
Di suatu tempat sisi lain dari lereng gunung Kawi, tepatnya bagian barat gunung Kawi dan cukup dekat dengan kediaman Padepokan Tengkorak yang tersembunyi.
Di bandingkan dengan Padepokan macan putih, Padepokan yang satu ini memiliki energi negatif yang cukup kental dan terasa cukup mistis. beberapa orang dari dunia luar akan mendatangi kawasan tersebut untuk mencari pesugihan.
Dari kejauhan pasangan suami istri mendatangi pondok tua untuk mencari pesugihan dari dukun tersohor.
"Pa... Apakah benar, ini tempatnya..."
"Benar Ma..."
"Mengapa tempatnya seram Pa..."
"Di mana - mana, Orang sakti pasti tinggalnya di tempat seperti ini... Mama ingin papa kaya kan..."
"Tentu saja Pa... Mama ingin beli kipas angin Pa..."
"Gampang Ma... Setelah Papa meminta bantuan Ki Bajang... Papa akan kaya raya Ma..."
Keduanya dapat melihat tempat - tempat yang terkenal mistis di kawasan lereng gunung Kawi.
Seperti Monumen yang kononnya di gunakan untuk sesembahan, sejak keduanya menginjakan kakinya di kawasan tersebut, mereka merasakan seperti ada seseorang memanggil nama mereka.
"Masuklah..." Dari dalam pondok tua, ada seruan dari seseorang agar masuk kedalam pondok tua tersebut.
Hawa mistis sangat kental dan sangat jelas jika seruan tersebut dari Ki Bajang. Dukun tersohor yang mendiami lereng angker Gunung Kawi.
Ki Bajang sedang duduk bersila dengan banyak benda mistis di sekelilingnya.
"Ki Bajang... Kita berdua-" Keduanya melihat Sosok pria tua berambut gondrong dengan kumis tebal, hampir keseluruhan rambutnya berwarna putih.
"Suuttt... Di depan Ki Bajang tidak perlu mengatakan tujuan kalian karena Ki Bajang sudah mengetahuinya..." Ki Bajang menjelaskan.
"Emh... Kalian datang kesini pasti karena sedang dalam kesulitan kan, hahaha... Ki Bajang sudah menerawang kalian Hahaha..." Ki Bajang tertawa.
Ya Jelas lah... Namanya orang yang mendatangi dukun pasti sedang dalam kesulitan.
Pasangan tersebut sangat terpukau dengan tebakan Ki Bajang.
"Jadi kalian ini kesini menginginkan momongan, kekayaan atau juga saingan bisnis lebih unggul jadi ingin pesan santet?..." Ki Bajang bertanya.
Pasangan tersebut sedikit bingung, bukannya Ki Bajang sudah menerawang maksud dan tujuan mereka berdua, mengapa masih bertanya?
"Kita ingin kekayaan Ki..."
"Hahaha... Kalian tahu kan tidak ada makan siang gratis..." Tanya Ki Bajang.
"Tahu Ki..."
"Setiap sesuatu yang kalian dapatkan akan ada yang di korbankan... Syaratnya cukup berat, Apakah kalian sanggup melaluinya?..." Tanya Ki Bajang lagi.
"Kami... Sanggup Ki..."
"Persyaratannya... Apa Ki?..."
"Sangat mudah sekali... Istri kamu harus tinggal di sini, untuk melakukan ritual - ritual yang harus terpenuhi..." Jawab Ki Bajang.
__ADS_1
"Mengapa harus istri saya Ki... Saya kan bisa..."
"Sayang sekali kondisi ini harus seorang wanita..."
"Sampai kapan Ki Bajang?..."
"Ya, Sampai saya puas... Maksudnya sampai ritual - ritualnya terselesaikan... Paham?..." Ki Bajang menatap Istri pasangan tersebut dengan senyuman puas.
"Paham Ki..."
"Pa... Mama takut Pa..."
"Mengapa takut kan ada Ki Bajang yang akan menemani Mama, Ki Bajang tidak akan menggigit, benar kan Ki..."
"Benar..." Ki Bajang menyeringai dari telinga ke telinga.
Tidak akan mengigit paling juga akan memakan mu... hahahaha...
"Tolong jaga istri saya Ki..."
"Oh... Tentu, Ki Bajang paling pintar jika menjaga istri orang..." Jelas sekali, siapapun akan senang menjaga istri orang lain, apa lagi sudah ada ijin dari sang suami.
Suami dari pasangan tersebut keluar dari pondok tua itu dengan bersemangat, jelas dirinya sudah membayangkan kekayaan yang akan dirinya miliki tanpa peduli dengan nasib istrinya.
"Ehm... Ikut dengan ku kita akan memulai ritualnya..." Ki Bajang menatap Wanita yang sedang ketakutan, lalu membimbingnya kedalam kamar.
"Ki Bajang... Apa yang akan kita lakukan di dalam kamar..."
"Sudahlah... Lepaskan saja semua yang kamu kenakan kemudian kita akan melakukan ritualnya... Jangan banyak bertanya, Kamu ingin kaya atau tidak?..." Tanya Ki Bajang.
"Ingin Ki..."
"Ini semua proses ritual yang harus kita lakukan, Ki Bajang sebenarnya tidak ingin melakukannya, hanya saja prosesnya harus seperti ini" jelas Ki Bajang.
"Jangan berpikir jika Ki Bajang Dukun Cabul, ini semua hanya untuk ritual, Mengerti?..." Tanya Ki Bajang.
"Mengerti Ki..."
Benar demi kekayaan, Aku harus melalui ritual - ritual bersama dengan Ki Bajang, aku harus kuat. demi kipas angin, Semangat...
Sungguh semangat yang luar biasa, hanya demi kipas angin wanita tersebut rela melakukan ritual yang tidak jelas.
Ki Bajang sebagai dukun tersohor melepaskan pakaiannya juga, dan keduanya saling merangkul satu sama lain.
"Duar..."
"Ki Bajang... Ki... Ki Bajang..." Seorang pria paruh baya, menerobos masuk kedalam pondok tua.
Pria paruh baya tersebut adalah seseorang yang mengintai kematian Malwageni dan Suliwa sebelumnya.
"Sialan... Siapa yang berani mengganggu kesenanganku, Maksudku Ritual yang aku lakukan..." Ki Bajang berteriak.
Jika pas enak - enaknya di cabut mungkin tidak terlalu masalah bagi Ki Bajang, hanya saja masuk juga belum saat akan masuk di cabut. Bagaimana Ki Bajang tidak kesal.
Ki Bajang, memiliki kepercayaan jika dirinya bisa bercocok tanam sebanyak 1000 wanita yang berbeda, maka dirinya akan menyempurnakan Ilmu keabadian.
Sejak lama dirinya telah bercocok tanam sebanyak 200 wanita berbeda dan tinggal 800 lagi. Ki Bajang sangat yakin akan menyelesaikannya cepat atau lambat.
__ADS_1
"Sialan... Apakah kamu tidak mengerti orang sibuk..." Ki Bajang keluar dari pondok tua dengan bertelanjang dada.
"Ki... Ki Bajang, Saya dari Perguruan Tengkorak..." Pria paruh baya mengenalkan dirinya.
"Sudah aku bilang... Aku sudah menyerahkan urusan Perguruan kepada Putraku Malwageni. mengapa kamu ingin mengganggu ku..." Ki Bajang meraung.
"Berita buruk Ki... Tuan Malwageni dan Suliwa Mati di bunuh oleh Orang - orang dari Perguruan Macan Putih..." Pria paruh baya menjelaskan dengan gugup.
"Duarrrr..."
Ledakan gelombang energi dalam terjadi, dinding pondok bagian kanan hancur memperlihatkan seorang wanita tanpa busana yang ketakutan. Ki Bajang sangat Marah setelah mendengar kematian Putranya belum lagi cucu laki - lakinya juga mati.
Bagaimana dengan Garis keturunan Perguruan Tengkorak selanjutnya? jelas punah.
"Jelaskan apa yang terjadi..." Ki Bajang mengambil pakaian dan langsung dikenakannya.
Tidak peduli lagi dengan Wanita yang menginginkan pesugihan, dirinya saat ini langsung pergi Menggunakan Tapak angin dan menuju Ketempat Padepokan tengkorak berada.
Awalnya Ki Bajang sudah memutuskan pensiun dan lebih menikmati profesinya sebagai dukun cabul, sekarang dirinya harus kembali memimpin pasukan Perguruan tengkorak untuk membalaskan kematian Putra dan cucunya.
.....
Lisin tidak mengetahui tentang kemarahan dukun cabul Ki Bajang, dirinya saat ini sedang bucin dengan Wulan.
"Apakah seperti ini?..." Tanya Wulan.
"Benar sedikit lagi... Ahhh..." Lisin menjelaskan dengan kesal.
"Seperti ini..."
"Ahhh... Bukan tapi ke kanan lagi..." Jelas Lisin.
"Apakah... aku harus naik lagi?..."
"Benar, Naikan lagi secara perlahan kemudian turunkan... Ahhhh... Benar seperti itu..." Walaupun saat ini Wulan berada di pangkuannya, Lisin sangat kesal mengajarkan Wulan Permainan Super mario.
"Mengapa mengulang lagi setelah menabrak kura - kura..." Wulan bertanya dengan kesal.
"Ehm... Ehm... Ehm..." Suara batuk seseorang dapat di dengar.
"Pak tua... Jika batuk minum obat..." Lisin menjelaskan tanpa mengetahui siapa yang sedang batuk, dirinya dengan Wulan sedang asik bermain game ponsel.
"Ehm... Ehm... Ehm..." Mahesa yang berpura - pura batuk sudah mencapai batas kesabaran.
"Enak... ya kalian berdua... Ada orang tua datang di abaikan..." Mahesa berkata dengan kesal.
"Ayah..."
"Pak tua..."
Lisin dan Wulan dengan enggan terpisahkan.
"Kalian berdua sudah selesai?..." Kali ini Mahesa langsung duduk di antara keduanya dengan tatapan tajam kearah Lisin.
Keduanya terdiam...
"Baiklah Lisin, aku akan menjelaskan kepadamu tentang krisis yang sedang Kita hadapi, Dengan kematian Malwageni dan Suliwa maka peperangan antara dua Perguruan tidak dapat di hindari. Mungkin akan banyak korban jiwa dari dua Perguruan" Mahesa dengan getir menjelaskan.
__ADS_1
Dirinya tidak menyalahkan Lisin karena masalah peperangan dua Perguruan cepat atau lambat akan terjadi.
Bersambung...