Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan

Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan
Kehidupan Dengan Sistem Kekayaan Episode 62


__ADS_3

Lion Airline Boeing 747-400 terbang dengan kecepatan stabil, Semua penumpang yang ada di kabin belakang di kejutkan dengan suara tembakan.


"Dor... "


"Ahhhh... " Tidak hanya suara tembakan, ada juga jeritan seorang gadis yaitu Diana. Hal ini membuat semua orang sadar jika masalah terorisme belum sepenuhnya terselesaikan.


"Jack Smith... Aku tidak pernah menyangka jika dari awal, penerbangan ini di targetkan untukku" Lisin tidak tinggal diam, saat ini peluru yang bersarang di pundaknya berhasil di keluarkan tanpa sepengetahuan Jack.


Nama: Jack Smith


Keahlian: Ahli strategi


Catatan: Dalang dari terorisme pembajakan pesawat, pemimpin dari terorisme KKB papua. Anggota luar secara tidak langsung dari terorisme dunia dalam tanda kutip Jack Smith memiliki hubungan dengan organisasi terorisme Dunia.


Sial... Kenapa aku tidak langsung memindai Jack Smith dari awal, jika tau seperti ini kan banyak hal yang bisa ku hindari. mengapa aku sangat bodoh, punya sistem tidak di manfaatkan dengan benar.


"Dari awal kamu terlalu naif dan mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal" Jack berkata sambil tersenyum.


.....


30 menit sebelum Ningsih menelpon Lisin.


Ningsih seperti biasa bangun pagi sekali, sejak kejadian terakhir kali di Jepang Ningsih belum bertemu lagi dengan Lisin. saat mengetahui jika Lisin memutuskan untuk kuliah di Universitas Negeri Malang, Ningsih tidak berdaya. sepertinya dia harus melalui hari-hari tanpa bertemu dengan Lisin.


"Siapa kalian?" Ningsih bertanya dengan ketakutan, dirinya merasa tidak mengenal mereka. bagaimana mereka bisa memasuki apartemen yang cukup tinggi.


Apartemen milik Ningsih berada di Kuta Bali karena memiliki banyak gedung tinggi.


"Kami adalah orang baik yang ingin bertemu dengan Lisin tolong telpon dia dan suruh agar datang ke Bali secepatnya" jawab salah satu dari mereka.


Apa kalian pikir saya bodoh percaya dengan kalian.


"Aku tidak akan melakukannya, kalian jelas-jelas orang jahat. bahkan jika kamu membunuhku aku tidak akan memanggil Lisin agar pergi ke Bali" Ningsih secara perlahan berjalan ke belakang.


"Bodoh... kami adalah terorisme, kami punya banyak senjata. ambil contoh Bom apakah Lisin akan selamat jika berhadapan dengan Bom?"


"Ini... " Ningsih bimbang, Jika pihak lain ingin membunuh dirinya Ningsih akan siap mati demi Lisin.


Jika pihak lain ingin melakukan siksaan atau pelecehan terhadap dirinya Ningsih siap bunuh diri demi Lisin, namun jika bahaya menghampiri Lisin karena tindakan dirinya yang salah Ningsih tidak bisa membiarkannya.


"Tenang saja... kami hanya ingin membuat kontak langsung dengan Lisin di Bali, tidak lebih. kami tidak akan melakukan apapun terhadapmu begitu juga dengan Lisin"


"Kenapa kalian tidak bilang langsung ke Lisin atau langsung bertemu dengannya tanpa harus aku yang melakukan panggilan" Ningsih bertanya dengan tatapan tajam.


"Sebenarnya ini hal yang rahasia dan Lisin tidak boleh tau sebelum kita bertemu secara langsung"


"Baiklah... Tapi kalian harus menepati janji" Sungguh wanita bodoh yang di butakan oleh cinta. siapa Lisin... apakah Bom akan membuatnya mati. sepertinya cara untuk membunuh Lisin harus bercocok tanam seumur hidup.


"Hallo..." Suara malas keluar dari speaker ponsel Ningsih karena para terorisme meminta Ningsih untuk menghidupkan Loudspeaker.


"Bos..." Jawab Ningsih.


"Ningsih... Ya apa ada masalah dengan perusahaan sehingga kamu menelpon ku?" Lisin di sisi lain telpon bertanya dengan malas.


"Bos... Nanti malam ada pesta amal dan Perusahaan Angkasa menjadi sorotan sebagai perusahaan baru. banyak perusahaan-perusahaan besar ingin bertemu dengan pemilik perusahaan Angkasa" Ningsih berkata tidak berdaya.


Karena nanti malam ada pesta amal perusahaan, dirinya menggunakan alasan tersebut. sebenarnya Ningsih tidak harus mendatangkan Lisin karena dirinya saja sudah cukup. hanya saja karena demi keselamatan Lisin Ningsih Harus membuat Lisin datang ke Bali.


"Jadi aku harus datang ke sana?" Tanya Lisin lagi.


"Benar Bos... sebenarnya aku kangen bercocok tanam denganmu" Kata Ningsih malu-malu.


Para terorisme yang ada di sana mengutuk di dalam hati, Sial... enak sekali kalian bisa bercocok tanam, sedangkan kita yang jomblo bercocok tanam dengan siapa. benar juga kan ada sabun.


"Baiklah aku akan datang... Kirim saja alamat apartemen kamu agar aku bisa ke sana, juga kirimkan tempat acara amal dan waktu pelaksanaannya juga" Setelah menutup panggilan telepon, Ningsih langsung mengirim alamatnya ke Lisin. namun sebelum Ningsih menekan tanda kirim pada layar, ponselnya di ambil oleh salah satu terorisme.


"Oh... kamu berniat mengirimkan pesan tentang keberadaan kita..." Terorisme tersebut menghapus bagian pesan tenteng keberadaan terorisme yang ingin bertemu dan hanya mengirim alamat apartemen dan alamat pasta amal beserta waktu pelaksanaannya.


"Kalian harus menepati janji..." Siapa terorisme, mereka adalah organisasi jahat. kenapa harus menepati janji.


"Apa yang kalian lakukan-" Ningsih berniat melawan para terorisme yang mendekat. namun terorisme membiusnya kemudian tubuhnya di masukan ke dalam sebuah kotak baja yang baru saja di letak di dalam ruangan oleh terorisme.


Kotak itu memiliki sisi yang rapat dengan sebuah pipa gas terhubung ke tabung karbon monoksida (CO).


Di atas tabung karbon monoksida (CO) terdapat sebuah timer pengaturan waktu yang terhubung ke sebuah ponsel jadul Nokia 3310 yang mana jika telepon tersebut mendapatkan sebuah panggilan, maka akan memicu timer waktu 1 jam. jika waktu habis maka katup dari tabung tersebut akan terbuka dan gas karbon monoksida (CO) akan memenuhi kotak yang berisikan Ningsih di dalamnya.


Ketika seseorang terpapar atau menghirup gas karbon monoksida, kemampuan darah untuk mengikat oksigen akan berkurang. Hal ini karena gas CO lebih mudah terikat dengan hemoglobin dan kemudian membentuk carboxyhaemoglobin (COHb).


Semakin banyak COHb yang terbentuk, maka akan semakin sedikit oksigen yang diedarkan ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh akan mengalami kekurangan oksigen (hipoksia).

__ADS_1


"Bos... tugas sudah terselesaikan" salah satu terorisme menelpon seseorang.


.....


1 jam sebelum keberangkatan Materai dan istrinya.


Kota Malang di sebuah apartemen tertentu sepasang suami istri sedang berdebat, suaminya memiliki tubuh besar dan istrinya sedang mengandung.


"Ma... Papa mendapatkan 2 tiket pesawat, bukannya Mama ingin melahirkan anak kita di bali karena keluarga Mama ada di sana... " Materai berkata sangat bahagia. kemarin dia mendapatkan tiket saat belanja di tokoh serba ada dan itu tiket perjalanan ke Bali.


"Pa... Bukannya ini terlihat aneh kenapa Papa bisa langsung mendapatkan hadiah 2 tiket pesawat dan juga perjalanan ke Bali" keluh sang istri.


"Sudahlah Ma... yang namanya rezeki tidak boleh di tolak..." Materai memaksa.


"Tapi... Pa... Papa itu dalam pengawasan pihak kepolisian, sebagai saksi mata tersangka kaki tangan terorisme jadi bagaimana Papa bisa keluar" Istri Materai berkata tidak berdaya.


"Ma... Papa bisa melakukan penyamaran" Materai berkata dengan yakin.


"Kalau begitu... kita pergi dengan mobil saja..."


"Tidak Ma... Papa ingin memanfaatkan tiket ini..."


"Baiklah..." Istri Materai tidak berdaya menyetujui keinginan Materai. sambil melihat kebawah pada perutnya yang buncit.


.....


30 menit sebelum Lisin melakukan penerbangan ke Bali.


"Dengan Bapak Lisin?" Lisin yang baru saja datang ke tempat pendaftaran terkejut, mengetahui jika resepsionis penerbangan mengetahui namanya.


Apakah aku begitu terkenal bahkan seorang resepsionis dapat mengenali diriku.


"Benar dengan saya sendiri..." Lisin mengakui.


"Kalau begitu ini tiketnya pak... penerbangan akan berlangsung 30 menit lagi" resepsionis menyerahkan kartu penerbangan terhadap Lisin.


"Tapi saya belum memesan tiket?" Lisin bertanya bingung, padahal dirinya belum memesan tiket penerbangan, bagaimana bisa.


"Benar Pak, Pemesanan di lakukan 1 jam sebelumnya secara Online, atas nama Ningsih" resepsionis menjelaskan.


"Ohooo... Sungguh sekertaris pengertian, Baguslah... aku tidak perlu melakukan pendaftaran lagi" Lisin tanpa curiga langsung pergi ke ruang tunggu.


.....


"Kamu... lepaskan aku" Diana yang di tangkap dengan satu lengan meronta-ronta meminta di lepaskan.


"Kamu, diam saja atau aku akan menembak kepalamu..." perkataan Jack membuat Diana berhenti meronta-ronta.


"Jack jangan kau sakiti Diana" Lisin yang dalam kondisi berlutut, melihat kearah Jack Smith yang sedang mengarahkan pistol ke arah Diana.


"Lisin... kamu tau semua yang terjadi berada dalam telapak tanganku, Apa kamu tidak merasa aneh saat kamu mendapatkan tiket pesawat atau panggilan telepon dari Ningsih" Tetanus bertanya.


"Jadi... itu ulah kamu?" Lisin bertanya dengan penuh kebencian.


"Tidak hanya itu, sebenarnya aku punya dua target. pertama kamu... yang kedua Materai, ini bisa di sebut dengan membunuh dua burung dengan satu batu" Lisin tidak menyangka jika Jack menargetkan Materai juga.


"Aku memberinya 2 tiket pesawat, dan karena sifat Materai yang cukup bodoh dia masuk kedalam perangkap ku. hanya saja mengadu domba kalian berdua tidak berhasil" Dari sini Lisin mengerti mengapa sebelumnya Materai sangat menyesal memaksa istrinya pergi ke Bali dengan pesawat.


"Jangan sebut dia pria bodoh, dia laki-laki pemberani yang pernah aku temui, kenapa kamu menargetkan dia juga?" Materai melawan para terorisme demi istrinya, apa lagi saat Materai melindungi dirinya dari tembakan sebelumnya, kini Lisin sangat mengagumi pria binaragawan itu.


"itu karena dia menjebloskan kaki tanganku ke penjara, aku sebagai bos harus memberinya pelajaran" Jack berkata dengan datar.


"Kamu..." Lisin sangat tertekan.


"Cukup Lisin, apa yang dia katakan tentangku adalah benar. aku adalah pria bodoh, jika aku tidak tergiur untuk memanfaatkan 2 tiket yang mencurigakan. Istriku tidak akan berada dalam situasi ini" Materai berdiri di depan pintu kokpit.


"Beruang besar sepertinya kamu benar-benar ingin mati..." Jack mengarahkan pistolnya ke arah Materai.


"Materai... kamu harus kembali, Lutut mu cedera, apa yang bisa kamu lakukan. pesawat ini membutuhkan seorang pilot untuk mengendalikan pesawat saat pendaratan. serahkan saja dia padaku" Lisin berjanji.


"Baiklah... " Materai menyetujui tanpa daya.


"Hahaha... bahkan jika ada yang bisa mengendalikan pesawat apa yang bisa kamu lakukan dengan bom yang ada di atas kabin pesawat" Jack tersenyum.


"Bom..." Lisin terkejut mengetahui jika ada bom di atas kabin pesawat.


"Aku membuat sebuah permainan untuk mu... selamatkan Pesawat ini dari Bom yang telah aku pasang di bagian atas kabin pesawat. atau kamu selamatkan pacar kecilmu Ningsih yang saat ini berada di apartemennya, di dalam sebuah kotak tertutup, yang mana sebuah gas Karbon monoksida akan memenuhi kotak tersebut" Jack diam kemudian melanjutkan.


"Bom akan terpicu dalam timer waktu satu jam bersamaan dengan Karbon monoksida akan membunuh pacarmu dalam waktu satu jam. Lisin ini permainan yang aku buat khusus untukmu, Siapa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu" Jack berkata sambil tertawa.

__ADS_1


"Jack... aku bersumpah akan membunuhmu" Lisin menatap Jack dengan tajam. Rencana Jack adalah meninggalkan pesawat dengan terjun lalu menggunakan parasut.


Jack mengeluarkan sebuah ponsel jadul, itu sama dengan jenis yang di gunakan untuk pemicu Bom di atas kabin dan Pemicu gas karbon monoksida yang ada di apartemen.


"Bunuh aku.... hahaha... itu jika kamu bisa" Sambil menyekap Diana, Jack mengambil parasut yang ada di punggung jasad terorisme, lalu Jack mengenakan parasut tersebut di balik punggungnya.


"Dengan Ponsel jadul ini Aku akan mengaktifkan Timer waktu pada bom yang ada di atas kabin dan juga timer waktu yang ada di apartemen pacar kecilmu"


"Sialan kau..." Materai ingin bergegas menghampiri Jack namun di hentikan Lisin.


"Materai... bukannya kamu sudah berjanji tidak akan ikut campur... Lebih baik kamu kendalikan pesawat, Jika terjadi guncangan kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan" Materai mengerti apa yang di maksud Lisin jadi dia langsung pergi ke ruang kokpit.


"Lisin aku sudah menghubungi dua pemicu, sekarang permainan di mulai" Jack tersenyum lalu melakukan panggilan lain.


"Duar..."


Itu adalah ledakan kecil di dalam mekanisme pintu pesawat, pintu masuk pesawat tidak dapat di buka saat terbang di udara jadi Jack Smith telah mempersiapkan bom kecil di bagian mekanisme pintu. Pintu pesawat perlahan terbuka dan seketika itu udara yang ada di dalam pesawat berhamburan keluar.


"Ledakan apa itu..."


"Sepertinya ulah terorisme... "


"Bukankah dia salah satu penumpang juga... "


"Sepertinya dia bagian dari terorisme... "


Semua orang bertanya-tanya tentang apa apa yang terjadi di kabin depan. ketika pintu pesawat terbuka guncang hebat terjadi.


"Ahhhh..."


"Tolong..."


"Pesawatnya akan jatuh..."


Semua penumpang sangat panik sepertinya kali ini pesawat akan benar-benar jatuh. semua penumpang menggunakan masker oksigen, dan bertahan dengan sabuk pengaman agar tidak tertarik dengan gaya gravitasi bumi.


Saat ini semua penumpang hanya bisa berdoa agar datang sebuah keajaiban. di dalam ruang Kokpit sistem pilot otomatis tidak dapat di andalkan jadi Materai, berusaha menyeimbangkan pesawat.


"Lisin... Aku tidak bisa mengendalikannya kamu harus menutup pintu pesawat dengan cara manual karena mekanisme pintu tidak berfungsi, jika tidak pesawat akan hilang kendali" Suara Materai dapat di dengar oleh semua penumpang. sepertinya satu-satunya harapan hanyalah Lisin seorang.


"Lisin kami mengandalkan mu..."


"Kamu pahlawan..."


"Tolong tutup pintu pesawat..."


"Tolong kami semua..."


Semua penumpang berteriak satu persatu, mereka sekarang mereka memiliki harapan yaitu Lisin agar menutup pintu pesawat secara manual.


"Hahahah... Bahkan jika Lisin bisa menutup pintu pesawat, kalian semua tidak akan lepas dari bom yang ada di atas kabin pesawat" Jack tertawa gila.


"Bohong... "


"Dia pasti berbohong... "


"Benar pasti tidak ada bom kan... "


Kata-kata Jack seperti guntur pada siang hari, semua orang tidak ingin percaya dengan perkataannya.


"Sayangnya itu benar... Entah pesawat ini jatuh duluan ataukah Ledakan bom yang menghancurkan pesawat..." Jack berkata sambil menggelengkan kepala.


"Lisin 10 menit berlalu, kamu punya waktu 40 menit lagi untuk menyelamatkan kekasih kecilmu" Jack berniat melompat keluar, namun sebuah sengatan listrik mengejutkan dirinya.


"Kamu... Ahhhh..." Diana yang terlepas dari tangkapan Jack memegang kursi yang ada di dekatnya. sedangkan Jack terlempar keluar pintu pesawat.


Itu adalah kertas mantra yang di berikan Lisin. Diana ingat jika Lisin memberikan sebuah kertas aneh dengan simbul aksara kuno menghiasi kertas tersebut.


Sebelumnya Lisin membeli Kertas mantra seharga 10 juta per kertas yang ada di tokoh sistem. dan memberikannya kepada Diana saat Jack Smith pergi ke toilet. awalnya Lisin memberikannya agar Diana dapat melindungi dirinya sendiri dan tidak berharap akan di gunakan untuk melukai Jack Smith.


Kertas jimat yang Lisin beli menyimpan sengatan istrik dengan arus listrik 50.000 Vol. itu seperti Taser gun' atau pistol kejut yang biasa digunakan oleh kepolisian. dengan sekali tembak, seseorang bisa pingsan.


Diana yang tertarik oleh hisapan gravitasi bumi hanya bisa bertahan dengan tangan mungilnya yang memegang kursi pesawat. tubuhnya melayang dengan membelakangi pintu pesawat yang sedang terbuka. jika genggaman tangannya terlepas maka tubuhnya akan terlempar keluar seperti Jack Smith.


"Ahhh... aku tidak kuat lagi..." Perlahan terlepas, sebelum Diana terlempar keluar Lisin menangkapnya lalu dengan langkah berat membawa Diana ke kursi kemudian memasangkan Sabuk pengaman. Karena Diana pingsan Lisin memasangkan masker oksigen dan perlahan kedua mata Diana terbuka.


"Lisin... Terima kasih kamu menyelamatkan ku" Lisin mengangguk kemudian pergi ke depan pintu pesawat yang terbuka sambil berdiri dengan kokoh, sedangkan gaya gravitasi bumi yang ada di luar pintu menariknya dengan kuat.


Beberapa mayat terorisme beterbangan ada juga potongan tubuh yang di penuhi dengan darah. Lisin menangkap satu jasad terorisme kemudian mengambil parasut dan mengenakannya.

__ADS_1


Di kejauhan Sebuah parasut terbuka dan Jack Smith tergantung di sana dengan senyuman di wajahnya. Jika itu orang lain pasti akan pingsan setelah menerima tegangan 50 ribu Vol. namun tidak untuk Jack yang telah menerima berbagai macam siksaan.


Bersambung...


__ADS_2