Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 159


__ADS_3


Padepokan Tengkorak bagian barat lereng gunung Kawi.


"Bedebah..." Ki Bajang melemparkan tungku perapian tertentu yang di gunakan untuk pembakaran, kemudian membakar boneka jerami di atasnya.


Setelah mendengar cerita secara keseluruhan dari pria paruh baya yang melakukan pengintaian, dirinya memahami jika sumber masalah pertama adalah Wulan dan dirinya harus membunuh janin yang ada di dalam kandungan Wulan.


Ki Bajang yang mengetahui jika yang membunuh putra dan cucunya adalah Lisin dari dunia luar maka dirinya harus membalas dendam. Walaupun Perguruan Macan putih tidak membunuh secara langsung, setidaknya mereka harus di salahkan.


Mata ganti mata, gigi ganti gigi...


Karena itu Ki Bajang harus membunuh calon anak Lisin yang masih berupa Janin. Untuk membalas dendam Ki Bajang juga tidak akan berhenti di sana, dirinya harus membasuh perguruan macan putih dengan darah.


Informasi tentang Lisin belum sepenuhnya tergali jadi Ki Bajang belum bisa mencelakai orang - orang terdekatnya, yang pasti Amarah Ki Bajang tidak akan hilang sebelum membuat Lisin sengsara.


Sebelumnya dirinya berusaha untuk mengirimkan Satet melalui Banaspatih dalam kendalinya namun berhasil dinetralkan oleh orang lain.


"Apakah Ki Jarot yang melakukannya..." Ki Bajang hanya bisa membuat dugaan, Perguruan macan putih juga memiliki ahli mistis yaitu Ki Jarot. Sedangkan Lisin, Ki Bajang tidak menduga jika dia yang melakukannya.


Sebelum Ki Bajang memimpin pergerakan dengan ribuan Murid Perguruan Tengkorak, Dirinya akan lebih awal menggunakan ilmu Santet untuk memberikan peringatan jika menyinggung dirinya tidak akan selamat.


.....


Padepokan Macan putih bagian sisi timur lereng gunung Kawi.


"Ki Jarot apakah kamu yakin jika Banaspatih menembus penghalang yang kamu tempatkan?..." Mahesa bertanya dengan terkejut, setelah meninggalkan Halaman belakang dirinya beristirahat karena banyak pemikiran. namun Ki Jarot membawakan kabar buruk untuknya.


"Banaspatih ini sepertinya kiriman dari Ki Bajang..." Ki Jarot menjelaskan pendapatnya dengan hati - hati.


Ki Jarot ini berada dalam generasi yang sama dengan Ki Bajang hanya saja kemampuan keduanya bagaikan langit dan bumi.


Tingkatan kanuragan Ki Jarot tidak dapat di bandingkan dengan Ki Bajang yang sangat fenomenal pada masanya.


"Halaman belakang!!!... Tidak putriku Wulan..." Mahesa berteriak dengan cemas, walaupun putrinya bersama dengan Lisin tetap saja Mahesa tidak akan berpikir jika Lisin dapat menghendaki Banaspatih yang di kirim oleh Ki Bajang.


Dengan cepat Mahesa menuju ke halaman belakang, diikuti Ki Jarot dan beberapa pengurus Padepokan Macan putih.


"Wulan kamu tidak apa - apa?..." Mahesa berteriak dari kejauhan.


"Ayah... Mengapa kamu begitu panik, Ki Jarot juga dan mengapa semuanya datang kesini..." Wulan berteriak dengan bingung.


"Banaspatihnya..." Mahesa melihat bola api berputar - putar di sekeliling Lisin yang sedang menutup kedua matanya.

__ADS_1


"Tidak mungkin..." Semua orang seperti melihat hantu, bagaimana tidak... Banaspatih yang di kirim Ki Bajang terkenal tidak dapat di patahkan, namun mengapa Lisin bisa mengendalikannya dengan mudah.


Banaspatih sendiri memiliki banyak bentuk dan banyak jenisnya, seperti Banaspatih Air, Api atau tanah. untuk jenisnya bisa menggunakan jin suruhan, roh orang mati, atau kanuragan yang di bentuk untuk mengikuti perintah.


Banaspatih Api biasa di gunakan oleh perdukunan atau ilmu hitam dengan niatan untuk mencelakai seseorang tertentu.


"Lisin... apakah kamu juga bisa menggunakan ilmu mistis..." Pertanyaan Mahesa mewakili semua orang.


Bahkan Ki Jarot tidak bisa berkata - kata, Jika itu dirinya... Ki Jarot tidak akan sanggup menghentikan Banaspatih kiriman dari Ki Bajang.


"Sedikit..." Lisin perlahan membuka mata lalu melihat kearah semua orang.


"Ki Bajang berniat memberikan salam untukku... Maka aku akan membalasnya..." Lisin berkata dengan datar.


Semua orang terdiam, jika itu perkataan orang lain atau sebelum Lisin menaklukkan Banaspatih, pasti semua orang akan memarahinya tidak tahu luasnya langit dan bumi.


Ki Jarot hanya bisa berdiam di depan Lisin, karet yang kuat layak untuk berbicara sedang yang lemah hanya bisa mendengarkan.


"Lisin... Sebelum itu, penghalang padepokan Macan putih terlalu rapuh, walaupun kamu bisa menekan Ki Bajang kita tidak bisa bertahan, jika Ki Bajang menggunakan ilmu hitam lebih dari satu..." Mahesa tidak hanya menghawatirkan Wulan dirinya juga menghawatirkan pihaknya yang lain.


"Aku mengerti... Siapa yang memasang penangkal cacat yang tidak berfungsi dengan baik..." Lisin bertanya.


Ki Jarot sedikit kesal, namun hanya bisa mengakuinya.


"Aku yang meletakkannya..." Ki Jarot mengaku dengan sombong.


"Lisin dia Ki Jarot, Praktisi yang Perguruan macan putih miliki..." Mahesa memperkenalkan.


"Baik... Ki Jarot, Kamu menggunakan penangkal Tiga arah, hanya saja tidak lengkap. itu sebabnya aku mengatakannya cacat..." Lisin menjelaskan.


Ki Jarot hanya bisa terkejut, dirinya juga memahami jika penangkal yang dirinya tempatkan memiliki kekurangan, Ki Jarot tidak berharap jika Lisin yang terbilang sangat muda akan dapat mengetahuinya hanya sekali Melihat.


"Tuan Lisin apakah kamu bisa menyempurnakannya..." Nada bicara Ki Jarot yang awalnya sombong menjadi rendah diri.


"Aku tidak akan menyempurnakannya melainkan membuat yang baru dan harus lebih baik... Aku menyebutnya Penangkal Sembilan Arah..." Perkataan Lisin membuat semua orang terkejut.


Terutama Ki Jarot, yang sangat memahami tentang jimat penangkal, dirinya jelas mengetahui seberapa sulit struktur Penangkal Tiga arah, apa lagi struktur Penangkal sembilan arah.


Apa lagi Ki Jarot belum pernah mendengar tentang Penangkal Sembilan arah.


"Belum pernah mendengar, bukan berarti tidak pernah ada... Apakah kalian mendengar jika Di atas langit ada langit, Kalian akan memahaminya setelah melihat hasilnya..." Lisin tersenyum misterius.


"Baik... Ki Jarot kamu akan membantu Lisin mengurus semua bahan dan keperluan yang dia minta..." Mahesa berhenti sejenak.

__ADS_1


"Dengan sifat pendendam Ki Bajang. malam ini dia akan menggunakan semua ilmu hitam miliknya untuk mencelakai orang - orang yang dekat dengan kita..." Mahesa berkata sambil melihat semua orang.


"Mungkin penangkal yang Lisin ciptakan akan menjadi penyelamat untuk semua orang..." Mahesa berbicara dengan kepercayaan mutlak, dan semua orang melihat harapan dari perkataan tersebut.


Di bawah Pengaruh santet atau membunuh tanpa menyentuh. mereka semua tidak akan bisa tidur dengan tenang, Jika apa yang Lisin katakan adalah benar maka semua orang akan sangat bersyukur.


Semua orang langsung membagi tugas untuk menyiapkan keperluan pembuatan penangkal bersama dengan Ki Jarot.


"Lisin... Apakah kita akan menang?..." Wulan bertanya.


"Menang?... Kemenangan tidaklah kekal, aku hanya melakukan yang terbaik... Demi anak kita..." Lisin tersenyum.


Wulan mendekat kemudian berinisiatif menciumnya.


Lisin harus mengakui lawan kali ini lebih berat dan cukup merepotkan dari pada musuh - musuh yang pernah dirinya Lawan.


.....


Di tempat Ki Bajang...


"Semuanya mengambil satu persatu..." Ki Bajang memberikan boneka jerami kepada masing - masing Murid Perguruan Tengkorak.


Lebih dari seribu murid Perguruan memegang boneka jerami pada setiap genggaman tangan mereka.


"Seperti yang kalian dengar, Perguruan Macan putih membunuh Putraku Malwageni dan cucuku Suliwa... Mereka juga merenggut orang yang dekat dengan kita..." Ki Bajang melihat semua muridnya mengangguk dengan puas.


"Malam ini aku akan membuat Perguruan Macan putih mengalami apa itu teror sesungguhnya..." Ki Bajang berbicara dengan lantang.


Seribu murid Perguruan pada dasarnya di ajarkan ilmu hitam dan mereka semua dapat mengirim santet walaupun tidak sekuat Ki Bajang secara pribadi.


"Ya... Perguruan Macan putih telah mengambil teman kita..."


"Kekasihku mati di bunuh Mereka..."


"Kita harus membalasnya..."


"Keadilan untuk mereka yang sudah tiada..."


Tatapan mereka semua penuh dengan kebencian, dalam perselisihan antara dua Perguruan yang sangat lama, kedua Perguruan memiliki masing - masing korban jiwa, untuk itu tidak ada kata damai untuk keduanya.


"Benar... Benci mereka, kalian harus marah... Semakin kalian membenci maka ilmu hitam kalian semakin kuat... Hahaha... Mahesa Penangkal yang kamu miliki apakah bisa menahan seribu Banaspatih sekaligus?" Ki Bajang menambahkan.


Ki Bajang sangat marah karena Banaspatih miliknya gagal dan sekarang dirinya sangat yakin tidak akan gagal.

__ADS_1


Dengan cepat Seribu Lebih Banaspatih terbang di antara pepohonan dan gelapnya malam. semua bola api terbang menuju satu tujuan kearah Timur.


Bersambung...


__ADS_2