
Alunan piano memasuki tahap akhir, setelah Lisin menyelesaikan permainan pianonya, dirinya melihat kearah lautan penonton yang dipenuhi oleh semangat yang luar biasa.
Saat di dalam ruangan kosong bersama dengan Dewi sebelumnya, Lisin mendengarkan satu nyanyian dari Dewi dan itu lagu Laskar pelangi, Awalnya Lisin tidak terlalu berharap banyak. namun, saat Dewi menyanyikannya Lisin sangat terpukau dengan suaranya yang merdu.
Hanya saja pembawaannya sedikit kurang bersemangat, dan ada rasa kesepian yang Dewi rasakan. kemungkinan besar di karenakan Dewi kesulitan untuk berteman.
Lisin sudah siap jika hasilnya sedikit akan buruk karena pembawaannya yang kurang mendalami. Lagu Laskar pelangi mengharuskan penyanyinya bersemangat tidak bisa di bawakan dengan tempo lambat apa lagi dalam suasana sedih.
Namun siapa yang berharap jika Dewi akan menghancurkan keraguan yang ada di hati Lisin, selain suaranya yang merdu, aksi panggung dan pembawaannya melebihi ekspetasi dirinya.
Hasilnya dapat di lihat melaui lautan penonton yang berdiri dan terus menerus meneriakkan namanya.
"Dewi..."
"Dewi..."
"Dewi..."
Baik Mahasiswa atau mahasiswi, jelas mereka sangat terpukau, mereka seperti melihat sosok bintang sesunguhnya berdiri di atas panggung.
Dewi tidak hanya keindahan, baik suara dan aksi panggungnya sangat melekat di hati para penonton, khususnya mareka yang berwisuda.
"Terima kasih... Semuanya..." Dewi berkata dengan malu, kali ini dirinya ingin melakukan perubahan, dan tidak ingin terus menerus bersikap dingin.
"Lagi..."
"Lagi..."
"Lagi..."
Semua penonton memintanya untuk bernyanyi sekali lagi, jelas Dewi tidak berharap semua penonton akan menyukai lagu yang di bawakanya.
Dewi melihat kearah Lisin yang ada di dekatnya, Dirinya merasa sangat berterimakasih walaupun semuanya berjalan lancar, Tanpa bantuan nada piano yang Lisin lakukan, pasti hasilnya tidak akan mencapai tingkat ini.
Alasan mengapa Dewi membawakan lagu ini bukan karena tema perpisahan saja, itu karena lagu ini memiliki makna pertemanan yang mendalam.
Untuk hati Dewi yang kesepian, lagu ini sangat berkesan dihatinya dan berharap memiliki seorang teman, apa lagi dalam film live actionnya yang cukup fenomenal.
Film Laskar pelangi yeng menceritakan sekumpulan anak sekolah dasar yang memiliki keterbatasan pendidikan dalam mengejar impian.
Dewi berharap suatu saat dirinya memiliki teman seperti itu, maka dari itu dirinya sangat hafal dan paham tentang Lagu Laskar pelangi.
Lisin mengangguk... Karena penonton ingin keduanya membawakan lagu Laskar pelangi lagi, mengapa tidak.
Berikutnya, Lisin dan Dewi menyanyikan lagu Laskar pelangi hingga tiga kali berturut-turut. Sebelum akhirnya turun panggung.
Dewi di kerumuni oleh banyak mahasiswi yang mengaguminya dan ingin berteman dengan Dewi, sedangkan Lisin hanya bisa tersingkir.
Sekarang Dewi adalah idola baru kampus menggantikan posisi Rehan yang tidak ada kabarnya lagi.
Dewi meminta maaf kepada Lisin karena tidak bisa menemaninya lagi dan Lisin tidak mempermasalahkannya.
"Bro Lisin... kamu membuat kami bangga..." Brian berkata dengan tertawa.
"Aku tidak menyangka jika kamu akan begitu mahir bermain piano..." Alim menambahkan.
"Benar, Apa lagi kamu bisa membuat Dewi sih kulkas bisa cetar membahana seperti ini..." Jo berkata dengan heran, namun mengingat pihak lain adalah Lisin, ketiganya memakluminya.
"Tolong minggir... Disini ada pasien yang sedang kritis mau lewat..." Seorang petugas ambulan membawa tandu dengan pasien yang sangat menyedihkan di atasnya. Menerobos kerumunan.
__ADS_1
Petugas ambulan langsung memasukkan pasien kritis tersebut melalui pintu mobil ambulan bagian belakang, kemudian Pergi dengan diiringi suara sirine ambulan.
"Wajahnya tidak dapat di kenali, mengapa dia bisa bernasib seperti itu?..." Lisin bertanya dengan heran.
"Aku mendengar dari salah satu saksi mata jika dia mencari kesempatan dalam kegelapan..." Brian berkata dengan menghina, walaupun dirinya pernah jomblo tapi dirinya tidak terlalu memaksakan kehendaknya, dengan melakukan pelecehan terhadap pacar orang lain.
Tips untuk kaum Jomblo. Kan ada sabun yang selalu ada untuk kita... mengapa harus melakukan pelecehan.
"Aku dengar dia jomblo yang tidak kuasa menunggu kedatangan jodohnya..." Alim menambahkan, saat ini dirinya bisa sombong karena sudah memiliki pacar.
"Benar, Tindakannya mengajarkan para Jomblo yang ada di dekatnya untuk bersabar dalam penantian, dari pada bertindak sesuatu yang merugikan kaum wanita..." Jo menambahkan sambil tersenyum, dirinya sangat bersyukur bertemu dengan Lisin. jika tidak, mungkin dirinya akan melakukan hal yang sama.
"Oh... Seperti itu... Orang yang merugikan kaum wanita tidak boleh di maafkan..." Lisin berkata dengan sinis.
Tentunya pasien yang dibawa pergi petugas ambulan dengan tandu adalah Renah yang di lupakan oleh semua orang.
Lisin tanpa sengaja melihat kearah Dosen Mirna yang mengangguk kearah dirinya.
Benar juga, bukannya Dosen Mirna akan menungguku dibelakang kampus setelah aku melakukan pertunjukan!... Tapi untuk apa, bukannya di belakang kampus tidak ada orang.
Lisin sedikit bingung dengan tindakan Dosen Mirna...
"Teman-teman... Aku ke toilet sebentar..." Lisin berpamitan kepada trio wik wik, kemudian menghilang di kejauhan.
Begitu juga dengan Dosen Mirna yang duduk di tempat sebelumnya, telah pergi lebih awal.
"Hei... Kalian tidak ke toilet juga?..." Setelah Lisin pergi, Brian bertanya kepada Alim dan juga Jo.
"Aku ikut..." Alim menngangguk.
"Aku juga, Kasihan bro Lisin ke toilet sendirian..." Jo menyarankan.
Trio wik wik mengikuti arah kepergian Lisin.
Di bandingkan dengan bagian depan kampus yang sangat ramai, bagian belakang kampus seperti kuburan karena tidak ada satupun orang di sana.
Dosen Mirna berniat untuk meluruskan Lisin yang salah jalan dengan tubuhnya, untuk itu dirinya menunggu kedatangan Lisin tepat di depan toilet wanita.
Dirinya tidak ingin membuat skandal dengan mahasiswa bimbingannya sendiri, namun dirinya tidak bisa membiarkan Lisin kecanduan terhadap sabun.
"Dosen Mirna..." Lisin yang datang dari kejauhan memanggilnya dengan bingung.
Lisin bertanya-tanya, Jika Dosen Mirna berniat mengatakan sesuatu. mengapa harus di belakang kampus, kan di tempat lain bisa.
"Lisin..." Mirna berkata dengan malu.
"Apakah ada hal penting yang membuatmu mengharuskan kita bertemu di belakang kampus?..." Lisin bertanya.
"Sebenarnya... Aku... akan..." Saat Mirna ingin mengatakan tujuannya, kedua matanya membulat karena melihat trio wik wik mendekat.
"Lisin ikut aku..." Mirna menarik lengan Lisin dan masuk ke toilet khusus wanita.
"Eh..." Lisin terkejut, karena dirinya memasuki toilet wanita, bagaimana jika ada Mahasiswi di dalam, bukankah dirinya akan menjadi bahan gosip di antara para mahasiswi?
Sial... Apa yang Dosen Mirna pikirkan.
Sedangkan itu Trio wik wik memasuki toilet pria yang memiliki posisi tempat bersebelahan dengan toilet wanita.
Kedua tempat hanya di pisahkan dengan dinding tipis, bahkan suara pancuran air kran dapat di dengar satu sama lain.
"Aneh... Mengapa bro Lisin tidak ada di dalam..." Brian berkata dengan bingung, saat ini trio wik wik memasuki toilet pria yang bisa menampung selusin orang sekaligus.
__ADS_1
"Mungkin bro Lisin tidak jadi pergi ke toilet..." Alim menambahkan.
"Mungkin saja..." Jo mengangguk setuju.
Sedangkan itu di toilet wanita, Lisin berduaan dengan Dosen Mirna, dan dirinya bisa mendengar ketiga temannya saling berbicara di sebelah dinding tipis.
Sial... Mengapa Brian, Alim dan Jo ikutan ke toilet, dan juga jika Mahasiswi melihatku di toilet wanita pasti akan menyebutku sebagai orang mesum.
"Dosen Mirna... Apa yang kamu lakukan?..." Lisin berbisik dengan pelan.
Keduanya saling berpelukan, Lisin tidak berharap jika Dosen Mirna akan memeluknya dari bagian depan.
Sial lembut sekali...
"Lisin... Bukannya kamu ingin memakanku?..." Mirna langsung mengatakan tujuannya.
Jangan bilang Dosen Mirna menganggap serius perkataanku sebelumnya.
"Aku... Salah bicara saat itu" Lisin menelan seteguk ludah karena gugup.
Jika itu di tempat lain pasti Lisin tidak akan gugup, hanya saja saat ini tempatnya terlalu khusus belum lagi ada trio wik wik di samping dinding tipis.
"Lisin, Aku tau kamu pasti sangat menderita begitu lama, Aku sebagai Dosen akan membantumu..." Dosen Mirna menggunakan tangan saljunya untuk memegang benjolan yang sesak dan ingin meledak.
"Uk... Dosen Mirna... Kita tidak bisa melakukannya..." Lisin merintih keenakan.
"Mulut mu bilang tidak, namun bagaimana dengan temanmu yang ini..." Dosen Mirna berkata dengan senyum menggoda sambil terus mengelus Bagian itunya.
Joni... Sial... Jika Joni ngambek aku akan lepas kendali, Dosen Mirna ini tidak mengerti dengan siapa dia berhadapan.
Jelas Lisin tidak ingin di bimbing orang seorang wanita, dia harus memberi pelajaran terhadap Dosen Mirna ini.
Karena Lisin sangat kuat, dirinya mendorong Dosen Mirna kearah dinding tipis, untung saja dirinya tidak menggunakan seluruh kekuatannya jika tidak dingin tipis tersebut akan hancur.
"Lisin..." Mirna merintih karena kedua tangan Lisin meremas dua semangat lembutnya.
Dosen Mirna... Jangan salahkan aku...
Lisin terus memainkan tangannya membelai secara keseluruhan dan terus menerus.
"Aaaaa..." Dosen Mirna berteriak, dan Lisin dengan cepat menutup mulutnya.
Sial... Aku terlalu bersemangat, bagaimana jika teriakan Dosen Mirna di dengar Brian, Alim dan Jo yang ada di sebrang dinding.
Sedangkan itu di dalam toilet pria.
"Alim... Jo... Apa kalian mendengarnya?..." Brian bertanya.
"Tentu saja..." Alim mengangguk, kemudian ketiganya mendekat kearah dinding tipis.
"Tidak salah lagi ini pasti perbuatan pasangan mesum..." Jo menambahkan.
"Sial... Jiwaku meronta-ronta... Kita harus menangkap pasangan mesum ini..." Brian berkata dengan kesal.
Bersambung...
*Tolong di ingat novel ini hanya hayalan bukan pengalaman author...
*Awas saja bertanya, 'Tor bisa aja bikin adegan gituan padahal jomblo?'
*Yang bertanya tidak memiliki hati nurani.
__ADS_1
*Apa lagi yang komen 'Mcnya maksiat terus Tor' tapi kok minta crazy up.
*Sungguh mengherankan.