
Mahesa terkejut kemudian sudut mulutnya terangkat, jelas dirinya sangat puas dengan kemampuan yang Lisin perlihatkan.
Malwageni memiliki tingkatan kanuragan yang sama dengan Mahesa, namun berakhir dengan kekalahan. jelas Mahesa tidak memiliki keyakinan dengan kekuatan puncaknya untuk mengalahkan Malwageni.
Melihat punggung Lisin dari belakang Mahesa mengangguk. tanpa sadar dirinya mengharapkan kelahiran cucu yang saat ini masih dalam perut Wulan.
Hahaha... Dengan menantu menjanjikan seperti ini masa depan Perguruan Macan Putih akan tak terbatas.
Wulan tidak jauh berbeda, apakah pemuda ini yang menghabiskan 5 hari 5 malam bercocok tanam dengan dirinya di masa lalu?
Sebelumnya Gatra terus menerus memuji tentang Lisin yang sangat kuat, namun dirinya mengabaikannya dan menganggapnya sebagai omong kosong.
Dunia luar mungkin memiliki beberapa orang yang cukup kuat namun tidak sekuat Pejuang Budidaya pengguna kanuragan.
Sangat jelas Apa yang Lisin lakukan juga menggunakan kanuragan namun sangat halus apa lagi tidak menggunakan teknik pernapasan.
Tanpa sadar Hati Wulan yang keras sedikit melunak, namun bukan berarti dirinya menerima Lisin di hatinya.
"Tuan Mahesa..." Sanjaya yang baru saja datang, langsung menyapa Mahesa.
"Sanjaya... Bagaimana dengan orang yang melumpuhkan murid Perguruan Macan Putih?..." Mahesa bertanya.
"Pengguna kanuragan yang di maksudkan adalah Lisin..." Sanjaya menjelaskan.
"Maksudnya calon menantu?..." Mahesa merasa Heran, sambil melihat punggung Lisin yang tidak jauh darinya.
"Ceritanya seperti ini..." Sanjaya langsung membisikkan semua kejadian dalam satu tarikan nafas, mulai dari kesalahpahaman dirinya dengan Lisin, hingga Pawana yang di pesan oleh keponakannya sendiri.
"Bedebah..." Mahesa mendengus dingin.
"Sanjaya... Setelah semua ini selesai, kamu harus mengadili Pawan dan juga keponakannya..." Mahesa langsung memesan.
"Di mengerti tuan..." Sanjaya mengesampingkan tugasnya dan memilih untuk menonton apa yang Lisin lakukan.
"Pak tua... Bisakah kamu tidak mencampuri apa yang akan aku lakukan... Aku seorang diri akan menghadapi Perguruan Tengkorak..." Lisin menjelaskan tujuannya kepada Mahesa.
Apa!!!
Sombong...
Tidak tahu besarnya langit dan bumi...
Semua orang termasuk Wulan dan Mahesa mengutuk di dalam hati, namun kembali tenang saat mengingat siapa yang berbicara.
"Terserah kamu..." Mahesa berkata dengan kesal, pertama Lisin tidak menghormati dirinya sebagai calon mertua, apa lagi menyebut dirinya dengan sebutan Pak tua.
Lisin menganggap perkataan Mahesa sebagai persetujuan untuk bertindak sesuka hati.
__ADS_1
"Ayah..." Suliwa dengan cepat berjalan mendekati Ayahnya.
Sepertinya tendangan dari Lisin kurang kuat untuk membunuh Suliwa secara langsung.
"Ayah tidak apa - apa... Suliwa bantu ayah untuk membunuhnya... Sudah lama ayah tidak dipermalukan seperti ini..." Malwageni menggunakan energi dalam untuk sedikit menyembuhkan luka yang baru saja diterimanya.
"Ayah... Putramu ini mengerti dan Aku juga harus mengembalikan hutang sebelumnya..." Suliwa dengan kesal melirik kearah Lisin.
Suliwa adalah jenius bangga, bahkan di Perguruan tengkorak tidak ada yang berani untuk bertanding dengan dirinya. apa lagi dirinya sebagai keturunan langsung generasi Perguruan Tengkorak.
Sekarang Suliwa sangat malu karena Pihak lain membuat dirinya terkapar dalam sekali tendang, jelas hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. bahkan dalam mimpi terburuknya, Suliwa belum pernah di permalukan seperti ini.
"Aku tanya... Apakah kamu dengan sengaja ingin menggugurkan kandungan yang ada di dalam perut Wulan..." Lisin melihat Suliwa lalu bertanya dengan dingin.
"Bagaimana jika aku melakukannya... Kamu memukulku secara diam - diam, Jika tidak aku tidak akan kalah..." Suliwa membantu ayahnya berdiri.
"Bah... Suliwa bantu ayah membunuhnya..." Malwageni mengusap darah yang mengalir dari sudut mulutnya.
Lisin yang mendengar pengakuan Suliwa sudah jelas jika pihak lain berniat membunuh calon anaknya dan itu sudah cukup untuk membuatnya menyesali keputusannya.
"Whooooossss..."
Keduanya dengan keahlian yang dimilikinya mulai melancarkan serangan kearah Lisin. Gelombang energi datang secara berturut - turut seolah tak ada habisnya menghancurkan tempat Lisin berpijak.
Lisin harus mengakui jika Lawannya jauh lebih kuat dari pada Sanjaya yang sebelumnya dirinya lawan.
Setiap gelombang energi yang datang saja dapat menuai kehidupan orang biasa. namun Tidak untuk Lisin, Langkah yang Lisin ambil mengejutkan semua pihak.
"Mati kamu..." Malwageni meraung.
Saat gelombang energi akan menyentuh Lisin, kedua kapalan tangan Lisin berubah menjadi kilat emas dan naik ke tingkat kecepatan tinggi. Sebuah pemandangan yang mencengangkan muncul, Gelombang energi dalam lebih besar yang sangat ganas menetralkan serangan Malwageni.
"Ini ..." Para murid di tribun tercengang.
"Apa yang Lisin dilakukan, dan dia bahkan membuat serangan dari Malwageni tidak dapat berfungsi" Mahesa bergumam secara perlahan.
Mahesa tidak bisa menjelaskan metode apa yang Lisin gunakan saat ini, karena energi dalam milik Lisin telah mencapai ketinggian yang belum pernah dirinya capai.
Untuk pertama kalinya, ekspresi kaget muncul di wajah cantik Wulan. Hatinya tidak tenang, karena pemuda yang sedang bertarung saat ini adalah Ayah dari janin yang di kandungnya. Mata cantiknya menatap Lisin tanpa berkedip seolah mengharapkan Lisin harus selamat dan menang.
"Kamu, bagaimana kamu melakukan itu? Ini tidak mungkin!" Tentu saja, yang paling mengejutkan adalah Malwageni begitu juga Suliwa.
Tidak ada yang tahu kekuatan gelombang energi dalam ini lebih baik darinya. Malwageni awalnya ingin menggunakan Gelombang energi dalam ini untuk mengalahkan Lisin, tapi dia tidak berharap akan mudah rusak dengan mudah.
Dihadapan Lisin semua Teknik bela diri atau serangan energi dalam akan dengan mudah ditirukan olehnya.
Seharusnya mereka berdua memahami, jika berniat membunuh Lisin maka harus siap di bunuh oleh Lisin sebagai gantinya.
"Bukankah serangan ku memiliki kekuatan energi dalam yang sempurna?" Malwageni menatap curiga.
__ADS_1
Wajah Malwageni hitam dan mengerikan. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Hanya dengan mengalahkan Pemuda yang ada di depannya dengan ganas Malwageni bisa menghilangkan kebenciannya.
"Wooosssss..."
"Gyak..."
"Ayah..." Suliwa meraung saat melihat ayahnya yang terluka lagi.
"Suliwa, lebih baik pergi..." Malwageni berusaha kembali berdiri lalu menemani Lisin dengan selusin keterampilan pamungkas.
"Ahhhh..."
"Tidak akan ada yang meninggalkan tempat ini di antara kalian berdua..." Lisin menggunakan semua kemampuan yang dirinya miliki untuk bersaing dengan Malwageni.
Pertempuran terus berlanjut, Teknik bela diri Lisin telah melampaui bidang kesempurnaan. Setiap pukulan tampaknya mendorong kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, tetapi mereka dikendalikan dengan baik dan tidak melakukan tindakan lain yang sia - sia.
Di hadapan kekuatan Lisin, keberadaan Suliwa hanya menjadi beban bagi Malwageni. namun mau bagaimana lagi dia putranya dan pewaris Perguruan Tengkorak, jika dia binasa maka garis keturunan Malwageni akan berakhir.
"Gyak..."
Malwageni terluka berulang kali, kedua matanya mulai kehilangan cahayanya. namun dirinya masih tetap bertahan dan melancarkan serangan dengan sekuat mungkin.
Malwageni berpikir keras, Bocah yang dirinya lawan memberinya perasaan yang sangat berbahaya. Dirinya harus mengambil inisiatif untuk mengakhiri pertempuran dengan cepat, atau mungkin kekalahan tidak terduga.
Melihat Suliwa yang melarikan diri bagaimana Lisin akan tinggal diam.
"Tidak..." Malwageni meraung dengan panik.
Gelombang energi yang Lisin tembakan jelas sangat kuat dan berbahaya, jika itu dirinya mungkin hanya terluka namun tidak untuk Suliwa.
Lisin melemparkan Gelombang energi dalam melewati Malwageni dan menuju langsung kearah Suliwa yang melarikan diri di kejauhan.
"Duarrrr..."
Suliwa seketika berakhir dengan kematian yang mengenaskan.
Malwageni tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Putranya Suliwa Mati di depan matanya begitu saja.
"Kamu membunuh seseorang yang tidak seharusnya kamu bunuh... Perguruan tengkorak tidak sederhana yang kamu pikirkan... Kamu akan mati begitu juga semua orang yang dekat denganmu... Semua akan mati... Mereka yang kamu sayangi akan Mati... Guak..." Malwageni terkejut saat melihat Lisin berdiri di depannya dengan Gelombang energi dalam yang begitu besar mengarahkan kepada perutnya.
"Di masa lalu banyak orang yang mengancam diriku, namun berakhir dengan kematian..." Mengakhiri perkataannya, Lisin langsung meledakkan Malwageni di tempat.
"Duarrr..."
Diam... Semua orang yang melihatnya di buat tercengang, begitu mudahnya membunuh keduanya dengan cepat, bahkan Mahesa tidak memiliki keberanian jika dirinya bisa melakukanya. namun mengingat kekuatan yang Lisin tunjukkan semua orang terdiam dengan satu pertanyaan siapa Lisin sebenarnya.
Hanya saja mimpi buruk sesungguhnya akan datang setelah kematian Malwageni dan Suliwa.
Bersambung...
__ADS_1
*Yang tidak suka Pertarungan dan pembunuhan bisa skip saja, karena kedepannya akan banyak pembantaian, Terima Kasih.