
Tinju Lin Tian mengandung kekuatan yang cukup mengerikan, bahkan Lisin harus kesulitan menahannya. Di tambah dia harus melindungi beban yang ada di didekatnya.
Lisin yang terdorong dengan sejumlah kekuatan besar secara perlahan berdiri. Dia tahu jika Lin Tian tidak mudah di kalahkan. Namun tidak menyangka akan sekuat ini.
"Sangat menyenangkan, Aku akan mengambil sistem itu lagi..." Lin Tian melambaikan tangannya.
Lapisan gelombang suara bergabung menjadi riak, menyebabkan udara tipis pecah.
"Kach!..."
Lisin dengan berguling ke kanan dapat menghindarinya dengan cepat.
"Duarrr..."
Ledakan lain menghanguskan jejak kaki Lisin sebelumnya. Lin Tian benar - benar menjadi gila, dia sangat terobsesi dengan sistem. Jadi bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan sistem tersebut kedalam genggaman tangannya lagi.
"Apakah pengguna sistem hanya bisa menghindar?..." Lin Tian langsung mencemooh tindakan Lisin.
Tempat tersebut cukup sempit setidaknya hanya selebar lapangan bola basket. Tidak peduli bagaimana Lisin menghadapi Lin Tian, dia tidak boleh menghancurkan tempat tersebut. Jika tidak, dia hanya akan mati terkubur tanah dengan bersama Lin Tian dan juga Kamila.
Lisin melancarkan serangan lain sebagai gantinya, Dia memfokuskan jarinya dan membentuk energi Qi tembakan emas. Itu teknik yang pernah Lisin gunakan untuk memotong adik laki - laki Song Ji.
"Slaaasss..."
"Hmph, Teknik ini!!..." Lin Tian berkeringat dingin, dia tidak menyangka jika Lisin akan menggunakan teknik yang cukup mengerikan.
"Peng!..."
Lin Tian yang menghindar dapat melihat baja yang ada di belakangnya meninggalkan lubang pada permukaannya.
"Hahaha..."
Sebagai senior atau mantan pengguna sistem. Lin Tian tidak menunjukkan sedikit pun tanda takut. Sebaliknya, dia tertawa kegirangan. Dia melompat dan berubah menjadi sinar emas. Seperti panah yang meninggalkan busur, dia melompat maju dan menekan Lisin dengan semua kemampuan yang dia miliki.
"Mati untukku sekarang!..."
Lisin menggertakkan giginya, bagaimana mungkin dia kalah dengan pria tua bau tanah? Dia baru saja mengalami tekanan. Lisin mencoba melawan menggunakan seluruh kekuatannya.
"Sialan..."
"Tidak ada gunanya melawan!..."
Lisin terus menerus menghindarinya. juga sesekali melancarkan serangan kuat namun Lin Tian tidak mudah di kalahkan.
"Terima ini..." Suara datang dari arah lain, dia Kamila yang baru saja membaik berkat pill penyembuhan dari Lisin.
__ADS_1
Lisin tidak berharap jika Kamila masih gigih dan keras kepala ingin membunuh Lin Tian dengan kedua tangannya sendiri. Siapapun yang mengetahui jika kedua orang tuanya mati terbunuh, pasti memiliki keinginan untuk membalas dendam. Apa lagi untuk Kamila yang kehilangan kebahagiaannya karena kepalsuan dari Lin Tian.
Kamila berkata saat dia bergerak dan memblokir serangan Lin Tian berikutnya.
Lisin berniat menghentikannya, karena Lin Tian terlalu kuat, Jelas Kamila bukan lawannya. Bisa - bisa dia akan mati hanya terkena pemukulan dari Lin Tian. Sayangnya hal tersebut sudah terlambat karena tubuh Kamila berada di jalur serangan mematikan Lin Tian.
"Hmph! Seorang gadis tidak berguna, yang rapuh, mencoba menghentikanku?...." Lin Tian mendengus dingin.
Bukan kepanikan yang Kamila miliki, tetapi sedikit tersenyum di wajahnya. Dia juga mengulurkan tangannya berniat memberikan pukulan juga.
"Hmph... ingin beradu pukulan denganku? Mencari kematian..." Lin Tian semakin memperkuat kekuatan tinjunya.
Tetapi, pada detik berikutnya bukan benturan tinju yang terjadi. Melainkan tinju Lin Tian dengan pisau beracun milik Kamila sebelumnya. Ternyata dia mengambilnya lagi di saat Lin Tian dan Lisin saling bertarung.
"Ahhhh..."
Lin Tian berteriak kesakitan, Begitu juga dengan Kamila yang terdorong jauh oleh sejumlah kekuatan. Tetapi Lisin berhasil menangkapnya dari belakang.
"Mengapa kamu melakukan tindakan bodoh, bagaimana jika kamu terkena pukulan mematikan dari Lin Tian?..." Tanya Lisin dengan tidak puas.
"Maaf, Tapi aku berhasil melukainya..." Kamila sedikit tersenyum.
Lisin akhirnya melihat pisau yang tertancap pada tangan Lin Tian. Itu terlihat cukup mengerikan.
Bukannya Lin Tian memiliki tinju yang dapat menghancurkan benda tajam dan tumpul. Bagaimana sebuah pisau bisa melukainya.
Selain dilumuri oleh racun paling mematikan di dunia, Pisau Vibranium memiliki tingkat ketajaman yang sangat tinggi. Juga ditambah dorongan balik dari Tinju Lin Tian sendiri. Hasilnya sangat jelas, walaupun tinju Lin Tian sangat kuat. Tetap saja akan menjadi sesuatu yang tertusuk dengan lembut.
"Aaaaahhh..."
"Sialan... Aku akan membunuhmu dan mengirim kamu ke tempat ayah dan ibumu berada..." Lin Tian terus menerus mengutuk di dalam hatinya.
Dengan tangannya yang lainnya, Dia berhasil mencabut pisau tersebut. Kemudian Lin Tian melihat Kamila yang berada di dalam gendongan Lisin dengan penuh kebencian.
Sebelumnya dengan pisau tersebut, Kamila telah gagal dalam membunuh Lin Tian. Sekarang tidak menyangka jika pisau tersebut akan melukainya.
Tepat pada saat Lin Tian meremehkan Lisin. Dia berteriak dengan mengerikan.
"Tidak mungkin!..."
Jeritan Lin Tian hanya berlangsung selama tiga detik sebelum dia jatuh ke tanah. Tubuhnya hitam semua, dan ada banyak lubang di wajahnya sebagai akibat terkorosi oleh racun yang mematikan.
"Ini! Kamu menyerangku dengan racun!..." Lin Tian bertanya dengan kebencian.
Lisin memiliki sudut mulut terangkat, akhirnya dia menyadari jika Lin Tian akan benar - benar berakhir. Bagaimana Lisin tidak memberikan sentuhan akhir pada karya seni yang akan berakhir.
Lisin mengambil katana dari inventori sistem, kemudian memberikan tebasan langsung kearah Lin Tian yang telah terkena racun mematikan.
__ADS_1
"Gluppp..."
"Slassss..."
Hanya berakhir dengan pembunuh instan. Lin Tian tidak dapat melakukan perlawanan ataupun menghindar dari tebasan pedang yang baru saja Lisin lakukan.
Kepala Lin Tian terbang Tinggi - tinggi, Lisin benar - benar mengincar leher Lin Tian. Dan dia langsung memenggalnya tanpa mengedipkan matanya. Darah segar berhamburan, pria tua yang menjadi mantan pengguna sistem benar - benar mati begitu saja.
Pertarungan tidak mudah dilakukan, Lisin tidak sepenuhnya membunuh Lin Tian. Setidaknya jika tanpa bantuan racun mematikan dari Kamila, pertarungan antara pengguna sistem dan mantan pengguna sistem akan terus berlangsung cukup lama.
Kamila akhirnya tersenyum cerah, walaupun Lin Tian mati di tangan Lisin, setidaknya dia puas membantu Lisin dalam mengakhiri kehidupan Lin Tian. Dendam miliknya akhirnya sudah terbalaskan.
"Ayo kita kembali..." Kata Lisin saat tersenyum lembut.
"Ya..."
Lisin tidak lupa mengambil semua serum bloody yang begitu banyak di sekitarnya, Dia berniat membuatnya menjadi formula baru dan akan dia gunakan dalam membangun bawahan yang tangguh.
Lin Tian benar - benar Mati.
Sekarang mantan pengguna sistem hanya menyisahkan Jian Chen. Lisin sangat yakin jika Kamila mengetahui tentang Jian Chen namun dia tidak langsung bertanya. Dia akan menanyakannya setelah keduanya keluar dari tempat tersebut.
Bumi bergetar, Dinding - dinding di sakitnya memiliki beberapa retakan. Lisin dan Kamila harus cepat - cepat bergegas, jika tidak keduanya akan terkubur di dalam tanah.
"Duar..."
Bunker bawah tanah yang menjadi tempat rahasia Lin Tian, benar - benar hancur begitu juga seluruh tempat kediaman Lin Tian. Tempat tersebut mengalami getaran yang hebat.
Lisin dengan cepat membawa Kamila keluar dari lorong Lift dengan menaiki sisi permukaan pada bagian luar Lift. Kehancuran tempat tersebut semakin cepat. Lisin berusaha menghindari benda - benda yang berjatuhan.
"Sedikit lagi..."
Kamila yang ada di dalam pelukan Lisin memiliki wajah yang merona, Lisin berulang kali menyelamatkan dirinya. Saat dia dalam kondisi sulit, seperti sekarang ini. Jika Lisin tidak membawanya naik ke atas, maka hanya kematian yang menunggu Kamila.
Di luar.
"Tinggalkan tempat ini. Tempat ini akan hancur karena gempa..." Entah siapa yang mengatakannya, Semua anggota Departemen Naga langsung berlarian keluar dan hanya menyisakan Jendral Xue dan Kepala Rong.
"Senior... Kita harus pergi juga. Tempat ini tidak akan bertahan lebih lama lagi..." Kepala Rong menyarankan.
Dia berulang kali merasakan gempa bumi, tepat di bawah kakinya. dan untuk yang sekarang, dia sangat yakin rumah tersebut akan hancur.
"Aku akan tetap menunggunya di sini..." Debu berjatuhan mengotori pakaian keduanya.
Saat Kepala Rong mendengarkan penjelasan Jendral Xue, dia hanya bisa diam. Karena dia sangat mengenal sikap ke keras Kepala seniornya tersebut.
Bersambung...
__ADS_1