
Lisin yang melihat Nagisa tertawa sangat tertekan, bagaimana tidak jika bukan karena dia. Lisin tidak akan berada dalam situasi ini.
Lihat saja aku akan memberimu pelajaran... Lisin akan menghitung hutang ini di kemudian hari.
Setelah memenangkan dua pertarungan berturut-turut, yakni mengalahkan keluarga Kalpanak dan keluarga Panadol. Lisin dengan berpura-pura terluka berdiri di atas arena.
"Baiklah... Siapa lagi yang akan menantang menantu keluarga irawan?..." Menjadi penengah Wayan berkata sambil melihat beberapa keluarga yang sebelumnya banyak berbicara.
Mereka semua mengatakan jika Lisin katak di dalam sumur, namun siapa yang menjadi kataknya sekarang? Di hadapkan dengan keberuntungan Lisin dalam dua pertarungan sebelumnya, jelas Keluarga seni bela diri lainya sedang memikirkan strategi untuk mengalahkan Lisin.
"Ingatlah... Jangan gegabah, jika tidak kamu akan berakhir seperti Kalpanak dan Panadol..." Seorang ayah mengingatkan putranya.
"Putramu ini mengerti ayah..." Pemuda lain sepertinya akan bernasib sama dengan Kalpanak dan Panadol.
Beberapa keluarga yang buta hanya bisa percaya jika kemenangan dua kali Lisin hanya sebuah keberuntungan. Mereka percaya jika putra mereka bergerak dengan hati-hati maka kemenangan akan ada dalam genggaman tangan.
"Ayah... Putramu ini ingin menantangnya..." Pemuda lain berdiri sambil berkata kepada ayahnya yang duduk di sampingnya.
"Putraku... Ayah mengizinkanmu, namun kamu harus ingat jangan gegabah, jangan menendang lantai, juga jangan ceroboh hingga melukai tubuhmu sendiri..." Ayahnya mengingatkan.
"Ayah... Harap tenang, Aku tidak akan mengecewakan Keluarga Daktarin..." Putra Daktarin berkata dengan yakin.
"Bagus... Kamu tidak mengecewakan keluarga Daktarin..." Ayah Daktarin berkata sambil mengangguk.
"Untuk membersihkan jamur seperti dia... Aku putra Keluarga Daktarin pasti akan menghapusnya hingga ke akar-akarnya" Putra Daktarin tersenyum menyeringai.
"Hahaha... Keluarga Daktarin bangga denganmu putraku..." Ayah Daktarin sangat puas dengan kegigihan Putranya.
Sebagai Kepala Keluarga Daktarin, dirinya bisa membayangkan jika Putranya Daktarin bisa menghapus jamur yang menjadi menantu Keluarga irawan sepenuhnya.
Jadi bagaimana jika Jamur menantu keluarga irawan bisa memenangkan pertarungan dua kali berturut-turut, keberuntungan tidak akan terulang lagi untuk yang ketiga kalinya.
Putra Daktarin dengan bangga naik keatas arena, dan berhadapan dengan Lisin yang di anggap sebagai jamur keluarga irawan.
Beberapa keluarga lainya hanya bisa mengangguk pelan sambil berkata di dalam hatinya. Daktarin kamu harus bisa menghilangkan Jamur membandel itu.
Seno dari keluarga Sasongko berniat naik keatas panggung, dirinya sangat yakin akan dengan mudah mengalahkan Lisin namun siapa sangka jika Daktarin akan mendahuluinya.
Seno yang kesal hanya bisa bersabar sambil duduk di tempatnya kembali.
Hem... Tidak masalah jika Daktarin yang mengalahkan Lisin, karena aku bisa mengalahkan Daktarin dengan Seni Bela diri ku.
"Daktarin... Apa kamu siap?..." Wayan yang menjadi penengah bertanya.
__ADS_1
"Aku Siap..." Layaknya pejuang sejati, Daktarin berkata dengan lantang.
"Tuan Lisin apa kamu siap..." Wayan bertanya kepada Lisin dengan sopan, dan Lisin mengangguk sebagai jawaban.
"Mulai..." Wayan memulai pertandingan.
"Kamu harus siap... Aku akan membersihkan mu..." Daktarin tersenyum dengan percaya diri.
"Dua kemenangan mu sebelumnya hanyalah keberuntungan... Di depanku Daktarin keberuntungan mu akan berakhir..." Daktarin menambahkan.
Daktarin!... Lisin entah kenapa sedikit bingung. Mengapa pihak lain seperti ingin membersihkan sesuatu, Aneh sekali...
Semua penonton baik keluarga-keluarga terpandang maupun tamu undangan lainnya, melihat dua petarung di atas arena dengan serius.
Kali ini mereka semua tidak ingin melewatkan satu gerakanpun yang di miliki kedua petarung. Untuk orang-orang tertentu yang mengetahui identitas Lisin sangat sangat yakin akan kemenangan Lisin. sedangkan untuk mereka yang tidak tau hanya tersenyum, karena mereka semua berpikir tidak ada keberuntungan untuk ketiga kalinya.
"Hmmm..." Daktarin mengelilingi keberadaan Lisin yang berdiri di atas arena.
Tidak seperti Keluarga Kalpanak dan Panadol, saat ini dirinya berniat untuk menang bukan mempermalukan diri sendiri.
Aku tidak boleh gegabah, Tidak boleh melukai diri sendiri seperti Kalpanak, tidak boleh menendang lantai seperti Panadol.
Aku harus pelan-pelan mendekat kemudian memberinya pukulan langsung.
Daktarin terus berpikir keras demi memenangkan pertandingan.
Lisin bingung melihat Daktarin yang bergerak begitu pelan, jika dua penantang sebelumnya seperti kelinci yang melompat maka Daktarin seperti kura-kura yang berjalan.
"Guak..." Karena pihak lain bergerak sangat pelan siapapun yang berdiri di pijakan Lisin akan memukul pihak lain dengan mudah.
Satu kata untuk tindakan Daktarin yaitu Bodoh, memang benar dirinya tidak boleh gegabah, harus tenang, bertindak dengan hati-hati. namun, tidak perlu pelan juga. kan akhirnya terkena pukulan dari Lisin.
"Aku beruntung lagi..." Setelah memukul Daktarin tepat pada wajahnya, pihak lain mengeluarkan darah dari hidungnya tanpa henti hingga akhirnya pingsan karena kekurangan darah.
Jadi seperti ini, Daktarin bergerak dengan hati-hati sesuai dengan amanat Ayah Daktarin, saat ingin memukul Lisin dengan hati-hati, Lisin yang melihat peluang emas tidak mungkin melewatkan kesempatan tersebut untuk memberikan pukulan.
Ambulan langsung membawa Daktarin kemudian pergi ke rumah sakit.
"Hahahaha..." Semua orang melihat siapa orang yang tertawa kemudian hanya bisa menggeleng.
Ternyata yang tertawa bukan Nagisa melainkan Kepala Irawan dan Jendral kepolisian.
"Tolong jangan hiraukan, harap melanjutkan..." Kepala irawan berkata sambil menahan tawa.
Bagaimana dirinya tidak tertawa, karena pertunjukan sangat menghibur dan juga lucu, Beberapa orang hanya bisa tertawa seperti melihat pertunjukan opera van java.
__ADS_1
Waktu berlalu, Lisin memiliki keberuntungan pada setiap pertandingan selanjutnya.
Berikutnya Keluarga-keluarga Lainnya mencoba keberuntungan namun tidak satupun seberuntung Lisin.
Keluarga Kapsida kalah...
Keluarga Oskadon kalah...
Keluarga Paramex kalah...
....
Lisin dengan terus berpura-pura terluka, mengalahkan selusin keluarga yang menantang dirinya.
Yang tersisa sekarang hanya keluarga Sasongko yang tidak bergerak sama sekali. saat ini Seno sedang dalam tekanan mental, dirinya terus bertanya bagaimana Lisin bisa beruntung terus menerus.
Kemungkinannya hanya satu yaitu Keluarga-keluarga Seni Bela diri yang kalah dengan Lisin, pasti sangat lemah sehingga tidak ada satupun dari mereka yang menang saat berhadapan dengan Lisin. Benar pasti seperti itu.
"Jika tidak ada yang mengajukan tantangan lagi maka pertarungan menantu akan kami tutup..." Wayan berkata dengan senyuman.
Semua keluarga dengan tertekan memikirkan nasib anaknya di rumah sakit.
"Tunggu sebentar..." Seno tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk menjadi pemenang dan mengalahkan Lisin.
Seno Sasongko dengan indahnya melompat dari tempat duduknya menuju keatas panggung.
"Awas ada kulit pisang..." Lisin berteriak dengan keras sehingga Seno dapat mendengar perkataannya.
Seno yang akan menginjakkan kakinya di atas penggung, menarik kembali kakinya keren mendengar kata kulit pisang dari Lisin.
"Krak... Ahhhh kakiku..." Seno kesakitan karena kakinya terpeleset.
Sebenarnya tidak ada sama sekali kulit pisang di atas panggung arena, dan Lisin hanya asal berkata saja. namun siapa sangka jika Seno menarik kembali kakinya namun terlambat, kaki Seno menghantam ujung lantai yang ada di atas panggung.
"Sialan... Kamu..." Seno terjatuh karena mendengar perkataan Lisin, bagaimana dirinya tidak marah.
"Kamu baik-baik saja? apakah ingin melanjutkan?..." Wayan sebenarnya ingin tertawa namun dirinya menjadi pihak penengah jadi dirinya harus profesional.
"Tentu saja aku akan melanjutkannya..." Seno berkat dengan kesal.
Dirinya sudah gagah perkasa, seperti ksatria berkuda putih, terlihat seperti panglima perang, namun dirinya sudah kalah sebelum pertarungan benar-benar di mulai. Bagaimana Seno akan menerimanya.
"Yakin ingin melanjutkannya..." Lisin bertanya dengan santai.
"Benar-benar yakin... Aku akan menghajar mu tanpa ampun... Karena keberuntungan mu akan berakhir di tanganku..." Seno tersenyum kejam.
__ADS_1
"Baiklah... Pertarungan terakhir di mulai..." Wayan memulai pertarungan antara Lisin dan Seno.
Bersambung...