
Makan bersama berakhir dengan begitu saja, Lisin mengemudikan mobil taksi dengan Vita dan Ratih berada di bagian belakang. sedangkan Sultan dengan Sindi dan Jihan berada dalam satu mobil yang sama.
Kedua mobil berpisah dalam persimpangan setelah melewati jalan raya Rogojampi. Lisin melajukan mobilnya kearah utara dengan tujuan kampung halamannya, yaitu desa Kabat.
"Lisin, Kamu yakin ingin membawaku ke rumah mu?..." Tanya Vita dengan antisipasi.
Walaupun Vita sangat ingin bertemu dengan calon mertuanya, setidaknya dirinya harus mempersiapkan diri dengan baik. bagaimana jika orang tua Lisin tidak menginginkan dirinya.
"Tentu saja, Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan Papa dan Mamaku?..." Tanya Lisin kembali.
"Bukan seperti itu..."
"Saudari Vita, mengapa tidak seperti aku saja, aku tinggal di rumah Mas Lisin. mengapa kamu tidak tinggal di sana juga..." Kata Ratih dengan polos.
Apa!
Vita seperti tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ratih ini ternyata sudah tinggal di rumahnya orang tua Lisin. mengapa kalian tidak menikah sekalian biar tidak menjadi omongan tetangga.
"Sebenarnya, Bukan aku saja, ada juga beberapa orang lagi yang tinggal di sana selain diriku..." Kata Ratih.
Diam!
Kali ini yang terdiam adalah Lisin, dirinya belum pernah mendengar jika ada wanita lain selain Ratih yang tinggal dengan kedua orang tuanya.
Siapa! dan Sejak kapan?
Lisin memikirkan semua wanita yang mungkin akan mendatangi rumahnya, namun tidak ada kemungkinan siapa selain menemuinya secara langsung.
Yang di takutkan Lisin adalah, bagaimana jika wanita tersebut adalah Mbak Gisel. Jika itu Ratih pastinya tidak akan membedakannya antara wanita dan pria, selama memiliki rambut panjang pasti dianggapnya sebagai perempuan.
Lisin berkeringat dingin walaupun hanya membayangkannya saja. apalagi bertemu dengan Mbak Gisel.
"Ratih, Berapa banyak wanita yang tinggal di rumah dan apakah kamu mengetahui siapa mereka..." Tanya Lisin.
"Ratih tidak tahu banyak, mereka datang secara bersama - sama kemarin Lusa, dan Aku belum berbicara banyak dengan mereka?..." Jawab Ratih.
"Apakah kamu tahu, tujuan Kedatangan mereka..." Tanya Lisin.
"Mas Lisin, Tanya - tanya terus seperti wartawan, Ratih mana tahu tujuan mereka..." Kata Ratih dengan cemberut.
__ADS_1
"Lisin jangan tanya lagi, Kasian Ratih dia tidak tahu apa - apa..." Kata Vita dengan tidak berdaya.
"Ok, aku tidak akan bertanya lagi..." Lisin langsung fokus mengemudi.
Dengan Cepat, Lisin mencapai rumahnya yang sebelumnya menjadi rumah Pak Suryo. dan Kini sudah melakukan rekonstruksi besar - besaran. Tidak seperti sebelumnya, Ayah Lisin telah beradaptasi dengan kehidupannya dengan bertindak layaknya orang kaya.
"Lisin..." Wanita paruh baya memanggil nama Lisin dengan bersemangat, sudah lebih dari dua bulan, anaknya sekali lagi pergi dari rumah untuk mencari ilmu, hanya saja mereka tidak tahu ilmu yang Lisin cari adalah ilmu penjahat kelamin.
"Ma... Pa... Lisin pulang" Kata Lisin yang baru saja turun dari taksi di ikuti oleh Ratih dan Vita.
"Ratih, kamu pulang juga... Ayo masuk..." Kata Ayah Lisin dengan bahagia.
"Iya Om..."
"Tunggu dulu, Siapa lagi Wanita yang datang bersama dengan Lisin..." Tanya Ibunya.
"Dia Vita Tante, Calon Istri Mas Lisin juga..." Ratih menjelaskan.
"Halo Om... Tante..." Kata Vita dengan malu.
Setelah mengetahui, jika Ratih sudah dekat dengan keluarga Lisin dan juga sudah tinggal di bersama, Jelas Vita tidak ingin kalah. Untuk itu berhubung Wanita - wanita Lisin yang lainnya belum datang, Vita harus menjadi orang kedua yang akrab dengan orang tua Lisin.
"Nak, Kamu nyari calon istri banyak sekali, apakah kamu menggunakan guna - guna? juga, apakah kamu akan menikahi mereka semua? Ratih saja belum kamu nikahi..." Kata Ibunya dengan bingung.
"Jadi kamu belum tahu calon istrimu yang lainnya datang?..." Kata Ibunya dengan heran.
Lisin menjadi lebih bingung, memang benar dirinya memiliki banyak wanita yang harus di nikahi, namun hanya Vita orang yang kedua setelah Ratih yang dirinya kenalkan kepada kedua orang tuanya.
"Kalau begitu lihat sendiri di dalam" Kata ibunya.
Lisin langsung memimpin jalan, dan rumah tersebut memiliki halaman depan yang begitu besar, kemudian tempat parkir di penuhi oleh mobil - mobil mewah. dan banyak diantara mobilnya yang sangat familiar dan juga beberapa yang asing.
Karena rumah tersebut cukup besar, kedua orang tuanya menggunakan selusin pembantu rumah tangga. juga penjaga kebun dan beberapa penjaga keamanan.
Setelah memasuki rumahnya, Lisin dikejutkan dengan semua wanita yang ada di dalam sana. Siapa menduga ternyata hampir semua wanita yang pernah tidur dengan Lisin ada di sana.
Mulai dari Ningsih, Dosen Mirna, Siska, Risma, Nagisa. dan Wulan. Di tambah Vita dan Ratih yang datang bersama Lisin, mereka semua berkumpul menjadi satu.
"Kalian..." Kata Lisin dengan heran.
Tidak mungkin, jika mereka semua datang atas kehendak mereka masing - masing. Pasti ada dalang di balik terkumpulnya semua wanita Lisin.
__ADS_1
Tatapan Lisin langsung menuju kearah Nagisa, karena hanya dia yang bisa melacak Masing - masing dari mereka dengan keahlian Hacker miliknya.
"Hehehe... Ketahuan..." Kata Nagisa dengan tersenyum.
Lisin tidak marah hanya saja, dirinya belum menemukan waktu untuk menghubungi semua wanita - wanita ini untuk di kumpulkan menjadi satu.
Walaupun tidak semuanya datang, pasti ada alasan yang belum di tentukan. Seperti Shizuka, Asami, Tante Anri, Tante Migumi, Mia, Elena, Juga Ada Bu Tina yang menjadi agen, juga ada Nadya dan Diana juga ada Polwan Yana yang belum di eksekusi.
"Lisin, Apakah semua wanita yang ada di sini masih kurang banyak? ataukah kamu masih ingin menambah lagi?..." Ibunya bertanya dari belakang.
"Sebenarnya, masih banyak lagi Tante hanya saja mereka tidak ingin menikah dengan Lisin..." Kata Nagisa menjawab pertanyaan.
"Apakah Masih banyak lagi? Mengapa tidak datang juga..." Kata Ibunya dengan penuh harapan.
"Mereka punya alasan untuk tidak datang..." Kata Nagisa dengan tenang menjelaskan.
Sejak menghilangnya Lisin dari dunia luar, Ningsih dan Nagisa adalah orang yang berusaha keras untuk menemukan keberadaan Lisin. Hingga akhir keduanya bertemu dan berbincang - bincang. Karena belum menemukan keberadaan Lisin, keduanya menghubungi semua wanita yang pernah dekat dengan Lisin.
Sampai akhirnya nomor telepon Lisin bisa di hubungi lagi namun yang mengangkatnya adalah Wulan yang sedang turun gunung. Setelah Ningsih mendapatkan informasi dari Nazwa jika Lisin akan kembali ke kampung halamannya. Semua wanita yang ingin menikah dengan Lisin membuat keputusan darurat yaitu mendatangi kampung halaman Lisin.
Tepatnya dua hari yang lalu mereka semua datang dan tinggal di rumah kedua orang tua Lisin.
Awalnya kedua orang tua Lisin tidak percaya, karena putra mereka adalah anak baik yang sedang melanjutkan universitasnya ke kota Malang. Jadi tidak mungkin menjadi anak yang mata keranjang. Namun Dosen Mirna langsung memperkenalkan dirinya, sehingga Kedua orang tua Lisin bisa mengerti.
Ternyata putra mereka Adalah Mahasiswa khusus, itu berarti tidak ada masalah, jika Lisin menikah dan melakukan cuti kapanpun dia mau.
"Lisin... Cepat katakan, kapan kamu akan menikahi mereka semua? Mama ingin cepat - cepat menggendong cucu..." Ibunya berkata sambil tersenyum.
"Sebenarnya, Di antara mereka semua, ada yang sudah mengandung anak Lisin Ma..." Kata Lisin tersenyum kecut.
Apa!
Ibunya sangat bahagia, kemudian melihat diantara semua orang. dan tatapan semua orang menuju kearah Wulan. Karena dia satu - satunya wanita yang memiliki perut sedikit buncit.
"Kalian bisa menebaknya..." Kata Wulan dengan tersenyum kemenangan. Mengetahui jika hanya dirinya yang hamil setelah tidur dengan Lisin, Wulan sangat puas dan bahagia.
"Bagus, Satu minggu ke depan Resepsi akan langsung di adakan..." Kedua orang tua Lisin langsung memutuskan, tanpa bertanya kepada Putra mereka.
"Ma... Menikahnya satu - persatu atau semuanya..." Tanya Lisin dengan tidak berani membuat keputusan.
"Tentu saja semuanya, Lisin akan menikahi kalian semuanya, mengerti..." Ibunya sangat bahagia tanpa memperdulikan anaknya harus berbuat apa saat malam pengantin yang akan datang.
__ADS_1
Bersambung...
*Author menerima revisi untuk chapter yang satu ini jika ada wanita Lisin yang author lupakan, karena author juga manusia biasa.