
Pesawat yang di bajak terorisme tersebut adalah jenis pesawat dari PT. Lion Mentari Airlines atau biasa di kenal dengan sebutan Lion Air.
Lion Air adalah sebuah maskapai penerbangan bertarif rendah yang berpangkalan pusat di Jakarta, Indonesia. Lion Air sendiri adalah maskapai swasta terbesar di Indonesia. Dengan jaringan rute di Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Australia, India, Arab Saudi, dan Jepang, serta rute charter menuju Cina, Hong Kong, Korea Selatan, dan Makau.
Lion Airline Boeing 747-400 memiliki 12 kursi kelas bisnis (VIP) dan 492 kursi kelas ekonomi.
Pintu masuk Bandara Ngurah Rai, Di sebuah tempat terbuka Jendral tua di keliling oleh banyak reporter. dengan beberapa Microphone dan kamera terarahkan dari beberapa sudut. mereka semua adalah reporter dari berbagai macam stasiun televisi.
"Pak... Apakah benar pesawat Lion Airline Boeing 747-400 mengalami pembajakan?"
"Pak... apakah ini ulah dari terorisme?"
"Pak... sudah 20 menit Lion Airline Boeing 747-400 hilang kontak, bagaimana tindakan pemerintah dalam menangani hal ini"
"Tolong di jawab pak..."
"Benar... tolong jangan sembunyikan sesuatu dari publik"
Jendral tua yang berdiri di depan banyaknya reporter tidak berdaya. Sejak dirinya menjabat sebagai jendral jika ada masalah maka para reporter ini akan menjadi yang pertama menemukan dirinya.
"Hm... tolong jangan berfikir yang tidak perlu" Reporter berdesakan demi mendapatkan informasi penting dari jendral tua.
Flash kamera bertebaran seperti sinar senter, setiap tindakan dari jendral tua di abadikan. diantara para reporter ada yang sandal jepitnya terputus akibat terinjak satu sama lain, ada yang celananya robek akibat saling menarik. sungguh antusias yang luar biasa. Entah karena peduli dengan penumpang pesawat atau peduli mendapatkan bonus dari atasan mereka, yang jelas pekerjaan reporter sangat menantang.
"Tolong... harap tenang semuanya jika kalian masih saling pukul satu sama lain saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut" Semua reporter langsung terdiam, bahkan suara jangkrik dapat di dengar.
"Baiklah... aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan kalian... jadi aku akan menunjuk saja" semua reporter hanya bisa setuju dengan keputusan jendral.
"Yang di sana, ya kamu yang mukanya lebam, kamu bisa bertanya..." Semua wartawan melihat kearah belakang yang cukup jauh.
Sial... diantara banyaknya reporter kenapa harus pilih yang paling jauh, bukannya dia baru saja datang, ini tidak adil.
"Pak... kita yang dari awal sudah ada di sini tidak mendapatkan kesempatan pertama, kenapa dia yang baru datang Bapak tunjuk?" salah satu reporter memprotes keputusan Jendral.
"Benar... tolong bersikap adil"
"Ya benar..."
"Tolong hentikan, aku hanya merasa kasihan dengannya, dia pasti reporter teladan yang bekerja keras dengan tidak peduli jika orang lain memukul wajahnya hanya untuk mendapatkan sebuah berita. Kalian semua seharusnya mencontohnya"
Reporter yang memiliki luka lebam itu juga bingung kenapa dia yang mendapatkan giliran pertama, Karena dirinya terlambat datang dia dengan terburu-buru berlari, namun karena kecerobohan dirinya, tanpa sengaja jatuh dan membuat mukanya lebam.
Reporter itu tidak menyangka karena kesialan sebelumnya membuat dia terpilih menjadi yang pertama. jika kecerobohannya sangat membantu dalam pekerjaan dia harus sering-sering melakukan kecerobohan. sepertinya jatuh sebelumnya tidak seberapa, lain kali dia harus jatuh dari lantai atas agar lebih menyakinkan.
Semua reporter yang mendengar perkataan Jendral sedikit bingung dirinya sudah datang lebih awal, kenapa orang lain yang terlambat mendapatkan pujian sebagai reporter teladan.
Kemudian semua reporter saling memandang, lalu sebuah pertanyaan muncul. apakah kita harus datang terlambat agar mendapatkan pujian sebagai reporter teladan. jelas tidak bukannya mendapatkan pujian dia tidak akan mendapatkan bonus dari atasannya.
Apakah itu karena luka lebam?... semua reporter saling mengangguk seolah mendapatkan sebuah pencerahan.
"Kamu cepat pukul wajahku..."
"Bro... setelah aku memukulmu, nanti gantian nya, aku juga ingin memiliki luka lebam..."
"Iya... tenang saja, cepat pukul wajahku dulu"
Demi untuk mendapatkan luka lebam para reporter meminta di pukul satu sama lain.
"Ahhh... sakit kenapa kamu memukul sangat keras"
Sebuah luka lebam menghiasi bagian mata kiri reporter yang meminta di pukul.
"Bro bukannya kamu ingin mendapatkan luka lebam, jika aku memukulmu dengan pelan, luka lebam tidak akan timbul"
"Kamu ada benarnya juga... sekarang aku akan membantumu, agar kamu punya luka lebam yang sama denganku"
"Terima kasih bro..."
"Sama-sama... sebagai reporter kita harus saling membantu agar menjadi reporter teladan"
"Ahhh... "
__ADS_1
"Sial... Terima ini"
"Ahhh... "
Semua reporter menjadi saling dorong, karena rasa sakit membuat mereka tidak terima. yang awalnya ingin mendapatkan luka lebam menjadi ricuh. di beberapa tempat terjadi tawuran antar reporter.
"Kamu jual aku beli..."
"Bro kamu nantang saya..."
"Siapa takut..."
"Ahhhh..."
Jendral sangat tertekan, niatnya hanya merasa kasihan kepada reporter yang memiliki luka lebam. kenapa bisa menjadi kericuhan antar reporter.
"Sial... kepolisian kenapa kalian diam saja, hentikan kericuhan, cepat apa kalian makan gaji buta" Jendral tua berteriak marah.
"Siap... jendral" semua kepolisian yang menemani jendral langsung turun tangan.
Kericuhan semakin membesar, yang awalnya hanya antar reporter menjadi antar warga pejalan kaki, juga kepolisian menjadi incaran dari amukan para reporter.
.....
Lisin tidak tau jika ada kericuhan di pintu masuk bandara Ngurah Rai, saat ini dia terus menatap Materai yang tersenyum.
"Tuan Materai, kenapa kamu tersenyum..." salah satu penumpang bertanya, kemudian semua penumpang menatap ke arah Materai.
"Hahaha... aku merasa semuanya sedikit lucu"
"Lucu..." Semua penumpang sangat bingung apanya yang lucu.
"Bukannya ini kebetulan... karena aku bisa mengemudikan pesawat... ya... walaupun hanya game simulator pesawat, tapi aku yakin jika aku bisa mengemudikan pesawat" Materai menyakinkan Semua penumpang.
"Syukur lah... sepertinya tuan Materai sangat bisa di andalkan"
"Tentu saja dia kan pahlawan..."
"Hidup pahlawan... "
Lisin yang melihat semua penumpang hanya bisa menggeleng. Lalu dia melihat ke arah Diana kemudian melihat kearah Jack Smith.
"Bro apa kamu tau orang seperti apa Pegulat Materai ini?" Lisin bertanya.
"Yang aku tau... Materai ini pegulat keturunan belanda dan indonesia, Sejak memasuki WWE Championship dia memiliki ketenaran memasuki semi final, walaupun dia kalah dengan Dwayne Jhonson yang akrab di panggil The Rock" Jack menjelaskan.
"Dia kan tidak juara kenapa dia di sebut sebagai legenda pegulat... " Lisin bertanya bingung.
"Dia memang tidak mendapatkan tropi kemenangan, WWE adalah olahraga yang di gemari orang-orang barat, jadi di mata orang Indonesia apa yang Materai lakukan patut di hargai sebagai legenda. Karena menjadi satu-satunya orang yang berhasil berdiri di kancah dunia di bidang WWE yang mewakili Indonesia"
"Jadi seperti itu... Lalu apakah dia masih eksis di bidang gulat WWE?" Lisin bertanya lagi.
"Tidak... dia memiliki cedera lutut, hal itu membuatnya tidak dapat lagi bersaing dengan pegulat dunia yang lain dan yang aku tau dia masih bersaing dengan Dwayne jhonson di bidang Film Hollywood"
"Hanya saja Dwayne jhonson karirnya melambung tinggi karena semua Film yang di bintanginya selalu mendapatkan Box-office. berbanding terbalik dengan Materai kerena Semua Film yang dirinya bintanginya mendapatkan hasil buruk"
"Sekarang aku mengerti..." Lisin sedikit memahami tentang Materai.
"Lisin... Aku ke toilet dulunya" Jack berpamitan dan berjalan ke toilet belakang yang dekat dengan ruang bagasi.
"Ya..." kenapa kamu berpamitan kepadaku.
Lisin berjalan ke arah Dua pilot yang tergeletak, yang sedang di rawat oleh dokter tua.
"Kamu apa yang kamu lakukan..." Melihat Lisin mendekat dokter tua itu bertanya.
"Aku hanya menolongnya agar tidak kehabisan dara sebelum melakukan operasi... " Jawab Lisin, sebenarnya Lisin bisa saja langsung mengambil Peluru yang bersarang di dalam perut Kedua Pilot, namun karena caranya cukup ajaib dan di luar ilmu kedokteran, Lisin takut orang lain akan salah mengartikan.
"Kamu juga dokter?" Jelas dokter tua itu tidak percaya, apa lagi Lisin terlihat sangat mudah.
"Bisa di bilang begitu... " tanpa menunggu jawaban lebih lanjut Lisin langsung memukul beberapa titik akupuntur kedua pilot tersebut.
__ADS_1
Dokter itu tidak melihat apa yang Lisin lakukan, karena menurutnya Pemuda tampan itu pasti membual. namun saat melihat darah tidak lagi keluar dari luka kedua pilot dokter tua itu terkejut.
"Ini Mustahil..." Dokter tua yang melakukan pemeriksaan ulang di kejutkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan pemeriksaan sebelumya.
"Bagaimana bisa..." Hasil pemeriksaan terbaru menunjukkan jika organ dalam yang terluka tidak lagi mengeluarkan darah seolah itu sudah di jahit namum peluru masih di dalam.
Dokter tua itu melihat kearah Lisin kemudian mengangguk, sepertinya Lisin ini dokter ajaib yang baru-baru ini di kenal di kalangan kedokteran. namun dokter yang sangat mudah itu tidak ingin mengungkapkan Identitasnya ke publik.
Dokter tua itu tidak berharap akan bertemu dengan Lisin di dalam pesawat yang sedang mengalami pembajakan. jika di masa depan ada kesempatan bertemu lagi, dokter tua itu ingin menjadi muridnya.
"Dokter... bagaimana dengan kedua pilot?" Pramugara yang melihat jika warna kulit Kedua pilot membaik mulai bertanya dengan bersemangat, namun setelah mendengar jika pilot tidak akan bangun sebelum melakukan operasi, pramugara tersebut kembali bersedih.
Kabin pesawat terdiri dari beberapa bagian. bagian depan ruangan pengendali pesawat ada 2 orang terorisme yang sedang mendengarkan musik, bagian berikutnya terdapat 4 orang terorisme yang sedang bersantai di ruang VIP, bagian berikutnya 4 orang terorisme yang menjaga bagian tengah kabin pesawat, total keseluruhan ada 10 orang terorisme.
Sedangkan bagian belakang para terorisme telah mengabaikannya. Lisin berjalan ke tempat bagasi yang ada di belakang bersama dengan Diana. sedangkan Jack memantau gerak-gerik Materai atas saran dari Lisin. entah untuk apa Jack harus memperhatikan Materai ini Jack tidak bertanya lebih lanjut.
"Sistem... tolong pindai Materai"
(DING...)
(Pindai Materai di akses)
Nama : Materai
Keahlian : Pegulat (Memiliki cedera Lutut)
Catatan : Pegulat yang mewakili Negara Indonesia di bidang olahraga WWE, telah pensiun setelah mengalami cedera lutut. Berikutnya memiliki karier sebagai bintang Hollywood yang sedang memburuk.
Melihat informasi yang di berikan sistem tidak jauh berbeda dengan yang di berikan Jack, Lisin tidak berdaya.
"Sistem apa tidak ada hal lain seperti rahasia yang di miliki Materai"
(Sistem tidak bisa menampilkan informasi karena keterbatasan yang di miliki sistem)
"Sistem apa tidak ada informasi yang berkaitan dengan para terorisme"
(Sistem tidak dapat melakukannya karena akan mempengaruhi penyelesaian tugas sistem)
"Sial... sistem tidak berguna, apa hanya ini yang bisa kamu lakukan, lupakan saja aku bisa mencarinya sendiri"
Diana yang dari tadi mengikuti Lisin yang terus mencari di bagian bagasi bertanya. "Lisin apa yang kamu lakukan?"
"Mencari barang bukti... Diana apa kamu melihat sesuatu yang mencurigakan di antara barang bawaan penumpang? setidaknya barang bawaan milik penumpang pegulat Materai" Lisin bertanya.
"Aku ingat... di sana tas biru" Tunjuk Diana ke arah di mana tas biru berada.
"Ini..." Lisin yang melihat pistol di dalam tas milik Materai mulai memperkuat dugaannya yaitu, jika Materai salah satu terorisme.
"Sial... bukannya itu pistol" Jack yang datang dari arah belakang terkejut.
"Jack aku sudah mengerti sekarang... Ternyata Materai adalah salah satu dari terorisme" Kata Lisin dengan pasti.
"Sial... aku tidak menyangka jika itu dia, mungkinkah dia ingin menjadi terkenal dengan berpura-pura menyelamatkan pesawat dari terorisme" Jack berkata dengan bersemangat.
"Ya sepertinya begitu... tapi bukankah teman terorisme akan di tangkap oleh polisi setelah insiden ini... kenapa dia melakukan dengan cara seperti ini" Lisin berkata dengan bingung.
"Lisin sebelum kita pergi ke kelas ekonomi aku melihat jika mereka memiliki parasut, kemungkinan besar teman terorisme dari Materai akan kabur dengan menggunakan parasut, dan Materai akan mengemudikan pesawat" Jack berkata dengan yakin.
"Jack tolong jaga Diana" Lisin berkata dengan nada memohon.
"Tenang saja kawan... Aku akan menjaganya" Jack tersenyum Rama.
"Lisin... jangan bertindak gegabah, bagaimana jika Materai bukan bagian dari mereka" Diana mengkhawatirkan Lisin.
"Tenang saja aku akan baik-baik saja... Diana jika aku tidak kembali dan kamu dalam bahaya gunakan barang yang sebelumnya aku berikan"
"Aku mengerti... kamu juga harus kembali dengan selamat..."
Lisin berjalan mendekati Materai, lalu keduanya berhadapan.
"Kawan kecil Apa kamu masih ingin menjadi pahlawan?" Materai menatap ke arah Lisin lalu tersenyum.
__ADS_1
"Ya..." Jawab Lisin.
Bersambung...