Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 206


__ADS_3


Pak Umar jelas tidak menyukai keluarga Lisin, karena di mata Pak Umar hanyalah sebatas tukang bangunan.


Mana Level dengan keluarga Pak Umar yang konglomerat berdarah biru. Setelah tenggelamnya Jurang Suryo, Awalnya dirinya sangat yakin tidak ada orang yang memiliki kekayaan selain dirinya. namun tidak menyangka jika Keluarga Lisin secara mengejutkan mendadak kaya.


Pasti kalau tidak memelihara tuyul, pasti praktek ngepet. Sejarah tukang bangunan mana mungkin bisa membeli mobil - mobil mewah dan lain sebagainya. Sebagai orang yang terlanjur kaya, Pak Umar jelas tidak akan percaya Bocah yang bekerja di bali selama Tiga tahun bisa mendapatkan kekayaan melebihi dirinya.


Sangat kesal dan panas saat melihat tetangga bisa beli ini beli itu, yang jelas dirinya akan bahagia saat tetangga susah dan akan marah saat tetangga bisa membeli sesuatu yang mahal.


Lisin akan menikahi Delapan wanita sekaligus? Pasti menggunakan guna - guna. Pak Umar semakin yakin jika keluarga Lisin menggunakan praktek pesugihan.


Demi untuk membuat persaingan dalam resepsi pernikahan Lisin yang akan segera di langsungkan. Pak Umar tidak habis akal. putranya yang seharusnya menikah satu tahun lagi langsung di suruh menikah dan mengadakan acara resepsi pernikahan dan harus bertepatan dengan hari resepsi pernikahan milik Lisin.


Tidak berhenti di sana, Pak Umar juga menyebarkan desas - desus jika siapapun yang datang ke acara resepsi pernikahan putranya. maka akan mendapatkan uang 100 ribu rupiah, dengan syarat tidak boleh mendatangi. resepsi pernikahan Lisin.


Sungguh pemikiran yang cerdas. Ingin bersaing tentang membakar uang dengan Lisin, sungguh salah target.


Hari yang di nantikan telah tiba, dan resepsi pernikahan keluarga Pak Umar lebih banyak di datangi oleh warga desa dari pada tempat resepsi pernikahan Lisin. Hahaha... Rencana berjalan dengan lancar. tinggal menunggu malam tiba maka Pak Umar akan menjadi lebih di hormati di bandingkan keluarga Lisin.


.....


Seorang pria paruh baya datang dari kejauhan dengan pakaian yang cukup rapi, seperti rambut yang tersisir dengan kemeja batik dan celana hitam.


Sebut saja Salak dia salah satu warga desa yang kebetulan berniat melakukan kondangan ke acara resepsi pernikahan Lisin. saat di pertengahan jalan dia bertemu dengan warga desa lainnya yang dalam kondisi yang sama. sebut saja Sepet.


"Sepet..." Teriak Salak.


"Salak, Dari mana kamu malam - malam begini..." Tanya Sepet dengan penasaran.


"Kok, kamu nanya... Jelas - jelas pakaian seperti ini untuk menghadiri resepsi pernikahan Lisin..." Kata Salak dengan tersenyum pepsodent.


"Mengapa Tidak menghadiri di resepsi pernikahan anaknya Pak Umar..." Kata Sepet menyarankan.


"Itu dia yang membuatku bingung, namun orang tua Lisin sangat baik kepadaku, masak aku tidak kondangan ke sana..." Kata Salak.


"Salak, sepertinya kamu belum mendengar desas - desus yang baru - baru ini beredar di kalangan warga..." Kata Sepet dengan menggelengkan kepala.


"Sepet, Desas - desus apa ni, Kok aku belum dengar..." Tanya Salak dengan penasaran.

__ADS_1


"Salak... Salak... Sepertinya kamu kurang Update, Makanya sering - sering ngumpul sama tetangga..." Sepet meledek dengan tertawa kecil.


"Sepet, Kamu jangan bertele - tele cepat katakan desas - desus tentang apa nih..." Tanya Salak dengan tampang penasaran.


"Salak, sepertinya kamu harus ikut denganku dan aku sangat yakin, kamu pasti tertarik..." Kata Sepet dengan membujuknya.


"Sepet, katakanlah saja secara langsung..."


"Salak, Jika kamu datang ketempat resepsi pernikahan anaknya Pak Umar, kamu akan mendapatkan uang 100 ribu namun dengan sarat tidak perlu datang ketempat resepsi pernikahan Lisin..." Kata Sepet dengan menggoda Salak.


"Sepet, Kamu yakin bro..."


"Tentu saja bro, seperti tidak pernah tahu tentang Sepet saja... Sepet tidak pernah bohong dengan Salak"


"Sayang sekali bro, sebenarnya Kedua orang tua Lisin sangat baik kepadaku, jadinya tidak baik jika tidak datang ketempat resepsi pernikahannya putra mereka..." Kata Salak dengan menggeleng.


"Salak Sepet... Kalian berdua ngapain?..." Datang lagi orang ketiga, sebut saja dengan Sikat.


"Sikat, Ini kita ingin melakukan kondangan, hanya saja Salak lebih memilih ketempat resepsi pernikahan Lisin dari pada ketempat resepsi pernikahan anaknya Pak Umar..." Sepet menjelaskan kepada Sikat.


"Sepet sepertinya kita dalam pemikiran yang sama, sedangkan Salak biarkan saja dia memilih tujuannya sendiri" Kata Sikat lalu pergi bersama dengan Sepet ke tempat resepsi pernikahan putranya Pak Umar.


.....


Kembali ketempat Lisin berada dan sedang berbincang dengan Ayah dan ibunya.


"Papa tidak tahu pastinya, yang jelas resepsi pernikahan anak Pak Umar di adakan dalam waktu yang bersamaan dengan kita..." Ayahnya Lisin menjelaskan dengan sinis.


"Pak Lisin, Selamat atas pernikahannya..." Salak yang baru saja datang langsung disambut Lisin untuk segera memasuki tempat resepsi, dan mengambil hidangan prasmanan yang tersedia.


Lisin mengenal jika Salak ini salah satu warga desa. Yang biasanya berkumpul dengan dua warga lainnya. jika tidak salah, Salak Sepet dan Sikat. melihat Salak yang masih menyempatkan datang ke resepsi pernikahan dirinya. Lisin berniat mendekatinya.


"Pak Salak, Bisakah aku bertanya?..." Tanya Lisin.


"Ada apa ya?..."


"Pak Salak, Apakah kamu tahu alasan mengapa warga desa tidak ada yang datang?..." Tanya Lisin dengan serius.


Salak terdiam, kemudian dengan bingung melihat ke sekelilingnya dan baru sadar. selain orang - orang kaya dan beberapa kenalan - kenalan Lisin pribadi, Tidak ada warga desa yang datang selain dirinya.

__ADS_1


"Sepertinya tidak aneh jika banyak semua warga desa lebih memilih datang ke resepsi pernikahan anaknya Pak Umar dari pada datang kesini..." Kata Salak dengan mengangguk.


"Bisa jelaskan mengapa?..." Lisin memahami jika sesuatu tidak sederhana dari kelihatannya.


"Jadi seperti ini, sebelumnya Salak bertemu Sepet dan Sikat. Mereka berdua mendengarkan desas - desus jika barang siapa yang mendatangi resepsi pernikahan anaknya Pak Umar. akan mendapatkan uang 100 ribu tunai. dengan syarat tidak datang ke resepsi pernikahan yang ada disini..." Jelas dari Salak sesingkat mungkin.


Mendengarkan hal ini membuat Lisin sadar jika Pak Umar ini memang mencari perkara dengan dirinya. tidak mungkin kan Lisin akan pura - pura tuli setelah mendengarkannya. tanpa harus membuat Pak Umar jera.


"Mengapa Pak Salak tidak mengikuti, Sepet dan Sikat bukannya kalian selalu bersama?..." Tanya Lisin dengan santai.


"Seperti yang mas Lisin ketahui ekonomi warga desa tidak stabil akhir - akhir ini. dan masih banyak kepala rumah tangga yang tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka..." Salak menjelaskan.


Lisin juga mulai menyadari, jika masalah seperti ini akan terjadi di mana - mana. Hanya saja tidak ada uang yang jatuh dari langit. jadi jika ingin ekonomi keluarga meningkat ya harus rajin bekerja.


Keluarga Lisin sudah menyiapkan beberapa lowongan kerja sajak mengambil alih semua usaha juragan suryo, bahkan memberikan uang sumbangan yang sangat besar kepada warga desa.


Tetap saja tidak akan memperbaiki semua orang yang ada di desa. pepatah mengatakan didiklah seseorang untuk belajar memancing ikan dari pada memberikan mereka ikan secara langsung.


Sebenarnya masalah ekonomi warga desa bukan urusan Lisin, namun sebagai orang kaya. Lisin harus peduli dengan mereka yang kekurangan.


"Begitulah, Karena warga desa tergiur dengan uang. sedangkan saya mungkin satu dari beberapa orang yang beruntung karena memiliki pekerjaan tetap..." Kata Salak.


"Terima kasih infonya Pak Salak... Juga nanti pulangnya katakan saja dengan jujur apa yang bapak dapatkan dari sini kepada warga desa yang lain dan jangan menyebarkan kebohongan yang berlebihan..." Kata Lisin dengan tersenyum misterius.


Tentu saja Lisin harus melakukan hal yang sama. jika Pak Umar bisa membakar uang mengapa Dirinya tidak bisa.


"Saya Mengerti..." Pak Salak bingung, apanya yang harus di jelaskan dengan jujur dan tidak berbohong. Aneh sekali.


Lisin menemukan Nazwa yang melakukan kepengurusan resepsi pernikahan.


"Ya, Bos... Ada yang bisa di bantu..." Kata Nazwa dengan hati - hati.


"Ganti Sovenir yang kita berikan kepada para tamu undangan khususnya untuk warga desa. Aku ingin Sovenirnya berisi uang tunai 10 juta dan buat sebanyak - banyaknya. Sepertinya malam ini Warga desa akan berdatangan dengan sendirinya..." Kata Lisin sambil tersenyum.


"Di mengerti..." Nazwa mengangguk kemudian langsung mengurus semuanya dengan cepat.


Lisin di lawan, awas saja kipas angin masuk kedalam perut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2