Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 129


__ADS_3


Dalam perjalanan kearah Universitas Negeri malang, Lisin dapat merasakan jika ada seseorang yang memantau dirinya dari kejauhan. Namun, dirinya mengabaikannya karena orang yang memantaunya tersebut menghilang tanpa jejak.


"Apakah hanya perasaan ku?..."


Lisin baru saja mengisi bensin mobil Ferrari di salah satu Pom bensin yang ada di kota malang. Lisin yang merasa jika dirinya di buntuti oleh seseorang memindai sekelilingnya namun tidak menemukan siapapun yang mencurigakan.


Melanjutkan perjalanannya, Lisin berhenti di bengkel mobil milik Hengki terlebih dahulu.


"Bro Lisin, Lama sekali tidak melihatmu..." Hengki menyapa Lisin dengan semangat.


"Seperti yang kamu lihat... Hengki aku ingin tukar mobil, Mungkin setelah aku membeli rumah di kota malang, aku akan memindahkan semuanya" Lisin turun dari mobil Ferrari menghampiri Hengki.


"Tidak masalah..." Hengki tersenyum kemudian memasukkan Ferrari ke garasi dan mengeluarkan Nissan Skyline GTR.


Lisin mengemudikan Mobilnya langsung mengunjungi Universitas Negeri malang, karena lokasinya cukup dekat dengan bengkel mobil milik Hengki.


Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran mobil yang ada di depan, Lisin turun dari mobil.


"Kakak pertama..." Tiga orang memangil Lisin dangan bersemangat.


Lisin seperti ingin muntah mendengarkan panggilan dari Trio wik wik.


"Bisakah kalian bertiga memanggilku dengan sebutan lain... ini bukan novel tentang Wuxia..." Lisin menjelaskan dengan putus asa.


"Bagaimana dengan Senpai... Biar kayak di Jepang..." Alim berkata dengan senyuman.


"Tidak..." Lisin langsung menolaknya.


"Bagaimana dengan Oni-chan... Yamete Oni-chan..." Kali ini Brian yang menyarankan.


"Uhuk... Tidak... tidak... Yang lainnya saja jangan yang itu..." Lisin langsung menolaknya setelah sedikit tersedak.


"Kalian tidak berguna... Bagaimana dengan Sensei... Atau-" Sebelum Jo melanjutkannya Lisin langsung menggantikannya.


"Yang biasa saja... Seperti Bro..." Lisin tidak berdaya, sepertinya dirinya sedikit menyesal kembali ke kampus.


Keempatnya berjalan ke arah taman yang ada di dekat kantin.


Lisin sebenarnya ingin langsung bertemu dengan Dosen Mirna untuk membahas Ujian semesternya seperti apa. namun, dirinya dengan terpaksa mengikuti Trio Wik wik yang memaksanya.


"Bro Lisin... Kamu akan melakukan pertunjukan apa?" Alim Bertanya sambil memimpin jalan.


"Tunggu dulu... Mengapa aku di tanya akan melakukan pertunjukan apa?" Lisin bertanya dengan bingung.


"Bukannya besok ada ujian Semester?..." Lisin menambahkan, entah mengapa dirinya memiliki firasat buruk.


"Bro... Apa yang kamu katakan, Ujian Semester masih satu bulan lagi... malam ini kampus merayakan perpisahan untuk para senior kita yang sudah Wisuda..." Brian berkata dengan bingung, mengapa Lisin mengatakan ujian semester.


"Apa!..." Lisin mulai memahami, mungkin ketiga temannya kurang penuh, jadi kemungkinan berbohong lebih kecil di bandingkan dengan orang yang lebih pintar.

__ADS_1


Kesimpulannya hanya satu, Dosen Mirna membohongi dirinya.


Sial... Mengapa Dosen Mirna berbohong kepadaku?...


"Bro Lisin, bukannya Dosen Mirna sudah memberitahumu jika Kamu akan menjadi perwakilan Kelas untuk melakukan pertunjukan..." Alim bertanya.


"Dosen Mirna bilang kamu akan bernyanyi di atas panggung..." Jo menambahkan.


"Terima kasih, Kita semua sangat tertolong dengan kamu menjadi perwakilan Kelas..." Brian menambahkan garam pada luka Lisin.


Sial... Ini skenario terburuk, Aku tidak bisa menyanyi, Mana mungkin aku bernyanyi Potong bebek angsa dan balonku ada lima.


Dosen Mirna... Mengapa dia berbohong dan juga mengapa menyeret diriku yang tidak mengerti apa-apa.


Awas saja jika aku tidak mendapat jawaban yang memuaskan... aku akan memberimu pelajaran sebagai gantinya.


Lisin memiliki tatapan dingin, dirinya tidak menyusahkan Dosen Mirna, mengapa pihak lain menyusahkan dirinya.


"Lisin..." Suara Lembut mengganggu pikiran Lisin, sedangkan Trio wik wik melihat Wanita tersebut dengan terkejut.


"Kulkas... Tidak maksud ku Dewi... Ada apa?..." Lisin bertanya dengan sopan.


"Aku dengar dari Dosen Mirna kamu akan kembali ke kampus, jadi aku membuatkan kamu bekal makan siang..." Dewi berkata dengan malu, dirinya tidak bisa membalas kebaikan Lisin, jadi dirinya membuatkan bekal sebagai rasa terima kasih.


Sejak kejadian polisi korup dan ayahnya yang tidak bersalah di penjara, jika bukan karena Lisin pasti semuanya akan lebih sulit lagi.


"Terima kasih..." Lisin berterimakasih saat menerima kotak bekal di tangannya, sedangkan Dewi pergi dengan wajah sedikit merona.


"Sial... Bro Lisin aku tidak berharap kalian bisa begitu dekat..." Brian berkata.


"Itu Dewi kan sih kulkas?..." Jo bertanya guna memastikan jika dirinya tidak salah mengenali seseorang.


"Benar Bro kamu tidak salah... Yang salah itu, Bro Lisin sepertinya dia memiliki jimat Anti jomblo... Bro Lisin kamu harus bagi-bagi jimat anti jomblo sama kita-kita..." Alim berkata dengan tidak puas.


Jika itu gadis lain mungkin Trio wik wik tidak akan terlalu terkejut, namun gadis tersebut peraih nilai sempurna di semua mata pelajaran. Belum lagi dia memiliki hubungan sosial yang buruk, Laki-laki yang mendekatinya akan di pastikan gagal. lalu mengapa dia berinisiatif membuatkan Lisin bekal makan siang.


Jika tidak ada ketertarikan apa lagi?


"Kalian bertiga... Bisakah kalian berhenti berpikir yang tidak-tidak?..." Lisin berkata dengan tidak berdaya.


"Bukannya kalian sudah memiliki belahan jiwa kalian masing-masing, mengapa masih menginginkan yang lain..." Lisin menambahkan.


"Masalahnya bukan itu... Kami hanya heran saja mengapa kamu bisa begitu begitu Mudahnya dekat dengan Dewi jika tidak menggunakan guna-guna kami sulit untuk percaya..." Brian berkata dengan curiga.


"Hadeh... Sudahlah... Ayo ke kantin aku akan traktir kalian makan sepuasnya..." Lisin hanya bisa menyogok ketiganya agar bisa diam.


"Hahaha... Ini dia teman yang pengertian, tidak seperti Alim..." Jo tertawa.


"Apa kamu bilang..." Alim menarik baju Jo.


"Sudahlah kalian berdua... Bukannya kita bertiga sama... Lebih baik kita mengikuti perkataan Bro Lisin..." Ketiganya mengikuti Lisin ke kantin.

__ADS_1


Dia saat Alim, Brian dan Jo memakan makanan dari kantin, Lisin memakan bekal buatan Dewi dan dirinya mengangguk berulang kali.


Harus aku akui jika masakan ini sangat enak...


Tentu saja enak... Dewi awalnya tidak terlalu pandai memasak, karena ingin membalas bantuan Lisin walaupun hanya dengan sebuah bekal makan siang, dirinya telah melakukan latihan memasak berulang kali.


Jika Dewi mengetahui tentang Lisin yang memuji masakan miliknya, dirinya pasti akan sangat bahagia.


Tanpa terasa waktu berlalu, Lisin berpisah dengan Trio wik wik dan dirinya langsung pergi menuju ke Kantor Dosen Mirna.


"Tok... tok... tok..." Lisin mengetuk pintu sebanyak tiga kali.


"Masuk..." Suara wanita sangat jelas terdengar dari dalam ruangan.


Lisin memutuskan untuk memasuki ruangan tersebut dan melihat wanita cantik, yang bisa membuat iman siapapun yang melihatnya goyah.


"Glup..." Lisin yang berkali-kali bertemu dengan jenis keindahan saja menelan seteguk ludah, apa lagi kaum jomblo yang kecanduan melihat film jav melalui ponselnya.


"Dosen... Mirna kamu berbohong padaku kan tentang ujian semester..." Lisin melihat Dosen Mirna yang duduk dengan posisi kaki bertumpuk.


Entah mengapa Dosen Mirna menggunakan rok pendek dan memperlihatkan paha salju yang begitu mulus, mungkin lalat akan terpeleset jika hinggap pada barang lembut tersebut.


"Silakan duduk..." Mirna tidak menjelaskan melainkan menyuruh Lisin untuk duduk.


Walaupun Lisin sedikit kesal dirinya memutuskan untuk duduk pada kursi yang bersebrangan dengan Mirna.


Tatapan Lisin sulit beralih dari paha salju tersebut, andaikan bisa menyentuhnya pasti akan sangat menyenangkan.


Paha kanan Mirna yang sebelumnya berada di atas tergantikan dengan paha kirinya yang sekarang berada di atas. Lisin yang fokus bahkan sedikit membungkuk.


Hitam... berwana hitam...


Sial... Di lihat takut dosa tidak di lihat mubazir sungguh rezeki yang tidak dapat disia-siakan apa lagi ditolak.


"Ehm... Lisin mungkin kamu sudah mendengarnya, Kampus mengadakan perayaan perpisahan untuk mahasiswa yang baru saja selesai wisuda. Setiap kelas harus memiliki perwakilan untuk melakukan pertunjukan..." Dosen Mirna menjelaskan.


"Dosen Mirna... Bisakah kamu mengatakannya secara langsung, jangan bertele-tele..." Alis mata Lisin berkedut jelas dirinya kesal terhadap Wanita yang ada di depannya.


"Lisin... Selama kamu memberikan pertunjukan mewakili kelasku... Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan... seperti makan malam denganku misalnya" Mirna tersnyum dirinya sangat yakin jika Lisin akan meminta makan malam dengannya.


Namun siapa Lisin? dia penjahat kelamin, apakah dia akan menerima makan malam begitu saja? tentu saja tidak.


"Apapun?... Bagaimana jika aku meminta sesuatu yang lainnya..." Kali ini sudut mulut Lisin terangkat.


Hahaha... kamu tidak boleh menyesalinya Dosen Mirna.


"Apa yang kamu inginkan?..." Mirna bertanya dengan firasat buruk di hatinya.


"Seperti Memakanmu..." Lisin menatap lurus kedua Mata Mirna, hingga membuat Dosen cantik tersebut tidak bisa berkata-kata.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2