
Lisin tidak peduli dengan menjadi terkenal apa lagi mendapat gelar sebagai pahlawan nasional, menurut Lisin menjadi terkenal itu cukup merepotkan di mana selalu di bicarakan semua orang.
kehidupan akan di ganggu oleh paparazi seperti seorang penguntit di mana akan selalu menyorot kehidupan pribadi orang yang terkenal. apa lagi di internet ambil contoh pasangan yang trending saat ini yaitu Rizky B dan Lesti K yang selalu di bicarakan dan di hujat para Heaters di internet.
Jelas Lisin tidak ingin memiliki kehidupan seperti itu, dia memilih untuk menjadi sederhana dengan begitu dia tetap memiliki kehidupan yang tenang.
(DING...)
(Tugas Sistem Terselesaikan)
(Selamat tuan rumah telah berhasil menyelamatkan pesawat udara dari pembajakan terorisme)
(Mendapatkan 50 poin sistem)
(Mendapatkan 1 poin pesona)
(Mendapatkan Kartu keterampilan pembuatan jimat)
Lisin yang melihat panel sistem tersenyum dari telinga ke telinga kemudian membuka panel status.
Nama: Amar Lisin
Level: 2 (258/300)
Pesona: 7
Keterampilan: Mekanik Super, Mengemudi Super, Seni Beladiri Kuno, Dukun Kuno, Master Pedang, Master Musik, Master Olahraga.
Inventori: keperluan tuan rumah
Toko: akses tingkat 2
Lotere: 3 kali
Saldo: Rp8.760.565.754.000
Dana: 0
Tugas: Selesai
Lisin senang bukan karena hadiah sistem, melainkan Level sistem yang akan mencapai Level 3 dengan begitu dia bisa menyembuhkan Asami Suzuki.
Untuk kartu keterampilan pembuatan Jimat Lisin tidak peduli karena menurut dirinya cukup membeli di toko sistem sudah cukup.
Lisin keluar dari kantor polisi, dalam menunggu taksi dirinya tidak sengaja bertemu dengan pramugari yang dia temui saat di pesawat yaitu Diana.
"Lisin... kita bertemu lagi, apa kamu menunggu taksi juga?" Diana bertanya dengan malu.
"Ya... begitulah, kemana kamu akan pergi?" Lisin bertanya.
"Ke rumah sakit..." Diana menjawab dengan sedih.
"Aku tidak pernah mengira jika orang tuamu ada di Bali, kalau begitu aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit" Lisin berkata terus terang.
Keduanya duduk dalam satu taksi kemudian pergi ke rumah sakit, tidak lama setelah itu, taksi berhenti di depan rumah sakit.
Saat Lisin melihat di mana rumah sakit, dirinya tidak menyangka jika itu adalah rumah sakit tempat di mana dia sebelumnya pernah dirawat.
Setelah turun dari taksi Lisin mengikuti Diana dari belakang, dan sampailah di sebuah bangsal kelas ekonomi, tempat tersebut memiliki banyak pasien setidaknya ada empat ranjang dengan tirai memisahkan.
"Ibu... ini Diana, ibu tidak perlu khawatir tentang hutang karena Diana sudah membayar semua hutang" Diana berkata dengan kedua mata memerah.
Ibunya Diana tidak bisa menjawab, tubuhnya tidak dapat di gerakkan, lehernya miring ke kanan dengan dagu sedikit bengkok. bibirnya bergetar pertanda jika ibunya ingin berbicara.
Seolah memahami pemikiran ibunya, Diana menggelengkan kepala lalu berkata. "Diana tidak menjual tubuh, Diana sekarang sudah berhenti menjadi pramugari. sekarang sedang mencari pekerjaan yang dekat-dekat saja karena Diana ingin selalu ada untuk ibu"
Lisin melihat Diana dan ibunya sedikit kasihan, ini lah kehidupan akan ada suatu waktu manusia akan di uji dengan sebuah penyakit, dan itu seperti teguran untuk mereka agar menghargai kesehatan.
Lisin yang keluar dari bangsal tidak bisa membiarkan Ibunya Diana terus menderita seperti ini jadi dia berniat membantunya. pertama-tama pasien harus di pindahan ke bangsal VIP.
"Dokter bisa bantu pasien ini pindah ke bangsal VIP?" Lisin yang bertemu dokter acak langsung meminta bantuan.
"Sialan ya kamu, main suruh-suruh aja... kamu pikir rumah sakit ini milik orang tua kamu" Dokter acak itu berkata dengan nada tinggi.
"Dokter, saya berkata baik-baik kenapa kamu berkata seperti ini" Kedua alis Lisin berkedut, dia tidak menyangka jika Dokter acak yang dirinya temui begitu sombong.
"Lisin, sudah tidak apa-apa... Ibuku di bangsal ekonomi saja" Diana menarik lengan Lisin.
"Dengerin tuh, Bangsal VIP hanya untuk orang-orang kaya, Sedangkan kamu aku yakin buat makan saja susah" Dokter tersebut, meremehkan.
"Bapak Lisin... ada yang bisa di bantu pak" Seseorang mengenali Lisin.
"Kamu Dokter yang ada di pesawat kan" Lisin tidak berharap akan bertemu dengan Dokter tua yang dia temui saat di pesawat.
"Hahaha... terima kasih untuk sebelumnya, sebenarnya saya Kepala rumah sakit dan sudah mengagumi anda sejak penyakit vegetasi tuan Irawan anda sembuhkan. Bapak Lisin jika berkenan bisakah saya menjadi murid anda" Dokter tua itu berkata dengan bersemangat kemudian melihat Kearah Dokter acak.
Shock... Dokter acak berkeringat dingin, dokter mana yang tidak mendengar kesembuhan tuan Irawan. Sekarang dokter ajaib itu ada disini dan dirinya menghinanya dengan sebutan orang susah, dokter acak merasa jika dirinya akan kehilangan pekerjaan.
__ADS_1
"Kamu, bisa berkemas dan tinggalkan rumah sakit ini" Dokter tua itu berkata dengan marah, siapa Lisin, dia juga punya saham di rumah sakit ini kenapa kamu sebagai karyawan menghinanya.
"Sayang sekali aku tidak mengambil murid..." setelah kepergian dokter acak, Lisin meminta bantuan Kepala rumah sakit untuk membantu memindahkan ibunya Diana ke bangsal VIP.
"Aku mengerti..." Dengan bantuan Kepala rumah sakit, Ibunya Diana dengan cepat di pindahkan ke bangsal VIP.
"Lisin terima kasih..." Diana berkata dengan syukur.
"Masih terlalu dini, aku akan sembuhkan Ibumu" Lisin melihat ke arah Kepala rumah sakit. Diana tidak berharap jika Lisin bisa melakukan pengobatan.
"Aku mengerti..." Kepala rumah sakit langsung meminta seseorang untuk mematikan kamera CCTV.
"Bapak Lisin bisakah saya melihat sebagai penonton" Walaupun tidak bisa menjadi seorang murid, Kepala rumah sakit tidak bisa melewatkan saat Lisin yang akan menyembuhkan seorang pasien yang sakit stroke.
"Tidak masalah..." Diana yang hanya mendengarkan percakapan antara Lisin dan kepala rumah sakit, memahami jika Lisin berniat baik untuk menyembuhkan ibunya yang sakit.
"Pertama, aku akan menjelaskan apa itu kondisi stroke" Lisin telah membaca catatan medis pasien, di tambah kemampuannya sebagai dukun kuno dan analisa sistem. Lisin bisa mengerti penyebab dan bagaimana cara menyembuhkan.
"Penyebab Stroke adalah tekanan darah tinggi yang dibiarkan terlalu lama, jika di biarkan akan ada resiko pecah pembuluh darah di daerah otak dan terjadilah kelumpuhan pada bagian saraf yang terhubung ke otak" Kepala rumah sakit mengangguk.
"Sayangnya, dalam kasus Ibunya Diana sangat berbeda, bukannya dia tidak memiliki tekanan darah tinggi, lalu bagaimana dia bisa terkena stroke?" Sudut mulut Lisin terangkat.
"Benar juga..." Kepala rumah sakit mengangguk berulang kali.
"Itu karena Ibunya Diana tidak menderita Stroke melainkan penggeseran tulang, dan itu membuat saraf pada beberapa bagian yang terhubung pada otaknya terjepit, Kasus ini hampir sama dengan Stroke namun dengan penyebab berbeda jadi penanganannya juga berbeda"
"Luar... biasa, seperti yang di harapkan dari dokter ajaib, hanya saja kasus seperti ini terjadi pada mereka yang jatuh dari ketinggian, dan cukup sulit dalam penyembuhannya" Kepala rumah sakit berkata dengan penyesalan.
"Lisin... apakah ibuku bisa di sembuhkan" Diana bertanya dengan penuh harapan.
"Tentu saja aku bisa menyembuhkannya, hanya saja dalam dugaan ku, Ibumu sebelumya ingin bunuh diri" Lisin berterus terang.
"Ini..." Diana menutup mulutnya dengan kedua tangannya, solah tidak percaya dengan apa yang Lisin katakan.
Apa yang Diana tau adalah ibunya di temukan jatuh dari tangga, dia tidak berfikir jika ibunya ingin melakukan bunuh diri. mengapa ibunya ingin bunuh diri mungkinkah karena banyak hutang.
Setelah kematian ayahnya dan ibunya sakit stroke karena jatuh dari tangga, selain hutang untuk membiayai pengobatan ibunya di temukan juga hutang lain dari mendiang ayahnya.
Mungkinkah karena hutang tersebut sehingga ibunya memutuskan untuk bunuh diri namun berakhir dengan kegagalan.
"Kita kesampingkan dulu soal itu, aku akan langsung menyembuhkannya namun cara ini hanya diriku saja yang bisa melakukannya" Baik Diana maupun Kepala rumah sakit mengerti apa yang di maksud Lisin.
Jelas Lisin memiliki cara ajaib yang tidak dapat di jelaskan oleh medis seperti bagaimana Lisin menghentikan pendarahan luka pada kedua pilot saat pesawat udara mengalami pembajakan.
Lisin membalikan badan Ibunya Diana kemudian memukul beberapa titik akupunktur, setelah itu Lisin mengalirkan energi batin dari titik-titik akupunktur agar saraf dapat berfungsi dengan benar setelah lebih dari 10 menit, Lisin menarik beberapa bagian tubuh yang bengkok agar kembali ke posisi yang seharusnya.
"A... anakku Diana..." Diana dan ibunya berpelukan sambil meneteskan air matanya.
"Ibu..."
"Maafkan ibu nak... Ibu tidak seharusnya-"
"Cukup bu... yang lalu biarkan berlalu"
Waktu berlalu, setelah melakukan perawatan lebih lanjut ibunya Diana di nyatakan sebuh dari penyakitnya.
Kepala rumah sakit yang bersemangat hanya bisa menyesal karena tidak dapat menjadi murid Lisin.
Lisin yang menerima ucapan terimakasih hanya bisa mengangguk, setelah bertukar nomor ponsel dengan Diana Lisin pergi meninggalkan rumah sakit.
"Berhenti di sini saja pak..." Lisin yang menghentikan mobil taksi langsung turun. itu adalah kawasan tempat mewah yang ada di Nusa Dua sesuai alamat yang Ningsih berikan.
Melihat sekeliling Banyak mobil mewah menghiasi tempat parkir, Lisin tidak peduli dengan mobil-mobil ini dirinya memilih terus berjalan guna mecari gedung yang di gunakan untuk pesta amal.
Bali Nusa Dua Convention Center menjadi salah satu gedung yang di sewakan untuk Pesta-pesta tertentu, kebanyakan untuk resepsi pernikahan, Pesta-pesta tertentu, Bahkan pemerintah juga menggunakan tempat tersebut untuk kepentingan negara.
Gedung ini menjadi salah satu termewah yang sering di gunakan perusahaan besar untuk melakukan perayaan. Lisin yang memastikan jika ini benar tempatnya langsung berjalan memasuki pintu masuk.
"Pak... surat undangannya pak" tanya penjaga yang menghentikan langkah Lisin.
"Saya... tidak memiliki surat undangan" Lisin berkata dengan jujur.
Bagaimana Lisin punya tiket dia hanya tau dari Ningsih jika dirinya harus menghadiri pesta amal dan tidak mendapatkan surat undangan.
"Kamu Lisin kan... Pesta Amal ini hanya untuk para Bos perusahaan bukan untuk karyawan seperti kamu" Sebuah suara mengejutkan Lisin yang di hentikan penjaga.
"Kamu... " Bagaimana Lisin tidak mengenalinya, Dia adalah bos lamanya Ricard dengan tubuh gemuknya. sebelum memiliki sistem Lisin bekerja di bidang perbengkelan sebagai seorang budak perusahaan selama 3 tahun.
"Lisin apa kamu sudah dapat pekerjaan?jika belum perusahaan ku siap menerima mu lagi" Mendengar perkataan mantan bosnya Lisin hanya diam.
"Penjaga ini kartu undangan ku... jangan biarkan dia masuk karena dia bukan seorang bos perusahaan"
Ricard menyerahkan Surat undangan kemudian masuk ke aula perjamuan yang cukup besar. di dalam aula Ricard mulai menyapa banyak orang di sana seperti seorang penjilat.
"Pak jika anda bukan tamu undangan silahkan tinggalkan tempat ini..." dua penjaga berkata dengan tegas.
Lisin tidak berdaya mengeluarkan ponselnya, dia kemudian memanggil Ningsih. "Hallo Ningsih..."
__ADS_1
"Bos... Apa urusan dengan kepolisian sudah selesai?" Ningsih di sisi lain penelpon bertanya.
"Sudah selesai, Ningsih Bukannya kamu menyuruhku datang ke pesta amal. Aku saat ini di depan tidak bisa masuk karena tidak punya surat undangan" Lisin berkata tidak berdaya, jika bukan karena Ningsih menyuruhnya datang sebelumnya. Lisin terlalu malas untuk menghindari acara pesta.
"Maaf bos... sebenarnya aku berbohong"
"Berbohong..." Lisin bertanya dengan bingung.
"Benar... Itu karena kejadian sebelumnya, sehingga aku harus berbohong agar kamu datang ke Bali" Ningsih berkata dengan jujur.
Itu pasti para terorisme sebelumnya yang membuat Ningsih berbohong kepada ku. Lisin hanya mengangguk.
"Sebenarnya undangan seperti pesta amal cukup banyak dan aku sesekali menghadirinya sekarang aku terlalu malas untuk hadir di acara seperti itu, apa lagi ada keperluan mendesak di perusahaan"
"Aku sudah di depan Aula masuk apakah aku harus pulang" Lisin berfikir jika tau seperti ini lebih baik kembali ke Jawa karena besok ada mata kuliah.
"Karena kamu sudah datang kenapa tidak masuk saja, aku akan menghubungi pihak penyelenggara"
"Baiklah aku akan menunggu mu..." Setelah mematikan ponsel Lisin terus menunggu, kemudian pria tua berkumis datang dari kejauhan.
"Dengan bapak Lisin... kami penyelenggara pesta amal sangat menyambut kedatangan anda" Lisin hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kedua penjaga itu di marahi habis-habisan oleh majikannya dan dengan malu meminta maaf kepada Lisin.
Lisin tidak terlalu peduli, bagaimanapun itu pekerjaan mereka jika orang tidak memiliki surat undangan bisa masuk dengan mudah maka perlu di pertanyakan.
Sebelum Lisin masuk ke pintu aula perjamuan seorang wanita cantik datang dan langsung memeluknya.
"Sayang kamu sudah datang..." Wanita cantik tersebut berkata dengan nada bahagia.
Sial... siapa wanita ini, aku merasa tidak mengenalnya main peluk aja ya tidak masalah jika dia cantik.
"Nadya siapa dia..." Seorang pemuda bertanya dengan marah.
"Dia ini pacarku... lebih baik kamu tidak mengejar aku lagi" Wanita cantik bernama Nadya itu berkata dengan terus memeluk Lisin.
Nama: Nadya Anggraini
Umur: 23
Nilai Kecantikan: 90
Keahlian: Manajemen
Kesukaan: 55
Catatan: Pemilik perusahaan di bidang kecantikan.
Lisin yang melihat panel sistem hanya mengangguk kemudian melihat ke arah pemuda yang mengejarnya.
"Sial..." Pemuda itu hanya bisa kembali ke aula perjamuan dengan tidak senang.
"Maaf... jika aku menggunakan kamu sebagai perisai" Nadya merasa bersalah.
"Tidak masalah aku sudah biasa di jadikan perisai oleh wanita cantik" Jawab Lisin dengan jujur.
"Kamu tidak berbohong kan" Nadya berkata dengan aneh, dirinya hanya memilih secara acak dan tidak ada maksud kepada Lisin.
"Sudahlah... nama kamu Nadya kan, apa tidak ada kompensasi untuk ku?" Lisin berkata sambil tersenyum lalu melihat Nadya dari atas ke bawah.
"Nama kamu?... kamu tidak ingin hal aneh kan sebagai kompensasi?" Nadya bertanya dengan tatapan tajam.
"Tentu saja tidak, aku bukan laki-laki Palyboy seperti kebanyakan karakter Novel, nama aku Lisin, bisa temani aku ke aula perjamuan" Lisin tersenyum.
"Baiklah..." Jawab Nadya tidak berdaya, dia merasa seperti lepas dari kejaran serigala dan bertemu dengan Harimau.
Keduanya berjalan bersama ke aula perjamuan, banyak orang yang melihatnya dengan iri seperti pemuda yang sebelumnya mengejar Nadya.
"Sialan... bagaimana dia bisa masuk apakah dia menyuap... benar seperti itu" Mantan Bos Lisin yaitu Ricard mengambil minuman lalu berjalan mendekati Lisin.
"Ahhh..." Ricard yang berjalan menghampiri Lisin dengan sengaja menumpahkan minuman ke bajunya sendiri.
"Kamu... apa kau tau... ini setelan mahal bahkan gaji kamu kerja tidak akan bisa membeli setelan ini" Ricard mengeluh, dangan perut buncit yang bergetar.
Lisin awalnya terlalu malas untuk berurusan dengan mantan bosnya akan tetapi pihak lain mencari masalah untuknya.
"Bro Ricard ada apa?..."
"Bro... kamu tidak apa-apa kan?..."
Lisin dan Ricard menjadi pusat perhatian di aula perjamuan, Teman-teman Ricard yang juga pemilik perusahaan datang untuk bertanya.
"Ini Bro... mantan karyawan aku, sepertinya dia memiliki dendam setelah aku memecatnya, setelan mahal yang baru aku pesan dari prancis harus kotor deh..." Ricard yang berkata menyedihkan sudut mulutnya terangkat. sebenarnya itu setelan kw yang dia beli dari lapak tertentu.
Mendengar perkataan Ricard semua orang menatap ke arah Lisin.
Sialan ni orang... aku tidak mencari masalah orang lain mengantarkan masalah.
__ADS_1
Bersambung...