya lagi.
"Kach!..."
Pembunuh bayaran itu cukup cerdik karena melakukan bidikan kearah Mei Lan yang cukup dekat dengan dirinya.
"Mati..."
Sebelum dia bisa menarik pelatuknya. Lisin dengan secepat kilat berdiri di dekatnya, lalu mengulurkan tangan kanannya, dan segera mengambil pistol pembunuh bayaran tersebut. Lisin meremasnya dengan santai dan itu berubah menjadi tumpukan logam dan jatuh ke tanah.
Sekarang Pembunuh bayaran itu melihat Lisin dengan ketakutan di wajahnya.
"Monster..."
Mei Lan Juga melihat tindakan Lisin dan itu sangat mengejutkan. juga membuatnya bergidik ketakutan. Pistol yang terbuat dari logam saja bisa diremas hingga hancur berkeping - keping. Bagaimana jika semangka miliknya diremas dengan kekuatan penuh. Apakah akan hancur! meledak! atau menetas!
"Klik..."
__ADS_1
Lisin menjentikkan jarinya kemudian siap memberikan sugesti Hipnotis.
"Dalam hitungan ketiga kamu akan mengatakan setiap jawaban dari pertanyaan ku dengan jujur..."
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
"Pertanyaan pertama, siapa orang yang memasang harga untuk kepala Mei Lan..."
Pembunuh bayaran tersebut kembali normal dalam diam, dia langsung mengatakan dengan jujur tanpa ada kebohongan. "Kami dipesan melalui saluran online dan pemesan memiliki nama Mei Ling..."
Mei Ling!
Lisin terdiam, dia tidak mengenalnya dan hanya Mei Lan yang mungkin bisa mengenali pemilik dari nama ini.
Perkataan pembunuh bayaran tersebut tidak terlalu keras, namun Mei Lan yang berada cukup dekat dapat mendengarnya.
"Mei Ling..." Kata Mei Lan dengan tidak percaya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ternyata pemesan pembunuh bayaran dalam dua insiden yang melibatkan dirinya ternyata adiknya sendiri.
"Bohong... Dia pasti berbohong..." Mei Lan berdiri dan berjalan mendekati Pembunuh bayaran dan ingin melihatnya mengakui jika dia sedang berbohong.
"Dia tidak berbohong, dia sedang dalam pengaruh sugesti hipnotis, Dan di akan mengatakan yang sesungguhnya..."
Lisin langsung menjelaskan dan membuat Mei Lan semakin bersedih.
Pada hari di mana Lou Ming memilih antara adiknya dan dirinya. Jelas Lou Ming yang mengetahui latarbelakang keduanya sudah mengetahui kebusukan Mei Ling dan untuk itu dia lebih memilih Mei Lan sebagai jaminan pelunasan hutang.
Dari sinilah kebencian Mei Ling terhadap kakaknya tumbuh. Dia jelas ingin menjadi nyonya besar Keluarga Lou di bandingkan Kakaknya. Dia tidak peduli jika Lou Ming hanya pria tua bau tanah yang lebih pantas menjadi kakeknya daripada suaminya.
Menurut Mei Ling, selama dia menikahi Lou Ming, dia akan memiliki segalanya. dan bisa memiliki apapun yang diinginkannya. namun kesempatan tersebut harus hilang karena Kakaknya yang terpilih. jadi dia berniat membunuh Mei Lan hanya untuk menggantikan dia menjadi calon istri Taipan kaya raya Lou Ming.
Sungguh kebenaran yang membaggongkan.
Hanya karena tidak dapat menikahi pria tua. Seorang wanita rela memesan pembunuh bayaran untuk membunuh saudarinya. Sepertinya uang akan membutakan siapapun yang memiliki pemikiran sempit.
"Mei Lan, Bisakah kamu tenang, kamu hanya perlu bertemu dengan Mei Ling untuk mengetahui jawabannya..."
Mei Lan mengusap air matanya, hanya melalui perkataan Lisin entah mengapa membuatnya kuat dalam menahan kesedihan yang di milikinya.
"Pertanyaan kedua, Di mana pertemuan yang kamu sepakati dengan Mei Ling..."
Pembunuh bayaran langsung mengatakan tempat yang sudah di sepakati, tempat tersebut berada di Gedung yang di tinggalkan. yang ada di pinggir perkotaan Shanghai.
Lisin melihat kearah Mei Lan dengan berniat akan mengunjungi tempat tersebut. Jika masalah Seperti Mei Ling tidak terselesaikan dengan benar, maka hanya menimbulkan masalah lain di masa depan.
"Dalam hitungan ketiga kamu akan pergi menemukan tempat sepi dan melakukan bunuh diri..."
"Satu..."
__ADS_1
"Dua..."
"Tiga..."
Mei Lan seperti tidak percaya saat Lisin menambahkan sugesti bunuh diri. Namun apa yang Lisin lakukan adalah pilihan tepat.
Lisin tidak mungkin melepaskan seorang pembunuh bayaran. dia juga tidak mempertimbangkan untuk menjadikannya bawahan. Juga dia tidak ingin mengurus mayat seseorang pembunuh bayaran.
Pembunuh bayaran tersebut langsung pergi tanpa penundaan, jelas tidak dapat menolak pengaruh dari Sugesti hipnotis.
Niat membunuh!
Bagaimana mungkin masih ada niat membunuh di sekitar jalan, padahal pembunuh bayaran baru saja pergi.
Sial, Sebelumnya dia menyebutkan kata "Kami..." Yang mengartikan lebih dari satu orang.
Lisin sangat sensitif terhadap niat membunuh orang lain. Yang mengherankan adalah mengapa dia masih bisa merasakan niat membunuh yang kuat.
Niat membunuh kali ini begitu kuat, mungkin lebih kuat dari niat membunuh pria paruh baya sebelumnya.
Titik Merah!
Dari Cahaya Laser!
Lisin tiba - tiba memperhatikan bahwa ada titik merah pada pakaian Mei Lan tepatnya pada bagian jantungnya.
Sial, penembak jitu. Ceroboh, Lisin benar - benar ceroboh. Saat ini, dirinya hanya bisa menyalahkan diri sendiri.
Lisin awalnya mengira hanya ada satu pembunuh bayaran. Dia tidak memikirkan kemungkinan bahwa akan ada penembak jitu.
Sniper adalah pembunuh jarak jauh. Itu bisa mengakhiri hidup targetnya dengan satu tembakan.
Jika penembak jitu ini membidik Lisin, Tentunya bukan masalah besar. dengan kekuatannya yang kuat Lisin secara alami bisa menghindarinya atau bahkan bisa menghentikannya dengan tangan kosong seperti sebelumnya.
Tapi penembak jitu ini telah membidik Mei Lan. Sebagai manusia biasa Mei Lan akan menjadi sasaran empuk, tidak mungkin dia bisa menghindarinya. Jika peluru datang, maka Mei Lan akan mati tanpa keraguan.
"Bang..."
Peluru fatal datang dari kejauhan, diarahkan langsung ke jantung Mei Lan.
"Mei Lan, berhati - hatilah.."
Wajah Lisin berubah dan meraung, dia secara tiba - tiba memeluk Mei Lan, untuk melindunginya tanpa mengetahui di mana peluru tersebut akan bersarang.
Lisin tidak bisa menghentikannya seperti sebelumnya karena jarak antara dirinya dengan Mei Lan sekitar 5 meter.
"Shiu!..."
Peluru itu mendarat tanpa ampun di bahu Lisin, gelombang besar darah tiba - tiba keluar, mewarnai pakaiannya dengan segera. Beberapa darah bahkan terciprat ke wajah cantik Mei Lan.
Lisin memeluk Mei Lan, sambil berguling - guling di tanah dan bersembunyi di balik mobil untuk menghindari tembakan Sniper berikutnya. Dari sisi lain mobil, beberapa tembakan terdengar lagi.
__ADS_1
Bersambung...