
Keesokan paginya...
Lisin terbangun dari tidurnya dengan rasa kantuk yang belum menghilang. Dirinya mengingat lagi kejadian semalam dan membuatnya tertekan, itu karena dirinya memiliki petualangan yang kurang menyenangkan.
Bagaimana tidak, di saat dirinya dengan Dosen Mirna akan dan sedang bercocok tanam, Setan - setan laknat mengganggu dirinya, sungguh situasi yang membuat Lisin sangat frustasi.
Setan - setan laknat yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan suka mencampuri urusan pribadi orang lain, untung saja berteman dengan orang sabar seperti Lisin.
Jika itu orang lain yang saat enak - enaknya terganggu pasti akan menangkap setan - setan pengganggu tersebut kemudian memasukannya kedalam botol.
Lisin ingat jika dirinya berakhir di dalam hotel bersama dengan Dosen Mirna yang cantik, keduanya saling bergulat, saling membanting, saling memutar, saling mematuk, hanya untuk kenikmatan mereka berdua masing - masing.
Lisin yang bingung melihat sekelilingnya hanya menemukan tempat tersebut sebagai kekacauan, seolah badai telah menerjang kamar hotel tersebut. Dirinya kemudian pergi kekamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Saat berniat keluar dari kamar hotel, Lisin tidak menemukan sepatu miliknya, sangat jelas jika sepatu tersebut di gunakan oleh Dosen Mirna yang pulang lebih awal, mengingat sepatu Dosen Mirna ketinggalan di kampus.
Lisin bertelanjang kaki berjalan keluar, dirinya menjadi bahan tatapan oleh beberapa orang yang lewat. Sungguh aneh, karena Lisin memiliki penampilan yang sangat menarik walaupun pakaiannya sederhana. namun mengapa tidak menggunakan alas kaki.
Lisin membayar tagihan hotel dan seperti biasanya dirinya akan di kenakan ganti rugi karena merusak properti hotel. Lisin tidak peduli membelanjakan uangnya dirinya membayar secara kontan kemudian meninggalkan Hotel seperti seorang gelandang karena tidak menggunakan alas kaki.
Tepi jalan raya salah satu komplek perumahan yang ada di kota malang tepatnya sangat dekat dengan pintu keluar hotel. Lisin yang memiliki kepekaan yang luar biasa dapat merasakannya lagi tentang seseorang yang mengintai dirinya.
Menemukan jalan yang menuju ke sebuah perkebunan Lisin berhenti kemudian berbalik badan.
"Keluarlah... Aku tau kamu di sana..." Lisin berkata sambil menguap karena dirinya masih mengantuk.
"Sepertinya kamu memiliki kemampuan karena bisa merasakan keberasaaaku..." Seorang pria berkumis berjalan dari balik pepohonan.
"Paman, pakaian mu sedikit aneh apakah kamu sedang melakukan suting laga kolosal..." Lisin bertnya dengan heran.
Pakaian pihak lain seperti orang Jawa kuno yang dengan celana panjang hitam, dengan kain batik membungkus pinggangnya, belum lagi pakaian yang di gunakannya pakaian hitam longgar.
"Manusia biasa sapertimu tidak akan mengerti..." Pria paru bayah itu berkata dengan menggeleng seolah bukan milik dunia ini.
"Hem... Keberadaanku tidak layak untuk kamu ketahui..." Dengan cepat Pria paru bayah tersebut mendekati Lisin kemudian sebuah gelombang energi menyelimuti genggaman tangannya lalu memukul Lisin yang berdiri di dekat pohon.
"Duar..."
Sebuah ledakan terjadi, tentunya Lisin menghindari pukulan tersebut namun tidak dengan pohon yang ada di belakangnya.
Pohon tersebut memiliki lubang pada bagian batang pohon yang terkena pukulan, kemudian pohon tersebut tumbang.
Sial... Kamu bercanda, apakah pohon itu properti yang terbuat dari styrofoam?... Jika manusia biasa mendapatkan pukulan kejam seperti itu bukannya akan mati di tempat.
"Sistem pindai dia..." Lisin yang sudah lama tidak berbicara dengan sistem hanya bisa memanfaatkannya.
__ADS_1
(DING)
(Pindai terselesaikan)
(Nama: Pawana)
(Keahlian: Pejuang Budidaya penguna kanuragan)
Kanuragan?!!!...
(Kanuragan sangat berbeda dengan Energi batin tuan rumah)
(Kanuragan adalah energi alam yang di serap melalui proses pertapaan, di mana energi tersebut akan terkumpul dan tersimpan di dalam perut bagian bawah)
(Setiap penggunaan energi dalam atau kanuragan juga harus menggunakan teknik pernafasan sebagai saranannya)
(Sedangkan energi dalam yang tuan rumah miliki sangat berbeda, itu karena energi dalam bawaan dari tubuh seni beladiri kuno)
Lisin mengangguk berulang kali... Lisin kembali tenang.
Pawana juga terkejut kemudian memberikan pukulan lain kepada Lisin.
"Apakah kita saling kenal?..." Lisin bertanya sambil menghindari pukulan lain Pawana.
"Apakah kamu punya dendam terhadapku?..." Lisin bertanya Lagi saat Pawana terus menerus memberikan pukulan terhadap dirinya.
"Diam..." Pawana berteriak dengan nafas terpatah - patah.
Pawana adalah seorang Pejuang Budidaya dan juga dapat mengendalikan energi dalam yang di sebut juga kanuragan. Dirinya memiliki pukulan kuat dan reaksi cepat namun pihak lain tidak bisa terkena satupun pukulan darinya.
Lebih dari selusin pukulan dengan energi dalam Pawana keluarkan hal itu membuatnya kehabisan nafas.
Kanuragan atau energi dalam menggunakan fungsi pernapasan, tentunya setiap kali menggunakan pukulan yang terlapisi kanuragan pihak lain akan mengatur pernafasannya.
"Paman... Sepertinya kamu sesak nafas apakah kamu sakit?..." Lisin bertanya dengan santai.
"Sialan kamu..." Pawana sangat marah dirinya tidak pernah di permalukan seperti ini oleh manusia fana.
Pawana sedikit bingung, dirinya seorang penjuang budidaya yang memiliki kekuatan dan kecepatan yang luar biasa juga dirinya memiliki kanuragan, mengapa pihak lain bisa lebih cepat darinya.
Sekali lagi Pawana menghujani Lisin dengan selusin pukulan.
Pejuang Budidaya ini mengingatkaku dengan Gatra, namun Gatra tidak memiliki kanuragan seperti dia. Sambil menghindari pukulan pihak lain Lisin berpikir keras.
Percuma berpikir itu bukan gayaku selesaikan masalah dan bertanya kepada sistem setelahnya.
Lisin juga mengetahui tentang orang yang ada di belakang Pawana, pihak lain adalah Vito.
__ADS_1
Sial... Jadi itu dia... Vito ini tidak tahu luasnya langit dan bumi.
"Huk..." Lisin memberikan sebuah pukulan kepada Pawana, namun pukulan yang mengarah pada bagian perut berhenti.
Jadi dia menggunakan energi dalam untuk melindungi bagian perutnya...
"Guak..." Lisin kehilangan fokus kemudian Pawana memukul wajannya yang tampan.
Sial... Aku berdarah!
Marah, Tidak bisa di damaikan Lisin harus menghabisi pihak lain tidak peduli apapun.
Kali ini Lisin mengikuti keahlian pihak lain mengeluarkan energi dalam untuk membungkus kepalan tangannya lalu Bergerak dengan cepat dan memberikan pukulan keras.
"Ahhhh..." Pawana menerima pukulan dari Lisin sangat kesakitan.
Jika sebelumnya Lisin menggunakan pukulan biasa tidak dapat melukai pihak lain, sekarang setelah menggunakan pukulan berlapis energi dalam dirinya bisa melumpuhkan Pawana.
"Tidak mungkin... Kamu... Bagaimana kamu bisa menggunakan kanuragan?..." Pawana yang kesakitan tidak dapat mempercayai apa yang dirinya lihat.
Kanuragan yang Lisin miliki sangat halus tidak seperti dirinya yang hanya terbatas dalam kurun waktu tertentu. belum lagi jika dirinya menggunakan kanuragan terus menerus Pawana akan kesulitan bernafas.
"Kamu jelas ingin melumpuhkan ku... Aku tahu siapa di belakang mu... Keponakan mu Vito sudah aku beri belas kasihan, namun bukanya sadar akan tindakannya dia menggunakan tangan orang lain sebagai gantinya" Lisin berkata dengan dingin sambil mengusap darah dari hidungnya.
"Kamu... Bagaimana kamu mengetahuinya?..." Pawana sangat terkejut, padahal dirinya tidak memiliki kontak langsung dengan keponakannya Vito, tapi pihak lain bisa mengetahuinya.
"Mengapa aku harus menjawab pertanyaan mu..." Lisin berkata dengan senyuman dingin.
"Ahhhh..." Lisin melumpuhkan kaki dan tangan Pawana.
"Kamu... belum terlambat untuk menyesali keputusanmu mu... Di belakang ku ada Perguruan yang tidak dapat kamu bayangkan... apa lagi kamu singgung" Pawana berkata dengan menyedihkan.
Sebagai pejuang budidaya dan memiliki kanuragan, dirinya selalu di hormati namun sekarang dirinya tidak dapat melawan pemuda yang ada di depannya.
"Aku tidak peduli Perguruan apa yang ada di belakangmu... Selama kalian tidak menyinggung ku... Aku juga tidak akan mengganggu bisnis kalian..." Lisin berkata dengan dingin, kemudian menginjak perut bagian bawah Pawana di mana pusat energi dalam terkumpul.
"Ahhhh..." Pawana berteriak dengan keras sebelum akhirnya pingsan.
"Demi sepatu yang aku pinjam, Aku tidak akan membunuhmu..." Lisin tidak lupa meminjam sepatu Pawana, kemudian menemukan taksi lalu pergi kearah universitas negeri malang.
Lisin dengan cepat mendatangi universitas, turun dari mobil taksi dan dirinya bisa melihat Trio wik wik berlarian mengelilingi lapangan.
"Aneh mengapa mereka bertiga berlari mengelilingi lapangan, apakah dia tertidur di dalam kelas saat bimbingan berlangsung seperti sebelumnya?..." Lisin jelas tidak mengetahui tentang kesialan yang menimpa Ketiganya karena dirinya.
"Mengapa aku peduli... Dia bukan teman sejati melainkan teman laknat, karena mengganggu kesenanganku sebelumnya..." Lisin tidak melihat ketiganya lagi dan pergi kearah lain.
Bersambung...
__ADS_1